
Aku dan Wibi turun dari motor memasuki halaman rumah bapak tiriku. Mobilnya sudah tidak ada di halaman, itu artinya dia sudah berangkat ke kantor kelurahan.
"Assalamualaikum, ibu....ibu...!", teriak Wibi memanggil ibu.
Aku sedikit berlari untuk mengimbangi ulah si kecil ini.
"Walaikumsalam!"
Asih keluar untuk menyambut anak sulung dan anak bungsunya.
"Ibu, Wibi jalan-jalan sama mba Bia!", celoteh Wibi riang.
"Oh ya, jalan-jalan kemana? Kok ngga ngajak ibu?", tanya Asih sambil menggendong si bungsu.
Wibi menggeleng.
"Ngga, Wibi maunya sama mba Bia. Cantik!", kata Wibi memujiku.
"Wah, ibu udah dapat saingan nih. Ibu ngga cantik lagi nih ceritanya?", tanya Asih pada Wibi.
"Cantik, tapi mba lebih cantik!"
"Ya ampun, belajar dari mana sih nih omongane udah kaya bocah gede?", tanyaku gemas mencubit pipi Wibi.
"Wibi wis gede mba. Udah ngga ngompol sama Mimi susu pake dot. Ya kan Bu?"
''Hwum...iya, udah ngoceh nya nanti lagi. Sekarang kalian cuci tangan, terus sarapan!", ujar Asih pada kedua anaknya.
"Esa mana toh Bu?"
"Yo sekolah lah Bi."
"Owalah Iyo, lali aku Bu!", kataku tertawa pelan. Aku pun mengekor ibuku menuju ke ruang makan. Tak lupa aku mencuci tangan lebih dulu. Lagi banyak virus katanya!
Wibi masih di gendongan ibuku, ia pun mencuci tangan Wibi.
"Bu, Wibi tadi maem bubur ayam di depan pasar. Wibi ngga mau maem ah."
"Beneran Wibi udah makan mba?", tanya ibu. Aku pun mengiyakan.
"Udah Bu, bener kok."
"Malah di bayarin sama eyang Sri, Bu!", kata Wibi lagi.
"Bu Sri nya Febri?", tanya ibuku. Aku mengangguk lagi.
Asih tampak menghela nafasnya. Dia ingat betul bagaimana Bu Sri menghina diri nya berselingkuh. Sampai Bia yang menjadi korban karena pandangan nya yang sudah salah. Tak ingin terlalu menyalahkan Bu Sri sebenarnya, orang tua manapun ingin yang terbaik untuk anaknya. Hanya saja kasus Bia, sungguh tidak sesuai. Asih tak sepenuhnya buruk seperti gosip yang beredar. Buktinya, suaminya di percaya kembali menjabat jadi kepala desa. Kalau memang dia bermasalah, tidak mungkin warganya akan kembali memberinya amanah untuk desa ini.
"Ya wis, sana sarapan dulu."
Aku pun menuruti perintah ibuku. Sedang Wibi, dia bermain di halaman belakang.
Usai sarapan, ibu menyuruh ku mandi. Untung saja ukuran baju ku dan ibu tak beda jauh, jadi aku bisa pinjam baju ibuku.
"Nduk, ta' kandani sedelo!"
(Nduk, ku bilangin sebentar)
"Ya Bu!", aku pun duduk di hadapan beliau sambil menyisir rambut ku. Tapi ibuku meraih sisir itu, lalu berdiri di belakang ku. Menyisir rambut panjang ku yang sudah tak terlalu lurus karena sudah lama smoothing nya luntur.
"Rambut mu ngga mau di lurusin lagi?", tanya ibu.
"Ngga lah Bu, buat apa. Toh ngga ada lagi yang liatin. Huffft....Bia cantik aja Alby masih bisa khianatin Bia."
Asih menghentikan aktivitas menyisir nya. Tapi itu hanya beberapa detik. Ia kembali melanjutkannya.
"Sebenarnya...kamu masih cinta kan sama Alby nduk?", tanya ibu. Tanpa keraguan, aku mengangguk. Benar, aku memang mencintai Alby. Bahkan mungkin hingga detik ini perasaan itu masih ada. Tapi rasa kecewaku juga sama besarnya.
"Iya Bu, Bia cinta sama Alby. Tapi lebih baik memang kami harus berpasir kan? Biar tidak saling menyakiti lagi."
Ibu memegang bahuku dari belakang.
"Jika memang itu yang terbaik, berdoalah. Karena keputusan yang kamu ambil, bukan keputusan yang mudah."
"Iya Bu."
"Ibu dengar, istrinya Alby sakit ya. Eum...bukan mendoakan yang buruk-buruk nduk, andaikata dia benar-benar meninggal apa kamu mau kembali pada Alby?"
Aku diam. Kenapa ibu bertanya seperti itu?
__ADS_1
"Ngga tahu Bu, soal umur kan Allah yang nentuin. Dan masa depan itu juga masih rahasia."
"Andai kalian di beri kesempatan untuk bersatu lagi suatu saat nanti, bagaimana?", cerca ibu lagi.
"Kok ibu nanya gitu terus sih? Ibu ngga mau Bia pisah dari Alby?", tanyaku sambil mengerucutkan bibirku.
Ibu terkekeh pelan.
"Kan ibu bilang, apa pun keputusan kamu, ibu akan dukung. Ibu cuma tanya nduk! Ya ... barangkali sekarang kamu sudah mulai move on dan ya.... sepertinya Febri juga siap menunggu mu."
"Astaghfirullah Bu. Bia gini-gini masih istri Alby lho."
"Iya, ibu tahu itu. Anak ibu memang anak dan istri yang baik."
"Baik aja ngga cukup lah Bu, buktinya...."
'' Ngga usah di lanjutkan, ibu tahu kamu mau ngomong apa." Setelah itu kami sama-sama tertawa.
.
.
.
"By, Mak mau mengadakan acara empat bulanan. Kalo menurut hitungan Mak, jatuhnya tanggal tujuh belas. Kamu ada waktu!?'', tanya Mak saat mereka semua sarapan. Mak Sedang menyuapi Hartama.
Tanggal tujuh belas?
Alby meletakkan sendoknya. Lalu menatap Mak Titin.
"Apa Alby harus ikut acara itu?"
Silvy mulai resah. Pasti Alby akan keberatan.
"Ya, ada baiknya iya By. Tapi kalo kamu sibuk, ya ngga ikut ya ngga apa-apa."
"Alby mau ke kampung Bia."
Hening, bahkan denting sendok pun tak ada.
Alby menarik nafas dalam-dalam.
Hartama berhenti mengunyah, Titin berhenti menyuapi, dan silvy sendiri terdiam.
"Sidang?", Mak Titin membeo.
"Ya, hari itu akan segera tiba!", Alby berdiri dari bangkunya lalu keluar dari ruangan itu begitu saja.
Silvy membeku di tempat. Semua akan segera terjadi. Dulu, saat-saat seperti ini lah yang Silvy inginkan. Tapi sekarang? Dia merasa dadanya sesak.
Hartama tak mengomentari apapun. Rasa bersalahnya sudah tak bisa lagi mengubah apa pun.
Dulu, Hartama pernah bilang. Dia tidak akan memisahkan Alby dan Bia. Tapi Bia yang akan meninggalkan Alby dengan sendirinya. Dan ...ya, ini yang terjadi sekarang. Ketiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Menyesal pun sudah tak ada gunanya.
.
.
"Kak!", panggil Anika pada Seto yang saat ini bertugas menjemputnya.
''Apa dek?"
"Kak Seto kenal sama kak Bina udah lama?"
Seto mengernyitkan alisnya. Menatap gadis belia di samping nya. Beruntung banget kalo Dimas sampe bersanding beneran dengan gadis imut ini.
"Ya, tahu aja sih. Ngga kenal banget. Kalo lama ngga nya ya sejak Dimas sama Bina aja sih. Kenapa dek?"
Anika menggeleng,"Ngga sih mau tahu aja."
"Kenapa ngga tanya sendiri ke kak dimas mu itu?"
"Ngga ah, ntar di kira Ika cemburu lagi."
Seto mengulas senyum.
"Cemburu ya wajar lah dek, namanya mantan ketemu lagi. Tapi, dek Ika mah percaya aja. Kak Dimas mu itu udah ngga ada perasaan apa-apa sama Kak Bina. Percaya deh!", kata Seto berusaha meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
'Koe utang budi ambek aku Dim! Wes mbelani awakmu Nang ngarep'e cah iki', batin Seto.
(Kamu hutang budi sama aku dim. Udah belain kamu di depan anak ini)
Anika mengerucutkan bibirnya, persis seperti anak kecil.
"Emang siapa yang mutusin, kak Bina apa kak Dim?", tanya Anika lagi sambil mengubah posisi duduknya menghadap Seto yang berada di belakang kemudi.
"Tanya Dimas aja ya, kak Seto ngga mau ikutan!", sahut Seto. Anika hanya mengeluh kecewa.
.
.
.
Aku yang gabut tak ada kerjaan memilih duduk di depan kasir warung. Tak terlalu ramai hari ini. Lagi pula ini sudah bukan jam makan.
Iseng ku buka-buka galeri foto di ponsel ku. Ada beberapa difotoku dan Alby yang masih tersisa.
Foto awal kami berpacaran dulu. Karena foto itu berada di posisi paling bawah. Aku tak menghapus semuanya.
Alby ku tampan! Eh? Alby ku? Bukan lagi!
Tiba-tiba saja ada perasaan rindu yang menggebu di dalam dadaku. Ya, aku sangat... sangat merindukannya. Tiba-tiba saja air mataku meleleh. Buru-buru ku hapus, aku takut ada yang melihatnya.
Tapi semakin ku hapus, justru air mataku semakin mengalir. Aku ingat, dua hari kedepan sidang itu di mulai.
Apakah Alby akan datang? Apa dia akan kembali berusaha mempertahankan ku lagi? Atau....mimpi dia menalak ku benar-benar terjadi?
Atau.... mungkin dia tidak akan datang! Dan itu akan memudahkan perpisahan kami!
Dengan ragu, aku membuka blokiran Alby. Saat ku buka blokirannya.... serentetan pesan dari Alby pun masuk.
Belum sempat ku baca pesan-pesannya, Alby menghubungi ku.
Angkat? Tidak! Angkat? Tidak!
Aku memejamkan mataku. Meletakkan ponselku di meja kasir lagi. Bukan nya berhenti, aku malah semakin meneteskan air mataku.
Lek Dar menghampiriku dengan terburu-buru. Ia memelukku begitu erat.
"Ada apa nduk?", ia mengusap kepala ku yang terbenam dalam pelukannya. Menggeleng pelan sambil terisak.
Lek Dar mengambilnya ponselku yang berdering memunculkan nama Alby. Dia paham, keponakannya masih galau.
"Kamu masih belum bisa mengikhlaskan Alby , Bia!", ujar lek Dar masih mengusap kepala ku.
"Bia kangen Alby lek, kangen hiks ..hiks...!"
Lek Dar melepas pelukannya dari ku. Lalu menangkup pipiku.
"Bicaralah! Setidaknya dengan kamu bisa mendengar suaranya, rasa kangen mu berkurang."
Tapi aku menggeleng.
"Bia takut goyah Lek!", kataku lirih masih dengan terisak.
"Kamu yang membuka blokiran nya kan? Kamu tahu resikonya akan seperti ini!", Lek Dar menatap ku.
"Angkat, katakan semua yang kamu rasakan. Katakan kamu merindukan dia, katakan jika perpisahan itu yang terbaik buat kalian berdua agar tak ada lagi yang tersakiti. Luapkan semua yang menjadi bebanmu Nduk. Ungkapkan semua. Setelah itu, keputusan ada di tangan mu! Apa kamu akan kembali padanya, atau akan melepaskannya untuk kebaikan semua!"
Aku mendekap Lek Dar lagi.
Ponsel ku kembali berdering, tapi kali ini bukan dari Alby melainkan Febri!
*******
Kira-kira telpon siapa yang mau Bia terima, Alby atau Febri?
Kira-kira...baiknya gimana???
Rindu yang menyakitkan itu...masih bisa melihatnya, tapi tak lagi bisa memiliki apalagi menyentuhnya. Uuuh.... gambaran kangen mantan kek nya tuh....🤔🤔🤔🤔🤔
Makasih ✌️🙏🙏🙏
Lanjut besok lagi, semoga bab ini di ACC admin jadi bisa lulus review malam ini.
Tong kilap nyak...like komen & fav nya ya 🤗🤗🤗🤭
__ADS_1