
"Lagi apa nduk?", tanya lek Dar sambil melongok ku dari belakang bangku.
"Milih baju lek. Pengen pake gamis syar'i buat sehari-hari."
"Mau hijrah nduk? Pakai cadar juga?", Lek Dar duduk di hadapan ku.
Aku tersenyum.
"Kalo di bilang hijrah kayanya belum. Apalagi pake cadar, belum ke arah sana sama sekali Lek."
"Eum, begitu!"
"Pelan-pelan aja Lek, yang penting Bia ingin banyak belajar biar lebih baik nantinya."
"Hati-hati kalau mau berguru, cari yang kompeten. Jangan cuma terlihat banyak murid nya tapi kenyataannya cuma ustadz/ustadzah gadungan. Kalo mau berguru sekalian aja ke ponpes gitu."
"Iya lek, iya....kalo ke pondok belum kepikiran juga hehehh!"
"Lagian kamu dari dulu di suruh mondok ngga mau!", kata lek Dar mencibir. Tapi setelah nya ia berwajah sendu. Ingat pada almarhumah Putri, yang juga menjadi santri di ponpes Gontor.
Buru-buru ku peluk lek ku itu. Mau bagaimana pun seorang ibu tak akan mampu melupakan putrinya. Apalagi Putri meninggal di saat usianya sudah beranjak dewasa.
"Lek , sekarang Bia akan nemenin Lek di sini. Jangan sedih lagi. Insyaallah Putri sudah tenang di alam sana. Dia kan anak yang shalihah lek. Kaya lek Dar, kaya lek Sarman. Ya?"
Lek Dar mengangguk sambil meraih bahuku.
"Janji ya Nduk, setelah ini kamu bakal bahagia. Jangan sedih lagi apalagi menangisi keputusan mu sendiri. Jika memang kalian nantinya di takdirkan kembali bersama, itu karena takdir. Tapi untuk sekarang, biarlah seperti ini. Lek tahu kamu anak yang kuat!"
Lagi-lagi hanya anggukan yang ku berikan untuk mengiyakan perkataan lek Dar.
"Ya wes lanjut belanjanya, banyak-banyakin masukin keranjang. Liat dulu review nya, jangan cuma asal liat produk nya yang belum tentu sesuai."
"Iya lek!", jawabku sambil tersenyum. Lek Dar pun keluar rumah mungkin kembali ke warung.
Kalian mau tahu berapa banyak stel gamis syar'i yang ku beli???
Cuma selusin! Model yang sama hanya warna yang berbeda dengan pilihan warna yang dark & soft juga. Padahal aku cuma pengangguran tapi belanja nya sok-sokan ya?
Di sela kegiatan ku yang masih pilah pilih warna, ponsel ku berdenting. Ada notifikasi panggilan dari Sakti.
[Assalamualaikum Bi]
[Walaikumsalam, mas Sakti]
[Sibuk Bi?]
[Ngga mas, kenapa?]
[Mas mau tanya, kamu bisa datang ke pernikahan ku nggak?]
Oh, mas Sakti gercep ya mau langsung nikah? Alhamdulillah, ikut seneng. Tapi kalo harus ke sana....
[Emang kapan mas?]
[Hari xxxx tanggal Xxx]
[Eum, gitu ya. Gimana ya mas?]
[Ngga bisa ya?]
[Heum, aku tanya sama lek ku dulu ya mas]
[Oh, gitu. Ya udah tanya aja dulu. Mas harap kamu bisa datang. Gimana juga kamu spesial buat mas]
__ADS_1
[Uhuk-uhuk-uhuk! Ngga usah ngadi-ngadi mas, nanti kalo calon istri mu dengar bisa berprasangka yang bukan-bukan]
[Prasangka yang gimana nih maksudnya?]
[Heum, ga tahu ah]
Di ujung sana sakti tergelak.
[Kamu butuh refreshing Bu!]
[Hah? Refreshing?]
[Iya, Febri udah cerita sama mas soal kamu dan Alby kemarin]
[Oh, itu. Di kampung ku juga bisa refreshing kok mas. Ngga usah jauh-jauh ke Swiss, di sini juga tempat nya sama]
[Beneran? Wah, bisa referensi buat bulan madu ngga tuh?]
[Heum? Bisa jadi.]
[Kamu usahakan datang ya Bi?!]
[Insyaallah ya mas]
[Kamu lanjutin aja deh kegiatan kamu. Pokok nya mas harap nanti kamu kasih kabar kalo kamu bisa ke sini. Ya Bi?]
[Insyaallah mas]
[Oke, mas tutup telpon nya ya. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam mas]
Huffft...ke Jakarta lagi ya? Bukan soal biayanya, tapi...kalo ke sana lagi kemungkinan untuk bertemu dengan Alby lebih besar. Padahal aku sedang berjuang untuk mengobati lukaku dan berdampak dengan perasaan ku.
"Kenapa nduk? Kok kaya orang bingung? Lek mu bilang, kamu lagi belanja online di Sovia?", tanya Lek Sarman.
"Hooh Lek, ini Bia udah pesan", jawabku.
"Terus kenapa?"
"Eum lek, Bia dapat undangan. Verbal lagi lek, secara langsung."
''Undangam apa? Dari siapa?"
"Undang pernikahan mas Sakti, Lek!"
"Siapa itu Sakti?", tanya Lek Sarman balik.
"Mas sakti itu teman Bia lek. Sempat dekat dulu banget sih, tapi kami baru ketemu lagi pas operasi Mak Titin yang kebetulan pasiennya dia."
"Sakti, dokter?", tanya Lek Sarman. Aku mengangguk.
"Kenapa kamu bisa sesepesial itu sampai undangan nya verbal? Dimana memangnya acaranya di gelar?"
"Gimana ya lek. Pokoknya mah, Mas Sakti dulunya sempat gitu lah tapi akhirnya sekarang dia udah nambatin hatinya sama seorang gadis."
"Dia suka sama kamu?"
"Ya...ya... pokoknya gitu lah Lek."
Lek Sarman terkekeh.
"Iya, lek paham. Tapi... alangkah baiknya, kamu di rumah saja nduk. Perempuan yang masih masa Iddah kaya kamu, sebaiknya jangan bepergian dulu untuk menghindari fitnah nduk. Yang lek tahu seperti itu!"
__ADS_1
(Maaf kalo othor salah ya 🙏🙏🙏🙏)
"Eum, begitu ya lek?"
"Iya nduk. Bukan maksud lek buat melarang kamu untuk menghadiri pernikahan sahabat kamu, apalagi tempat nya jauh di kota sana.Kalo masih di jangkau cuma ke kabupaten sebelah, lek ijinkan. Tapi sejauh ini, kamu lebih baik jangan ke mana-mana dulu ya?!"
"Iya Lek!"
"Ya udah, lek mau rebahan dulu."
"Iya lek?!"
Sepeninggal lek Sarman ke kamar, aku mengirim chat pada Sakti.
[Maaf mas, bukan maksud ku buat nolak undangan kamu, tapi lek ku bilang kalo masih dalam masa Iddah alangkah baiknya tidak bepergian, apalagi jauh ke luar kota. Sekali lagi maaf ya mas]
Tak lama kemudian, Sakti pun membalasnya.
[Ya udah gpp. Turuti saja apa yang lek mu bilang, lain kali ku kenalkan langsung dengan Bina]
[Oke mas. Sekali lagi maaf!]
[Santai aja Bi]
.
.
.
"Sudah mau makan mas?", tanya Titin.
"Iya!", sahut Hartama pelan karena mulutnya sudah terbatas untuk bicara.
Apakah Hartama sedang menuai karmanya? Entahlah!
Titin menyuapi Tama dengan telaten. Tubuh sebelah kiri Tama benar-benar sudah mati rasa. Beruntung Titin masih bersedia menjadi istri sekaligus perawatnya. Padahal Hartama saja sudah mengabaikan Titin selama ini.
"Tin?!"
"Iya mas? kenapa? Mau minum?"
Hartama menggeleng.
"Apa ini hukuman untuk ku?", tanya Hartama tergagap.
"Mas, jangan tanya seperti itu terus ah. Insyaallah Allah maha penerima Taubat mas. Yang penting sekarang mas sudah menyadari semua kesalahan mas."
"Tapi...Alby dan Bia benar-benar cerai Tin. Dan itu karena aku!"
"Mungkin jalan cerita kehidupan mereka harus seperti ini mas. Seperti halnya kita, siapa sangka niat balas dendam kamu malah akhirnya menikahiku lagi?"
"Iya! Mas mau minta tolong boleh?"
"Apa itu?"
"Tolong hubungi Bia. Aku mau minta maaf padanya secara langsung!"
Titin nampak berpikir. Dia sendiri enggan menghubungi Bia. Bukan karena benci, tapi justru Titin tak tega jika mengingat betapa hancurnya perasaan Bia saat ini.
*****
Mau ngga si emak menghubungi mantan menantunya itu....???
__ADS_1
Gud nite, happy weekend 🤗🤗🤗🤗🤗