Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 50


__ADS_3

"Saya tidak bisa ikut ke kota."


Titin mengungkapkan keinginannya di hadapan Hartama dan juga Silvy.


"Terserah!", ujar Hartama.


"Ckk... ya iya lah pa, perempuan ini kan lebih milih tinggal sama menantu tirinya di banding anak kandungnya sendiri", sindir Silvy.


"Jaga ucapan mu!", hardik Alby di depan Silvy.


"Hei! Berani sekali kamu membentakku putriku?", sahut Hartama geram.


"Putri anda yang tidak sopan tuan!" ,ujar Alby.


"Kamu lupa? Dia istri mu! Hargai dia! Jangan coba-coba melawan ku Alby. Jaga batasanmu! Kecuali...kamu sudah siap melihat hal buruk yang akan terjadi pada Bia!", ancam Hartama.


"Kenapa anda suka sekali mengancam tuan? Apa karena anda pikir anda memiliki uang sampai anda melakukan segala cara sekali pun itu tindakan yang jelas-jelas salah?"


Hartama tersenyum licik.


"Kamu...masih merasa punya harga diri rupanya? Bukankah kami sudah membeli harga dirimu dengan nominal yang sampai kapan pun tidak akan dapat kamu miliki?"


Tangan Alby meremas kuat hingga terlihat buku-buku tangannya memutih.


Titin meraih tangan putra nya. Memberikan kekuatan untuk dia lebih bersabar.


"Sudah By...!", kata Titin pelan.


Silvy memalingkan wajahnya ke arah lain setelah melihat ibunya justru membela suaminya.


"Nak, Mak bukannya ngga sayang sama kamu. Tapi Mak cuma kasian sama Bia kalo dia dirumah sendirian. Apalagi saat ini kondisi Bia sedang hamil. Mak ngga tega."


"Terserah!", ujar Silvy lalu memilih duduk di sofa.


"Mas, tolong pengertiannya!", ucap Titin memohon pada mantan suaminya.


"Jadi...kamu menolak apa yang ku perintahkan?", tanya Hartama.


Setelah itu Hartama meraih ponselnya.


[Datang ke kampung xxxx bakar rumah Titin sekarang!]


Hartama memerintahkan anak buahnya.


"Tuan!"


"Mas!"


Pekik Alby dan titin bersamaan.


"Apa? Aku sudah bilang, aku bisa melakukan apa pun! Camkan itu!"


"Baik.... baiklah! Aku akan ikut kalian. Tolong jangan sakiti Bia lagi. Tolong!", ujar Titin memelas.


"Sayangnya aku sudah tidak tertarik dengan permohonanmu. Ayo sayang kita pulang! setelah ini, kita tinggal tunggu kabar anak buah papa yang sudah menghancurkan rumah itu. Biarkan saja mereka di sini atau ke mana pun terserah. Dan ...itu artinya mereka melanggar kesepakatan. Lihat saja, apa mereka mampu membayarnya? Satu lagi...apa yang akan anak buah papa lakukan sama kakak madu mu ya sayang?"


"Oke pa!", sahut Silvy.


"Tuan!", panggil Alby tiba-tiba.


Hartama dan Silvy menghentikan langkahnya.


"Tolong, jangan sakiti Bia. Tolong!", Alby memohon pada Hartama. Ia yakin, semakin ia melawan justru akan membuat Bia sengsara.


Silvy memandang mata papanya beberapa saat kemudian.


"So...kita pulang ke kota sekarang!", perintah Silvy pada suaminya.


.


.


.


Suasana malam begitu sunyi. Aku benar-benar berada di rumah ini seorang diri. Suara geludug bersahutan. Sebentar lagi hujan pasti akan turun.


Aku mengintip ke jendela. Lampu teras mas Febri masih gelap. Apa dia pergi lagi ya?


Tak berapa lama aku menutup gorden, terlihat motor memasuki halaman rumah Febri.

__ADS_1


Ada dua orang turun dari motor itu. Tapi aku rasa itu bukan mas Febri. Mungkin rekan kerjanya!


.


.


Tok...tok....


Seseorang mengetuk pintu rumah Febri. Selang beberapa saat kemudian, Febri pun membukakan pintu.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


"Eh ... ternyata belum di nyalakan ya? Sebentar!", Febri menyalakan lampu terasnya dari balik pintu.


"Malam komandan!", sapa salah satu dari mereka.


"Owh... kalian? Silakan masuk!"


"Di sini aja Ndan!", ujar salah satunya.


"Tumben ke sini, ada apa?", tanya Febri sambil menaikkan minuman kemasan gelas dari bawah meja ke atasnya.


"Ada perlu lah sama komandan hehehe."


"Oke, ada perlu apa?"


Setelah itu mereka berbincang soal urusan pekerjaan. Entah sampai pukul berapa obrolan mereka masih terdengar sampai di kamarku.


Aku mematikan lampu kamar ku bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba turun.


Ya Allah, hujan deras banget. Mana sendirian pula! Kamu lagi ngapain ya A? Bia kangen!


Kuusap perut ku pelan-pelan. Aku tak sendiri, ada anakku di sini.


Saat aku merebahkan diri, ada notifikasi dari aplikasi hijau.


Mas sakti? Gumam ku.


[Bia, sori ganggu! Belum tidur kan?]


[Belum mas. Ngga bisa tidur. Lagi hujan deras]


[Kamu sama siapa di rumah?]


[Sendiri]


Beberapa menit tak ada balasan lagi dari sakti. Aku meletakkan ponselku lagi. Tapi detik berikutnya, sakti kembali mengirim pesan.


[Mak Titin sudah di pindah ke kota tadi siang]


[Oh ... Alhamdulillah kalo begitu!]


[Boleh tahu alamat rumah mu? Kapan-kapan aku mau berkunjung]


Aku menimang-nimang beberapa saat.


[Buat apa mas? Lain kali kalo ada kesengajaan kita bisa bertemu di rumah sakit]


[Kamu mau melanjutkan pemeriksaan kandungan mu di sini terus?]


[Insyaallah iya mas]


[Jarak rumah mu ke rumah sakit jauh kah?]


[Naik motor satu jam sampai mas]


[Jangan Bia! Bahaya buat kandungan kamu!]


Aku tersenyum tipis. Orang asing pada cemas dengan kehamilan ku, sedang suami ku sendiri????


[Aku bisa hati-hati.]


[ Ya udah, kamu istirahat ya. Jangan terlalu malam tidurnya]


[Iya]


Aku pun meletakkan ponselku di atas meja dekat dipan.

__ADS_1


Kok si Aa ngga ada usahanya menghubungi ku? Apa dia sibuk dengan istri barunya? Atau Silvy melarang Alby menghubungi ku?


Aku menatap langit-langit kamarku. Kamar penuh kenangan bersama si Aa.


Huffft....miris sekali hidupku. Tapi aku bertekad! Aku pasti bisa melewati semua ini. Aku pasti bisa bertahan! Demi anakku!


Baru saja aku ingin memejamkan mataku. Ponsel ku kembali berdering.


Aa??


Aku bersemangat mengangkat telpon dari nya. Lebih tepatnya video call.


[Assalamualaikum Neng?]


[Walaikumsalam A]


Hening beberapa saat.


[Belum tidur neng?]


Aku menggeleng. Lalu kudengar ia menghela nafasnya.


[Hujan A, Bia susah tidur]


Iya neng, kamu selalu cemas kalau hujan deras. Pasti kamu ketakutan di rumah sendiri dengan cuaca seperti ini. Kasian kamu neng!


[Eum...maafin Aa]


[Ya. Ada apa Aa telpon Bia? Oh iya gimana kabar Mak?]


[Aa harap neng sama si utun baik-baik saja ya? Maaf Aa ngga bisa jagain neng tiap waktu. Mak baik-baik saja, lagi istirahat.]


[Insyaallah Bia bisa jaga diri kok A.]


[Heum.]


[Aa sekarang di mana?]


[Di kamar Aa]


Aku menautkan kedua alisku.


[Di kamar Aa?]


[Iya, sebelah kamar teh Mila]


Aku terdiam beberapa saat.


[Kamar Mak di sebelah kamar Aa neng. Aa ngga bisa ninggalin Mak sendirian. Mak masih belum bisa bergerak sendiri kalo mau ke kamar mandi. Ngga enak ngerepotin Teh Mila terus.]


[Oh...ya udah. Salam buat Mak kalo gitu ya A]


[Iya sayang. Sekarang neng tidur ya, udah malam]


[Iya A. Aa juga ya?]


[Iya sayang. Aa cinta sama neng.]


Aku diam, tak menyahuti ungkapan cinta Aa.


[Ya A. Ya udah ya, assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Video call pun usai. Aku bener-bener memejamkan mataku setelah ini. Hujan pun sudah mulai mereda. Kekhawatiran sudah tak terlalu, jadi aku bisa memejamkan mataku.


Sedangkan di kamar Alby, tiba-tiba Silvy menghampirinya.


"Hubby! kenapa kamu di sini? Ke kamar kita dong!", pekik Silvy.


"Aku mau jagain Mak."


"Ngga usah. ada bik mila! Cepet ke kamar kita!", Silvy menarik tangan suaminya.


Dengan terpaksa Alby pun menuruti Silvy.


"Aku mau kita melakukannya lagi sayang!", bisik Silvy di samping telinga Alby.


"Aku ngga mau penolakan! Kalau kamu sampai menolak, itu artinya kamu udah zolim sama aku!", ancam Silvy.

__ADS_1


__ADS_2