
Mobil Febri memasuki kawasan perumahan elit milik keluarga Hartama. Sebelum mobil memasuki area perumahan tersebut, tentu saja mobil yang kami tumpangi harus melewati posko keamanan yang terletak di paling depan gerbang perumahan.
Febri menghentikan laju mobilnya. Alby membuka kaca mobil.
Satpam itu memberi hormat pada Febri yang terlihat disegani dengan seragamnya.
"Selamat siang Ndan!", kata satpam itu memberi hormat serta menyapa.
"Selamat siang pak!"
"Tujuan anda ke kediaman siapa ya Ndan?", tanya satpam itu. Alby yang berada di belakang Febri pun menyela.
"Ke rumah tuan Hartama pak Anto!", kata Alby. Pak satpam yang bernama Anton itu pun menoleh.
"Oh, kang Alby!", kata satpam itu. Satpam itu melihat ku yang duduk di sebelah Alby. Aku hanya mengangguk tipis sebagai rasa hormat ku.
"Eum, ini istri saya pak Anto!", kata Alby. Pak satpam itu mengangguk mengerti. Gimana nggak? Seluruh komplek sini juga tahu kalo nona Silvy menikah dengan suami orang. Tapi karena kekuatan dan kekuasaan, sepertinya hal itu di maklumi saja.
"Oh, kalo begitu silahkan!", kata satpam itu. Febri menyalakan klakson nya sebagai tanda sapaan mobil akan melaju.
Seberlalunya mobil itu, satpam yang berjaga saling senggol. Tidak hanya kaum hawa, kaum Adam juga ada saatnya ngrumpi lho...
"Beruntung amat si Alby ya, udah punya bini cakep eh...nikah lagi sama anak konglomerat!", ucap satpam satu.
"Kita yang liat enak. Yang jalanin belum tentu mau!", celetuk yang lain.
"Udah, ngga usah ngurusin hidup orang. Kita bisa makan tidur nyenyak ngasih duit anak bini udah Alhamdulillah, ngga usah ngurusin kehidupan orang kaya!", sela pak Anto.
Kedua satpam itu pun tak melanjutkan ngrumpinya.
.
.
"Stop Feb!", kata Alby. Febri pun menghentikan laju mobilnya.
"Di sini saja?", tanya Febri. Alby mengiyakan dengan anggukan. Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka. Terlihat mang Sapto menghampiri mobil kami. Alby membuka pintu nya terlebih dulu, dan aku menyusul di belakangnya. Selang beberapa detik, Febri dan Seto pun turun.
"Jang, udah sehat?", sapa mang Sapto saat Alby menghampirinya.
"Alhamdulillah mang!", sahut alby. Dia melirik keberadaan mobil mertuanya yang masih terparkir di sana.
"Tuan tidak ke kantor!", kata Sapto. sepertinya dia tahu ke mana arah mata Alby melirik. Alby hanya mengangguk tipis.
"Jang!", Mak Titin menghampiri kami. Alby, aku ,mas Febri dan Seto menyalami Mak.
"Neng!", sapa Mak sambil memelukku.
"Mas Febri!", sapa Mak pada Febri lalu mengangguk tipis pada Seto.
"Mak apa kabar?", tanya Febri.
"Alhamdulillah, sehat nak Febri!", kata Mak sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kalo gitu Mak!", kata Febri.
"Ya udah masuk saja dulu, terimakasih nak Febri sudah mau mengantar Alby."
__ADS_1
Belum sempat Mak berucap, aku menyela terlebih dulu.
"Maaf Mak, kami mau langsung pergi!", kataku. Alby menatapku sambil menggenggam tangan ku.
"Arek kamana geulis?", tanya Mak padaku.
(Mau kemana cantik?)
"Neangen kosan mak. Bia mau kos di sini."
(Mencari)
"Oh...", sahut Mak sambil melihat ke arah putranya.
"Nanti kalo udah dapet kosan, Alby akan tinggal di sana Mak!", kata Alby. Mak Titin hanya mengangguk.
"Kamu udah pulang?", tiba-tiba suara bariton itu terasa menggema di telinga ku. Ya, suara tuan Hartama.
"Sudah tuan!", jawab Alby.
"Bia ngga di ajak masuk dulu?", tanya Hartama lagi.
"Tidak tuan, terima kasih!", sahutku. Lalu mata Hartama beralih pada Febri. Febri hanya mengangguk tipis.
"Saya sudah bilang, panggil om saja. Jangan tuan, Bia!", kata Hartama lembut. Febri yang tahu seperti apa awal mulanya Hartama, sedikit terkejut mendengar ia meminta Bia memanggil dirinya OM.
"Kalau begitu kami permisi tuan!", pamitku.
"A, Bia pergi dulu. Nanti Bia kabarin!", kata ku pada Alby sambil mencium punggung tangannya.
"Iya, mas Febri baik kok. Aa tenang saja. Negara aja di jaga, apalagi Bia!", celetuk Seto. Febri menyenggolnya bahu sahabatnya itu yang irit bicara dari tadi. Tapi sekalinya bicara, bikin sewot Febri.
"Jangan cari-cari kesempatan ya Feb!", Alby memperingati nya.
"Kalo cari kesempatan udah dari kemaren-kemaaren kali By!", sahut Febri. Aku hanya menggeleng mendengar perdebatan mereka yang tidak penting.
Akhirnya drama pamitan itu pun usai. Saat ini, Seto yang membawa mobil. Febri duduk di samping Seto, aku duduk di belakang seperti tadi.
Aku jadi ingin bertanya, apakah tugas Febri dan Seto sekarang cuma jadi tukang antar jemput anak jenderal? Memangnya dia tidak bertugas?
"Kenapa nduk?", tanya Febri tiba-tiba.
"Ngga!", jawabku singkat.
"Mesti penasaran ya, kok kerjaan ku gini?", tanya Febri.
Kok dia tahu sih aku penasaran?
"Ngga ,biasa aja!", jawabku. Febri tersenyum manis. Ya, senyum nya memang manis. Makanya dulu aku merasa jadi gadis paling beruntung karena di pacari seorang Febrianto. Nama yang singkat padat dan jelas. Dan semua orang tahu jika dia pasti lahir di bulan Agustus! ðŸ¤
"Aku sama Seto emang jadi ajudan bapak, eh...anak bapak! Maksudnya pak jenderal. Tapi ...ada saatnya kami harus bertugas atau harus ke kantor atau markas kok."
Aku mengangguk paham. Lagi-lagi Febri tersenyum.
"Bener kan tadi penasaran?", ledek Febri padaku saat tahu aku mengangguk.
"Heum. Iyo wae!", sahutku. Aku memilih memandangi jalanan yang terlihat sangat terik. Aku tak bisa bayangkan jika aku harus berjalan sendirian mencari kosan yang sebenarnya aku tak tahu tujuannya.
__ADS_1
"Mas hafal kok nduk, muka kamu kalo lagi penasaran kaya gimana!", kata Febri.
"Ehem!", Seto berdehem.
"Apaan sih!", kataku.
"Masa lalu....biarlah masa lalu...jangan kau ungkit jangan....!", Seto menyanyikan salah satu lagu dangdut yang mungkin sedang menyindir sahabatnya itu. Tapi belum selesai lagu itu, Febri membekap mulutnya.
"Koe kenek opo toh Feb? Nyanyi ae ga oleh! Cah gemblung!", kata Seto bersungut-sungut. Dia menggosok-gosok mulutnya yang tadi di bungkam Febri.
(Kamu kenapa sih Feb? Nyanyi aja ya boleh. Bocah gila)
"Lha po nyanyi kek ngunu?", tanya Febri.
(Ngapain nyanyi kaya gitu?)
"Yo mberke ae mas. Nyanyi ae mbok di seneni!", kataku membela Seto.
(Ya biarin aja mas. Nyanyi aja kok di omelin)
"Kok kamu malah belain Seto nduk?", tanya Febri memutar badannya ke belakang menghadap ku.
"Sopo sing bela!",kataku.
"Eling mas ...eling! Mas Alby wes ngekei mandat toh? Ojo nggolek kesempatan Karo mba Bia! Sing wes Yo wes. Ndang move on! Ga entuk perawan'e sesuk entuk rondone."
(Inget mas...inget! Mas Alby sudah memberi mandat toh? Jangan cari kesempatan sama mba Bia. Yang sudah ya sudah! Cepetan move-on. Ngga dapat perawanya besok dapet jandanya)
Febri langsung menjitak kepala Seto yang justru setelah itu terbahak. Di kira, awalnya dia pro padaku dengan alby. Ngga tahunya dia juga menghempaskan sahabatnya.
"Luambeee mu To! Wes ketularan Ambi Dimas Iki!", celetuk Febri.
(Bibirmu To! Udah ketularan sama Dimas ini)
"Hahahaha bercanda ya mba Bia. Kita biasa begini kok, biar ngga tegang!", kata Seto melihat ku lewat spion.
"Heum!", jawabku singkat padat dan tak bermutu. Akhirnya mobil berhenti di depan pelataran kampus.
"Koe sing mudun Feb!", pinta seto.
(kamu aia yang turun Feb)
"Ngopo aku? Koe wae Rono! Aku ga oleh Ambi Anika, jarene tebar pesona!"
(Kenapa aku? Kamu aja sana! Aku ga boleh sama Anika. Katanya aku tebar pesona)
"Wes, ribut ae. Aku sing mudun!"
Tanpa persetujuan mereka, aku yang lebih dulu turun. Mataku berkeliling mencari keberadaan Anika. Setelah beberapa saat, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku. Dia sedikit berlari menghampiri ku.
"Mbakku!", Anika memelukku seolah dia lama sekali tak bertemu dengan ku.
"Udah selesai kuliahnya?"
"Udah mba. Ini, kita langsung balik aja. Aku udah cari info ke temen-temen aku ko. Ada kosan yang ngga terlalu jauh dari sini."
Aku pun mengangguk, mengikuti Anika yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1