Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 143


__ADS_3

Sakti berada di perjalanan menuju rumah sakit. Karena tukar shift dengan rekannya, ia jadi harus berangkat sepagi ini.


Saat sakti memasuki gerbang rumah sakit, ia melihat gadis yang semalam menabrak nya di resto dengan memapah seorang perempuan setengah baya.


Usai mengambil kartu parkir, Sakti berjalan menghampiri gadis itu yang tak lain adalah Sabrina.


"Sabrin!", panggil Sakti.


Yang merasa di panggil namanya langsung menengok.


"Dokter sakti, panggil nya nanggung banget pak. Sabrina gitu, atau Brina kan bisa."


Sakti tersenyum tipis. Sabrina meleleh melihat senyum seorang dokter yang khas dengan lesung di salah satu pipinya.


"Baiklah, Brina!", ulang Sakti.


"Heum, ya dok. Begitu lebih baik."


Perempuan setengah baya yang bersama Sabrina pun bingung melihat anaknya sepertinya akrab dengan seorang yang dia panggil dokter.


"Mau periksa ibu mu?", tanya Sakti.


Sabrina mengangguk cepat.


"Alhamdulillah, ada rejeki. Semalam ibu dapat arisan, lumayan kan buat berobat ibu. Jadi, sementara beli obat yang lebih bagus dari yang dokter lihat semalam."


Gadis ini sebelas dua belas sama anika, gampang akrab.


"Alhamdulillah, saya ikut senang. Ya udah, kamu ajak ibu registrasi saja dulu. Saya mau ke ruangan saya."


"Iya dok!", sahut Sabrina singkat. Sakti pun meninggalkan kedua perempuan beda usia itu.


"Brin, kamu kenal sama dokter itu dimana?", tanya ibunya.


"Di restoran tempat Brina kerja Bu."


"Bukan pacar kamu kan?"


"Hahah ibu, ada-ada saja. Ya bukanlah Bu, mana mau dokter Sakti sama Brina yang cuma pelayan restoran. Kita orang susah Bu. Brina ngga akan mengkhayal terlalu tinggi. Fokus Brina sekarang, cuma kesehatan ibu."


Ibunya Sabrina tersenyum tipis. Dia merasa bersalah, selama ia sakit selalu menjadi beban putri nya. Tanpa mereka tahu, ternyata Sakti kembali lagi ke tempat ibu dan anak itu berdiri. Niatnya ingin mengatakan pada Sabrina agar langsung mendaftar menjadi pasien Sakti. Belum sampai ke sana, Sakti mendengar penuturan Sabrina yang rendah diri seperti itu. Entah kenapa perasaan Sakti mendadak tersentil. Masih ada yang menganggap kesenjangan sosial menjadi penghalang hubungan seseorang.

__ADS_1


Sakti membatalkan niatnya menghampiri Sabrina. Dia memilih mengatakan pada resepsionis agar merujuk pasien yang sakti tunjuk agar di rujuk ke ruangan nya. Si resepsionis pun menyetujuinya.


Sakti tersenyum menuju ruangannya. Sesuai perintah sakti, resepsionis merujuk ibu Sabrina ke dokter Sakti.


Sabrina menuntut ibunya masuk ke dalam ruangan sakti. Karena mungkin masih pagi, tidak ada antrian yang berarti.


"Permisi dok!", Sabrina memberi salam saat ia dan ibunya memasuki ruangannya. Ibu Sabrina pun konsultasi pada dokter sakti. Ternyata sakti begitu ramah pada ibu Sabrina. Mereka begitu akrab seperti sudah lama saling kenal. Sesi periksa dan konsultasi pun usai. Sabrina dan ibunya pun berpamitan untuk segera menebus obat yang Sakti berikan.


"Oh ya, Brin. Boleh saya minta nomor ponsel kamu?", tanya Sakti. Sabrina menautkan kedua alisnya.


"Buat apa ya dok?''


"Buat di simpan saja. Barangkali suatu saat kamu butuh konsultasi kesehatan ibu. Boleh kan Bu?", tanya Sakti pada ibu Sabrina.


Gila Lo Sakti! Urat malu Lo udah putus? Ngapain minta nomor ponsel Sabrina segala? Pakai minya ijin sama ibunya pula! Batin Sakti.


"Eummm...iya dok, mana ponsel dokter. Biar saya ketik!", kata Sabrina. Sakti pun mengulurkan ponselnya. Sabrina sedikit canggung saat jarinya tak sengaja saling menyentuh jari Sakti. Tangan Sabria bergetar, bukan karena jatuh cinta tapi... untuk pertama kalinya ia menyentuh ponsel semahal itu.


"Kok diam Brin?", tanya Sakti.


"Heheh maap dok, mendadak saya tremor pegang hape mahal. Dokter aja yang ngetik nomor saya."


"Oke, sebutkan!", pinta Sakti. Sabrina pun menyebutkan nomor ponselnya. Selang beberapa detik, ponsel Sabrina pun bergetar.


"Udah masuk?", tanya Sakti.


"Heuh? Apanya?", tanya Sabrina. Sakti mengusap pelan pelipisnya.


"Nomor saya Sabrina. Liat deh ponsel kamu."


Sabrina menepuk kepalanya sendiri, salting ciiin. Ibunya menggeleng malu melihat putrinya yang mendadak nge-lag itu.


Sabrina pun mengambil ponsel di saku jaketnya. Lalu dia tersenyum manis.


"Sudah dok!"


"Ya udah Brin, kamu harus kerja lagi kan? udah mau jam sembilan. Sebentar lagi kamu kan berangkat."


"Iya Bu. Ya udah dok, kami permisi. Terimakasih ya!", kata Sabrina.


"Sama-sama. Semoga lekas pulih ya Bu!",kata Sakti pada ibunya Sabrina.

__ADS_1


Keduanya pun keluar dari ruangan Sakti. Setelah ibu dan anak itu keluar, pasien berikut nya pun masuk. Sakti kembali bersikap ramah.


.


.


Aku masih bermalas-malasan di teras belakang. Ucapan Febri masih terngiang-ngiang di telinganya. Apa harus seperti ini? Bukankah ini tidak pantas untuk di bahas?


Aku masih sah istri Alby!


Kusandarkan punggung ku ke dinding tembok yang cukup dingin. Rintik hujan menemani pagiku.


Apa yang sedang Alby lakukan di sana? Apa dia sudah bersikap lebih baik pada Silvy sepeninggal aku?


Masih jam sembilan pagi. Untuk tidur lagi itu pun tidak mungkin, ini masih terlalu pagi. Sarapan saja baru selesai satu jam yang lalu. Aku memilih untuk masuk ke kamar ku lagi. Tapi ternyata ada yang mengetuk pintu ruang tamu. Aku mengambil jilbab yang ku sampirkan di pintu, lalu buru-buru memakai nya.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam", aku pun membuka pintu. Kulihat petugas ekspedisi memakai seragam berwarna biru hitam itu di depan pintu.


"Benar ini rumah ibu Shabia Ayu?", tanya kurir itu.


"Iya, saya sendiri."


Subhanallah, nie orang cakep amat ya? Beneran ibu-ibu? Nyesel si Agus ga mau ikut turun dari mobil. Batin si kurir.


"Oh, ini Bu saya mau mengantar paket motor."


"Ya, mana resinya biar saya tanda tangan dulu. Mas nya turunin saja motor saya."


Kurir itu pun meminta bantuan teman nya untuk menurunkan motor dari mobil.


"Terima kasih mas!", ku kembalikan bukti resi nya sekaligus ku selipkan selembar uang berwarna biru.


"Bu, ini...?"


"Buat beli rokok mas. Makasih ya!", kataku. Si kurir pun berpamitan meninggalkan halaman rumah ku.


Ku pandangi motor hasil jerih payahku saat aku bekerja di minimarket dulu. Sisa kenangan yang cukup berarti kulewati bersama...eh??? Bahkan Febri, sakti dan Alby pun pernah bersama-bersama memakai motor ini bersamaku dulu.


Ya Allah, sebegini amat hidup ku!

__ADS_1


__ADS_2