Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 29


__ADS_3

"Ndan, belum ada kabar soal Mak Titin?", tanya Cecep saat istirahat makan siang. Kali ini Febri makan siang di warung nasi Padang dekat kantor Koramil.


"Belum!", jawab Febri singkat.


"Teh Salamah katanya pengen jenguk Mak."


"Nanti saja lah kalo emang udah ada kabar dari Bia. Tapi... harusnya sih kalo sesuai jadwal, hari ini Mak Titin operasi."


"Owh...gitu !", ujar Cecep.


"Aku udah ketemu langsung sama suaminya Bia. Sebagai cowok aja, aku mengakui kalo dia tampan. Serasi lah sama Bia."


Cecep tersenyum tipis sambil melirik komandannya yang hanya mengaduk-aduk nasinya dengan sendok.


"Komandan juga ga kalah ganteng sebenarnya kok, cuma....."


Febri melirik ke arah rekannya itu.


"Cuma apa?",tanya Febri penasaran.


"Cuma jomblo hehhehe....!", kata Cecep.


"Kurang asem kamu Cep!", kata Febri mendengus kesal.


"Di sini banyak perempuan cantik kali Ndan. Mau yang profesi apa? Perawat lagi seperti almarhum istri komandan? Bidan? Guru? ....!"


,ucapan Cecep terjeda oleh Febri.


"Dari pada kamu sibuk nawarin cewek cantik dengan segala profesi yang kamu sebut tadi, mending kamu cari jodoh buat dirimu sendiri."


"Heheheh Ndan, saya mah masih belum pengen nyari istri. Tapi kalo pacar mah saya udah ada. Lagi pula saya kan masih muda."


"Jadi kamu mau bilang aku udah tua gitu?", lirik Febri.


"Weiiissssh...sabar Ndan. Saya ngga bermaksud ngomong gitu lho...tapi kenyataannya kan komandan emang udah berumur di banding saya heheh....!"


"Biar pun udah berumur setidaknya saya udah pernah menikah. Dari pada kamu!", kata Febri sambil berdiri dari bangkunya.


"Yah...Ndan...eh...Ndan, masa gitu aja ngambek sih!", Cecep mengejar komandan nya sambil meletakkan uang selembar lima puluh ribu di meja.


Febri telah lebih dulu berada di halaman kantor.


"Udah bayarin punya ku tadi cep? Berapa?", tanya Febri.


"Inget juga ternyata, kirain sengaja lupa!", kata Cecep.


"Mau di ganti ngga? Kalo mau traktir ngga apa-apa!"


"Eeeh...ganti lagi Ndan. Dua puluh lima ribu Ndan!", kata Cecep sambil menadahkan tangan nya.


Febri mengulurkan selembar uang berwarna hijau.


"Kurang Ndan!", rengek Cecep.


"Ih...geli aku dengar nya Cep!", kata Febri.


"Lagian Ndan, kan dua puluh lima kenapa ngasih cuma dua puluh? Kurang dong?"

__ADS_1


"Ya besok!", kata Febri santai lalu menunju ruangannya.


"Isssh... komandan mah gitu!", kata Cecep mencebikkan bibirnya.


.


.


"Permisi! Nyonya Titin sudah bisa di pindah ke ruang rawat mba!", kata seorang perawat padaku. Saat ini A Alby tertidur dengan kepala berada di pangkuan ku. Sebenarnya aku malu, tapi sepertinya perawat itu pun memaklumi.


"Ya sus!"


Perawat itu pun kembali masuk ke ruangan.


"A, bangun! Mak mau di pindah ke ruang rawat !", kataku menepuk pelan pipinya. Alby melenguh sesaat.


"Kenapa neng?", tanya Alby serak.


"Mak mau di pindah ke ruang rawat!", kata ku mengulang.


Apa rasa marah ku sudah hilang? Tidak! Aku masih marah! Masih emosi! Tapi sebisa mungkin aku tahan.


Alby bangkit dari duduknya di lantai.


"Neng...?", sapa Alby lirih.


"Kamu ke kamar mandi saja dulu. Biar aku di sini. Jadi kalo Mak pindah ruangan, aku udah tahu. Tinggal kasih tahu ke kamu!"


Aku? Kamu? Batin Alby.


"Neng, Aa...!", belum selesai Alby bicara aku bangkit dari dudukku bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Perawat itu mempersilahkan aku mengikuti brankar Mak. Ku lihat wajah Mak masih begitu pucat. Selang oksigen masih di pakai. Tangan kirinya masih tertancap jarum infus.


Entah apa yang Mak rasakan. Mungkin jauh lebih sakit dari yang ku rasakan saat ini.


Ternyata ruangan Mak tidak terlalu jauh. Tuan Hartama memang tak main-main, ia menyediakan fasilitas yang sangat baik. Mak berada di ruang VIP. Untuk kelas menengah kebawah seperti ku, ruangan ini terlalu mewah.


Aku meraih ponsel ku, mengetik nama ruangan Mak di rawat kepada Alby.


"Kalau begitu kami permisi mbak!", kata para perawat.


"Terimakasih sus!", ucapku. Selang berapa lama, dokter Sakti pun masuk.


"Bia!", sapanya.


"Ya dok!", kataku mengangguk.


"Suami mu mana?"


"Sedang ke kamar mandi dok! Oh iya dok, berapa lama lagi Mak siuman ya?"


Dokter Sakti pun menjelaskan apa-apa saja yang harus kulakukan setelah Mak siuman nanti.


"Oh iya Bi. Komandan Febri ngga ke sini lagi?", tanya Sakti.


"Eum? Oh... mungkin beliau sibuk dok. Dokter ada perlu dengan beliau? Kalo memang iya, ini saya ada nomor ponselnya."

__ADS_1


Dokter Sakti menggeleng.


"Ngga. Cuma tanya aja kok!"


"Owh...kirain ada yang penting dok!"


"Ngga kok Bi. Ya udah, saya tinggal ya. Kalo Mak udah siuman panggil saya saja."


"Iya dok!", kataku mengangguk.


Dokter Sakti pun keluar bersamaan dengan Alby masuk ke ruangan. Kulihat mereka bertegur sapa beberapa saat selanjutnya, Alby menghampiri ku.


Aku memilih duduk di sebelah brankar Mak di sebelah kiri. Sedangkan Alby berada di sebelah kanan. Alhasil, Mak berada di tengah-tengah antara kami.


Aku tahu Alby memandangi ku. Tapi aku belum bisa untuk bersikap biasa saja padanya usai kejadian tadi.


"Sayang...Aa....!"


"Sekarang aku sedang tidak ingin bicara soal apa pun!"


Alby menghela nafasnya.


"Maaf!", ujarnya lirih. Tapi aku tak mau menanggapi nya.


Suasana hening menyelimuti ruangan ini. Aku tahu banyak yang ingin Alby katakan. Tapi aku hanya tidak bisa mendengar alasannya yang bagiku tidak masuk akal. Andai saja ia menurut pada ku waktu itu! Dia tak perlu mengenal tuan Hartama dan semua jadi seperti sekarang. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Toh .. saat ini kesehatan Mak jauh lebih penting.


Ponsel Alby berdering dan bergetar beberapa kali tapi dia tak mengangkatnya. Entah dari siapa itu! Aku juga malas menanyakannya.


Untuk beberapa saat, ponselnya berhenti berdering. Tapi setelah itu, ada panggilan lain yang membuat Alby mengusap wajahnya.


Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.


[Kenapa kamu menolak panggilan Silvy?]


[Tuan saya...]


[Kamu jangan main-main sama saya Alby. Hidup mati Titin ada di tanganku.]


[Astaghfirullah Tuan. Hidup mati seseorang Tuhan yang menentukan!]


[Oh... baiklah! Itu artinya kamu mau melawan ku?]


Ku lihat Alby meremas rambutnya dengan kasar.


[Iya, saya akan menghubungi non silvy]


[Bagus! Ingat dua hari lagi kalian akan menikah. Karena kondisi Titin tidak memungkinkan untuk di bawa kemari, jadi...ku putuskan kalian akan menikah di rumah sakit. Sekalian, agar istri mu juga menyaksikannya]


[Astaghfirullah! tuan...!]


Panggilan terputus begitu saja.


Argggggghhhh!


Alby menjauh dari brankar Mak. Dia terduduk di depan pintu kamar mandi. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi.


Aku tak tahu apa yang majikannya ucapkan hingga Alby seperti itu. Kudengar suara keran air yang mengalir deras. Dan suara 'bug', sepertinya tinjuan Alby ke dinding.

__ADS_1


Ingin rasanya aku menghampiri Alby. Tapi...aku memilih tetap duduk di samping Mak.


__ADS_2