Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 153


__ADS_3

Hartama bangun di tengah malam. Ia mengerjap pelan saat melihat kehadiran mantan istrinya yang tidur dengan posisi duduk di sampingnya. Ia merasa haus kali ini. Tapi ada rasa tak enak saat ingin membangunkan Titin yang sepertinya tertidur pulas. Tapi entah kenapa tiba-tiba Titin melenguh dan membuka matanya.


Pandangan dua orang yang pernah menjalin hubungan pernikahan itu bertemu.


"Mas Tama butuh sesuatu?"


Hartama mengangguk.


"Minum."


Titin pun dengan cekatan mengambil botol air mineral. Lalu membantu Hartama untuk meminumnya.


"Sudah?"


Hartama mengangguk pelan.


"Kamu di sini, Silvy sama siapa?", tanya Hartama dengan suara terputus-putus.


"Ada alby yang menjaga Silvy." Hartama mengernyitkan alisnya.


"Alby?", tanya Hartama membeo. Titin pun mengangguk.


"Semoga saja semua lebih baik ke depannya mas."


Hartama menatap langit-langit ruangannya.


"Ini semua salah ku Tin."


Mata Hartama berkaca-kaca."Aku menyesal."


Titin cukup terharu mendengar ucapan Hartama yang biasanya bersikap arogan.


"Apa Alby, Bia bahkan Silvy mau maafin aku?", gumam Hartama.


"Insyaallah mereka memaafkan mu mas", kata Titin.


"Alby mau membuka hati nya buat Silvy? Lalu Bia?", tanya Hartama menatap manik mata perempuan yang sudah mulai termakan usia itu.


"Silvy akan mencoba berubah ke arah yang lebih baik mas. Insyaallah Alby akan membimbing Silvy. Dan... tentang Bia, aku tidak tahu akan seperti apa hubungan mereka nantinya. Aku hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka. Tak ada lagi yang harus tersakiti karena keadaan."


"Andai saja aku tak berniat membalas dendam padamu, ini semua tidak akan terjadi."


"Semua sudah terjadi mas. Penyesalan tidak akan merubah apa pun. Mereka sudah merasakan rasa sakit itu. Tapi, setelah kamu menyadari kesalahanmu dan meminta maaf pada mereka, insyaallah...hatimu akan sedikit tenang mas."


Hartama mengangguk pelan.


"Kamu hanya melihat dari sudut pandang mu mas tanpa mencoba mencari tahu kebenarannya lebih dulu."


"Iya, aku tahu. Dan aku menyesal."


"Kamu tahu mas, aku pernah berada di posisi Bia. Bedanya, aku sendiri yang memilih mundur dari awal. Orang tua mu memang tak merestui kita, lebih memilih Sherly yang sepadan dengan mu. Kenapa aku meninggalkan kalian? Karena aku berharap, kalian akan jauh lebih bahagia tanpa aku. Seperti dugaan ku, Sherly memang pantas menjadi pendamping mu sekaligus ibu yang baik untuk Silvy."


Hartama tertegun. Entah berapa banyak kesakitan yang ia ciptakan untuk orang-orang di sekitarnya. Sejahat itu kah dirinya? Apa masih ada kesempatan untuk berubah jika dirinya saja tak tahu apakah masih layak untuk mendapatkan maaf dari orang-orang yang di sakiti nya?


"Tin...!"


Titin menoleh.


"Mau kah kamu menikah lagi dengan ku? Memaafkan kesalahan ku? Bantu aku memperbaiki semuanya?", tanya Hartama. Titin mengerjap tak percaya. Tak ada sahutan apa pun dari bibir perempuan yang hampir berusia senja itu.


.


.


.


Alby membawa jilbab seperti yang Silvy inginkan. Bukan bergo besar seperti yang Bia miliki. Hanya pastan yang ia ambil dari lemari Silvy. Ya, mau seperti apapun sikap Silvy sebagai seorang muslimah pasti dia juga memiliki jilbab meski hanya di pakai setahun sekali saat lebaran.


"Makasih By!", ucap Silvy tulus saat Alby memakaikan pastan itu di kepala Silvy usai perawat membantu Silvy membersihkan diri. Alby hanya mengangguk samar.


Tak lama kemudian, visit dokter untuk memeriksa keadaan Silvy.


"Jadi, keputusan pak Alby dan Bu Silvy akan tetap mempertahankan bayi kalian? Dan mengambil resiko yang cukup berat?", tanya dokter pada Alby.


"Iya dok!", justru Silvy yang menjawabnya.


"Baiklah jika itu memang keputusan yang terbaik menurut anda. Melihat keadaan pasien yang cukup membaik, hari ini Bu Silvy bisa pulang."


"Alhamdulillah!", ucap Silvy. Alby masih gak percaya dengan perubahan istri kecilnya itu.


"Tapi pesan saya, pak Alby. Sebaik-baiknya Bu Silvy jangan terlalu banyak beraktivitas. Dan, maaf.... melihat kondisi kaki Bu Silvy, alangkah baiknya jika mobilitas Bu Silvy di bantu pakai kursi roda saja. Hanya untuk menghindari guncangan dari langkah kaki pasien."


Alby mengangguk paham.


"Iya dok!", jawab Alby. Silvy pun tersenyum.


"Dan satu lagi Bu, jangan terlalu stres karena akan berpengaruh terhadap kandungan anda."Silvy kembali mengangguk.


Sepeninggal dokter itu, Alby dan Silvy sama-sama terdiam.


"By...!"


Alby menengok."Apa?"


"Terima kasih."

__ADS_1


Alby tak menyahuti ucapan Silvy.


"Aku harus kembali ke kantor."


Alby bersiap untuk bangkit dari bangkunya.


"Tapi, kamu nemenin aku nanti siang kan?", tanya Silvy dengan wajah berharap.


"Insyaallah."


"Eum, By. Kapan aku bisa menelpon Bia untuk minta maaf langsung?", tanya Silvy lagi. Alby menghela nafasnya. Dia sendiri tidak tahu kapan akan menghubungi istrinya itu. Bukan tidak merindukan Bia, Alby bahkan amat sangat merindukan Bia. Semua tentang Bia.Tapi dia sadar dengan pertengkaran kemarin yang berujung saling mendiamkan. Akan ada saatnya Alby menghubungi Bia kembali.


"Nanti, kalau waktu nya sudah tepat. Untuk sekarang, aku rasa Bia belum bisa di ajak berbicara."


Silvy mengangguk pelan.


"Aku akan ke kampusmu, mengurus cuti kuliah mu untuk satu semester."


"Lama sekali By?", tanya Silvy.


"Setidaknya sampai kondisi kamu dan bayi... kita baik-baik saja."


Mata Silvy berkaca-kaca. Ia bahagia saat Alby menyebut 'bayi kita'. Itu artinya Alby benar-benar sudah menerima kehadiran bayi itu.


"Terima kasih By!", Silvy meraih tangan Alby. Lalu mengecup punggung tangannya. Tak ada penolakan dari Alby, lalu detik berikutnya Alby pun meninggalkan Silvy.


Apakah Silvy benar-benar sudah berubah??? ✌️


.


.


Di kampus....


"Eh, liat ngga sih ada cowok ganteng masuk ke ruang dekan?", tanya salah seorang mahasiswa pada temannya.


"Iya, tahu gue. Itu lakinya Silvy kan?"


"Oh ya? Masa sih? gila, gue juga mau kali punya cakep kek gitu!"


"Lo nya mau, dianya kagak mau sama Lo!", sahut temannya lagi.


"Dasar! Eh, Anika!", panggil seorang perempuan.


"Ya?", Anika menyahutinya.


"Tuh, tadi ada lakinya silvy."


"Lha, terus apa hubungan sama gue?", sahut Anika santai.


"Ya, kali Lo kan sahabatan sama Silvy. Mungkin aja kalian mau bertegur sapa gitu."


"An,kenalin sama ajudan Lo yang ganteng itu dong. Tapi, kok tumben cuma sendiri. Yang dua lagi ke mana?", berondong teman Anika.


"Ogah! Ada, lagu ikut keluar kota sama bokap gue. Udah ya, gue balik. Bye!", Anika meninggalkan teman-temannya lalu menuju ke arah mobil yang sudah menunggunya.


Ya, Febri masih sendiri menjemput Anika. Duo sahabat nya sedang dalam perjalanan pulang ke kota ini.


"Mas!", panggil Anika yang mengejutkan Febri beberapa saat. Febri sibuk dengan laporannya lewat ponsel.


"Kamu tuh dek, hobi banget ngagetin tahu ngga!", kata Febri mendengus.


"Hehehe lagian bengong."


"Ngga bengong dek, ada kerjaan ini!", ia menunjukkan ponselnya pada Anika.


"Ya udah, balik yuk!", ajak Anika. Febri pun mengangguk.


"Dek Ika!", panggil seseorang. Anika yang merasa di panggil pun menengok.


"Mas Alby?", gumam Anika.


"Habis ini, mau ke mana?", tanya Alby pada Anika. Anika menatap mata ajudannya itu.


"Pulang!", Febri yang menjawab. Alby menatap kesal pada rivalnya itu.


"Emang kenapa mas Alby?", tanya Anika.


"Aku mau ajak kamu ke mall", jawab Alby dengan entengnya.


Mata Anika dan Febri membola. Febri menarik Anika untuk berdiri di belakang tubuh tegapnya.Lalu ia mendekati Alby.


"Maksud Lo apa ngajakin dek Ika?", tanya Febri dengan tatapan datarnya. Dua cogan itu menjadi pusat perhatian.


Alby mendorong pelan bahu Febri.


"Gue mau minta tolong sama dek Ika. Lo ngga usah nyolot!", dorong Alby lagi pada bahu Febri dengan telunjuknya.


Anika menarik lengan Febri.


"Udah mas, dengerin dulu mas Alby mau ngomongin apa."


Febri pun menuruti ucapan Anika.


"Minta tolong apa mas?", tanya Anika pada Alby.

__ADS_1


"Aku...mau beli baju untuk Silvy. Dia...pengen pake hijab katanya. Tapi, aku tidak tahu selera Abg macam kalian. Aku hanya paham selera Bia. Karena aku terbiasa membeli pakaian untuk Bia, istriku."


Febri menyorot tajam ke arah Alby. Dia sadar betul jika Alby sedang mencoba mengusiknya.


"Alasan! Aku saja tahu kok ukuran baju Bia, bahkan sampai underware nya pun aku tahu. Masa kamu yang suaminya ngga tahu sih, aneh!", celetuk Febri yang pasti memancing emosi Alby.


"Lo!", tuding Alby pada Febri.


"Mas!", Anika mencubit lengan ajudannya itu.


"Ih, sakit dek!", kata Febri.


"Mas Alby, tadi mas Alby bilang Silvy mau pakai hijab?", tanya Anika. Alby pun mengangguk.


"Iya, makanya aku mau minta tolong sama kamu buat nemenin aku belanja kebutuhan Silvy. Kamu kan sahabat nya, pasti tau seperti apa selera Silvy."


"Lo kan juga suaminya, harusnya lebih tahu!", kata Febri ketus.


"Gue lagi ga ngomong sama Lo ya!", tuding Alby lagi.


"Ish...kalian ini! Oke, aku temenin mas Alby."


"Dek...!"


"Ngga apa-apa mas, mas Febri ikutin aja mobil mas Alby. Ya mas?"


Febri mendengus kesal. Dia tak masalah mengantar Anika ke manapun, tapi kenapa harus dengan Alby???


"Oke!", sahut Febri dengan lebih dulu memasuki mobilnya. Sedang Anika berjalan menuju mobil Alby.


Anika duduk di samping Alby.


"Dek, menurut kamu apakah Silvy benar-benar berubah?", tanya Alby dengan masih fokus ke kemudinya. Matanya sesekali menatap spion untuk melihat mobil Febri di belakang mobilnya.


"Oma iya mas, Silvy yang ku kenal dulu juga baik banget kok mas. Cuma ya... setelah putus dari Malvin, dia jadi arogan sih."


Alby mengangguk.


"Bagaimana hubungan mu dengan mba Bia mas?", tanya Anika tiba-tiba.


"Kami belum berkomunikasi lagi Dek. Mungkin, beberapa hari lagi aku akan ke kampung. Mengurus proyek yang ada di kampung Bia. Sekalian bertemu dengan Bia."


"Lalu Silvy?", tanya Anika balik. Alby tahu, Anika pasti dilema berada di posisi itu. Dia tak bisa membela salah satunya mungkin.


"Aku berharap keputusan ku tak salah Dek. Biarlah seperti ini dulu! Aku harap keduanya akan baik-baik saja."


Anika menggeleng.


"Tidak akan ada yang baik-baik saja mas. Aku juga perempuan. Meskipun ya...aku belom berumah tangga sih. Tapi ...aku tahu apa yang mereka rasakan."


Alby menengok ABG itu.


"Keputusan yang sulit dek. Kamu tahu itu!"


"Iya, aku tahu. Tapi...kalo boleh jujur, tidak lebih baikkah kalo mas Alby melepas mba Bia?"


Alby tak menyahuti.


"Bukan maksud ku membela Silvy, bukan mas. Tapi ...dari awal kita tahu kalo mba Bia itu tidak mau di poligami. Dan itu, pasti sangat menyakitkan buat mba Bia."


"Tapi aku cinta sama Bia, dek!"


"Mungkin cinta tak selamanya harus saling memiliki mas!", celetuk Anika. Ucapan Anika mengingatkan Alby pada seorang gadis yang di temuinya di resto kemarin.


"Oh ya, bagaimana kabar mas mu? Aku lama tak bertemu. Padahal aku bolak balik di rumah sakit."


"Ngga tahu. Sibuk kali dia."


"Eum, sibuk sama cewek?", tanya Alby. Anika mengernyitkan alisnya.


"Mas Alby tahu, kalo mas ku punya cewek?", tanya Anika heran.


"Ngga sih. Tapi...ngga tahu ya. Mungkin ini kebetulan aja. Kemarin-kemarin aku ketemu cewek. Cakep sih, kayanya seumuran sama Bia gitu. Dia kerja di resto Xxx. Ngga tahu telponan sama siapa, tapi ..dia nyebutin nama dokter Sakti dan Dimas."


Anika mengernyitkan alisnya lagi.


"Emang ngomong apa?", tanya Anika yang sepertinya tertarik.


"Intinya sih, dia itu udah ga sama Dimas karena dia merasa ngga pantas udah gitu...dia juga bilang katanya mana ada dokter sakti mau sama dia. Mungkin...emang kebetulan aja namanya sama."


Mendadak Anika bingung sendiri. Apa benar-benar kebetulan atau ...???


"Udah sampe dek, ayok turun!", ajak Alby pada Anika. Anika mengangguk.


"Jangan terlalu di pikirkan omongan ku tadi, mungkin memang cuma kebetulan. Maaf!"


"Ngga apa-apa mas. Iya, mungkin cuma kebetulan aja."


Keduanya pun turun dari mobil, Febri membuntuti langkah Anika.


"Jangan lama-lama dek, bapak nanti pulang!", ujar Febri pada Anika. Alby hanya melirik rivalnya itu.


"Iya mas!", sahut Anika. Tapi pikiran gadis itu masih berpusat pada ucapan Alby tadi. Kebetulan yang sangat kebetulan ya?


****

__ADS_1


Maaf kalo gaje yak 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️


Makasih 🙏🙏🙏


__ADS_2