
"Jangan sentuh aku!", pekik ku saat Alby mendaratkan tangannya di bahuku. Tapi Alby tak menggubris ku. Dia memeluk ku dari belakang. Meletakkan dagunya di bahuku.
"Maaf...maafin Aa!", ucapnya lirih penuh penyesalan.
Aku mendongak menatap langit-langit ruangan ini.
"Maaf mu tidak merubah apa pun. Sudah ku bilang, aku tidak suka berbagi. Dan sampai kapan pun aku tidak mau berbagi. Ceraikan aku!", kataku.
"Astaghfirullah! Neng!", Alby memutar badan ku hingga aku berhadapan dengannya.
Sakti yang tak jauh berada di situ pun terkejut mendengar permintaannya berpisah dari Alby.
Aku memang masih menaruh hati pada mu Bi, tapi aku juga tidak suka melihat keadaan mu seperti ini! Sakti mampu melihat betapa kecewanya Bia saat ini.
Berbeda dengan Silvy. Gadis itu justru seolah tak menghiraukan apa pun yang terjadi di sana. Tangannya justru sibuk dengan benda pipihnya.
"Kenapa? Kamu mau tanya kenapa? Kenapa ngga? Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak bisa berbagi. Aku tidak bisa di madu. Aku ngga mau!!!!", bentakku. Suaraku yang keras membuat Mak yang tertidur pun bangun.
"Bia...!", panggil Mak lirih. Atensi ku sekarang menuju ke Mak. Aku melepaskan tangan Alby yang mencengkram lenganku.
Ku langkah kan kaki ku menuju ke brankar Mak.
"Mak...!", panggil ku lirih mengusap lengan Mak yang tak di pasang infus.
Mata Mak menatap ke sekelilingnya. Mata Mak tak berkedip menatap seorang pria berjas hitam sedang tersenyum tipis dan sinis.
"Mmmas Tama?", ucap Mak lirih. Aku sedikit terkejut mendengar Mak menyebutkan nama tuan Hartama.
"Bagaimana hari ini Tin? Sudah lebih baik?", tanya Hartama dengan suara datarnya.
"Kamu...di sini mas?", tanya Mak lirih.
"Mak....!", Alby berdiri di belakang ku. Memegang salah satu bahuku. Tapi segera ku tepis.
"Iya, kenapa kamu baru bangun. Harusnya....kamu menyaksikan pernikahan anakmu lho!", Hartama melipat tangannya di dada.
"Menikah? Alby?", Mak menatap mata Alby.
"Sayang, kemari! Kamu ngga mau bersalaman dengan ibu mu?", tanya Hartama. Silvy yang dari tadi fokus dengan benda pipihnya pun menghampiri sang papa.
Silvy tersenyum manis mengulurkan tangannya pada Mak.
"Silvy", ujarnya. Tapi Mak tidak menanggapi uluran tangan Silvy. Justru Mak menggenggam tanganku. Mataku saling bersirobok dengan Mak.
"Apa maksudmu kamu mas?", tanya Mak lirih.
"Apa memang nya? Aku hanya ingin membahagiakan putri ku...oh...tidak. Putri kita!", kata Hartama.
Tentu saja ini hal yang sangat mengejutkan bukan?
__ADS_1
"Putri kita?", tanya Mak.
"Kenapa? Apa kamu malu mengakui putri cantik ku ini sebagai anakmu heum?", tanya Hartama.
Mak menggeleng pelan.
"Apaan sih Pa? Maksud Papa, Mak mertua malu punya anak cacat kaya aku?", tanya Silvy.
"Coba kamu tanya saja sama ibu mu itu?", Hartama menunjuk Mak dengan dagunya.
"Silvy?", gumam Mak tapi masih terdengar di telinga ku.
"Mak?", panggilan Alby mengejutkan Mak yang terpaku.
"Apa yang ingin kamu katakan terhadap putri mu dan anak tiri mu itu Tin?"
Mak menggeleng. Di sela gelengannya Mak malah menetes kan air matanya.
Tangan Mak semakin erat menggenggam tanganku.
"Kamu!", Hartama menunjuk telunjuknya di depan wajah Mak.
"Kamu adalah ibu paling jahat di dunia yang menelantarkan anaknya hanya untuk mengejar kebahagiaan mu sendiri!", suara Hartama terdengar sangat emosi.
Apa ini? Silvy anak Mak?
Mak tak menjawab apa-apa, dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Pa, apa maksud papa sih?", tanya Silvy.
"Maafkan papa sayang, papa baru katakan ini padamu. Dia... perempuan itu adalah ibu kandung mu!", Hartama menunjuk Mak dengan jari telunjuknya.
"Ngga lucu Pa!", tolak Silvy.
"Sayang....!"
"Ngga pa. Mama ku, mama Sherly! Dia ibu mertuaku!", kata Silvy kesal.
Apa ini ??? Ada motif lain kah di sini?
"Tuan?!", Alby menyela.
"Apa? Kamu mau apa? Sekarang Silvy adalah istri mu. Dan ibu tiri mu ini, juga ibu mertua mu!", sentak Hartama.
Alby menggelengkan kepalanya.
"Pa...!", panggil Silvy lirih.
"Dua puluh tahun kamu menelantarkan putri kandung mu demi merawat anak tiri mu yang sekarang jadi menantu mu? Bagaimana? Kurang kejutannya dari ku??", Hartama mendekati Mak.
__ADS_1
Sakti yang asing pun segera beranjak ke luar, tapi Hartama mencegahnya.
"Saya belum menyuruh Anda keluar dokter Sakti!", pinta Hartama.
Sakti pun mengurungkan langkah nya.
"Tin, kamu lihat di sini. Kamu, mau mempertahankan menantu tiri mu atau... kebahagiaan anak kandung mu yang selama ini kamu sia-siakan?", tanya Hartama pada Mak.
Aku dan Alby membulatkan mata kami.
"Mas....?"
"Ssssttt....aku tahu, kamu pasti akan memilih menantu tirimu itu kan? Hah! Sudah ku duga! Kamu memang tak akan bisa memilih putriku. Karena kamu memang ibu biadab!", tunding Hartama pada Mak.
"Cukup tuan!", teriak Alby.
"Anda tidak perlu memberi pilihan apa pun pada Mak Titin, saya yang akan mundur di sini!", aku bangkit dari bangku ku. Tapi Mak meraih tangan ku. Air mataku lolos begitu saja. Susah payah ku tahan air mataku akhirnya tumpah.
"Sayang!", Alby meraih bahuku lagi. Aku tahu dia takut kehilangan ku.
"Bagus lah jika kamu sadar diri!", kata Hartama.
"Aku akan mengurus perceraian kita!", ujar ku sambil melepas tangan Alby dari bahuku dan mengurai tangan Mak di genggaman ku.
"Bia! Jangan memutuskan saat kamu emosi seperti ini! Maaf aku ikut campur! Tapi kami juga harus memikirkan masa depan janin dalam kandungan mu! Jangan egois Bi," ucap sakti mencoba membujuk ku.
Tapi aku bergeming.
"Ka...kamu hamil sayang?", kata Alby menakup pipiku. Aku mengerjapkan mataku, air mataku sudah tak lagi sanggup ku tampung.
Alby memeluk ku begitu erat.
"Jika alasan kamu meminta berpisah karena pernikahan ku yang ngga kamu inginkan, kamu juga punya alasan bertahan karena anak kita bukan!?", Alby menatap manik mataku.
"Untuk apa aku bertahan dengan situasi yang justru semakin menyakiti perasaan ku sendiri? Kamu pikir aku akan tahan berapa lama A?"
"Aku lebih baik merawat anak ku sendiri dari pada aku harus menyaksikan suamiku berbagi cinta dengan perempuan lain. Aku sadar! Aku hanya orang asing di lingkup kalian. Benar kata tuan Rumah! Aku hanya menantu tiri di sini. Memang siapa aku hah? Punya hak apa aku di sini?", aku menghapus air mataku.
"Bia....!", Mak memanggil ku lirih.
"Aku memang sayang sama Mak melebihi sayang ku pada ibu kandung ku sendiri. Tapi...aku aku juga harus tahu diri, siapa dan apa posisi ku saat ini!"
"Kamu istriku! Menantu Mak! Tolong jangan egois sayang! Demi anak kita! Sudah lama kita menantikan kehadiran nya Sayang. Tolong ....!", Alby merosot lalu memeluk kaki ku.
Tok....tok...
Ceklek....
"Assalamualaikum!",sapa Febri.
__ADS_1
*****
Maafkeun jika kurang menarik atau terlalu lebai atau apa pun itu. Mohon like ,komen dan saran yang membangun biar ke depan lebih baik lagi. Terimakasih 🙏🙏🙏🙏