Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 193


__ADS_3

Febri sudah berkemas dan bersiap menuju ke asrama. Beruntungnya, mereka bertiga di tempatkan di ruangan yang sama.


"Gue telpon Bia dulu ya?!", ujar Febri.


"Ya udah kita jalan duluan deh!" kata Dimas. Seto dan Dimas yang memakai roda duanya pun meluncur lebih dulu. Sedang Febri memakai kendaraan roda empat nya.


Jemari Febri menekan nomor Bia. Dia menghubungi Bia lagi sejak beberapa hari lalu sibuk dengan pernikahan Sakti Bina.


Sambungan pertama tak di angkat. Baru lah di panggilan pertama Bia mengangkatnya.


[Assalamualaikum mas?]


Jawaban Bia terdengar lirih.


[Walaikumsalam, nduk? Dimana? kok kamu kaya bisik-bisik gitu? Masih di rumah omahnya Malvin?]


[Eum, di rumah ibuku.]


[Kamu langsung pulang?]


[Iya, tadi pagi]


[Tapi kok kamu bisik-bisik gitu sih nduk?]


[Eum, aku di rumah ibuku. Takutnya bapak denger aku telponan sama kamu. Nanti kamu di marahin lagi sama bapak mas!]


Di sisi lain, Febri malah tersenyum. Vibes nya mereka sedang backstreet ala-ala anak remaja.


[Oh...gitu?]


[Heum!]


[Nduk, mulai hari ini ...mas ngga tugas jadi ajudan pak Galang lagi]


[Oh, terus?]


[Mungkin mas mau di mutasi ke tempat yang jauh atau ke mana, mas ngga tahu]


[Ooh...]


[Kok cuma oh?]


[Lha aku harus jawab apa?]


[Emang kamu ngga keberatan gitu kalo mas makin jauh dari kamu?]


[Ckkk...kegeeran deh, kita ngga ada hubungan apa-apa mas! Dulu aja aku bisa kok LDR An bertahun-tahun sama kamu. Buktinya aku baik-baik saja. Sedang sekarang, kita ngga ada hubungan apa-apa. Apa yang bikin aku harus keberatan?]


[Nduk]


[Udah mas, please...kali ini aku harap kamu jangan berharap lebih sama aku. Aku ngga mau kecewain kamu. Aku ngga mau...]


[Nduk, tolong dengarkan mas kali ini]


Hening, tak ada sahutan dari Bia.


[Nduk, mas tahu kalo mas salah. Sudah mengganggu kamu padahal saat ini kamu masih dalam masa Iddah. Tapi mas harap, setelah masa Iddah itu berlalu kamu bisa membuka diri kamu entah itu buat mas atau orang lain. Kamu bisa move on dari permasalahan kamu dengan alby]


[Aku ngga mau terlalu memberikan harapan ke kamu mas.]


[Untuk saat ini iya, tapi beberapa waktu yang akan datang mas harap kamu berubah pikiran nduk. Mas tidak memaksa kamu untuk mau menerima mas saat ini. Mas sadar nduk! Sadar banget malahan!]


Terdengar helaan nafas dari mulut Bia. Febri sendiri pun mengusap pelipisnya pelan.


[Mba Bia...di panggil Ibu]


Teriak Esa yang terdengar oleh Febri.


[Ya udah nduk, kamu di panggil ibu. Mas tutup telpon dulu. Semoga mas bisa selalu hubungi kamu di manapun nanti mas di tempat kan. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


.


.


.


Aku keluar dari kamar menemui Esa.


"Di panggil ibu ,mba!"


"Iya sayang!", kata ku. Aku merangkul bahu esa, lalu berjalan menuju di mana bapak dan ibu duduk.

__ADS_1


"Nduk , kamu tinggal di sini saja sama kami ya?"


Aku menggeleng.


"Ngga Bu, terimakasih. Bia bisa tinggal di rumah bapak Salman aja!"


"Memang kenapa kalo tinggal di sini Nduk?", tanya bapak.


"Eum, Bia pengen aja di rumah bapak", jawabku singkat. Karena aku takut nanti bapak Anton tersinggung jika alasan ku tak mau di sini karena beliau. Apalagi status ku saat ini adalah janda. Sedang beliau sendiri adalah ayah tiri ku. Aku tak mau ada pandangan buruk orang lain. Apalagi dia adalah pemimpin di desa kami.


"Apa ngga bahaya kalo kamu di rumah sendiri nduk? Apalagi sekarang semua tahu status kamu!"


Aku menggeleng.


"Aku bisa jaga diri kok Bu, pak. Tenang saja. Insya Allah Bia baik-baik saja!"


Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Tak bisa memaksa putri sulung nya yang memang berwatak agak keras.


"Ya udah kalo itu memang keputusan kamu. Bapak percaya kamu bisa melindungi diri kamu sendiri."


Aku mengangguk.


"Iya pak. Tapi sebenarnya apa yang bapak dan ibu khawatir kan?"


"Nduk, status kamu sekarang kan sendiri. Ibu hanya tidak mau orang akan menilai kamu yang bukan-bukan. Apalagi kamu sendirian dirumah sebesar itu. Ibu takut...!"


"Bu...jangan bicara seperti itu. Insyaallah Bia bisa jaga diri bu. Kita memang tidak bisa membungkam mulut-mulut mereka tapi kita bisa memilih diam untuk mendengarkan mereka. Terserah mereka mau menilai Bia seperti apa, yang jelas insyaallah Bia akan menjaga diri Bia baik-baik."


"Ya udah, kali ini kami dukung keputusan kamu. Tapi jangan segan-segan buat hubungi bapak atau ibu ya Nduk?"


"Iya pak."


Ponsel ku bergetar, ada chat dari pak Kalingga. Ada jadwal sidang kedua. Ternyata lebih cepat dari perkiraan. Itu artinya, sertifikat perceraian ku dengan Alby pun akan segera ada.


Lega sih, tapi kok juga nyesek!


"Dari siapa? Alby? Febri?", cecar bapak.


"Bukan pak, dari pak Kalingga. Katanya sidang kedua lebih cepat. Jadi, ngga perlu ada lagi sidang ketiga dan itu artinya sertifikat perceraian sudah bisa di berikan nanti."


Kok aku merasa bapak Anton posesif banget ya?? Astaghfirullah! Jangan biarkan hati ini suudzon ya Allah.


Seperti anton membaca raut wajah Bia yang merasa sikapnya berlebihan.


Deg! Kok nyeri ya???


"Nduk, maaf kalo sikap bapak membuat kamu ngga nyaman."


"Ngga kok pak. Ngga apa. Makasih bapak udah perhatian sama Bia."


"Bagaimanapun kamu tetap anak sulung kami. Berikan contoh yang baik buat adik-adik kamu. Jadi kakak yang kuat dan tegar. Oke?"


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


.


.


"By!"


"Heum?"


"Kapan kamu ada waktu?", tanya Silvy. Alby yang sedang berkutat dengan laptop nya pun menoleh.


"Waktu untuk apa?",tanyanya tapi matanya kembali beralih pada benda lipat di depannya.


"Beli peralatan bayi."


Alby menghentikan gerak jemari nya. Lalu memutar kursinya jadi menghadap Silvy yang duduk di kursi rodanya keduanya saling berhadapan sekarang.


Pipi Silvy semakin tirus hanya perut nya saja yang membengkak karena ada nyawa di dalam sana.


"Sebenarnya kamu makan atau tidak sih?", tanya Alby. Silvy mengerutkan alisnya.


"Tentu saja aku makan mas."


"Tapi kenapa kamu malah makin kurus seperti ini? Apa anak kita terpenuhi nutrisi nya? Kamu saja seperti ini!"


Entah Silvy harus bahagia atau sedih mendapat perlakuan suaminya yang seperti ini? Jika dia memperhatikan fisiknya, bukankah itu termasuk bentuk perhatian juga?


"Insyaallah By. Aku makan makanan bergizi kok, kan ibu sama bibik masakin buta aku."


"Oh!"

__ADS_1


"Gimana, By? Kapan kamu bisa nemenin aku belanja kebutuhan bayi?"


"Bukankah usia kandungannya juga baru lima bulanan, kata orang Sunda mah pamali. Nanti belinya kalo udah tujuh bulanan."


Silvy menggeleng.


"Ngga, By! Aku takut...aku udah ngga punya waktu untuk sekedar belanja!"


"Ngomong apa sih kamu! Belum cukup sikap ku yang melunak sama kamu selama ini?"


"Bukan By, bukan gitu!"


"Apa yang bukan gitu! Aku bertahan sampai sejauh ini karena 'dia' !" Alby menunjuk perut Silvy.


"Iya By, aku tahu. Sampai kapan pun aku ngga akan bisa milikin hati kamu!", suara Silvy bergetar.


Alby meremas rambutnya kasar.


"Aku capek bahas seperti ini. Berhenti mengatakan tentang hal seperti itu, hidup mati seseorang hanya tuhan yang tahu! Jangan mendahului takdir! Aku ngga mau lagi dengar kamu bicara seperti itu!"


Alby bangkit dari kursinya lalu keluar dari kamar mereka.


Brakkkk..


Alby keluar dari kamar nya. Ia memilih duduk di tepi kolam renang. Ternyata di sana ada Sapto yang sedang bermain ponsel.


"Lho, By? Sejak kapan di sini?"


"Eh, mang!", Alby menghampiri Mang Sapto yang duduk di bangku dekat kolam.


"Ada apa?", tanya mang Sapto.


"Pusing mang!", jawab Alby. Mang Sapto menepuk bangku di sebelah nya. Alby pun duduk di samping mang Sapto.


"Soal apa? Perceraian mu dengan Bia?"


Alby tak mengangguk tak juga menggeleng. Dia hanya diam terpekur.


"Kalo suatu saat nanti kalian berjodoh, insyaallah othor mempertemukan kalian lagi."


Alby menengok.


"Masalah nya banyak yang pro kontra Mang!", Alby mendesah pelan.


"Hehehe ya sudah ikuti aja maunya yang berkuasa. Lantas, kamu pusing kenapa?"


"Silvy mang!"


"Kunaon non Silvy?"


"Dia selalu saja bahas soal kepergian dia. Padahal dia sendiri yang memutuskan untuk menyelamatkan bayinya."


"By, itu namanya naluri seorang ibu. Mamang justru bangga sama Non Silvy."


Alby mengernyitkan alisnya.


"Mamang ngga nyangka aja bocah manja dan arogan itu bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat sejak sama kamu By."


Alby menopang dagunya dengan kepalan tangannya.


"Mungkin, ini cara Tuhan mengirimkan mu untuk memperbaiki non Silvy!"


"Tapi kenapa aku harus kehilangan Bia Mang? Kenapa???"


"Kamu mau menyalahkan takdir?", tanya mang Sapto. Alby menggeleng.


"Jadi, kamu hanya terus berusaha memperbaiki apa yang masih perlu kamu perbaiki. Insyaallah Bia akan bahagia dengan jalannya sendiri. Tanpa kamu, dia akan baik-baik saja. Percaya sama mamang!"


"Tapi Alby cinta sama Bia, mang!Kenapa harus seperti ini!"


"Tugas kamu sekarang adalah berusaha memberikan sedikit cinta buat istri kamu juga. Dia lebih membutuhkan mu!"


Ucapan Mang Sapto bagai angin lalu bagi Alby. Hatinya masih saja Bia Bia Bia dan Bia. Bukan tak pernah ia mencoba membuka hati nya buat Silvy, tapi dia masih gak bisa juga!


*****


Insyaallah nanti up lagi. Masih ada yang nungguin ngga sih????


Mamak lagi kumat bengeknya 🤧🤕


Btw makasih yang udah mampir sama suport sampe bab ini.


Haturnuhun 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2