
Aku kembali mengalah! Mungkin lebih tepatnya kalah!
"Nanti kita istirahat di mushola pom bensin ya neng?", kata Alby.
Ya, kami berdua sudah otw ke kota. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut Alby ke kota. Lagi-lagi, demi ibu mertuaku!
"Heum!", sahutku datar.
Maafin Aa neng! Batin Alby.
"Nanti Aa cari kontrakan yang tak jauh dari rumah papa. Biar Mak lebih gampang ketemu Neng!", kata Alby. Aku tak menggubris ucapannya. Untuk apa? Toh pada akhirnya aku akan menjadi yang selalu kalah. Pasti waktu Alby akan terbuang lebih banyak untuk istri mudanya itu.
Alby menggenggam tanganku. Mengecup sesaat sambil tangan kanannya masih fokus di lingkaran kemudi.
Hampir lima jam mobil yang kami tumpangi masuk ke area rumah sakit tempat di mana Mak di rawat.
Aku dan Alby berjalan sedikit tergesa-gesa meski Alby masih melindungi ku.
Kamar Mak berada di kawasan VIP. Mungkin benar, tuan Hartama memang ingin memberikan yang terbaik untuk Mak.
Kami masuk ke kamar Mak. Di sana Mak di tunggui oleh Teh Mila.
"Assalamualaikum!", aku dan Alby memberi salam.
"Walaikumsalam!", Teh Mila berdiri. Aku dan Alby mendekati brankar Mak.
Mak yang tadinya terpejam sekarang membuka matanya.
"Neng?", panggil Mak lirih. Aku pun mengusap lembut punggung tangannya.
"Ya Mak, Bia di sini."
"Kamu apa kabar nak?"
"Alhamdulillah baik mak. Seperti yang Mak lihat."
Mak mengusap perut datarku. Dia menatap mataku dengan pandangan sayunya.
"Mak kenapa teh bisa sakit lagi?", tanya ku pada teh Mila.
Dia tampak bingung ingin menjawabnya.
"Teh? Apa Mak kecapekan?", tanya Alby. Teh Mila menatap wajah Mak. Dan kulihat Mak menggeleng pelan pada teh Mila.
"Maaf By, teteh ngga bisa jagain Bu Titin."
"Maksud teteh?", tanya Alby bingung. Mila menceritakan semua yang terjadi selama Alby tak ada di rumah. Titin yang tak di anggap sebagai keluarga. Titin yang di jadikan art seperti dirinya dan tentu saja sikap Silvy yang semena-mena pada Titin.
Alby meremas tangannya sendiri. Aku tahu, dia pasti sangat emosi saat tahu perlakuan bapak dan anak itu.
"Sudah By. Mak ngga apa-apa!", kata mak pelan.
"Tapi mereka keterlaluan Mak!", kata Alby emosi. Aku memilih diam berada di situasi ini.
__ADS_1
"Non silvy juga sempat dirawat dokter tadi pagi By!", kata teh Mila.
"Kenapa?", tanya Alby datar seolah dia tak peduli apa yang terjadi dengan istri mudanya itu.
Teh Mila menunduk.
"Kenapa teh?", tanya Alby lagi.
"Non Silvy hamil!", jawab teh Mila.
Aku terperangah! Hah! Senyum sinis terpancar di wajahku. Kecewa? Entah apa sebutan yang lebih tepat!
"A...apa? Hamil?", Alby membeo. Matanya beralih padaku. Aku memilih menunduk untuk sedikit meredakan emosi ku.
"Ya!", sahut Mila datar.
Alby terduduk di sofa. Titin merasa serba salah di sini. Bukannya itu berita bahagia? Dia akan menjadi nenek dari anak yang di kandung Silvy, putri kandungnya sendiri?? Tapi dia juga merasa hal yang pasti sulit untuk di terima oleh menantu cantik nya yang selama ini merawat dirinya dengan baik.
Kami semua diam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Hartama masuk ke dalam ruangan Mak.
"Oh, kamu sudah di sini?", tanya Hartama mendekati Alby. Mataku sempat beradu dengan Hartama sepersekian detik.
"Kamu ikut kemari?", tanya Hartama padaku. Sepertinya pertanyaan Hartama tak perlu ku jawab.
Karena tak ada sahutan dari ku, Hartama duduk di hadapan Alby.
"Silvy hamil! Rencana kalian ke Singapur papa batalkan!", kata Hartama menyandarkan punggungnya ke sofa.
Ke Singapura? Mereka akan ke Singapura? Dan Alby tak membicarakan hal itu padaku?
"Papa akan mereschedule jadwal operasi Silvy. Bagaimana pun, papa ngga mau membahayakan calon cucu kami. Bukan begitu Titin?", Hartama beralih kepada Mak.
Mak tak menjawab apa pun. Beliau memilih diam.
Begitu juga dengan Alby, dia masih menunduk dengan tumpuan kedua tangannya.
"Papa harap, kamu lebih memperhatikan Silvy. kondisi Silvy tidak seperti perempuan pada umumnya. Kamu tahu kan maksud papa?", tanya Hartama tapi tatapannya mengarah padaku.
Apa maksud ucapannya?
"Kondisi Bia tak selemah Silvy! Bukankan itu artinya Bia jauh lebih bisa mandiri di banding Silvy?"
Alby mendongak lalu menatap mertua nya dengan pandangan marah. Iya, dia tahu maksud Hartama mengatakan demikian. Hartama pasti meminta agar dirinya bisa bersama Silvy setiap saat. Itu artinya, dia akan semakin jauh dari Bia.
"Kenapa kamu menatap ku begitu? Mau marah? Hah?", bentak Hartama di depan Alby.
Gigi Alby bergemeletuk. Sungguh! Andai dia bukan orang tua, sudah pasti pukulan keras mendarat di salah satu anggota tubuh nya atau bahkan lebih.
"Tugas mu hanya menyayangi putriku, menjaga calon pewaris Hartama. Paham!!", kata Hartama penuh penekanan. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Mak.
Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku akan kembali di kalahkan di sini. Masih mampu sabar kamu Bia??? Tanyaku pada diri ku sendiri.
"Aku keluar!", kataku pamitan pada Mak begitu saja tanpa menghiraukan Alby yang memanggil namaku.
__ADS_1
"Neng! Neng!", Alby mengejarku. Aku melihat Hartama sudah berjalan menjauh dari area riang VIP ini.
"Tunggu neng!", Alby meraih bahuku.
"Apa?", tanyaku datar.
"Mau bagaimana pun, Aa akan tetap memperhatikan neng sama anak kita!", Alby meyakinkan ku. Aku melenggang, tak ingin mengucapkan apapun.
"Neng!", Alby menakupkan kedua tangannya di pipiku.
"Biarkan Bia sendiri!", kataku.
"Bagaimana Aa mau biarin neng sendiri kalo neng sedang emosi seperti ini?", Alby menekan bahuku. Aku mendongak menatap wajah nya karena dia memang lebih tinggi dari ku.
"Apa salah kalo aku emosi? salah A!?", tanyaku penuh penekanan.
"Ngga. Neng ngga salah. Makanya Aa ngga mau biarin neng sendirian."
"Justru aku butuh waktu sendiri! Pergi lah! Istri mudamu lebih membutuhkan mu A! Sedangkan aku tidak!"
"Neng! Aa ngga suka neng bicara seperti itu!"
Bahuku naik turun menahan gejolak emosi di dalam dadaku.
"Selamat! Kamu juga akan mendapatkan anak selain dari rahim ku A. Aku anggap apa yang tadi pagi kita lakukan hanya sebatas kewajiban selama aku masih menjadi istri Aa!"
"Maksud mu apa bicara seperti itu?", kini Alby terpancing emosinya.
"Ya, jika Aa tak bisa mendapatkan hak Aa dari ku sudah ada Silvy yang mampu menggantikan ku!"
"Omong kosong apa ini Bia!"
"Kenapa? Aku salah lagi?"
"Asal kamu tahu Bia! Aku cuma cinta sama kamu. Aku melakukan semua nya dengan mu murni karena aku sangat menginginkan mu dan mencintai mu!"
"Bohong! Kalau memang aa cinta sama aku, ngga mungkin ada benih darimu di rahim Silvy?! Ya , aku egois! Aku hanya ingin memiliki mu seutuhnya A. Aku benci! Benar-benar benci dengan keadaan ini. Karena aku yakin suatu saat hal ini pasti terjadi, tapi aku ngga nyangka akan secepat ini!", aku menghapus jejak air mataku.l dengan kasar.
"Iya. Aa salah. Mungkin Aa memang suami yang zolim! Aa tidak bisa bersikap adil pada kalian berdua. Aa cuma cinta sama neng! Asal neng tahu, Aa hanya memberikan hak Silvy saat dia memberikan pilihan agar Aa bisa menemui neng usai pernikahan itu! Tak pernah terbersit di benak Aa untuk mendekati Silvy apa lagi untuk menggaulinya lagi. Tidak sama sekali neng! Aa hanya menyalurkan hasrat Aa sama neng. Perempuan yang aa cintai kemarin, sekarang dan selamanya!".
Usai mengungkapkan perasaannya padaku, Alby sedikit menjauh dariku.
Benarkah apa yang dia katakan??
Aku bersandar di dinding. Mataku terpejam beberapa saat. Tapi tiba-tiba saja pelukan hangat itu menyergap ke tubuhku. Hatiku sedang tidak baik-baik saja.
"Maaf! Maafin Aa yang sudah berbicara keras sama neng. Maaf!", bisik alby di samping telinga ku. Tanpa terasa, air mataku kembali meleleh.
Perasaan apa ini???? Harusnya aku bahagia mendengar penuturannya jika dia hanya mencintai ku? Tapi kenapa masih saja ada beban di sudut hatiku?
****
Maafin tulisan receh Mak yang kurang menarik minat baca para reader's ya 🙏🙏🙏 Harap maklum, masih amatir 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Btw makasih yang udah bersedia mampir ke sini. Hatur nuhun!
Ditunggu kriSanNya ya gaes 🙂🙂