Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 104


__ADS_3

"Emang William Adiraja itu siapa?", tanya Febri pada Anika.


"Heum? Mas Feb ngga tahu?", tanya Anika balik.


"Kasih tahu mas Feb dong mas'eh...!", celetuk Anika pada Sakti.


"Mas mu ini juga ga kenal Poniyem!", Sakti menoyor kepala adiknya. Tapi Anika malah memanyunkan bibirnya.


"Aish...yayang gue di toyor-toyor!", tiba-tiba Dimas menghampiri Anika. Dia mengacak lembut kepala Anika.


"Kak Dim, akhirnya datang juga!", kata Anika riang.


"Woy, bukan mahram. Ngga usah pegang-pegang!", sindir Sakti. Sepertinya ia masih kesal karena merasa Dimas sudah bersekongkol dengan ayahnya.


"Nanti di jadiin mahram, emang boleh di langkahi?", ledek Dimas.


"Nantang Lo ya!", Sakti menggumam.


"Stop! Gue dari awal paragraf sampe sekarang tuh nanya, William Adiraja itu siapa? Malah kalian ngoceh ngga jelas!", Febri merasa kesal dengan tiga manusia di depannya itu.


"Hahaha iya lupa mas Feb. William itulah selebgram sekaligus foodvloger. Nih, dia mereview makanan di salah satu rumah makan. Mungkin ngga jauh dari tempat mba Bia foto!", Anika menyerahkan lagi ponselnya pada Febri. Febri tampak mengernyitkan alisnya.


Kaya ngga asing?


"Coba lokasinya di mana? Ngetag ngga ? Atau hashtag mana gitu?", tanya Febri kepo.


" Warung Sahabat, Jawa timur!", sahut anika.


"Ya, itu rumah makan keluarga Bia. Pantes aja dia ketemu Bia disana. Dia lagi ngevlog di warung Bia kali?"


"Rumah makan? Apa warung?", tanya Sakti.


"Sama bae lah. Bia pernah cerita, mau sebesar apapun nanti rumah makannya tetap di kasih nama warung sahabat, biar tetap merakyat!"


"Kok mas Feb tahu? ", tanya Anika.


"Ya kan aku juga orang sana Ika!"

__ADS_1


"Hahaha iya, Ika lupa mas!"


"Jadi, William itu sebenarnya kenal sama Bia atau dia cuma nyolong Poto Bia doang?", tanya Sakti.


"Heum, dari kepsyen nya mah...ngga jelas!", kata Anika mengangkat bahu.


"Emang kenapa kalo tuh wil-wil siapa, William kenal sama Bia? Kalian ngga ada yang rugi kan?", tiba-tiba Dimas nimbrung.


"Ehem! Ya ngga, pengen tahu aja!", Febri berusia bersikap santai.


"Eh...btw mas Feb orang sana, kapan-kapannya ajak ke sana dong! Liburan gitu Mas!", rengek Anika pada Febri.


"Mau ikut Febri mudik dek?", tanya Sakti. Dengan antusiasme tinggi, Anika mengangguk seraya tersenyum.


"Sampe ikut ke sana, kamu di nikahin tuh sama duda ganteng. Ibunya Febri langsung narik kamu ke KUA dek!", kata Dimas.


"Luambbbe mu!", kata Febri kesal pada Dimas.


(Bibirmu!)


"Dari pada ikut ke kampung nya ku, mending ikut ke Tegal. Engko ketemu Karo mamane dan bapane nyong! Belih manjing ora mekonon!", kata Febri menirukan dialek asli Dimas.


(Nanti ketemu ibu dan bapak ku! Ngga masuk, ngga begitu)


"Bapak nya monyong Feb?", celetuk Sakti. Sontak Febri tertawa terbahak-bahak. Sedang dimas sendiri memanyunkan bibirnya.


"Bukan monyong calon kakak ipar, nyong! Nyong tuh aku!", sahut Dimas yang tak terima di ledek Febri.


"Hahah iya aku lupa!", kata Sakti meyakini. Anika pun turut tertawa dengan tiga orang tampan itu.


"Seto ke mana? Ngga gabung?", tanya Dimas.


"Lagi cari mangsa!", jawab Febri ngasal.


"Mbok kiro gampang golek mangsa? Wes...wes...ajiyur-ajiyur masa depane rek!", lanjut Febri.


(Dikira gampang cari mangsa. Sudah...sudah, hancur-hancur masa depannya)

__ADS_1


"Tega amat sama temen Lo !", celetuk Dimas.


"Hehehe btw, mas Feb tuh lama pacaran sama Mba Bia?", tanya Anika. Sakti memicingkan matanya menatap adiknya yang bertanya seperti itu pada Febri.


"Ngapain mas Sakti liat aku gitu?", tanya Anika yang merasa sedang di tatap sinis.


"Kamu mau negesin dek, kalo mas ngga pernah jadi pacarnya Bia. Iya, gitu?", kata Sakti.


"Iiih...baper! Ngga ada niat gitu kali! Mas yang berpikir ke arah sana. Ika malah ngga kepikiran sama sekali. Murni kok tanya sama Mas Feb! Ya mas?", Anika kembali fokus dengan Febri.


"Heum! Lumayan lah, lima apa enam tahun bahkan mungkin lebih! Kan Bia ngga mutusin aku!", kata Febri.


"Lha? Gimana ceritanya?", tanya Anika yang sepertinya antusias mendengar kisah cinta Febri dan Bia.


"Pokoknya Bia kelas satu SMK, kita pacaran. Ya, umurku tiga tahun lebih tua dari Bia. Cuma Bia memang masuk sekolah di usianya yang masih kecil, belum genap enam tahun udah masuk SD. Jaman dulu mah bisa-bisa aja!"


"Owh... pasti ada alasannya kan kenapa mba Bia mutusin secara sepihak? Anika cuma lagi belajar aja kok, biar ngga mengulang kesalahan yang sama!"


Dimas mencebikkan bibirnya, dan Anika malah menyomot bibir Dimas yang manyun.


"Tadinya ngga tahu. Tapi awal-awal pertemuan kami kemarin , Bia cerita semuanya. intinya mah, ibu ku yang minta agar Bia jauh dari ku. Soalnya ibu ku jodohin aku. Ya, sampai akhirnya aku harus kehilangan istri dan calon anaku."


Anika manggut-manggut.


"Kalo misal, ini misalnya...Yo...misal doang!", kata Dimas.


"Ngomong misal sekali lagi, gue batalin restu gue!", kata Sakti lantang.


"Belum selesai kakak ipar!", celetuk Dimas.


"Misal, ehem...Bia jadi janda, Febri deketin terus ehem...mau serius gitu, lah...restu maknya gimana?", tanya Dimas.


"Pikir keri kata via Valen!", sahut Febri.


*****


Ringan-ringan ya boskuh 🙏🙏🙏🙏makasih

__ADS_1


__ADS_2