Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 58


__ADS_3

Tadi subuh kampung ini di guyur hujan. Meski tak terlalu deras, tapi namanya jalan kampung yang sebagian aspalnya sudah tak ada menciptakan genangan di sisi kanan kiri jalan bahkan di tengah-tengah. Andai pejabat pemerintah melihat kondisi jalan ini!


Aku harus berhati-hati menjalankan roda dua ku. Selain karena medannya yang licin, aku juga harus menjaga keseimbangan agar aku tak jatuh. Mengingat ada nyawa di dalam perut ku.


Seseorang aku berpapasan dengan tetangga kampung, saling menyalakan klakson untuk sekedar bersapa ria.


Dua puluh menit aku sudah sampai di pasar. Aku pun mendatangi toko dan kios yang menjual bahan-bahan kebutuhan jualan ku. Setengah jam sudah aku mengitari pasar. Melihat ada mamang-mamang penjual rujak, aku pun tertarik untuk membelinya. Mungkin nanti sampai rumah baru ku makan setelah di simpan di kulkas. Aku memang lebih menyukai buah yang dingin dari dulu. Entah kenapa! Tapi ada sensasi segar kala menikmati buah yang di potong itu dengan rasa yang dingin.


"Mang, hiji nya!", kata ku memesan. Si amang pun membuatkan pesanan ku. Setelah di rasa cukup, aku kembali ke parkiran dengan menenteng barang belanjaan ku. Semua sudah ku beli , minus ayam. Bisa saja aku memesan ayam di tukang ayam yang ada di pasar ini. Tapi aku sudah memesan ke Wak Euis, meski untungnya tak banyak minimal Wak euis bisa mendapatkannya dari jualan ayam itu.


Oke, aku pun bersiap menuju ke rumah lagi. Tapi sebelum aku berangkat, aku meraih ponsel ku terlebih dulu. Ada chat dari Alby yang mengatakan sudah mentransfer sejumlah uang padaku.


Aku menghela nafas. Tak ada niat ku untuk mengucapkan terimakasih. Toh sudah ku katakan tadi saat kami bervideo call.


Apa semuanya harus tentang uang? Aku hanya ingin Alby ku yang seperti dulu!


Mengusir segala pemikiran ku tentang suami ku, aku pun bergegas menyalakan sepeda motor ku.


Aku melewati barisan prajurit yang sedang berolahraga di sekitar kantor tersebut. Ku perlambat laju jalanku karena mereka sedang menyeberang. Sampai ada suara seseorang yang memanggil ku.


"Neng Bia!", panggil orang itu. Aku pun menghentikan laju motor ku. Mereka yang sedang berlatih pun berhenti kompak lalu menatap ke arahku. Aku yang menjadi pusat perhatian jadi salah tingkah.


"Neng, dari mana?", tanyanya. Oh , ternyata kang Cecep.


"Eh, kang Cecep. Dari pasar."


Aku menjawab sambil tersenyum malu. Serius malu, bukan tebar pesona lho gaes.


"Aih...meuni gareulis pisan eh si teteh!", kata teman Cecep.


Aku tersenyum salting, tak enak!


"Hush! Jangan di godain gitu. Istri orang!", kata Cecep.


"Punten kang, kalo gitu saya permisi."


"Eh, ngke heula atuh neng."


"Naon kang?", aku pun kembali mematikan motor ku.


"Kebetulan neng Bia di sini, kan kemaren mas Febri mah sempet ya pake jasa katering nya neng Bia. Nah, kita-kita nih juga mau atuh pesan katering harian sama neng. Gimana neng? Soalnya masakan neng udah terbukti enak kok."


Aku membelalakkan mataku. Pesan katering sama aku?


"Gimana neng? Bisa kan?"


"Eum...gimana ya?", tanyaku bingung.


"Nah, itu belanja banyak buat apa? pasti pesanan juga kan?", tanya Cecep.


"Iya kang, ini pesanan dari dokter sakti, dokter yang ada di rumah sakit pas mengoperasi Mak Titin kemarin."

__ADS_1


"Wuihhhhh....yang pesan aja dokter lho. Banyak ngga teh?", tanya teman Cecep yang terlihat paling muda di antara rekannya.


"Ngga kok, cuma lima puluh porsi."


"Banyak atuh neng. Handle sendiri? Kalo butuh bantuan mah, panggil teh Mamah aja. Pasti teh Mamah mau bantuin kok."


"Eum, ya boleh juga sih. Nanti aku ke rumah teh Salamah deh. Jadi, kalian mau pesan apa dan berapa porsi?"


"Pak dokter pesan apa?", tanya teman Cecep. Aku meraih ponsel ku. Lalu ku tunjukan masakan ku yang ku aplod kemarin.


"Nah, saya mau teh kaya gini. Kayanya enak deh!", sahut teman Cecep. Yang lain pun berebut melihatnya. Akhirnya mereka semua menyetujui. Saat hendak mengembalikan ponsel ku, ternyata ponsel ku berdering. Ada nama mas Febri yang sedang memanggil.


"Neng, ada telpon dari...mas Febri, eh... ieu teh komandan lain?", tanya teman Cecep itu. Aku pun segera mengambil ponsel ku.


Aku tak yakin mengangkat telepon di depan mereka semua. Tapi kalo tak ku angkat, nanti mereka berpikir macam-macam.


"Sebentar ya, saya angkat telpon dulu."


Mereka semua mengangguk.


[Assalamualaikum mas]


[Walaikumsalam. Sibuk nduk?]


Kami saat ini melakukan panggilan video, memalukan sekali!


[Lagi di depan....]


Sahut rekan Cecep dan yang lain di selingi tawa. Aku menjadi merasa malu sendiri dengan ulah mereka. Ya, mereka memang selalu berbaur dengan masyarakat apalagi kelas menengah kebawah macam aku.


[Tenane nduk?]


Tanya Febri lagi. Aku pun memutar arah kamera ku. Cecep dkk melambaikan tangannya.


[maaf mas, tadi aku dari pasar tapi di hadang sama mereka]


Aku sedikit berbohong, tapi tetap menahan senyum.


[Ngga Ndan. Boong. Mana ada. Kita mah cuma mau nyapa neng Bia yang cantik]


Teman Cecep menjawab duluan.


Aku tak tahan untuk tidak tertawa. Yah, seperti ini saja sudah jadi hiburan untuk ku.


[Ngga mas, memang aku yang mau berhenti. Ngga usah melotot.Emang salah nya di mana kalau mereka menyapa rakyat jelata kaya aku?]


[Bukan gitu nduk, ati-ati mereka itu playboy level tiarap. Jangan sampe tergoda sama mereka]


Jyahhhh.... Cecep dan kawan-kawan nya tertawa lebar.


[Semua juga tahu kalo sebagian dari kaum kalian emang banyak yang playboy kok. Udah jadi rahasia umum mas. Eum...kalo anak buah mu playboy nya level tiarap, komandannya level jongkok apa level berdiri?]

__ADS_1


Lagi-lagi tawa mereka semua pecah.


[Nduk, jangan deket-deket sama mereka!]


Febri mulai kesal. Tak terlihat ada wibawa-wibawanya sama sekali.


[Apaan sih mas? Kami cuma ngobrol antara penjual makana sama pembeli aja. Ngga lebih, iya kan mas-mas?]


Aku meminta persetujuan mereka.


[Tapi tetap saja nduk!]


[Ndan, yang boleh deketin neng Bia cuma komandan gitu? Kan neng Bia ge punya suami hahahah]


Lagi-lagi mereka meledek Febri.


[Heh! Untung saja saya udah ngga di situ ya!]


Febri mulai kesal.


[Udah ah mas, mas Febri telpon aku ada apa?]


Aku jadi menanyakan tujuan awal ia menelpon ku.


[Semalam aku ketemu sakti.]


Aku mengernyitkan dahi ku.


[Terus?]


[Dia bilang, dia pesan makanan sama kamu. Aku juga mau di Bi]


Aku menepuk jidatku. Cuma itu???


[Eum, iya. Besok aku buatin]


[Beneran ya? Titip sama orang nya sakti yang mau ambil ke rumah]


[Iya]


Ku jawab saja singkat.


Panggilan video kami pun berakhir. Aku pun berpamitan pada Cecep dan yang lain.


Pesanan ku besok bertambah banyak. Bismillah saja, aku bisa menghandle nya. Benar kata Cecep, aku bisa minta tolong teh Salamah dan tetangga ku yang tidak sibuk. Setelah dari sini, aku harus mendatangi mereka.


Kuat-kuat kamu ya dek di perut ibumu. Bukan maksud ibu gila sama uang, tapi ibu hanya ingin mencari kesibukan agar tak mengingat rasa sakit yang ayah mu berikan. Aku berbicara dalam hatiku. Seolah-olah aku sedang mengobrol dengan anakku yang sebenarnya mungkin dia belum terbentuk sempurna.


*****


Jangan lupa like & komen nya dong! Saran yang membangun juga boleh banget. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2