Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 139


__ADS_3

Jenderal Galang beserta kedua anaknya yang tak lain Sakti dan Anika berada di mobil yang di kendarai oleh Febri. Sedangkan Dimas dan Seto mengikuti di belakang dengan mobil yang lain.


"Ayah, memang Ayah yakin mau jodohin Mas Sakti?", tanya Anika tiba-tiba.


"Ini baru kenalan Dek!", kata Sakti yang duduk di sebelah Febri.


"Siapa tahu cocok, bukan gitu yah!", Anika meminta persetujuan dari ayahnya.


Jenderal Galang tersenyum tipis menanggapi ucapan anak bungsunya.


"Benar kata adikmu, Mas. Siapa tahu setelah ini benar-benar jodoh. Apalagi kalian sama-sama bekerja di bidang kesehatan", jenderal Galang menimpali.


Sakti tak lagi menyahuti ucapan ayah dan adiknya itu.


"Febri!"


"Siap pak!"


"Bagaimana menurut kamu soal perjodohan?", tanya Galang. Dia tahu jika Febri sudah pernah menikah sebelumnya. Jadi tidak ada salahnya jika Galang bertanya pada orang yang sudah berpengalaman.


"Menurut saya...tidak salah sih pak."


Sakti menatap horor sahabatnya yang sedang fokus mengendarai mobil. Tapi Febri menengok ke Sakti sekilas.


"Lalu? Gimana tanggapan kamu, sebagai seorang laki-laki yang pernah berumah tangga?"


Febri menghela nafasnya.


"Saya menikah dengan almarhumah istri saya juga karena di jodohkan kok pak!"


Febri tersenyum tipis sambil sesekali melirik spion.


"Di jodohkan?", ulang Galang.


"Iya, pak. Ibu menjodohkan saya dengan almarhumah yang seangkatan sama saya waktu SMK dulu."


Galang mengangguk-angguk pelan.


"Saya terpaksa menikah dengan almarhumah Aisyah. Waktu itu... tiba-tiba Bia memutuskan hubungan kami secara sepihak yang sudah terjalin hampir enam tahun."


Anika yang biasa bawel pun menyimak cerita Febri.


"Kalo boleh saya tahu, alasan nya apa? Bukankah akhir-akhir ini kamu dan Sakti ...sering bertemu dengan Bia?",tanya Galang lagi.


"Saya juga tidak menyangka bertemu lagi dengan Bia, pak. Karena sejak memutuskan berpisah dengan saya, kami tidak pernah bertemu sama sekali. Dan ... setelah saya dinas di kota G, kami baru bertemu."


Jenderal Galang menepuk bahu Febri dari belakang.


"Cinta boleh Feb, tapi jangan merebut milik orang lain!", nasehat bapak.


"Iya pak, saya paham !", Febri mengangguk.


"Terus kamu mas, gimana bisa kenal dengan Bia?", tanya Galang pada si sulung.


"Ngapain tanya kaya gitu sih Yah. Udah ah....!", kata sakti.


"Mamas tuh kenal sama mba Bia pas masih koas Yah. Mba Bia tuh kerja di minimarket dekat rumah sakit. Mba Bia sih pernah cerita sama Ika yah!", kata Ika.

__ADS_1


"Cerita apa dek?", sakti memutar badannya kebelakang.


"Heum... penasaran ya?", ledek Anika dengan telunjuknya ke arah Sakti.


"Ngga usah ngeledek Dek!", kata Galang.


"Heum...jadi gini...ehem...dulu yah...dulu banget tapi...!", kata Anika mulai di buat-buat.


"Lama deh!", sahut Sakti kesal. Dokter dingin yang di sematkan padanya sudah tak ada sama sekali saat ini.


"Ciye....tapi jangan geer ya!", kata Anika lagi.


"Apaan sih dek!", sakti mulai geregetan sendiri.


"Hahaha iya, sabar ngapa pak dokter!"


"Sebentar kamu mau ngomong apa sih dek, berbelit-belit banget?", tanya Galang pelan.


"Hehehe jadi gini Yah. Dulu, mba Bia kan mutusin mas Feb secara sepihak tuh. Nah...di saat dia lagi berjuang mau move dari mas Feb, datang lah mas Sakti. Sering jalan kan mereka, bahkan kita tahu cerita soal mba Bia tiap ada pertemuan keluarga. Mba Bia bilang, sebenarnya dulu ... dulu lho ya, mba Bia pernah menaruh hati sama mas Sakti!", kata Anika.


Wajah Sakti berbinar.


"Serius dek??", tanya Sakti kepo sambil tetap menghadap ke belakang.


"Yah, batalin kenalan sama jodoh-jodohin Sakti dong yah!", mohon sakti.


"Ngga bisa lah!", kata Galang tegas.


"Ayah ngga dengar, Anika cerita apa ? Bia pernah ada rasa lho sama Sakti. Barangkali Bia sekarang masih ada sedikit rasa buat sakti yah!"


Febri sampai terkekeh sendiri, ia berusaha menahan tawanya.


"Kok malah istighfar yah? Dek? Dan Lo ngapa ketawa Feb?", cerca Sakti.


"Mas sakti dengar Ika ngomong kan? Itu dulu mas...dulu banget, sampai akhirnya Mba Bia ketemu sama Mas Alby dan memilih mas Alby lalu mengubur dalam-dalam perasaan mba Bia buat mas Sakti. Karena apa? Dia merasa ngga pantas sama mas Sakti!", Anika memberi penjelasan panjang pada kakak satu-satunya itu.


Sakti melongo 'cengok'.


"Mas, udah...kamu ikhlaskan saja Bia nanti nya bahagia dengan siapa. Insyaallah pilihan ayah yang terbaik buat kamu kok mas!", kata Galang.


"Yah, tapi sakti masih..."


"Cinta? Sayang? Kalo itu sih, Febri juga iya. Iya kan Feb?", tanya Galang lagi. Febri tersedak air liur nya sendiri. Kenapa sih atasannya itu selalu tepat sasaran kalo nebak!


Febri tersenyum malu-malu. Entah, malu beneran mungkin!


"Mas, udah...lupain perasaan mas ke mba Bia. Mba Bia cuma anggap mas sakti temen kok. Percaya sama Ika deh!", Anika mendekati Sakti dari belakang bangku.


"Heum!", sahut Sakti singkat.


Mobil sudah masuk ke area parkir sebuah restoran. Satu persatu penumpang mobil itu pun turun. Di mobil yang berbeda pun, Dimas dan Seto turut turun.


Mereka menghampiri atasannya sekeluarga.


"Kami tunggu di luar Pak?", tanya Febri.


"Mua ikut masuk, ayok! Kali aja nanti tuh cewek yang mau ayah kenalin ke aku naksir salah satu dari kalian!", kata Sakti kesal. Dia melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Galang menggeleng heran. Tidak ia sangka sama sekali jika si sulung bisa bersikap ke kanak-kanakan.


"Kalian bisa pesan meja yang lain, nanti tagihannya biar sakti yang menanggung!", Galang menggandeng putrinya lebih dulu.


Sakti melebarkan matanya yang bulat. Sedang ketiga sahabat nya menahan tawa.


"Awas kalian!", kata Sakti mengancam. Setelah itu, ia pun mengikuti ayah dan adiknya masuk ke restoran.


"Nunggu di mana nih?", tanya Febri.


"Di sini aja lah!", jawab Seto. Tumben dia kurang bersemangat.


"Koe kenapa To?", tanya Dimas.


(Kamu)


"Koe ngerti kan, aku nembe ae cedak ambi Naya. Huffft.... ternyata, de'e arep di jodohne karo bapakne. Sedih aku tuh!", kata Seto sambil duduk di kap mobil.


(Kamu tahu kan, aku baru deket sama Naya. ternyata dia mau di jodohin sama bapaknya.)


"Tenane?", tanya Dimas.


(Beneran?)


"Ya kamu samperin bapak nya Naya lah To! Bilang kalo Naya udah jalan sama kamu, kamu mau serius sama anaknya!", kata Febri menepuk bahu sahabatnya.


"Ya gimana, sebagai anak yang baik Naya ngga bisa nolak permintaan bapaknya. Apalagi cowok yang di jodohkan sama Naya pasti lebih baik dari aku. Aku Kuwi opo toh? Runtukan peyek teri!"(Aku ini apa toh? Remahan peyek teri)


"Padahal, kamu udah lama ngejar-ngejar Naya ya To. Dari masih di perbatasan sampe di kota G, terus sampai dia pindah ke Jakarta lagi. Baru dapat lampu ijo, eh...ternyata bapak nya malah jodohin Naya. Apes kamu To!"


"Nasip wong ga nduwe Yo ngene iki rek! Bapak ku tani, Mak ku buruh tandur!", kata Seto lesu.


(Nasib orang miskin ya begini. Bapak tani, ibu buruh menanam padi)


"Lho kok nyanyi?", tanya Febri heran. Sahabat nya satu itu memang unik. Meskipun dia sedih, tetap saja celetukan nya membuat orang di sekitarnya tak akan percaya kalo dia sedih.


"Wes...sabar, siapa tahu nanti jodoh mu jauh lebih baik dari Naya!", hibur Dimas.


Saat ketiganya diam, sebuah mobil pun masuk ke area parkir. Seorang gadis turun dari mobil bersama seorang pria, yang mungkin itu...bapaknya....


Pandangan Seto dan gadis itu saling bertemu. Gadis itu diam menatap ke arah Seto dan dua temannya. Dimas dan Febri pun menatap gadis itu.


"Ayo nak, jenderal Galang pasti sudah menunggu kita!", ajak laki-laki setengah baya itu. Naya pun menuruti perintah bapaknya , sesekali ia menengok ke arah tiga pria yang ada di mobil sebelahnya.


"Jadi.....", kalimat Seto menggantung. Febri dan Dimas merangkul bahu sahabatnya agar menjauh dari tempat tadi.


Seto berjalan di apit kedua sahabatnya. Kecewa?? Tentu saja! Bahkan Seto sudah merasa kalah sebelum berjuang! Sabar ya To!!!!


*****


Tahu dong siapa yang mau di jodohin sama sakti? Kira2 sakti mau ngga ya? 🤔


Secara....Naya udah dari lama ngejar-ngejar dokter sakti lho....


Naya itu sapa? Perawat yang bekerja di rumah sakit kota G bersama dokter sakti!


Hehehe makasih udah mampir sini 😅

__ADS_1


__ADS_2