
*Kesabaran tidak ada batasnya, tapi manusia itu sendiri yang membatasinya*
*****
Aku masih bersandar di pintu ruang tamuku. Sesak, marah dan semua emosi yang ada di dalam dadaku ingin ku lupakan.
Sesakit ini rasanya Gusti....!
Membayangkan mereka melakukan semua itu saja sudah sakit luar biasa. Bagaimana jika menyakiti secara langsung?
Bahkan perasaan jijik mendera tubuh ku. Bisa-bisanya Alby mendatanginya usai menjamah Silvy? Dimana nurani nya? Di mana rasa cinta yang dia agung-agungkan padaku?
Aku hanya bisa menangis, menangisi betapa tidak beruntungnya aku ini. Rasa trauma di khianati harus ku alami lagi.
Almarhum bapak pernah merasakan sakitnya di khianati, kenapa aku juga????
Tubuhku luruh ke lantai, aku menyandarkan kepala ku ke pintu. Ku takupkan kedua tangan ku di wajahku.
Argggggghhhh....aku ingin berteriak sekeras mungkin. Tapi apa bisa mengurangi beban ku??
Tidak! Tidak akan mengubah kenyataan apa pun untuk ku.
Aku mengusap bibirku dan lengan ku kasar. Mengingat betapa panas penyatuan ku dengan Alby kemarin membuat ku merasa sesakit ini.
.
.
"Saya balik mas, bentar lagi berangkat!", pamit Cecep.
"Iya!", sahut Febri datar. Kaum emak yang tadi ikut menonton drama live pun sudah berangkat ke kebon.
"Mas...!", panggil Cecep. Febri menoleh ke rekannya itu.
Argggggg.....
Cecep dan Febri saling berpandangan!
"Neng Bia!", ujar Cecep.
"Bia!", pekik Febri.
Keduanya lantas berlari menuju rumah Alby. Mereka masuk kedalam rumah lewat pintu belakang.
Saking cemasnya, mereka bahkan hampir bertubrukan.
"Awsssshhhh....!", keduanya mengeluarkan desisan karena sudah saling menubruk satu sama lain.
"Ya udah, mas Febri aja dulu!", kata Cecep mengalah. Akhirnya keduanya pun menghampiri Bia yang sedang bersandar di pintu ruang tamu.
"Neng Bia!"
"Nduk!"
Ucap Febri dan Cecep bersamaan.
Aku mendongak menatap dua pria gagah itu. Ku hapus air mataku yang sudah meleleh dari tadi.
Febri dan Cecep mendekati ku.
__ADS_1
"Neng Bia teu nanaon? Cecep khawatir neng Bia pas teriak-teriak, kirain Aya naon?", tanya Cecep.
Aku menggeleng sambil terus tergugu.
Febri mendekati ku dan berjongkok di hadapan ku.
"Nduk...!", panggil Febri lirih di depan ku. Sedangkan Cecep memilih berdiri di belakang Febri yang sudah berjongkok di depan ku.
"Mas ngga tahu harus bilang apa sama kamu, tapi ... mas harap kamu bisa sabar menghadapi semua ini ya Nduk."
Aku membuang ingusku dan juga air mataku dengan jilbab yang ku pakai.
"Aku...aku...salah opo toh mas?", tanyaku padanya.
Febri menggeleng.
"Kamu ngga salah Nduk. Iki gur ujian rumah tangga mu!", jawab Febri bijak.
Aku menggelengkan kepala ku.
"Kenapa harus aku mas? kenapa? Dulu... almarhum bapak di khianati, aku masih bisa menghibur bapak. Tapi sekarang? Aku sendiri yang mengalaminya mas. Sakit banget mas....sakit....!"
Dengan spontan Febri merengkuh ku dalam pelukannya. Bukannya tenang aku justru semakin tergugu. Febri mengusap lembut puncak kepalaku. Ada rasa seperti di lindungi dan...mungkin merasa bahwa masih ada yang peduli padaku.
"Ndan....!", bisik Cecep agak kencang. Tapi aku masih mampu mendengarnya.
Febri hanya melirik tajam ke arah Cecep.
"Bukan mahram Ndan, jangan cari kesembuhan! Istri orang itu lho!", Cecep mengingatkan status Bia pada Febri. Febri pun semakin melotot ke Cecep.
Bodoh nya aku, aku mau saja di peluk Febri. Pelukan hangat yang dulu pernah ku rasakan.
Aku pun melonggarkan pelukan Febri dariku.
"Maaf!", ucapku dan Febri bersamaan.
"Nduk!", Febri mengusap air mata di pipiku.
"Mas minta maaf, mungkin ini salah. Tapi... kalo emang kamu sudah tidak bisa bertahan dengan situasi ini, lepaskanlah beban mu! Jalan mu masih panjang! Ingat juga dengan calon anakmu!"
Aku diam di tempat.
"Iya mas. Aku akan bertahan demi anakku!", sahutku lirih.
Tiba-tiba saja ada yang menggedor pintu ruang tamu. Aku yang bersandar pun terlonjak.
Buru-buru aku bangun, Febri pun membantu ku bangkit.
Ku buka pintu ruang tamu. Kudapati Wak Mus, pemilik rumah yang Febri kontrak sekaligus kakak dari almarhum bapak mertuaku.
"Wak?", sapaku sambil menyalaminya.
Wak Mus menatap Febri dan Cecep yang ada di belakang ku. Tak lupa ku hapus bekas air mataku.
"Cep? Kernaon ti dinya?", tanya Wak Mus.
(Cep? Ngapain di sini?)
"Em... eta Wak, tadi teh Neng Bia teh teriak. Spontan Cecep jeng komandan kadieu!", jelas Cecep. Wak Mus memandang Febri.
__ADS_1
"Maaf Wak, kami masuk lewat pintu belakang. Kami cemas sama teriakan Bia."
Sekarang Wak Mus yang memandangi ku.
"Kunaon maneh teriak-teriak?", tanya wak Mus. Beliau memang terkenal galak seantero kampung.
Aku hanya menggeleng.
"Kunaon maneh leweh?"
(Nangis)
"Teu Wak!", jawabku singkat. Tumben banget dia ke sini.
"Wak denger, Abi nikah deui?", tanya Wak Mus to the point. Ya, Wak Mus memang memanggil Alby dengan sebutan Abi.
"Iya Wak!", sahut ku lirih.
''Maneh ngijinin?", tanya Wak melotot. Aku semakin takut di buatnya. Mau jawab iya pasti salah, mau jawab ngga pun masih tetap salah di mata Wak Mus.
"Keterlaluan si Abi teh!", kata Wak Mus geram.
Febri dan Cecep saling lirik.
"Siapa istrinya? Sekarang Abi nya di mana? Mau Wak gebukin eta barudak!", nada Wak Mus sungguh horor. Febri dan Cecep menelan salivanya.
"Dari pada kamu di madu begitu, udah cerein wae si Abi teh. Kamu masih muda! Masih banyak laki-laki yang bisa membuat kamu jadi istri satu-satunya!", kata Wak Mus lantang. Tapi aku menggeleng pelan.
Febri dan Cecep berpandangan.
"Astaghfirullah Wak!"
"Siapa istrinya abi neng Bia?", tanya Wak Mus lagi. Aku yang tadi tenang pun tersentak.
"Em..em..itu Wak, anak kandung Mak!", jawabku. Wak Mus menaikkan salah satu alisnya.
"Anak nya Titin ? Titin punya anak? Hah?", tanya Wak Mus masih dengan mode galaknya. Dengan takut-takut aku mengangguk.
"Wak, kayanya Wak duduk dulu ya. Bia buatkan minum sebentar."
"Ngga usah!", Wak Mus langsung duduk di sofa.
Aku melirik ke dua orang abdi negara itu yang masih setia di ruang ini.
"Mas Febri, kang Cecep. Bukannya ini udah siang? Ngga dinas?", tanyaku.
Kedua orang itu pun gelagapan. Iya, mereka gelagapan sendiri.
Akhirnya, mereka buru-buru berpamitan pada Wak Mus. Mereka pun kembali melewati pintu belakang.
Aku duduk di hadapan Wak Mus dengan wajahnya yang masih tegang.
"Bagaimana bisa kaya begini Neng?", tanya Wak Mus. Sekarang suaranya sudah mulai melunak.
"Bia bingung bagaimana memulainya Wak?"
Terdengar suara ******* berat dari nafas Wak Mus yang sudah sepuh ini.
"Kenapa harus terulang lagi begini?", gumam Wak Mus. Tapi aku masih mampu mendengar nya.
__ADS_1