Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 140


__ADS_3

Alby memasuki rumah mertuanya. Dia memilih pulang terlebih sebelum nantinya kembali ke rumah sakit. Di rumah hanya ada dirinya seorang. Padahal ini sudah hampir jam delapan malam.


Usai membersihkan diri, Alby memilih duduk di ruang tengah. Mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang di kampung sana.


[Hallo assalamualaikum Cep!]


[Walaikumsalam, eh ... kang Alby? Kumaha damang kang?]


(Gimana kabar)


[Alhamdulillah cager Cep. Urang arek minta tolong, tiasa teu?]


(Alhamdulillah baik. Aku mau minta tolong, bisa gak)


[Tolong naon ieu teh?]


(Tolong apa )


Alby menghela nafasnya.


[Hampura, tinggali imah urang]


(Maaf, liatin rumah ku)


[Kunaon ya kang?]


(Kenapa ya kang?)


[Si neng tos uih ka Jawa. punten, tingali masih Aya keneh teu motor manehna!]


(Si neng udah pulang ke Jawa. Maaf, liatin masih ada ga motornya)


[Oh...motor anu matic lin?]


[Muhun Cep]


[Kamari mah, kayanya di bawa sama neng Bia. Urang teu ngarti lamun manehna arek Ka Jawa. Imah teh tos poek kang]


(Saya ngga tahu kalo dia mau ke Jawa. Rumahnya sudah gelap)---- (dalam artian lampunya gak nyala ya 😅)


[Oh...nya nggeus atuh. Hatur nuhun cep]


[Muhun kang!]


[Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Cecep menghela nafasnya pelan. Dia sebenarnya tak mau ikut campur, tapi sudah terlanjur tahu kondisi rumah tangga Alby dan Bia. Tapi Cecep lebih memilih untuk tidak membahasnya dengan siapa pun, kecuali Febri kemarin.


Marsha mengirimkan chat pada Alby.


[Besok, Tuan Hotma ingin bertemu sama kamu mas]


Alby membalas chat Marsha.


[Tuan Hotma itu siapa Sha?]


[Pengacara Tuan Hartama mas]


[Mau apa dia minta ketemu aku?]


[Ngga tahu mas]


[Ok. Makasih infonya]


[Sama2 mas]


Usai membalas chat Marsha tadi, tiba-tiba perut Alby protes minta diisi. Seperti nya dia lupa juga tadi siang dirinya juga tidak makan.


Tidak ada makana apapun di dapur karena memang semua penghuni berada di rumah sakit.


Alby membuka lemari dapur, beruntung dia masih menemukan mie instan dan beberapa telur di kulkas.


Pria tampan itu menghela nafas kasar. Seandainya ada Bia, dia pasti tidak akan melakukannya sendiri. Walaupun dulu pernah menjadi anak kost, tapi kehadiran Bia membuat Alby merasa bergantung banyak hal padanya.


Beberapa menit berlalu, mie instan buatan Alby pun sudah matang. Dia menghadap semangkuk mie di depan mejanya.


Kepulan asap tak menghalanginya untuk segera menghabiskan isi mangkok tersebut. Usai memakan makan malamnya, Alby kembali ke ruang tengah. Di raihnya ponsel yang sejak lama belum di ganti. Bukan tidak bisa mengganti, tapi itu ponsel pemberian istrinya. Dan sangat berharga karena dari situlah Alby tahu jika istrinya tak pernah menuntut seberapapun yang Alby berikan pada Bia. Ya, ponsel dengan harga yang cukup lumayan bagi seorang Alby. Tapi nyatanya, sang istri mampu membeli untuk nya. Padahal Alby sendiri sadar jika ia tak seberapa memberi nafkah pada Bia.


Ia mencoba kembali menghubungi Bia. Tapi sayang, kali ini usahanya gagal. Bahkan foto profil Bia pun sudah tak nampak.


Jangan bilang kamu sudah memblokir nomor ku Bia???? Monolog Alby.

__ADS_1


Argggggghhhh!!! Dia memukul udara yang ada di hadapan. Fiyuuhhh....apa berasa????


.


.


.


Back to Sakti....


Ayah dan kedua anaknya itu telah duduk di sebuah meja resto yang sudah di pesan lebih dulu. Ketiganya pun mengambil posisi masing-masing.


Selang beberapa menit kemudian, waiters datang memberikan daftar menu. Tapi Galang menolaknya, dia memilih menunggu tamunya datang lebih dulu.


Yang di tunggu pun tiba. Seorang laki-laki paruh baya dan gadis berusia sekitar dua puluh tahunan.


"Selamat malam Jenderal Galang!", sapa seseorang itu yang tak lain adalah papanya Naya.


"Selamat malam Kapten Surya!", sahut Galang sambil berdiri menyalami tamunya. Diikuti oleh Sakti dan Anika begitu pula Naya.


Naya sendiri nampak terkejut melihat kehadiran dokter Sakti dan perempuan yang pernah di lihat nya di rumah sakit waktu itu.


"Oh ya perkenalkan, ini Kanaya Putri. Putri saya satu-satunya dan sekarang dia jadi perawat di salah satu rumah sakit kota ini!", Surya memperkenalkan Naya pada Galang dan kedua anaknya.


"Ini putri bungsu saya, Anika masih kuliah semester empat. Dan yang ganteng itu, putra sulung saya Sakti. Dokter di salah satu rumah sakit kota ini juga", kata Galang dengan kekehan ringan berharap acara perkenalan itu tidak terlalu kaku.


Anika memasang senyum manis, sedang Sakti seperti biasanya.


"Ishhhh...mode kayu baloknya mulai deh, kaku!", Anika mencebikkan bibirnya menyindir Sakti. Sedang yang di sindir masih saja diam tak berekspresi.


"Adek!", Galang mencolek lengan putrinya yang pasti sedang meledek kakaknya itu.


"Silahkan pak Surya, pesan makanan lebih dulu. Nanti selesai makan kita bisa ngobrol-ngobrol!", kata Galang mempersilahkan.


Mereka memesan sesuai yang mereka inginkan. Tapi tidak dengan Sakti, dia lebih memasrahkan pesanannya pada Anika.


Anika menyadari jika kakaknya sama sekali tak tertarik dengan perkenalan ini. Padahal jika di lihat-lihat, Kanaya cantik kok!


Nyesel gue cerita soal mba Bia yang pernah naksir mas Sakti! Sesal Anika dalam hati.


Kanaya mencuri-curi pandang pada dokter Sakti. Dokter yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Tapi karena dia tak pernah merespon sama sekali, Kanaya mengubur dalam-dalam perasaan itu. Ia mencoba membuka hati pada Letnan Seto. Dia mengejar-ngejar Kanaya dari dulu. Bukankah lebih baik di cintai oleh orang tepat dari pada mencintai orang yang sama sekali tak pernah mencintai nya??


Tapi...di saat ia sudah memutuskan untuk berpindah ke hati Seto yang tulus padanya, dia di hadapkan pada sebuah perjodohan yang mengharuskan seorang Naya menurut pada papanya.


"Biar lebih akrab, kalian ngobrol berdua ya? Biar ayah sama papanya Naya ke meja lain!", kaya Galang berdiri dari bangkunya.


"Adek sini aja!", pinta sakti dengan wajah datarnya.


Anika menganggukkan kepalanya pada sang ayah. Sebagai adik, Anika paham seperti apa kakak kesayangannya itu.


Jadilah, dua perempuan cantik dan seorang dokter tampan duduk di meja bundar itu. Untuk beberapa menit, suasana hening. Anika yang biasa cerewet pun bingung memulai percakapan.


"Kak Naya, sebelumnya bekerja di rumah sakit mana kak?", tanya Anika mencoba membuka suara.


"Di kota G ,Anika!"


"Oh, ya.... berarti dulu pernah satu rumah sakit dengan mas Sakti dong?"


Kanaya mengangguk. Sakti pun sebenarnya tahu jika Naya pernah bekerja bersama di sana. Semua juga tahu seorang Naya getol mengejar cinta Sakti. Sayangnya sakti tak pernah menggubris gadis manapun termasuk Kanaya sendiri.


Saat Anika ingin bertanya lagi, Dimas mengirim pesan pada Anika. Dimas menanyakan bagaimana acara makan malamnya. Dia menceritakan tentang Seto pada Anika.


Anika fokus dengan ponselnya. Sakti sendiri malah semakin kaku dengan wajah datar nya, membuat Kanaya semakin tak nyaman.


Anika memberikan ponsel nya pada sang kakak.


"Apa sih dek!", kata Sakti kesal.


"Ini baca dulu, gih!", paksa Anika pada sakti. Mau tak mau Sakti menerima ponsel Anika. Pria tampan berlesung pipi satu itu membaca pesan Dimas.


Perlahan, muncul senyum di wajah Sakti. Anika memundurkan kepalanya sedikit, heran dengan perubahan kakaknya yang mendadak itu. Bukannya dia harus sedih ya? Ternyata gadis yang akan di jodohkan dengannya adalah kekasih sahabat nya sendiri???


Dengan masih wajah tersenyum, Sakti mengembalikan ponsel Anika.


"Ehem, Naya!", panggil Sakti. Anika masih menunggu apa yang akan kakaknya katakan pada Naya.


"Ya , dok!", sahut Naya.


"Jadi, kamu sebenarnya sudah punya kekasih?", tanya Sakti tiba-tiba. Anika tak menyangka jika kakak nya akan langsung to the point di depan gadis itu.


"Maksud dokter, apa?"


"Letnan Seto?", tanya Sakti balik. Kanaya sedikit tersentak. Tak ada jawaban apa pun dari gadis berbibir mungil itu.

__ADS_1


"Kalo kamu mau menerima perjodohan ini, bukan hanya Seto yang sakit hati lho. Tapi kamu juga! Karena sampai kapan pun, saya tidak akan bisa membuka hati saya ke kamu. Walaupun dari dulu saya tahu kamu suka sama saya selama kita bekerja di rumah sakit yang sama."


Untuk pertama kalinya Naya mendengar kalimat yang cukup panjang dari Sakti, meski kalimat itu menyakitkan.


"Seto ada di luar, dia memang ajudan ayah saya. Tapi saya dia sahabat saya juga. Dan jika saya menerima perjodohan ini, itu artinya Seto akan di khianati oleh dua orang sekaligus. Saya sebagai sahabatnya, dan kamu sebagai kekasih nya! Bisa di bayangkan seperti apa rasa sakit hatinya Seto???"


Kanaya bergeming. Apa yang Sakti katakan memang benar!


"Saya paham dok. Saya akan mengatakan ke papa. Perjodohan ini tidak akan di lanjutkan. Bagaimana pun, saya tahu jika sampai kapanpun perasaan dokter tidak akan berubah pada nyonya Bia. Jadi, lebih baik saya melanjutkan hubungan saya dengan mas Seto yang benar-benar tulus menyayangi saya."


Sakti bernafas lega. Berbeda dengan Anika yang melongo. Dia yang tak tahu asal muasal kisah rumit mereka.


"Terima kasih Kanaya!", Sakti tersenyum manis.


Masyaallah, baru kali ini aku di senyumin sama dokter Sakti. Tapi sayangnya... situasi nya tak tepat! Kanaya mengangguk pelan.


"Dek, mas mau ke toilet dulu ya!", pamit Sakti pada adiknya sambil menyempatkan mengecup kening Anika. Anika sendiri mengangguk.


Sakti cukup lega mendengar penuturan Kanaya, saking senangnya ia sampai tak menyadari jika langkahnya tak hati-hati sampai menabrak seseorang.


"Kalo jalan hati-hati dong pak!", kata seseorang itu.


"Maaf!", kata Sakti pelan. Gadis itu memunguti isi tas yang berhamburan.


"Sabrina, kenapa?", tanya temannya.


"Tahu nih bapak-bapak jalan ngga lihat-lihat!", jawab Sabrina ketus.


"Apa? Bapak-bapak kamu bilang?", tanya Sakti pada gadis itu.


"Hushh! Brina! Beliau pengunjung resto ini, Lo mau di pecat hah!", ucap teman nya lagi.


"Lha, kan sekarang udah selesai jam kerja gue Nur. Udah ah, gue buru-buru pulang. Kasian ibu gue lagi sakit kan!", kata Sabrina.


"Ya udah, minta maaf dulu gih!", Nur menyenggol lengan Sabrina.


"Maaf pak!", kata Sabrina menunduk.


"Saya bukan bapak kamu!", celetuk Sakti. Sabrina mendongak.


"Tahu ah, udah minta maaf juga!" , sahut Sabrina cuek.


Sakti akan melangkahkan kaki lagi tapi kakinya menginjak sesuatu, sepertinya obat. Ia pun memungutnya. Lalu membaca sekilas nama obat itu.


"Ini obat siapa?",tanya Sakti.


"Oh, ya Allah! Punya saya lah pak!", sahut Sabrina sambil merebut sekantong kecil obat itu.


"Ibu mu sakit jantung?"


"Dari mana bapak tahu?" , tanya Sabrina.


"Obat itu tidak akan ada gunanya kalo kondisi jantung ibumu sudah parah. Harus nya sudah di lakukan operasi!"


"Bapak Dokter?", tanya Sabrina.


"Iya, saya Dokter spesialis bedah jantung."


Mulut Sabrina menganga beberapa saat. Tapi detik berikut dia bersikap seperti semula.


"Bapak kan orang kaya, gampang ngomong kaya gitu. Sedang kami kaum dhuafa mah bisa apa, kalo ngandalin Sbjp kan kudu antri pak."


"Di bilang saya bukan bapakmu!", kata sakti. Nur , teman Sabrina memilih meninggalkan temannya itu.


"Saya harus panggil apa? Eh... ngapain saya tanya kaya gitu?", Sabrina mengusap pelipisnya yang tertutup jilbab.


"Panggil sakti saja!", ujar sakti ia mengulurkan tangannya pada Sabrina.


Sabrina pun sedikit ragu menerima uluran tangan itu, tapi akhirnya ia pun menyambutnya.


"Sabrina!"


Ganteng amat sih mas dokter! Batin Sabrina.


Cantik! Gumam Sakti, tapi masih cukup terdengar oleh Sabrina. Bolehkah Sabrina geer? Lhhha....????


"Ini kartu nama saya, kamu bisa hubungi saya untuk konsultasi kesehatan ibu kamu."


Sabrina menerima kartu nama itu.


"Saya ke toilet dulu ya!",pamit sakti. Sabrina mengangguk pelan. Dia pun berlalu dari tempat itu, berjalan terburu-buru menuju ke rumah nya.


*****

__ADS_1


Masih selingan dokter Sakti dulu ya 🤗🤗🤗😅😅😅


Ngga lama kok, nanti fokus ke Bia lagi hehehe makasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2