
Jadwal operasi Mak akan segera di lakukan. Rasa cemas, deg-degan dan pokoknya semua rasa saling beradu di dalam hatiku.
"Tenang neng. Insya Allah operasi nya lancar."
Alby mengusap bahuku pelan. Dan benar saja, ada rasa tenang setelah nya. Aku merapalkan doa dalam hatiku.
Alby menatap pintu ruang operasi. Dia bisa saja menenangkan istri nya, tapi dia sendiri tidak bisa menguasai kegundahan hatinya.
Sudah satu j berlalu, belum ada tanda-tanda operasi selesai.
"Neng, Aa ke musholla dulu ya. Mau solat Dhuha!", ujar Alby.
"Iya A, Bia tunggu di sini saja ya." Alby mengangguk lalu mencium kepalaku sekilas sebelum ia benar-benar pergi ke musholla.
Lebih dari dua puluh menit berlalu, si Aa belum juga kembali. Hingga ada dua orang pria menghampiri ku.
"Nyonya Bia!", panggil seseorang itu. Pakaian orang itu terlihat rapi. Aku yakin dia orang kaya. Tapi kenapa ia bisa mengenalku? Dan orang yang satunya, menatap ku dengan pandangan... entahlah, tapi sepertinya dia anak buah bapak yang berpakaian rapi itu.
"Iya saya, Anda siapa?", tanyaku.
Istri Alby lebih cantik dari putriku! Batin Hartama.
Masyaallah Alby, kamu mengorbankan bidadari seperti ini? Batin Sapto. Dia memandang Bia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gamis longgar tapi dengan bergo yang tak terlalu besar menutupi tubuhnya yang tak terlalu tinggi.
"Saya Hartama!", jawab pria itu.
Aku mengangguk.
"Anda mengenal saya?", tanyaku lagi.
Pak Hartama tersenyum tipis.
"Belum, tapi saya kenal suami anda."
"Eum...kalau begitu, tunggu beliau ya pak. Masih solat Dhuha sepertinya."
Hartama tersenyum tipis.
"Oh iya, kamu sudah tanda tangani kertas yang Alby berikan?"
"Kertas?", tanyaku ulang.
"Iya."
"Oh, iya pak. Jadi, anda majikan suami saya?", tebakku.
"Betul! Bisa berikan kertas itu? Saya akan menyuruh anak buah saya mengisi form tersebut."
"Tapi tunggu pak, sepertinya ada yang ...?"
"Sayang?",A Alby merengkuh bahuku. Mau tak mau aku menatap wajahnya.
"Tuan? mang Sapto? Di sini? Sejak kapan?", tanya Alby tergagap.
"Belum lama By. Bagaimana ?", tanya Hartama.
"Maaf tuan, apa yang bagaimana?", tanya Alby bingung.
__ADS_1
"Mungkin operasi Mak A. Terima kasih atas bantuannya pak. Insyaallah kami akan segera mencicilnya."
"Mencicilnya?", tanya Hartama padaku.
"Eum... bukannya suami saya memang berhutang kepada anda untuk biaya operasi mertua saya?"
Hartama terkekeh pelan.
"Berikan kertas itu Alby!", titah Hartama. Alby ragu-ragu mengambil map itu di dalam ranselnya.
Tapi akhirnya, ia memberikannya pada Hartama.
Dia meraih kertas itu, lalu duduk di salah satu bangku. Setelah itu aku melihat ia menempelkan materai dan menambah sedikit coretan tanda tangan ku.
"Maaf pak, sepertinya anda terlalu memaksa kan. Saya akan segera melunasi hutang pengobatan ibu mertua saya setelah saya tahu nominalnya nanti."
Hartama tak menggubris ku. Dia menulis dengan pulpen yang ada di tangannya beberapa saat.
Ku lihat Alby meraup wajah nya frustasi. Aku tak paham hal itu.
Usai menyelesaikan tulisan itu, tuan Hartama memotret ku dengan kertas di hadapan ku.
"Maaf pak, sepertinya ada yang sangat salah di sini!"
"Tentu saja! Aku tak butuh uang dari mu."
"Maksud anda apa ya pak?"
"Aku butuh suami mu, untuk ku jadikan menantu ku. Putri ku menyukai suami mu."
"Ya Allah!", aku menutup mulut ku. Ku arahkan pandangan ku ke suamiku. Dia tampak benar-benar sangat kacau.
"Ngga pak."
"Apa yang nggak? Kamu bahkan sudah menandatangani persetujuan jika kamu mengijinkan suami mu menikah lagi secara resmi dengan putriku."
"Ngga pak. Ini penipuan, saya akan melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib. Anda menipu saya."
"Sssst.... tenang saja Shabia Ayu. Suami mu tetap jadi suami mu, kamu hanya perlu berbagi dengan putriku. Putri ku saja yang lebih muda dari mu menteri dirinya di jadikan yang kedua?"
"Astaghfirullah! Aa! Katakan ini ngga bener A!", aku mengguncang bahu suamiku. Tapi Alby merengkuh ku dalam pelukannya. Dia menangis tergugu. Aku tahu apa arti tangis nya itu. Jadi benar, Alby membohongi ku untuk mendapatkan tanda tangan ku.
"Baiklah! Silahkan Aa menikah dengan anak majikan Aa! Tapi ceraikan Bia!", kataku lantang.
"Astaghfirullah neng. Sampai kapanpun Aa ngga akan menceraikan neng. Aa sayang sama Bia, cinta sama Bia!"
"Kalo aa cinta sama Bia, Aa ngga bakal begini A. Bohong sama aku! Memanfaatkan kebodohan ku karena selalu percaya padamu?"
"Tidak seperti yang kamu pikirkan neng!", Alby meriah bahuku lagi. Tapi aku sedikit memundurkan badanku.
"Aa terpaksa neng. Kamu tahu, kenapa rumah sakit ini menolak untuk menerima Mak?", tanya Alby.
Iya, bodohnya aku tak menanyakan hal itu sebelumnya. Kenapa dengan hitungan menit, keputusan itu berubah.
"Saya yang melakukannya nyonya Bia!", kata Hartama santai di bangkunya. Mang Sapto menatap iba kepada sepasang suami istri itu. Majikannya itu memang sangat keterlaluan.
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadi??? Jadi ya...saya kendalikan saja rumah sakit ini. Jika mereka tak menurut ucapan saya, saya bisa menarik saham saya yang ada di sini dan rumah sakit ini akan bangkrut. Bagaimana?"
"Astaghfirullah!", aku terduduk lemas.
"Neng! Demi Allah, Aa cinta sama neng", Aa memegang kedua bahuku.
"Lepas!"
"Neng. Tolong dengar penjelasan Aa. Aa melakukan hal ini demi kesembuhan Mak. Kamu paham keadaan ini sayang!", ucap Alby lirih.
"Keadaan apa? Terpaksa?"
Aku menghapus kasar air mataku yang mengalir di pipiku.
"Apa? Dari awal Bia sudah menawarkan bantuan agar Mak secepatnya di operasi. Tapi aa selalu menolaknya dengan dalih 'harga diri' Aa di pertaruhkan di depan keluarga Bia. Tapi sekarang? Apa dengan hal ini kamu masih ingin meninggikan harga diri mu A? Jawab!"
"Bia!", pekik Alby.
"Apa? Apa ada yang salah dengan ucapan ku A? Apa? Coba katakan! Ini yang kamu bilang harga diri? Kamu lebih memilih menjual harga diri mu kepada orang lain dari pada menerima bantuan dari ku, istri mu sendiri. Bahkan aku tak pernah sedikitpun meminta mu untuk mengembalikannya padaku. Katakan A? Berapa kami menjual harga dirimu pada tuan Hartama!"
Plakkkk!
Tamparan mendarat di pipiku. Ini untuk pertama kalinya suami ku melakukan tindakan ini.
Air mataku luruh. Kuusap bekas tamparan keras suami.
Mang Sapto mengusap dada nya seraya beristighfar.
"Bia...!", Alby mendekati ku lagi. Lagi-lagi ku lihat lelakiku itu menangis.
"Maafin Aa neng. Maaf Aa sudah memukul mu. Maaf!", katanya lagi.
"Tamparan mu memang sakit A. Tapi hati Bia lebih sakit", aku menekan dadaku.
"Neng...!", Alby berusia meraih ku lagi. Tapi aku memundurkan badanku.
"Berapa aku harus membayar harga dirimu A? Berapa????!!!",bentakku. Aku tidak peduli berapa orang menatap drama kami. Ku lirik tuan Hartama terlihat sangat menikmati pertunjukan antara aku dan suamiku.
"Anda puas melakukan hal ini pada keluarga saya tuan Hartama?", tanya ku padanya.
"Eum...tentu saja....belum! Saya kan belum menikahkan suami mu dengan putri saya!"
Sakit! Sakit di dadaku yang tak bisa lagi ku gambar kan.
Aku menggeleng pelan. Sedikit demi sedikit aku menjauh dari mereka. Aku meninggalkan mereka. Aku butuh waktu untuk sendiri. Alby benar-benar membuatku kembali merasakan kesakitan luar biasa.
"Bia.... Bia....!", panggil Alby ingin menghampirinya istrinya. Tapi di saat yang bersamaan, dr. sakti keluar dari ruang operasi. Alby mengurungkan niatnya mengejar sang istri.
"Bagaimana operasi ibu saya dok????"
*****
Gimana nih, udah sampe ke konflik kan ya? Katanya jangan terlalu bertele-tele 😝.
Btw maafkeun kehaluan dan hal2 yang ngga masuk akal ya. Please! Kemampuan mamak masih di bawah rata2.
Mohon dukungannya ya teman-teman pembaca sekalian. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1