Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 156


__ADS_3

"Kalo ternyata pacar mas sakti itu mantan kak Dimas gimana?", Anika kembali mengulang pertanyaan yang sama.


"Dek, ngapain bahas kaya gitu ah!", Dimas mencoba merayu Anika agar tak membahas tentang mantan.


"Jawab aja kak? Apa sebuah kebetulan atau apa? Mas sakti dekat sama cewek yang ternyata mantan kamu."


"Dek, dengerin Kakak. Mas sakti sudah dewasa, dia bisa menentukan pilihannya sendiri kan? Jadi...."


"Aku cuma tanya kak, kalau...ini kalau... ternyata cewek itu mantan kamu gimana kak? Udah, gitu aja!", nada suara Anika cukup meninggi. Ini untuk pertama kalinya mereka berdebat.


Dimas menghela nafasnya, niat hati ingin berkangen- kangen ria dengan kekasih kenapa berujung berdebat tak jelas seperti ini.


"Assalamualaikum!", Sakti mengagetkan sepasang kekasih itu yang sedang duduk di tepi kolam.


"Walaikumsalam!", sahut mereka berdua sedikit terkejut.


"Tumben pulang, masih ingat punya rumah? Punya adek?", sindir Anika. Sakti mendekap adik kecilnya dari belakang.


Dimas nampak mendengus kesal. Meski sakti kakaknya Anika, tapi tetap saja Dimas merasa tak rela jika kekasih nya di peluk pria dewasa selain dirinya.


"Inget lah sayang ku, adekku yang paling kiyuuttt!", Sakti mencubit hidung Anika.


"Oh, kirain lagi sibuk sama cewek baru itu...siapa namanya?", tanya Anika.


"Cewek siapa?", tanya sakti balik. Dimas lagi-lagi menghela nafasnya. Anika memutar bola matanya jengah. Tapi sakti terkekeh.


"Iya...iya...doakan saja lah. Biar bisa official!", dilanjutkan tawa oleh Sakti.


"Tuh, kan bener! Siapa nama cewek yang apes itu?", tanya Anika.


"Dih, kok gitu ngomongnya?", tanya sakti sambil melepas pelukannya dari punggung Anika.


"Udah jawab, siapa namanya?", rengek Anika.


"Sabrina Maulida!", jawab Sakti.


Deg! Jantung Dimas berpacu lebih cepat setelah sakti menyebutkan nama itu. Anika menangkap keterkejutan di wajah kekasihnya.


"Kakak kenapa?", tanya Anika pura-pura tak tahu ekspresi keterkejutan Dimas.


"Hah? Ngga dek!", jawab Dimas sekenanya.


"Kenal sama Sabrina?", tanya Anika lagi. Sekarang sakti yang menengok ke Dimas.


"Serius?", tanya Sakti.


"Heum, kok tanya nya begitu?", tanya Dimas gugup.


"Apa Sabrina yang sama kak, yang mantan kak Dimas?", tanya Anika. Entah dari mana ia mendapat wangsit untuk bertanya seperti itu.


"Apaan sih dek!", Dimas mengelak.


"Tunggu! Tadi, Alby juga bilang....!", Sakti tak meneruskan omongannya. Dia mengambil ponsel di saku kemejanya.


"Ini, Sabrina yang lagi gue deketin Dim!", Sakti menunjukkan foto profil Sabrina di aplikasi hijau itu.


Dimas menatap beberapa saat setelah itu memalingkan mukanya.


"Jadi beneran?", tanya Sakti. Tak ada jawaban apa pun dari mulut Dimas. Tapi mata pria itu justru menatap mata kekasihnya yang dari tadi intens fokus pada Dimas.


Akhirnya, Dimas mengangguk pelan. Entah, setelah ini apa yang akan terjadi dengan hubungannya bersama Anika.


Sakti menatap wajah adiknya yang cengok.


"Itu kan masa lalu, dek! Tolong jangan bahas ya?", Dimas menggenggam tangan kekasihnya itu. Anika hanya mengangguk pelan. Lalu, Dimas beralih ke calon kakak iparnya itu.


"Mas Sakti kok bisa kenal sama Bina?", tanya Dimas.


"Eum, kebetulan ibunya Sabrin pasien ku."

__ADS_1


Dimas mengangguk pelan.


"Jadi, bener Sabrin yang ini mantan kamu?",tanya sakti. Dimas mengeratkan genggaman nya pada Anika.


"Dulu mas, setahun yang lalu. Tapi kami udah lost kontak kok."


Anika bergeser duduk di sebelah Dimas, sepertinya dia tertarik dengan masa lalu Dimas. Uuuh...apa tuh anak ga cemburu ya??


Dimas mengalungkan tangannya ke bahu Anika. Dia tahu kalau kekasih kecil nya ini ingin mendengar apa yang akan dia katakan.


"Kalian putus kenapa?", tanya Sakti. Dia kan memang sedang pedekate sama Sabrina, kalo nanti sukses jadian kan minimal tahu kesalahan apa yang di buat sampai Dimas dan Sabrina putus.


"Dia yang mutusin aku mas. Katanya...dia mau fokus sama kesehatan ibunya. Padahal aku juga ngga maksa dia buat ngga fokus sama ibunya Bina."


"Dan...dia bilang...dia merasa ngga pantas, buat aku!", lanjut Dimas lirih. Anika memeluk pinggang kekasihnya itu.


"Tapi kakak ngga minder kan kalo sama aku?", Anika mendongak menatap wajah Dimas. Dimas tersenyum manis.


"Ngga dek. Insyaallah, kakak udah bertekad kalo dek Ika itu masa depan kakak!", Dimas menowel hidung mungil Anika.


"Ehem...hargai gue kenapa!", sakti mendengus kesal.


"Udah sana ah, mas Sakti pedekate aja lagi sama Sabrina! Biar move on dari mba Bia!", kata Anika sambil mendorong pelan kakak nya itu.


"Heum...iya ya? Tapi Lo beneran ngga ada apapun lagi sama Sabrin kan Dim?", tanya Sakti dengan pandangan menyelidik.


Anika memanyunkan bibirnya.


"Ngga, mas!", jawab Dimas sopan.


"Ya udah, lanjut deh mesra-mesraan nya. Awas, ngga usah macem-macem sama adek gue Lo Dim!", Sakti mengancam Dimas.


"Ngga lah mas, paling cuma di sayang aja! Ya kan dek?", tanya Dimas lalu mengecup singkat pipi chubby kekasihnya di depan sakti.


"Eh, udah berani Lo ya! di depan gue kaya gitu, apalagi ga ada gue!", Sakti memukul lengan Dimas.


"Hehehe kalo mas Sakti ikhlas di langkahi, aku mau kok secepatnya menghalalkan dek Ika. Ya kan dek?", tanya Dimas di depan Anika. Anika mengangguk dengan wajah memerah.


"Kak, kak Dim udah ngga ada perasaan apa-apa kan sama Sabrina itu?", tanya Anika.


"Ngga lah dek, cuma Dek Ika seorang!", kata Dimas lalu keduanya pun saling berpelukan melepas kerinduan.


Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang rindu berat itu....


Aku lebih dulu turun dari mobil. Mobil lek Sarman memang aku yang bawa karena parkiran hari ini cukup penuh.


Aku membuka pintu ruang tamu ku. Tanpa dipersilahkan masuk, Alby mengekor di belakangku. Tapi dia juga menutup pintu ruang tamu lebih dulu.


"Kita sudah di rumah,mau bicara apa?", tanya ku langsung tanpa basa basi. Aku takut hatiku goyah kalau berlama-lama menatap kekasih halal ku ini.


"Eum, neng ngga mau nawarin Aa minum atau makan? Aa belum makan siang!", jawab Alby yang justru berjalan menuju ke ruang makan.


Aku menganga tak percaya jika suamiku bersikap seperti sekarang.


Aku pun mengikutinya ke ruang makan. Dia sudah duduk di bangku meja makan.


Dengan sedikit dongkol aku pun membuatkan teh hangat untuknya. Kebetulan tadi pagi aku masih punya soto Lamongan yang belum ku makanan. Jadi, aku menghangatkan nya lebih dulu lalu ku berikan pada Alby.


Pria tampan ku itu tampak antusias menerima makanan yang ku berikan. Tanpa menunggu dingin, dia melahap makanan itu seperti seseorang yang benar-benar kelaparan.


Alby pun sudah selesai makan siang. Aku seperti istri pada umumnya yang melayani makan suami ku. Seolah, kami tidak sedang berseteru.


"Belum solat dhuhur kan, neng? Jamaah yuk!", ujar Alby sambil tersenyum.


Aku menatap heran pada Alby. Bagaimana dia tahu kalau aku sudah mulai solat? Karena tak merespon ucapan Alby, dia menggenggam kedua tanganku.


"Aa tahu kamu sudah selesai nifas kan?", entah itu pertanyaan atau penegasan dari seorang Alby.


"Ya, dan itu artinya Aa tahu apa yang akan aku lakukan. Semua dokumen sudah siap. Aku tinggal mengajukan ke pengadilan agama besok."

__ADS_1


Alby tersenyum lalu berdiri dan berhenti tepat di belakang ku. Dia sedikit berjongkok!


"Sampai kapan pun, Aa ngga akan pernah lepaskan neng!", bisik nya tepat di samping telinga ku. Bulu kudukku meremang merasakan hembusan nafas Alby. Padahal aku masih memakai jilbabku.


Aku menarik nafas perlahan.


"Aku melakukan semua ini hanya karena menghargai mu! Tapi, aku tetap akan melanjutkan gugatan ku!", kata ku berdiri.


"Jadi, katakan padaku. Apa yang akan Aa sampai kan sampai kita harus bicara di rumah?"


Alby bergerak memutari ku lalu berhenti tepat di belakangku. Dia mendekapku dari belakang.


"Lepas!", kataku pelan.


"Iya, tentu saja aa akan melepaskannya. Kita kan mau solat. Udah lama kan kita ngga jamaah?", bisiknya lagi tapi kali ini ia memberikan kecupan di leher ku yang terhalang jilbab. Dan setelah itu, ia benar-benar melepas pelukannya.


Nafasku tak teratur, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengambil wudhu. Alby sudah menunggu ku di mushola rumah.


Dia berwudhu di kran taman belakang rupanya. Karena kulihat ada jejak air di lantai yang berasal dari belakang.


Kami berdua melaksanakan empat rakaat berjamaah. Ada rasa yang tidak bisa tergambarkan di dadaku. Senang kah? Atau malah sesak?


Usia melaksanakan empat rakaat kami, aku berjalan lebih dulu meninggalkan mushola rumah.


Tak berapa lama, Alby kembali meraih ku dengan sedikit kuat yang membuat ku terhempas di dadanya.


"Kita bisa bicara baik-baik, tidak perlu kasar seperti ini!", kataku menatap wajah Alby. Ah...ya Allah, apa ikhlas melepas lelaki tampan ku ini???


"Iya, tentu saja! Karena kita memang akan baik-baik saja!", Alby mendorong ku ke dinding. Tinggi kami yang timpang seolah tak menyulitkan Alby.


"Aa mau apa?", tanyaku dengan lantang. Alby sudah lebih dulu mengunci pergerakan ku.


Alby tersenyum tipis, lebih tepatnya menyeringai. Dan aku merasa, itu menakutkan!


"Aa mau Neng. Cuma Neng!", Alby menatap intens mataku.


"Lepas! Tidak pantas orang yang akan bercerai beradegan seperti ini!", kataku berusaha mendorong tubuh Alby. Tapi tenagaku tak sebanding dengannya.


"Kita tidak akan bercerai Shabia Ayu!", mata Alby melotot tajam padaku. Detik itu juga aku merasa takut.


"Tapi aku......!", belum selesai aku bicara, Alby sudah lebih dulu membungkam ku. Mataku membola terkejut dengan apa yang Alby lakukan. Meski aku tahu , kalau aku masih halal baginya tapi melihat kondisi pernikahan kami sebelum seperti nya hal ini tidak pantas.


Alby tak main-main, dia benar-benar mendominasi kali ini. Semua usaha perlawanan ku seolah sia-sia! Dia seperti singa kelaparan yang tak mau peduli dengan mangsa nya.


Dan....ya...aku hanya bisa pasrah setelah itu! Alby yang ada bersama ku kali ini seperti orang asing. Dia selalu memperlakukan dengan lembut, tidak seperti tadi. Aku bahkan merasa sakit di sekujur tubuhku. Lelehan air mata sudah tak terhitung sejak tadi.


"Neng cuma milik Aa!", Alby mengusap kepala ku dengan lembut lalu mengecupnya. Aku masih tergugu karena sikap kasar Alby saat melakukannya tadi.


"Cepat tumbuh di sini!", Alby mengusap perut rataku. Sekarang gantian aku yang menatap nya.


"Tidak ada alasan lagi kamu ninggalin Aa jika di rahim kamu, ada benih Aa. Dan Aa, akan selalu berusaha untuk membuat benih itu tumbuh di rahim kamu Neng!", Alby mengecup puncak kepalaku.


Jadi, ini....tujuan kamu By? Kembali mengekang ku???


********


(Skip lah ya... maapkeun mamak ga mau bikin adegan kek gitu lagi. Ga bikin aja, mamak pasti bakal di semprot 😩😩 😩 😩 😩 takut πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ)


Yang pro Alby , Oke!


Yang pro Febri, kesel!


🀭🀭🀭🀭🀭 sabar pemirsahhh....


Pokoke Bia happy ending, kalo ada yang tanya kok tarik ulur Mulu sih???


Sabar.........sabar.....sabar.....


Makasih πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™βœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈ

__ADS_1


HaturnuhunπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2