Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 174


__ADS_3

"Mau ke mana Nduk?", tanya lek Dar.


"Jalan-jalan Lek. Bosen di rumah terus."


"Udah enakan badanmu?", tanya lek Sarman yang sedang menyesap kopinya di meja makan.


"Udah lek. Nanti bantuin warung ya?"


"Iya, kalo emang udah sehat ya boleh nduk."


Aku mengangguk tipis. Setelahnya, aku meminum teh hangat yang sudah lek Dar buatkan untuk ku.


"Jalan-jalan ke mana?", tanya le Dar yang ikut duduk di samping ku.


"Sekitar sini aja lek. Sekalian olah raga."


Suami istri itu mengangguk.


"Pamit ya Lek!", kataku pada kedua lek ku.


"Iya, ati-ati!"


"Hooh, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Aku pun keluar dari rumah lek Sarman. Saat melewati warung, terlihat beberapa anak laki-laki yang sedang sibuk merapikannya belanjaannya. Saat melihat keberadaan ku, mereka menyapa ramah.


Sudah sepuluh menit aku berjalan menjauh dari rumah. Matahari juga sudah mulai terlihat.


Dari kejauhan aku melihat Wibi yang baru turun dari motor bersama bapak. Anak kecil itu melihat ku berjalan ke arah nya.


"Mba Bia....!", teriak nya riang. Aku melambaikan tanganku ke Wibi. Motor Wibi mendekat padaku.


"Bapak, Wibi ikut mba Bia ya...!",rengek Wibi menarik-narik lengan baju bapaknya.


"Wibi, mba Bia ada urusan lain. Jangan nakal, pulang ya sama bapak. Kan udah jalan-jalan. Bapak mau siap-siap kerja."


"Tapi Wibi mau sama mba Bia pak....!", rengek Wibi lagi.


"Ya udah pak, Wibi sama Bia. Nanti Bia anterin pulang. Bapak kalo mau siap-siap kerja silahkan!"


"Beneran ngga ngerepotin?",tanya bapak ragu.


"Ya ngga lah pak."


"Ya udah, Wibi kalo ikut mba Bia jangan nakal ya! Nurut sama mba mu!", bapak menasehati Wibi. Wibi kecil itu mengangguk mengerti.


Sepeninggal bapak, aku dan Wibi berjalan menuju ke pasar.


"Tumbas opo toh mba?", tanya Wibi dengan menggandeng tangan ku.


(Beli apa?)


"Wibi pengen nya apa?"


Wibi tampak berpikir. Matanya berkeliling menatap ke depan pasar. Kami belum memasuki pasar, masih berada di depannya.


"Mba, kalo maem bubur ayam boleh ngga?"


"Boleh dong! Ayok!!!"


Kami berjalan bergandengan menuju ke gerobak bubur ayam. Mungkin ketika orang lain melihat kami, lebih pantas jadi ibu dan anak heheheh


"Bubur setunggal pak!"


(Bubur satu)


"Nggih mba!"


(iya)


"Mba, itu anaknya suruh duduk aja dulu. Soalnya masih antri ini!", kata pak penjual bubur yang sedang meracik beberapa sterofoam. Aku mengangguk.


"Mba, bilangin Wibi ngga mau pake daun ijo-ijo!", rengek Wibi. Penjual itu menoleh ke kami.


"Pak, Ojo nganggo godong seledri yo!"


(Jangan pakai daun seledri)


"Oh, nggih mba."

__ADS_1


Si penjual mengangguk bingung. Anaknya apa siapanya?


"Habis ini ke mana!?", tanya ku pada Wibi.


"Wibi ikut mba Bia aja!", celetuk bocah itu sambil ungkang-ungkang kaki.


"Kalo mba mau ke dekat air terjun sana, Wibi mau?"


"Mau!", dia menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, tapi maem bubur dulu ya. Nanti beli jajan pasar buat bekel di makan Deket air terjun."


"Iya mba!"


Bubur pesanan Wibi pun selesai, aku pun menyuapinya.


"Bubur loro mas, krupuke pisah!", suara seseorang yang sangat familiar di telinga ku. Aku pun menoleh.


"Lho, Bia toh?", tanyanya.


"Eh, ibu!", aku mencium punggung tangannya, Bu Sri. Wibi pun ikutan menyalami Bu Sri.


"Berdua Wibi aja?", tanya Bu Sri sambil duduk di samping ku.


"Nggih Bu. Tadi Bia lagi jalan-jalan sendiri sebenarnya, tapi Wibi yang lagi naik motor sama bapak malah turun. Katanya mau ikut Bia aja."


"Oh...ngono toh. Kamu udah akrab sama adikmu ini, kirain hubungan kamu sama lurah Anton belom sedekat ini."


Penjual bubur yang kepo pun menyimak obrolan Bu Sri dan Bia.


Aku tersenyum.


"Sekarang, bapaknya Wibi juga bapaknya Bia kan Bu?", tanyaku pada bu Sri. Bu Sri tersebut lalu mengusap lengan ku.


Penjual bubur yang kepo itu pun mengangguk paham, sudah tak kepo lagi.


"Gimana urusannya sama Alby?", tanya Bu Sri. Aku menggaruk pelipis ku. Sebenarnya malu mau jawab, tapi sepertinya sudah jadi rahasia umum.


"Sudah di proses Bu. Bia minta tolong sama pengacara."


Bu Sri mengangguk pelan. Entah apa yang dipikirkan oleh pensiunan guru itu.


"Semoga di lancarkan ya Nduk!"


"Heum, ibu harap setelah masalah kamu dan suami selesai, kamu mau jadi anak ibu!"


Aku mengernyitkan alisku. Anaknya ibu yang gimana ini? Mau ngadopsi nenek-nenek kaya aku? Apa mau jadiin anak mantu? Ehhh ...


"Maksud ibu apa ya?"


"Mosok ga paham?!"


Aku mengiyakan dengan anggukan.


"Yo wes nak ga paham sekarang. Piro pak bubur ku?", tanya Bu Sri.


"Rongpuluh ,Bu!"


(Dua puluh)


Bu Sri membayarnya,"sekalian punya Wibi!"


"Eh, ngga usah Bu. Biar Bia aja !"


"Gak opo-opo nduk."


"Suwon mas!", ujar Bu Sri pada penjual bubur.


"Matur nuwun lho Bu!", kataku.


"Iya, sama-sama. Ibu pamit duluan ya."


"Nggih Bu!", sahutku.


Bu Sri pun menjauh. Sekarang aku dan Wibi lagi.


"Udah selesai maem nya, kita beli jajan pasar ya!", ajakku pada Wibi.


"Makasih ya pak!", kataku pada penjual bubur.


"Nggih mba!"

__ADS_1


Aku kembali menggandeng tangan Wibi. Anak itu terlihat sangat antusias di ajak jalan pagi begini. Ku lihat jam tangan ku sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.


"Wibi udah mandi belum sih?"


"Udah, kan sama ibu abis bangun bobo langsung mandi."


"Pinter!", aku mengacak rambut Wibi. Ada beberapa macam jajan yang ku beli. Karena aku takut Wibi lelah, jadi menuju ke air terjun ku putuskan untuk naik ojek.


"Mba, mba udah pernah kesini sama siapa?", tanya Wibi setelah kami duduk di pinggiran taman yang menghadap air terjun.


"Pernah dong, sama....om Febri."


"Om Febri sopo toh?",masih dengan suara cadelnya.


"Teman mba lah."


"Bukan mas Alby?", tanya Wibi lagi. Aduh, nih anak!


Aku menggeleng. Ponsel ku bergetar, ada chat masuk. Ternyata dari ibuku.


[Pulang jalan-jalan sarapan di sini ya Nduk]


[Iya Bu]


Aku kembali memasukkan ponsel ku. Tapi selang beberapa detik kemudian, ponsel ku berdering.


Mas Sakti? Gumamku. Di video call kali ini.


[Assalamualaikum mas Sakti?]


[Walaikumsalam Bi. Di mana?]


[Eum, lagi jualan aja sih Deket rumah. Ada apa mas?]


[Oh, ngga. Kirain lagi sibuk]


"Mba, Wibi main situ ya!", tunjuk Wibi ke bebatuan yang ada di depan kami.


"Ati-ati ya Wibi!", kataku mengingatkan. Wibi pun mengangguk. Dia jongkok di bebatuan itu.


[Siapa Bi?]


[Eum, adikku mas]


[Adik mu?]


[Iya, Wibi. Usianya baru tiga tahunan]


Aku malu-malu menjawabnya.Adikku lebih pantas jadi anakku mengingat usia ku yang segini.


[Oh, kamu masih punya adik kecil?]


[Heh? iya mas]


[Oh ya Bi, gimana masalah kamu. Udah beres?]


[masih proses lah mas. Doakan saja yang terbaik. Aku dengar mas sakti udah serius sama seorang gadis. Siapa gadis beruntung itu?]


[Tentu saja mas doakan terus yang terbaik buat kamu Bi. Iya, mas dekat sama seorang gadis. Namanya Bina. Mirip-mirip panggilannya ya sama kamu? Sempet takut salah sebut, nanti berabe hehehhe]


[Hahahaha bisa aja mas Sakti mah]


[Nah, gitu dong ketawa. Jangan sedih-sedih lagi, mas ngga mau liat kamu nangis lagi.]


Tiba-tiba suasana berubah menjadi kaku.


[Eum, insyaallah mas]


[Janji ya, setelah ini kamu bakal bahagia. Ya, walaupun bukan mas sumber kebahagiaan kamu]


[Mas Sakti...]


[Hem, mas lagi berusaha move on dari kamu. Doakan biar sukses acara lamaran mas ya. Dan kita masih jadi teman yang baik]


[Makasih buat kebaikan mas sakti selama ini, maafin aku selalu ngecewain kamu]


[Hehehe santai aja Bi. Perasaan tak bisa di paksa. Semoga urusan mu dengan Alby lancar ya, dan kalian bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi nanti]


[Iya mas, makasih]


[Ya udah, mas mau berangkat ke rumah sakit dulu ya. Assalamu'alaikum]

__ADS_1


[Iya mas, walaikumsalam]


__ADS_2