Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 235


__ADS_3

Rencana kami untuk menginap diperbatasan provinsi pun batal saat Febri mendapat chat dari teman grupnya.


"Yah, nduk. Langsung ke Jakarta ngga apa-apa ya!? Ternyata besok sore anak-anak pada mau main ke rumah!"


"Oh, ya udah aku mah ngga apa-apa mas. Cuma takutnya kamu yang kecapekan!"


"Ngga lah sayang!"


"Kalo sudah masuk tol, gantian aja. Kamu bisa istirahat mas!"


"Ngga usah, mas masih sanggup kok. Lagian, emang kamu tahu tujuan alamat kita ke mana?"


"Ngga sih. Emang kemana? Paling ke asrama kan?"


Febri menggeleng pelan sambil mengusap kepala ku seperti biasa.


"Ke rumah kita!"


Aku hanya mengangguk. Rumah kita! Sweet banget ya suamiku. Mau itu kosan atau kontrakan sepetak, asal bersama suamiku tentu saja aku mau.


Malam sudah sangat larut, hampir jam satu pagi kami sudah sampai di gerbang tol Cipali. Kalo sesuai prediksi, sebelum siang kami sudah sampai.


"Mas, ke rest area dulu ya, kebelet pipis!"


"Iya, coba kita liat ke depan semoga aja ada rest area ya!"


Alhamdulillah, tempat yang ingin kami gunakan ternyata tak jauh. Mas Febri mengisi bensinnya sambil menunggu ku yang ke toilet.


Ternyata mas Febri menunggu ku di luar mobil.


"Kamu ngga mau ke kamar mandi mas?"


"Belom pengen nduk!"


Aku ikut menyandarkan punggung ku seperti mas Febri.


"Kamu ngga keberatan kan ketemu sama teman-teman mas?"


"Ngga lah."


"Tapi, nanti hari Senin kamu baru berkenalan resmi, termasuk sama atasan mas."


"Iya, siap pak kapten!", kataku sambil memberikan hormat.


"Hehehe istriku emang paling...paling!"


"Paling apa?", aku mendongak sambil melotot padanya.


"Paling bikin mas semakin jatuh cinta!"


"Wleeekkkk....lebay! Alay! Humppptt!", mas Febri membungkam mulut ku.


"Orang suami lagi belajar romantis juga!"


Aku tertawa melihat mimik wajahnya yang menahan kesal. Wajahnya menoleh ke arah lain.


"Yakin nih marah sama aku mas?", aku menaik turunkan alisku.

__ADS_1


Febri langsung menoleh cepat.


"Ngga, siapa yang marah?", tanyanya.


"Tuh, mukanya kaya gitu? Ngaku lho...marah kan? Ya kan?", aku menyenggol bahunya yang bahkan sama sekali tak tergeser karena senggolan ku.


"Gimana mas mau marah sama kamu nduk! Yang ada nanti mas puasa lagi!", dia merangkul bahuku.


"Dih, gak jauh-jauh kan bahasnya kek gitu!"


"Iya lah, bisa milikin kamu nduk, seperti mimpi. Mimpi mas selama ini yang udah jadi kenyataan!"


Kini kami saling berpandangan satu sama lain. Kalo ada musik romantis yang cocok tuh lagunya....mbohlah...ga tau lagu romantis yang kaya mana.


"Nduk!"


"Heum?"


Tangan Febri masih nyaman di bahuku. Ini hampir jam tiga subuh, tapi kami berdua malah pacaran di depan mobil. Pacaran halalan toyiban tentunya.


"Kamu tahu, mas ini tempramen. Biasa tegas dan kasar, kalo sesekali mas nyakitin kamu secara verbal misalnya, tolong di ingatkan. Kalo mas lagi marah, jangan ikut marah. Peluk mas kaya gini contoh nya!"


Aku membalas pelukannya.


"Mungkin untuk awal-awal hubungan kita begini, kita masih adem ayem. Tapi yang namanya hubungan, pasti akan mengalami pasang surut. Dan kita sudah pernah mengalaminya sebelumnya. Jadi, mas harap kamu lebih bersabar menghadapi suami mu ini!"


Aku mendongak menatap wajahnya.


Cup!


Aku mengecup pipinya yang dingin. Ini untuk pertama kali nya aku mencium pipinya lebih dulu sejak kami menikah.


"Pasti!", dia memeluk ku lagi. Ah... romantis banget subuh-subuh gini, di rest area pula. Ga modal buat nyari lapak pacaran ya mas?? 🤭


.


.


.


Sakti sudah bangun sebelum subuh, ia mencoba membangunkan istrinya. Tapi sepertinya sang istri terlalu pulas dalam mengarungi mimpinya.


Sakti tak bisa tidur sejak semalaman. Badannya tak enak, tapi tidak demam. Dan itu yang membuat dirinya merasa tak nyaman.


Mau meminta istrinya untuk sekedar memijatnya, dia tak enak sendiri. Sakti memilih untuk bangkit dari ranjangnya menuju ke kamar mandi. Kepala nya pening, serasa ingin muntah. Mual-mual nya semakin tak tertahan saat memasuki kamar mandi yang beraroma karbol.


Suara Sakti yang muntah-muntah, membuat Bina bangun dari tidurnya. Ia meraba kasur sebelahnya, ternyata suaminya tak ada. Dan ia yakin jika suaminya ada di kamar mandi.


Dengan mengikat asal rambutnya yang berantakan, Bina mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas, mas kamu kenapa?"


Tak ada sahutan dari dalam. Hanya suara sang suami yang sepertinya masih muntah-muntah. Bina mencoba membuka pintu, beruntungnya pintu kamar mandi nya tak di kunci.


Ia memasuki kamar mandi, melihat suaminya yang lemas di depan wastafel. Bina mengurut leher suaminya.


"Kamu sakit mas? Kenapa ngga bangunin aku? Mentang-mentang dokter gitu, ga butuh orang lain buat bantu kamu?", kata bina ngomel tapi tangan nya masih memijit tengkuk suaminya.

__ADS_1


Sakti mengelap bibirnya yang basah karena sejak tadi ia membasuhnya dengan air kran.


Mulanya sedikit mereda saat pijatan istrinya menguasai tengkuknya.


"Kamu kan tidur sayang, mas ga enak banguninya!"


Bina menuntun suaminya untuk duduk di ranjang.


"Aku buatin teh anget dulu ya mas. Biar enakan perut mu. Nanti aku kerokin kalo mau sih!", kata Bina.


"Mau lah sayang!", kata Sakti.


"Ya udah, tunggu sebentar!", kata Bina. Dia pun menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.


Sakti meraba laci yang ada di samping nya untuk mengambil minyak angin. Tanpa melihat, ia meraba-raba isi laci. Tak lupa ia menyalakan lampu yang ada di atau meja.


Sakti berhasil mengambil minyak anginnya, tapi jarinya meraba sesuatu.


"Sejak kapan aku naroh termometer di laci?", gumam Sakti. Tapi ia mengambil benda itu bersama minyak anginnya.


Sakti tercengang melihat benda yang ia pegang. Bukan termometer, melainkan sebuah alat test kehamilan.


"Positif???", gumam Sakti. Di saat yang bersamaan, Bina pun masuk. Dia sedikit terkejut karena suaminya memegang benda yang dia sembunyikan.


"Mas??", tanya Bina yang ada di hadapan suaminya sekarang.


"Ini?", tanya sakti sambil mengangkat alat itu. Bina menunduk.


"Maaf mas. Aku ga bermaksud merahasiakannya mas. Tapi...aku belum siap bilang ke kamu. Aku....aku takut kamu kecewa mas. Karena...selama ini kamu selalu bilang pengen kita pacaran dulu. Kalo aku ham....!", Bina sudah mulai berkaca-kaca.


"Ssstttt! Kenapa kamu berpikir seperti itu sih sayang?", Sakti menakupkan kedua tangannya di pipi sang istri. Setelah itu, ia memeluk Bina.


"Kabar baik seperti ini kenapa malah kamu rahasiakan sih sayang?? Kamu pikir aku ngga mau punya anak? Iya?"


Bina mengerjapkan matanya.


"Aku bahagia, bahkan bahagia sekali sayang. Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya, aku akan menjadi seorang ayah!", kata Sakti mengusap perut istrinya yang masih rata. Bina tak tahan untuk menahan air mata bahagianya. Ia membalas pelukan suaminya.


"Maaf mas, aku pikir mas belum siap. Maaf!"


"Sssttt...cup...cup...udah! Ngga usah nangis dong! Ngomong-ngomong berapa usia kandungannya sayang?"


"Belum tahu mas. Aku belum periksa. Itu hasil tes Minggu lalu karena aku udah telat datang bulan. Makanya aku pakai alat itu!"


"Nanti ikut ke rumah sakit, kita periksa.Oke?"


Bina mengangguk tipis dalam pelukan suaminya.


"Jangan-jangan mas kena sindrom kehamilan simpatik nih sayang. Kamu yang hamil, aku yang mual? Ah...ya Allah....!", kata Sakti.


Bina tertawa melihat wajah frustasi suaminya. Tapi setelah itu, ia mengecup kening suaminya.


"Yang sabar ya mas!", kata Bina. Sakti tersenyum membalas ciuman istrinya di kening juga ya, lalu setelah itu mereka berpelukan.


"Kalo udah ngga mual, solat subuh yuk mas!"


"Ayok!", sahut Sakti.

__ADS_1


****


Ada yang mau nyusul juga kek nya 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2