Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 220


__ADS_3

...Sebuah ketakutan yang pasti terjadi adalah 'mati' !!!...


**********************************************


"Nabila sudah menunggu, bunda! Papa juga!", kata Silvy lagi. Dia menatap ke arah dimana ia melihat Nabila tersenyum. Tangannya bergerak ke arah sana. Padahal tadi dia begitu lemah.


Mendadak aku merinding di buatnya. Kami tak tahu Nabila, tapi saat Silvy mengatakan papa, aku merasa....


(Kata orang mah, orang yang mau meninggal sok liat 'mereka' yang sudah lebih dulu pergi)


Alby meraih tangan Silvy.


"Vy, lebih baik kamu istirahat dulu ya. Dari tadi kamu udah banyak ngobrol. Dokter bilang kamu ngga boleh capek-capek!", kata Alby. Mata Silvy kini beralih pada Alby.


"Maafkan aku By!", perempuan itu mendadak meneteskan air matanya lagi.


"Iya, aku sudah memaafkan mu! Sekarang kamu istirahat ya?", pinta Alby.


"Sebelum aku tidur, aku mau puas-puasin liat kamu sama Nabil By!", suara Silvy semakin lirih.


Febri mengambil Nabil lalu di serahkan pada Alby. Nabil di baringkan di samping Silvy. Sedang Alby duduk di samping brankar Silvy menggenggam salah satu tangan Silvy. Mata perempuan itu bergantian menatap Alby dan Nabil bergantian. Setelahnya, ia memejamkan matanya perlahan. Semakin lama, genggaman itu mengendur.


Alby hanya memandangi wajah Silvy yang saat ini sudah terpejam.


"Vy, kamu sudah tidur?", tanya Alby dengan begitu lembut.


Dia memang pria yang memperlakukan perempuan dengan lembut, bahkan menyakiti ku pun penuh kelembutan!


"Kita pulang mas!", aku mengajak Febri untuk keluar dari ruangan ini. Tapi Febri menahan ku. Lalu memeluk ku.


Pandangan Febri tertuju pada sosok Silvy yang sudah diam di tempat tidur nya.


"Vy? Kamu masih dengar aku kan?", Alby menepuk pipi silvy. Tapi Silvy kembali bergeming.


Entah kenapa Alby reflek meletakkan jarinya di depan lubang hidung Silvy.


Jantungnya berpacu lebih cepat. Matanya mengerjap perlahan, dan bulir bening lolos dari matanya.


Aku masih cukup mendengar aktivitas Alby meski Febri mendekapku begitu erat. Ada apa ini?


Alby menoleh pada Febri, Febri yang paham akan hal itu pun hanya menghela nafasnya.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", gumam Febri. Aku yang berada tepat di bawah lehernya pun masih cukup jelas mendengar gumaman itu.


Air mataku meleleh tiba-tiba.


"Vy...Silvy?!", panggil Alby lagi, setelah itu dia terisak di samping brankar istrinya. Ia menekan tombol darurat untuk memanggil petugas.


Malvin, Mak Titin dan teh Mila yang berada di luar ruangan pun khawatir karena tiba-tiba petugas medis masuk ke dalam ruangan Silvy.

__ADS_1


Febri membawa ku keluar dari ruangan itu masih dengan mendekapku begitu erat. Ini bukan mimpi kan???


Alby mendekap Nabil begitu erat! Meski tak ada cinta untuk Silvy, tapi tetap saja kesedihan itu melanda hatinya.


"Aya naon Jang?", Mak Titin panik. Begitu pula teh Mila dan Titin. Teh Mila mengambil Nabil dari dekapan Alby.


Setelah itu, Alby memeluk Mak Titin dengan begitu erat. Pria tampan itu terisak di bahu Mak Titin. Tak ada jawaban apapun dari mulut Alby hingga dokter keluar dari ruangan itu.


"Dok, anak saya kenapa dok?", tanya Mak Titin. Dokter hanya menghela nafas panjang.


"Yang sabar ya Bu, Allah lebih sayang sama anak ibu!", ujar dokter yang seumuran dengan Sakti.


"Maksud dokter apa?", Titin masih tak bisa menerima kenyataan itu.


"Mak...!", Alby mengeratkan pelukannya.


"Ngga! Silvy pasti baik-baik saja kan By?", tanya Mak Titin lagi. Ia memaksa melepaskan pelukannya dari alby. Dia menyerobot masuk ke dalam ruangan Silvy.


Setelahnya, hanya terdengar raungan tangis seorang ibu yang kehilangan putrinya.


Malvin pun tak kalah sedih. Dia merasa bersalah karena apa yang terjadi dengan Silvy juga ada kesalahan darinya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memejamkan matanya, berusaha untuk tidak menangis. Tapi tidak bisa! Air mata itu tetap lolos.


Aku mengeratkan pelukan ku pada Febri. Aku menangis. Memang apa yang harus ku tangisi???


"Sssttt...tenang nduk, tenang!", Febri mengusap punggung ku. Diletakkan dagunya di puncak kepala ku.


"Ngga nduk! Kamu baik, insya Allah Silvy pergi dengan tenang setelah meminta maaf dari mu. Dan kamu sudah memaafkannya nduk!", bisik Febri padaku.


Rasa nyeri di dada Alby semakin menjadi-jadi. Kehilangan sosok ibu bagi anaknya, sekaligus sosok perempuan yang di cintainya yang kini berada di pelukan lelaki lain.


Dia masih bisa melihatnya, tapi tak lagi mampu memilikinya.


"Apa aku egois?", aku mendongak menatap wajah Febri. Dia menggelengkan kepalanya, lalu menghapus air mataku.


"Alby, butuh dukungan kamu sekarang!", dia menakupkan kedua tangannya di pipiku. Aku menggeleng.


"Kamu mau membuktikan kalau kamu benar-benar sudah membuka hati mu buat mas kan?", tanya Febri lagi. Aku tak paham dengan apa yang dia tanyakan.


"Aku sudah memilih mu mas, cuma kamu! Sekalipun Almarhumah Silvy memintaku kembali pada Alby, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghapus luka ku, meski aku sudah memaafkan mereka. Aku tidak bisa mas, tidak bisa!"


"Tapi kamu masih bisa menjalin silaturahmi dengan Alby. Kamu lihat betapa terpukul nya dia saat ini? Kamu lihat kan?"


Aku dan Febri memang agak menjadi dari mereka. Obrolan kami bahkan terdengar berbisik-bisik.


Kami sudah tak lagi berpelukan. Hijrah ku masih isapan jempol, belum mampu ke arah sana yang hanya menyentuh mahram. 😔


Febri mengajak ku mendekati Alby. Setelah di dekat Alby, Febri merengkuh tubuh Alby yang lebih kecil dan lebih pendek darinya. Ia menepuk-nepuk punggung Alby.


"Yang sabar, By. Lo pasti bisa lewatin ini semua!", kata Febri. Alby membalas pelukan itu.

__ADS_1


"Makasih Feb! Makasih!"


Setelah Febri melepaskan pelukannya pada Alby, sekarang aku yang mematung di hadapannya.


Asing! Ini yang aku rasakan sekarang! Kami sama-sama diam dalam posisi kami.


"Semoga, kamu...bisa sabar menjalani semua ujian mu ya ...A..Alby!", kataku lirih. Alby tak menyahuti apa pun. Hanya badannya yang bergerak mendekati ku.


Greppp....


Dia sekarang memelukku. Menumpahkan tangisan nya di bahuku. Tangan ku pun spontan mengusap punggungnya.


Bagaimana dengan perasaan Febri? Cemburu kah??? Tidak! Bohong? Tidak! Pokoknya Tidak!!!


"Makasih neng, sudah bersedia memaafkan Silvy!", katanya. Aku mengangguk pelan.


Skip


skip


skip


"Nabila masih nunggu bunda?", tanya Silvy. Nabila mengangguk.


"Masih Bun, tapi kita tidak searah!"


"Kenapa?", tanya Silvy lagi.


"Bunda banyak dosanya! Kalo Nabila ngga punya dosa!", jawab Nabila sambil tersenyum.


"Iya, bunda memang harus bertanggung jawab atas semua kesalahan bunda. Tapi...mama Bia sudah maafin bunda!"


"Iya, makanya... urusan bunda sama mama udah selesai, jadi kita pergi dari dunia mereka Bun!"


Silvy pun mengangguk. Ia bergandengan tangan dengan Nabila hingga dipersimpangan, mereka berpisah.


"Selamat jalan bunda!"


"Selamat jalan Nabila!"


****


Udah sore, silvy di makamin besok ae ya?


Please ya ini, halu nya level kuadrat!


Soal Silvy dan Nabila yang ngobrol, itu benar-benar kehaluan yang may be... 🤔🤔🤔🤔🤔 Tapi yang jelas, itu kehaluan mamak ✌️✌️✌️


Makasih yang udah sampe sini. Tinggal berapa bab lagi, oke????

__ADS_1


__ADS_2