
Mobil yang aku tumpangi sudah sampai di samping rumah mertua ku, lebih tepatnya di depan rumah yang Febri kontrak. Dia lebih dulu mengantar ku di banding langsung ke kantornya.
"Tekan omah langsung istirahat ya Nduk!", pinta Febri.
(Sampai rumah langsung istirahat)
"Iya mas!", jawabku singkat. Saat aku baru saja turun dari mobil, serombongan ibu-ibu yang sepertinya baru pulang pengajian menghampiri ku.
"Eh...Neng Bia? Baru pulang dari rumah sakit?", tanya Mak Ijah, salah satu teman pengajian Mak.
"Iya Wak"
"Gimana si Titin? Cageur?", tanya nya lagi,di ikuti teman nya dengan anggkan.
"Alhamdulillah Wak, kamari operasinya berhasil. Sekarang udah siuman."
"Oh... makanya kamu bisa pulang gitu ya?", tanya yang lain. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kalo kamu pulang yang jaga siapa?"
"Si Aa pulang kok Wak."
"Oh...si Alby pulang. Ya bagus atuh, kamu ge kudu istirahat."
"Muhun Wak."
"Eh, tapi kok pulang nya bareng sama komandan sih?", tanya seorang tiba-tiba. Aku baru mau menjawab, tapi keduluan oleh mas Febri.
"Kebetulan saya dari kantor di kabupaten Bu, sekalian mampir jenguk Mak Titin. Eh ... ternyata Bia mau pulang, ya udah saja ajak sekalian. Lagian , suaminya juga tahu saya yang bawa pulang ke rumah. Ngga bakal saya culik juga hehehhehe...."
"Komandan mah ...ih...saya ge mau kalo yang nyulik teh komandan, ikhlas malahan!", canda ibu yang lain.
"Teu beuki komandan mah sama nenek-nenek ku sia", celetuk yang lain.
(Ngga doyan komandan sama nenek-nenek kaya kamu)
Hahahaha....
Sebagian dari mereka malah tertawa mendengar ucapan Mak itu.
Di sela tawa emak-emak, ponsel Febri berdering. Ada panggilan dari keponakannya di kampung.
"Punten ibu-ibu, saya angkat telpon sebentar!", ijin Febri.
Aku yang sebenarnya ingin segera masuk rumah jadi ngga enak gara-gara kaum emak-emak ini masih di sini.
[Assalamualaikum, sayang?]
Febri menyapa keponakannya yang di Jawa sana.
Aku yang tak sengaja mendengar panggilan sayang Febri pada seseorang jadi tersenyum, dia bisa juga bersikap halus seperti itu.
"Aishhh...si komandan mah romantis pisan!", celetuk salah satu ibu.
"Ya udah atuh balik, neng Bia juga mau istirahat kali. Capek jagain Mak di rumah sakit."
"Salam ya neng buat Titin."
"Iya Wak!", sahutku. Aku masih sempat mendengarkan obrolan Febri. Tapi aku juga tak ingin berlama-lama di sana. Kaki ku pun melangkah menuju rumah, dan aku memilih lewat pintu belakang.
Febri masih melanjutkan telponnya.
[Lek Bri, kapan muleh?]
(Om Bri, kapan pulang?)
[Sesuk lah, lah po kok gak tau-tau ne takok kapan aku muleh nduk?]
(Besok lah, kok tumben tanya kapan aku pulang?)
[Kangen ae, pengen di traktir heheheh]
[Halah! Modus! Njalok pulsa toh koe?]
[Huum. Pak Lek Bri emang pengertian]
[Dasar bocil]
[Lek, Iki ibuk arepan ngomong ambi peyan]
(Om, ini ibu mau ngomong sama kamu]
[Hallo BRI?]
[Iya mbak]
[Sekarang kamu dines di kota G toh?]
__ADS_1
[Iyo, kenapa?]
[Mbak denger, Shabia sekarang juga tinggal di situ toh? Ketemu ga?]
[Kata siapa mbak?]
[Mbak Yu Asih, ibu'e Bia. Tadi ketemu di bale desa]
[Iya mbak. Aku udah ketemu Bia]
[Tenane?]
(Beneran?]
[Iya]
[Terus pie kabare de'e?]
[Yo...begini lah]
[Begini gimana?]
[Mbak Susi di suruh sama ibune Bia?]
[Ngga kok Bri]
[Yo es lah mbak. Kalo ngga ada yang penting, aku mau ke kantor lagi.]
[Oh...ya wis nek ngono]
[Wis ya mbak, assalamu'alaikum]
[Walaikumsalam]
Febri kembali menyimpan ponsel ke saku nya lagi lalu menuju ke kantor lagi. Tak lupa ia mampir ke kios untuk membeli pulsa buat keponakannya di kampung sana.
.
.
Aku memasuki rumah yang sudah dua tahun ini ku tempati. Ada rasa sesak di dadaku saat aku mengijinkan Alby pergi merantau. Jika tahu pada akhirnya akan seperti ini, lebih baik Alby menjadi kuli bangunan saja. Meski tak kaya, setidaknya kami hidup berkecukupan. Hidup kami bahagia
Aku berjalan menuju ke kamar ku. Kamar yang selalu rapi dan menyimpan banyak kenangan bersama Alby.
Sudah hampir jam tiga sore, itu artinya kumandang azan ashar akan segera terdengar.
Setelahnya, aku mendongak menatap langit-langit kamar sederhana ku ini.
Jika rumah tempat ku berpulang bukan lagi hanya milikku, apa aku akan bisa terus bertahan di sini?
Beberapa menit berlalu, aku segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Azan ashar berkumandang, aku pun keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan berwudhu.
Tapi alangkah terkejutnya saat ku dapati seseorang yang ada di hadapan ku menatap ku sayu.
Aku yang hanya memakai handuk sebatas dada dan lutut pun segera berlalu. Mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaan Alby.
Kaki ku melangkah cepat menuju kamar, tapi saat akan menutup pintu kamar ku tangan Alby menghalanginya.
"Aku mau pakai baju, mau solat. Udah wudhu!", aku menjelaskan tanpa menyebutkan nama nya atau embel-embel aku kamu lagi.
Tapi seolah ia tak mendengar ucapan ku. Dia menerobos masuk ke dalam kamar ku, eem...kamar kami.
Merasa sia-sia karena ucapan ku tak ia dengar, aku memilih untuk mengambil pakaianku. Dan setelah itu aku keluar dari kamar kami, memilih untuk memakai pakaian di kamar sebelah. Beruntung Alby tak mengikuti ku.
Usai mengenakan pakaian, aku langsung menuju ke tempat solat yang biasa kami pakai untuk jamaah.
Aku mencoba khusyu' , tapi Alby yang tiba-tiba ada di belakang ku membuatku tak konsentrasi. Meskipun aku sudah selesai solat dari tadi.
Dengan spontan, Alby merebahkan kepala di pangkuan ku. Aku sedikit tersentak, tapi aku menyadari ada air mata di pelupuk mata kami. Iya, ujung mata ku dan mata Alby sama-sama berair.
Alby menghadap wajahnya di perutku. Menciumi perut ku meski berbalut mukenah. Masih terdengar jelas isaknya yang membuat ku semakin luluh.
"Maafkan ayah nak!", kata Alby lirih sambil sesekali mencium perutku dan mengusapnya.
Apa katanya? nak?
"Kenapa kamu ke sini?", pertahananku runtuh untuk tidak bertanya padanya.
"Karena neng, tempat Aa pulang!", jawab Alby.
Aku tersenyum sinis.
"Berhenti lah menangis, bagiku tangisan mu tak berarti apa-apa. Cepat atau lambat kita akan tetap berpisah."
"Aku tidak akan pergi melepaskan mu Bi. Kamu selamanya hanya milikku, istriku!"
__ADS_1
"Pergilah! Aku ingin menenangkan diri. Dia juga pasti sedang menunggumu di sana!".
Suaraku sedikit bergetar! Mulutku berkata demikian, tapi hatiku menginginkan Alby tetap bersamaku dan hanya milikku.
"Dia mengijinkan ku bersama mu Bi."
Aku menghapus air mataku yang meleleh tadi.
"Mau apa kamu ke sini?"
Alby bangkit dari pangkuan ku. Mata kami saling berdiri. Aku tak bisa menafsirkan apa yang ada di hadapan ku. Tapi yang aku tahu, sekecewa apa pun aku saat ini, perasaan cinta ku pada Alby masih sama. Belum berubah, atau...mungkin tidak akan pernah berubah.
"Aa mau membawa mu pergi ke kota."
Apa katanya? Mengajakku ke kota?
"Tidak perlu. Aku bisa melakukan apa pun sendiri. Kamu ngga usah report mengusir ku dari sini, aku bisa keluar dari rumah ini tanpa kamu minta!", aku melepaskan mukenah ku lalu melipatnya.
"Bisa ngga sih sayang kamu ngga keras kepala?!", bentak Alby. Aku sedikit tersentak mendengar ia membentakku meski ada kata 'sayang' di sana.
"Aku memang keras kepala dari dulu! Kamu tahu itu!", aku bangkit dari lantai lalu berjalan menuju kamar. Tap ternyata Alby mengikuti langkah ku. Setelah itu ia mendorong ku masuk ke kamar lalu mengunci pintunya.
"Bi, dengarkan aku! Aku sendiri tidak ingin menzolimi kamu Bi. Bagaimana bisa aku membiarkan kamu di sini sendiri?! Aku akan tetap membawa mu ke kota. Begitu pula dengan Mak!"
"Kamu pikir, aku mau tinggal satu rumah dengan maduku? Di madu saja aku ngga mau ! Bagaimana mungkin kamu berpikir mengajak ku tinggal bersama? Kamu ngga punya hati tahu ngga!", aku mendorong dada Alby dengan telunjuk ku.
Selama ini aku menjadi istri yang penurut dan memenuhi segala sesuatu perintah yang Alby katakan. Tapi tidak untuk hal ini. Aku tak ingin seperti ini!
"Sudah ku tekankan berkali-kali! Aku tak Sudi berbagi! Jelas!", kataku penuh penekanan sambil menghapus air mataku.
Alby mencengkram bahuku. Badanku yang memang lebih kecil dari Alby pun sedikit terguncang. Alby mendorong ku hingga kami berada di kasur. Posisi Alby tepat berada di atas tubuhku.
"Tapi aku juga sudah berkali-kali mengatakan nya Bia. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun karena aku hanya mencintai mu!", suara Alby begitu berat tapi penuh dengan emosi yang meyakinkan bahwa dia memang benar-benar mencintai ku.
Aku tak bisa lagi membalas ucapan Alby karena ia lebih dulu membungkam ku. Lagi dan lagi aku hanya bisa pasrah dengan ketidakmampuan ku untuk menolak Alby.
.
.
.
Saat ini kami sama-sama berada di balik selimut. Aku dan Alby kembali melakukan hal dan kewajiban kami.
Alby masih mengusap perut ku yang ada di balik selimut.
Sedangkan matanya terpejam dengan wajah yang berada di bawah ketiakku. Pertempuran kami tadi menguras emosi sekaligus tenaga Alby. Dia benar-benar tidak seperti Alby yang ku kenal. Entah karena ia yang sedang emosi, atau memang aku yang baru menyadari jika ia melakukan ini semua semata-mata karena takut kehilangan ku.
Tanganku terulur mengusap kepalanya yang ada di depan wajah ku.
"Bi...!", panggilnya lirih.
"Heum?", sahutku.
"Tetap lah bersama ku."
Aku diam membatu. Jika Mak saja ikut ke sana, itu artinya kami akan tinggal serumah. Dan aku...tidak mau!
"Aku tidak bisa ikut ke kota."
Alby mendongak menatap wajahku.
"Kenapa sayang?"
"Aku tidak bisa satu atap dengan istri barumu. Dan Mak, Mak pasti akan tinggal dengan putri kandungnya di banding memilih tinggal bersama ku."
Alby pun terdiam.
"Aku akan menunggu pulang ke sini!", ucapku pada akhirnya.
"Maksud mu apa sayang?", tanya Alby menatap mataku yang sembab.
"Baiklah, aku akan bertahan dengan pernikahan kita. Tapi aku minta, kamu sering pulang menemui ku!", aku menakup kedua pipinya.
Ada raut kelegaan di wajah Alby. Tapi...detik berikutnya ia juga merasa cemas.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu di sini sendiri Bia?"
"Itu lebih baik A, dari pada aku harus satu atap dengan istri mu!"
"Aku tidak ingin berpoligami karena aku sadar, aku pasti tidak akan bisa bersikap adil Bi. Mungkin benar, sepenuhnya cinta ku cuma buat kamu. Tapi waktu ku tak banyak untuk mu."
"Kita jalani saja A. Jika suatu saat nanti aku menyerah, itu bukan salah mu! Tapi mungkin memang keadaan tak berpihak pada kita!"
Aku dan Alby menyatukan kening kami. Entah pernikahan apa yang akan kami jalani nanti.
Jika harus memilih, A
__ADS_1