Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 84


__ADS_3

"Bik...bik Mila!", teriak Silvy saat baru turun dari kamarnya.


Mila yang di panggil namanya pun lari tergopoh-gopoh menghampiri anak majikannya itu.


"Ya non!", kata Mila setelah dia berada di hadapan Silvy.


"Aku maunya sandwich! Sama itu, jus alpukat! Jangan kebanyakan susu ya!", titah Silvy.


''Baik non!"


Silvy pun mendudukkan dirinya di bangku. Biasanya papa sudah duduk santai sambil meminum kopinya di jam segini. Tapi tumben belum ada di meja makan.


Silvy memainkan ponselnya. Dia ada jadwal kuliah pagi ini. Selang beberapa menit, Alby turun dari kamarnya lalu duduk di samping Silvy.


Mila membawakan makanan yang Silvy pesan. Lalu meletakkan di depannya.


"Mau sarapan apa By?", tanya Mila pada Alby. Baru Alby mau mengucap, tapi Silvy lebih dulu menyela.


"Panggil apa Bik? Yang sopan ya Bik. Jangan mentang-mentang pernah dekat sekarang bibik bersikap kurang ajar sama suamiku. Dia juga majikan mu!", hardik Silvy. Mila menunduk.


"Maaf Non!", kata Mila.


"Aku yang meminta teteh tetap memanggil ku seperti itu. Derajat kami sama. Apalagi...aku dan teh Mila, sama-sama bekerja pada tuan yang sama!", kata Alby lalu berdiri dari bangkunya.


''Alby arek ngeteh wae di tukang teh!", kata Alby.


(Alby mau minum teh aja di belakang teh)


"Eh ...sayang, kalo kamu pergi aku sarapan sama siapa?", Silvy meraih pergelangan tangan Alby.


"Biasanya juga sama papamu!", jawab Alby masih berusaha melepaskan tangan Silvy dari pergelangannya.


"Papa kemana bik?", tanya Silvy lebih terdengar halus.


"Sepertinya sejak makan malam, tuan belum keluar kamar non!", jawab bibik.


"Ooh...ya udah, bik mila buatin teh buat suamiku. Bawa ke sini aja!", pinta Silvy. Mau tak mau, Alby kembali duduk.


"Sayang, apa kamu sudah mulai sibuk di kantor?", tanya Silvy sambil mengoleskan selain di roti tawar yang ada di depannya. Ia ingin memberikan nya untuk sang suami.


"Iya, banyak yang harus ku pelajari dengan Marsha."


"Eum...tapi, buat antar jemput aku ke kampus bisa dong?", tanya Silvy terdengar manja lalu menyodorkan rotinya di depan Alby.


"Aku tak terbiasa makan seperti ini. Nanti aku makan di belakang saja!", tolak Alby.


"Makan nasi lagi sepagi ini?", tanya silvy.


"Ya", sahut Alby singkat. Tak lama kemudian, Mila membawa teh buat alby. Dan salah satu tangannya membawa sepiring singkong rebus.


"Ibu bilang, Alby suka kalo sarapan seperti ini."


"Makasih teh!", kata Alby.


Silvy mendengus kesal. Suaminya lebih memilih memakan makanan kampung dari pada roti yang dia buat.


Alby menikmati tehnya bersamaan dengan Hartama yang turut duduk di meja makan.


"Pagi pa!", sapa Silvy.


"Pagi sayang!", Hartama menimpali sapaan anak kesayangannya itu.


"Muka papa pucat sekali? Papa sakit?", tanya Silvy. Alby mendongak menatap papa mertuanya.


"Heum! Biasa sayang! Asam laktat papa naik."


Mila langsung menghampiri majikan lalu memberikan air putih hangat di depannya.


"Silahkan tuan!"


Hanya anggukan kecil dari Hartama.


"Apa perlu ke rumah sakit pa?", tanya Silvy.

__ADS_1


"Ngga, papa cukup istirahat di rumah."


Silvy mengangguk.


"Oh iya By!", kata Hartama.


Alby yang merasa di panggil namanya pun mendongak. Apa mertuanya sudah lupa jika semalam mereka bertengkar??


"Ya, Pa!"


"Lusa, ikut papa ke proyek yang ada di Jawa timur. Kamu dan Marsha."


"Ke Jawa timur pa? Kalo kalian pergi, aku sama siapa?", tanya Silvy.


"Ada ibumu dan Mila di rumah!", jawab Hartama datar. Dia melirik singkong rebus yang ada di hadapannya.


Ingatannya kembali saat-saat dia bersama sahabatnya merasakan kesulitan hidup hingga akhirnya ia bisa sesukses sekarang. Tapi entah dengan sahabatnya itu.


"Papa mau?", tanya Alby membuyarkan lamunannya. Baru terjadi hari ini, dua pria beda usia itu terlihat akur. Hartama yang terbiasa arogan dan sombong, mengangguk tipis lalu mengambil sepotong rebusan singkong itu. Entah sudah berpuluh tahun lamanya ia tak pernah memakan makanan ini.


"Nanti, kamu bilang sama Marsha. Persiapkan semua dokumen yang berhubungan dengan proyek di Jawa timur."


Alby mengangguk paham.


"Sayang!", Silvy meraih punggung tangan suaminya.


"Nanti siang abis jemput aku, kita ke dokter ya?"


"Insyaallah!", jawab Alby singkat.


"Apa ada masalah dengan kandunganmu sayang?", tanya Hartama cemas. Hari ini dia benar-benar berbeda di Bandung biasanya yang hobi meletup-letup.


"Ngga sih pa. Pengen USG aja pa, tapi di temani Alby."


"Tapi sepertinya hari ini Alby akan sibuk. Papa mau istirahat di rumah."


"Oh ...ya sudah!", kata Silvy lemas.


"Tapi nanti di usahakan setelah dari Jawa timur ya By!", kata Hartama. Alby pun mengangguk ragu.


Alby yang bingung dengan perubahan mendadak papa mertua nya pun tak tahu harus bersikap seperti apa.


"Ayo sayang, aku ada kuliah pagi!", kata Silvy menggaet lengan suaminya. Alby pun hanya menuruti saja. Merek melewati pintu dapur. Ada Titin, Sapto dan Mila yang sedang duduk di belakang.


"Mak, teh, mang! kami berangkat ya!", kata Alby berpamitan. Tapi tidak dengan Silvy, dia masih memasang wajah juteknya.


"Ya By, hati-hati!", kata Mak.


Alby mengangguk tipis.


"Assalamualaikum!", kata alby.


"Walaikumsalam!", jawab mereka semua. Alby membukakan pintu untuk istri mudanya itu. Setelah istri nya masuk, baru lah ya memutari mobil lalu duduk di balik kemudi.


"Sayang, menurut mu papa kenapa ya?", tanya Silvy.


"Tidak tahu!", jawab Alby singkat.


Silvy geregetan sendiri menyikapi Alby yang makin hari makin dingin terlebih saat Bia pulang kampung.


Tak ada obrolan apapun sampai mereka berada di kampus.


"Antar aku ke kelas dong sayang!", kata Silvy menggelayut manja pada Alby. Mau tak mau, Alby pun menurutinya.


Silvy menggandeng mesra suaminya. Sebenarnya Alby risih, tapi dia hanya tak ingin mempermalukan istrinya di kampus ini.


Dari jauh terlihat Anika yang sedang mengobrol dengan temannya. Biasanya, dia akan lari menghampiri Silvy. Tapi tidak kali ini. Dia seolah tak peduli apakah ada Silvy atau tidak. Sepertinya ia memang sudah memutuskan hubungan persahabatan antara dia dan Silvy.


"Sudah sampai, aku langsung ke kantor!", kata Alby. Silvy mengangguk. Ia meraih punggung tangan suaminya untuk di cium, bersyukurnya...Alby tak menolak melakukannya.


Silvy langsung duduk di bangku nya seperti biasa setelah Alby pergi. Anika masih tak menghiraukan keberadaan Silvy. Teman yang lain pun sepertinya sama saja. Silvy benar-benar sendirian saat ini. Ya, sikap arogansi nya yang melekat dari dulu sudah membuat teman-temannya hilang respek. Judes! ketus! Sombong! Itu identik dari seorang Silvy. Hanya sesekali ada yang sekedar bertegur sapa atau meledek nya. Tak ada yang sedekat dirinya dengan Anika.


Tapi, Silvy seolah tak ambil pusing. Ia yakin Anika akan datang padanya seperti biasa. Dia hanya marah dan kecewa sebentar.

__ADS_1


.


.


Alby masuk ke ruangannya. Mungki .... saat orang lain berada di posisi Alby itu menganggap dirinya ketiban durian runtuh. Tapi tidak bagi Alby. Dia merasa beban hidupnya semakin banyak.


Marsha masuk ke dalam ruangan Alby setelah mengetuk pintu.


"Mas Alby, ini data-data yang perlu di cek lagi."


Marsha menyerahkan beberapa map.


"Sha!", panggil Alby setelah Marsha duduk di hadapan Alby.


''Ya, kenapa?"


"Tuan Hartama ngga datang hari ini."


Marsha mengangguk.


"Iya, beliau udah chat aku tadi pagi."


"Oh...kirain. Sama itu Sha, proyek di Jawa timur itu...di kota mana ya?", tanya Alby.


"Kota B, sudah hampir ujung. Kenapa?"


"Kota B???? Kata tuan Hartama lusa ke sana?", tanya Alby.


"Iya kota B. Kita sedang ada proyek pembangunan hotel di dekat wisata Xxxx."


Bisa kebetulan sekali, aku bisa bertemu Bia di sana! batin Alby.


"Memang kenapa mas ?", tanya Marsha.


"Ngga apa-apa."


"Oh, nanti aku reservasi hotel yang ngga jauh dari lokasi proyek."


Alby mengangguk paham.


.


.


Hartama duduk bersandar di headboard ranjang. Mimpi nya semalam sungguh membuatnya tak bisa tidur lagi.


Kenapa aku tiba-tiba memimpikan Salman? Apa kabar dia sekarang??


Hartama memijat pelipisnya sendiri. Lalu ia meraih ponselnya, menghubungi Mila.


[Mila, buatkan teh panas ! Bawa ke kamar sekarang!]


[Baik tuan]


Selang beberapa menit, bukan Titin yang mengantarkan teh nya melainkan Titin.


"Maaf mas, aku yang mengantarkan tehnya. Mila sedang...."


"Heum!", sahut Hartama singkat. Titin meletakkan tehnya di atas nakas.


"Hari ini, aku sedang tidak mood untuk membalas rasa sakit hatiku sama kamu Tin!",kata Hartama dengan mata terpejam. Titin tak menghiraukan ucapan mantan suaminya yang kini menjadi majikannya.


"Permisi mas!", Titin keluar dari kamarnya. Tak ada sahutan apa pun dari mulut Hartama. Setelah Titin benar-benar keluar, barulah Hartama membuka matanya.


Dia bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Kehadiran Alby dan Titin yang hampir ia lupakan. Tapi rasa sakit hatinya belum juga sirna meski puluhan tahun berlalu.


Dan mimpi itu ...mimpi dimana Salman merasa kecewa padanya. Tapi kenapa tiba-tiba ia memimpikan sahabat masa mudanya dulu? Padahal sudah hampir dua puluh tahun ia tak bertemu dengan sahabatnya itu. Entah seperti apa keadaannya sekarang!


*****


Kalo Hartama taubat, tamat dong????? 😄😄😄😄


Belum gaessss 😅, masih di beri teguran sakit asam lambungnya naik. Belum ngeoprank malaikat 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Makasih yang udah sempetin mampir sini 😄😄😄


__ADS_2