Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 152


__ADS_3

Aku menyibukkan diri di warung. Lek Dar dan lek Sarman pulang ke kampung lek Dar yang ada i perbatasan Jawa tengah dan Jawa timur. Ada saudara lek Dar yang hajatan dan mereka akan di sana beberapa hari. So...aku tinggal sendirian di rumah lek Sarman. Di samping warung disediakan mes bagi karyawan laki-laki, tapi tidak untuk karyawati karena sebagian merupakan anak asli daerah ku yang rumah nya masih bisa di jangkau pulang pergi.


Entah kenapa dari tadi ada rasa tidak enak di dadaku. Gelisah atau apa sebutannya aku tak tahu. Yang jelas, aku tak tenang. Kulirik ponsel ku, tak ada notifikasi dari siapapun.


Huffft! Kesepian kan aku???!!!


Memang siapa sebenarnya yang ku tunggu kabarnya? Alby kah? Atau...orang lain?


Kusandarkan kepalaku ku punggung sofa. Ada foto almarhum bapak di dinding ruangan ini. Ya, warung ini peninggalan bapak yang lek Sarman teruskan dan berjalan sangat baik hingga detik ini. Aku hanya terima beres, bukankah itu sebuah kebahagiaan yang patut disyukuri?


Ku pejamkan mataku beberapa saat. Bayangan Alby terlintas di pelupuk mataku. Dia yang tampan, lemah lembut dan selalu membuat ku tertawa. Menerima semua kekurangan ku yang bukan dari keluarga utuh.


Aku teringat kenangan terakhir saat ia berpamitan akan ikut bekerja dengan kang Asep. Perasaan cemas yang sama yang kurasakan saat ini. Apa terjadi sesuatu pada Alby? Terakhir kami berkomunikasi saat kami bertengkar beberapa hari yang lalu saat ia mengatakan jika ia memilih menyelamatkan Silvy lalu akan meninggalkan perempuan muda itu untuk kembali padaku.


Harusnya, aku bahagia bukan? Memang itu yang ku harapkan selama ini kan? Tapi ...nuraniku berkata jika Alby begitu jahat memperlakukan kami. Terlebih, Silvy sedang hamil bayi Alby.


Soal pengajuan gugatan yang memerlukan keterangan domisili, aku sudah meminta orang yang aku percaya untuk mengurus nya. Setelah semua selesai, aku baru menggunakan jasa pengacara.


Ponsel ku berdenting. Itu artinya, ada yang menghubungi. Aku berharap itu Alby, tapi ternyata Anika.


[Mba ku, apa apa kabar?]


Begitu chat dari Anika. Aku sempat kecewa, karena itu bukan dari Alby. Tapi ya sudahlah...tak apa-apa.


[Alhamdulillah baik dek, tumben. Ada apa?]


Anika membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengetik pesan untuk Bia.


[Boleh Ika tanya mba?]


[Apa?]


[Apa mba Bia serius benar-benar pisah sama Mas Alby?]


[Iya]


Kujawab singkat.


[Mba Bia tahu Silvy sakit?]


[Tahu, Alby yang kasih tahu aku]


Anika bangkit dari rebahannya.


[Lalu?]


[Tak merubah apa pun Dek. Mungkin anika jauh lebih membutuhkan Alby, di banding aku]


Anika menganga tak percaya.


[Ya Allah mba!]


[Ngga apa dek, udah malem sebaiknya kamu istirahat. Besok kuliah kan?]


[Iya mba, ya udah bye ...]


[iya]


Usai saling kirim pesan dengan Anika, aku pun kembali meletakkan ponsel ku. Aku heran, kenapa tiba-tiba Anika bertanya seperti itu?


Mendadak aku berpikir, apakah Silvy yang meminta Anika bertanya hal itu padaku? Apa hubungan mereka sudah membaik?


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku bingung akan melakukan apa. Bahkan rasa kantukku pun belum datang.


Karena gabut, aku coba-coba membuka laci nakas yang sudah lama tak ku buka mungkin. Ya, aku memang suka pindah-pindah tidur. Kadang di rumah ini, kadang di rumah bapak.


Isi laci ku masih sama seperti dulu. Tak berubah, bahkan tergeser.


Ada album foto kecil berukuran 3R. Aku membuka halaman itu satu persatu. Jangan tanya isinya foto siapa? Jelas itu foto kenangan ku bersama.... Febri.


Foto perjalanan cinta kamu dari masa putih abu-abu, masa-masa pendidikan Febri, masa kami LDR dan berakhir pisah. Huffft....menyedihkan!


Dari hari ke hari perubah fisik Febri makin terlihat. Febri yang cungkring, perlahan menjadi sosok yang tinggi dan kekar. Mungkin itu imbas dari latihan fisiknya hingga membentuk postur tubuhnya seperti sekarang.


Aku tersenyum melihat foto dimana aku masih memakai seragam putih abu-abu ku, sedang Febri berkepala plontos. Pose kami terlihat sangat timpang karena tinggi kami yang cukup jauh berbeda.


Meninggalkan masa-masa SMK, aku mulai membuka foto-foto kami yang sudah beranjak dewasa. Foto kelulusan Febri dari Akmil dan perjalanan kisah kami di titik empat tahun yang lalu.


Ckkk...aku tutup album itu dengan keras. Untuk apa aku mengingat dan bahkan masih menyimpannya. Eh...ralat, aku tak bermaksud menyimpannya. Dulu kamar ini juga di huni oleh almarhumah Putri, sepupu ku yang lebih muda lima tahun dariku.


Hujan kembali turun malam ini. Dingin, sepi, dan hening. Beruntung, gak mati listrik dan juga geluduk. Karena aku pasti akan merasa takut jika hal itu terjadi.


Aku mencoba memejamkan mataku sambil kunyalakan murotal Qur'an di ponselku. Perlahan...aku pun mulai terbuai dan tidur!


*****


Tok...tok..

__ADS_1


"Sebentar!", kataku sambil membuka pintu.


Aku terkejut saat melihat ternyata Alby yang ada di depan pintu.


"Kenapa kamu di sini?", tanya ku pada Alby. Tanpa menjawab pertanyaan ku, Alby jutsru masuk ke dalam ruang tamu. Aku pun membuntutinya.


"Mau apa lagi kamu ke sini?", tanya ku datar. Tapi Alby menunduk, tak menatap mataku sama sekali.


"Aa kangen sama neng!", Jawab Alby pada akhirnya.


"Ckkk....!", aku hanya berdecak sambil melipat kedua tangan ku di dada. Aku masih berdiri tak jauh dari pintu.


Alby bangkit dari duduknya lalu mendekat padaku.


"Benarkah kesempatan untuk Aa sudah tidak ada lagi neng?", tanya Alby tepat di depan wajahku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku mendongak, sedang Alby sedikit menunduk mengimbangi posisi tubuh kami.


"Ya!", jawab singkat.


"Sudah tidak ada lagi cinta neng buat Aa?"


"Cinta? Apa kamu masih butuh jawaban atas pertanyaan mu itu?", tanyaku balik.


"Jawablah! Neng masih cinta kan sama Aa?", tanyanya lirih tepat di depan wajahku.


Aku mencoba memalingkan wajah ku, sungguh jika sampai aku terbuai dengan wajah tampan suamiku itu pasti aku akan kembali goyah. Tapi mengingat bahwa dia tidak hanya milikku, aku merasa sakit di dadaku. Aku dorong perlahan wajah itu. Dan, ya...dia sedikit mundur. Tapi posisi kami masih sama, hanya wajahnya saja yang sedikit menjauh.


"Diam mu sudah menjawabnya Bi."


Perlahan tubuh tegap itu menjauh dariku.


Dia memanggil namaku tanpa embel-embel 'neng' seperti biasanya?


Aku melihat ia memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya. Ku dengar nafasnya memberat.


"Shabia Ayu binti Salman Abdullah, mulai detik ini ku jatuh kan talaq padamu!", ucap Alby bergetar.


Deg! Mataku membola. Tanpa di komando air mataku meleleh.


Sakit? Tidak! Tapi sungguh sangat sakit! Aku tak mampu berkata apapun. Ya, saat itu telah tiba.


Bukankah aku pernah menantangnya untuk menceraikan ku? Bukankah aku juga sudah mengurus gugatan cerai ku dengan Alby? Tapi kenapa aku sesakit ini mendengar Alby berkata demikian???


Aku meremas dadaku dengan kuat, sungguh rasa sakit ku tak tergambarkan oleh apapun.


"Arrrgggghhh!", aku terengah-engah. Tubuhku bergetar hebat. Aku mengusap kasar wajahku .


Apa artinya ini?? Benarkah Alby akan mengatakan itu padaku? Atau...ini jawaban dari keraguan ku?


Aku menghapus sisa air mata ku. Aku benar-benar menangis saat bermimpi buruk itu?


Segelas air putih yang ada di atas nakas sudah kuhabiskan hingga tandas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Andai aku sudah selesai nifas, aku pasti sudah melakukan dua rakaat sunahku.


Aku bangkit dari ranjang ku menuju ke dapur. Entah apa yang akan ku lakukan di jam sepagi ini.


Kalimat itu terngiang-ngiang di pelupuk mataku. Ya, sungguh! Seperti nyata!


Ku ambil ponsel dari dalam saku piyama ku. Ku buka aplikasi hijauku hanya untuk sekedar membuka apdetan status kontak di ponselku.


Ting....


Sebuah chat pun masuk.


Febri? Gumamku.


[Belum tidur nduk?]


Begitu chat awal dari Febri.


[Baru bangun]


Ku jawab singkat.


[Masih pagi banget lho]


Usai di jawab seperti itu, aku tak lagi membalas chat Febri.


[Tidur lagi kah?]


[Gak]


[Boleh mas telpon?]


Aku ragu menjawab pertanyaan simpel itu tapi ternyata Febri tak butuh jawaban ku. Dia langsung menghubungi ku bahkan lewat video call.


Aku menyempatkan memakai bergo yang ada di bangku meja makan.


[Assalamualaikum Nduk]

__ADS_1


[Waalaikumsalam]


Aku melihat Febri memakai peci hitam, mungkin dia selesai tahajud. Ya Allah, jangan biarkan aku terpesona padanya!


[Koe kenek opo nduk? Kok yah ene wes Tangi?]


(Kamu kenapa nduk? Kok jam segini udah bangun?]


[gak opo-opo mas]


[Udan tah?]


(Hujankah?)


[Iyo]


[Jeh Wedi udan tah awakmu?]


(Masih takut hujankah kamu?)


[Ga Wedi mas. Emang pengen Tangi ae]


(Gak takut mas. Emang pengen bangun aja]


Hening!


[Opo ngimpi elek?]


(Apa mimpi buruk?)


Lho, kok dia tahu? Apa dia masih ingat kebiasaan ku yang jika mimpi buruk pasti tidak akan bisa tidur lagi?


[Nggak]


[Nduk, kemarin mas nemenin Ika jenguk Silvy. Mas juga ketemu sama Mak Titin]


[Oh]


Hanya itu sahutan ku.


[Kamu ngga mau tahu kabar Mak?]


[Oh, gimana kabar Mak?]


Apa aku benar-benar sudah tidak lagi peduli sama Mak? Tanyaku sendiri.


Tampak Febri menghela nafasnya.


[Mak baik, tapi Silvy ngga]


[Oh]


Lagi-lagi hanya 'oh' saja yang keluar dari mulut ku.


[Nduk, maaf!]


[Maaf buat apa?]


[Mas akan selalu menunggu mu!]


[Maksudnya?]


[Mas akan selalu menunggu mu seandainya kamu...kembali pada Alby]


Apa maksud Febri berkata seperti itu?Aku tak menanggapi ucapan Febri.


[Lupakan! Mending sekarang kamu tidur lagi, belum mulai solat kan?]


Aku mengangguk tipis.


[Ya udah, mas mau bikin kopi dulu. Kamu istirahat lagi ya, makasih udah mau angkat telpon mas. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Kenapa Febri berkata seperti itu? Apa yang dia pikirkan?


Aku kembali melepaskan jilbabku. Ya, meski Febri tahu semua yang ada pada ku tapi saat aku sudah menjadi istri Alby, hanya Alby yang berhak melihat seperti apa aku.


Tapi ... mimpi tadi seperti sungguhan. Aku bahkan merasakan sesak seperti benar-benar terjadi. Ya Allah, apa pun itu semua ku pasrahkan padamu.


*****


Maapkeun lamun loba typo dan gaje banget. Terus...Mon maaf juga kalo kehaluan mamak udah kelewatan 🤭, tapi kalo kelewat bisa balik lagi dong ya kan??? Caranya...kasih saran dan komentar kalian ye gaes 😄. Mamak terima apapun komen dan saran kalian dengan tangan terbuka 🤗 biar mamak bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam nulis karya receh ini 😉🙏🙏🙏


Maap juga kalo ternyata alurnya ga seperti yang kalian harapkan ✌️🙏


Bocorannya.... pokoknya mah, one day Shabia Ayu akan menemukan kebahagiaannya heheheh

__ADS_1


Makasih yang sudah sampe di bab ini, aku padamu lah pokoke 🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩


__ADS_2