
"Tidak usah Mak!", sela Alby yang baru turun dari kamarnya.
"Kunaon Jang?", tanya Titin heran. Begitu juga dengan Hartama.
"Lain kali saja. Lebih baik sekarang biarkan Bia menenangkan diri. Jangan membuat beban baru buat Bia!", kata Alby sambil berlalu meninggalkan mereka. Titin tak pernah mengira jika Alby bisa berubah seperti sekarang ini. Dia ingat betul seperti apa dirinya memperlakukan dan mengajari Alby. Sebenarnya Alby tak salah jika ia mulai bersikap cuek seperti sekarang karena keadaan sudah berubah. Titin hanya berharap jika kelak anaknya akan kembali menjadi pribadi yang lebih baik.
"Benar apa kata Alby mas. Mungkin tidak sekarang, lain kali saja aku hubungi Bia ya mas?"
"Ya sudah."
.
.
Alby sudah kembali ke kantor. Sekarang dia sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan kantor dan juga pekerjaannya yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Dia memang tidak menjabat sebagai CEO di HS grup. Tapi pekerjaan nya sudah setara dengan posisi itu. Melihat dari basic pendidikan nya pun, Alby bukan apa-apa di bandingkan dengan para karyawan perusahaan itu sendiri.
Tapi benar kata Marsha, ia juga harus menunjukkan bahwa dia mampu meski dia tidak berpengalaman tinggi. Yang penting dia banyak belajar.
Meninggalkan kebiasaannya yang hanya memakai kemeja lengan panjang, Alby memulai untuk memakai jas untuk beberapa kesempatan jika bertemu dengan klien. Tapi jika hanya berada di dalam kantor, dia lebih memilih kemeja favoritnya.
"Permisi mas Alby, ada undangan pernikahan buat mas Alby!", Marsha menyodorkan undangan.
"Buat aku? Dari siapa? Kok kirim ke sini?", tanya Alby.
"Baca aja!", kata Marsha.
Alby membuka amplop undangan yang terlihat sederhana namun mewah.
"Sakti?", gumam Alby.
"Ya udah mas, aku balik ke ruangan ku ya?", pamit Marsha.
"Iya, makasih Sha!"
Alby membaca undangan pernikahan itu untuk mengetahui kapan pernikahan itu di laksanakan.
''Jadi, Sakti nikah sama mantannya Dimas?", monolog Alby. Setelahnya, ia menyimpan undangan itu.
Ia bersiap untuk kembali ke rumah. Perjalanan menuju rumah cukup macet karena memang jam nya sibuk.
Alby memarkirkan mobilnya di depan garasi. Ada dua mobil lagi yang mungkin sudah lama tak di pakai karena Hartama dan Silvy tak pernah bepergian lagi selain dengan Alby.
Pria tampan itu masuk ke dalam rumah tepat di saat azan magrib sudah berkumandang beberapa saat lalu. Sesampainya pintu dapur, ia melihat penampakan yang cukup menyejukkan.
__ADS_1
Mang Sapto memimpin solat magrib di dalam ruangan itu. Hartama pun turut jadi jama'ah di belakang Mang Sapto. Cukup mengejutkan memang, tapi itu lah kenyataannya. Mungkin tuan arogan itu sudah benar-benar berubah atau entahlah...hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Tanpa mengucap salam, Alby pun berlalu menuju ke kamarnya di lantai atas. Dia langsung membersihkan diri dan setelahnya ia pun melakukan sholat magrib.
Alby masih betah berdiam diri di sajadahnya. Menenangkan diri sekaligus mengadu pada yang maha kuasa atas semua yang ia alami dalam hidupnya. Tak terasa, azan isya berkumandang. Ia kembali melanjutkan sholat isya. Dan lagi, ia kembali mengulang doa-doanya.
.
.
Kediaman keluarga Galang Wibisono sedang ramai. Banyak keluarga dan kerabat Galang yang berkunjung ke rumahnya. Dua hari yang akan datang pernikahan sakti di laksanakan.
Tidak hanya si calon mempelai, para ajudan Galang pun turut di sibukkan dengan persiapan pernikahan itu.
Hingga hampir tengah malam, para tamu kerabat Galang pun meninggalkan rumah satu persatu. Tersisa saudara Galang yang memang tinggal di luar kota tapi menyempatkan waktu untuk berkunjung ke pernikahan Sakti.
Sakti, Febri, Dimas dan Seto berkumpul di tepian kolam. Keempat pria tampan itu belum beranjak ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri. Padahal sejak pagi mereka sudah lelah dengan berbagai kegiatan yang menyita tenaga.
"Feb!", panggil Sakti.
"Heum? Kenapa?"
"Lo dulu deg-degan ngga waktu mau ijab qobul?", tanya Sakti. Febri tersenyum tipis lalu memposisikan dirinya duduk di lantai tepian kolam.
"Namanya hidup ya deg-degan kali Sak!"
"Iya gitu lah pokoknya. Lo beruntung, Lo sama Bina nikah karena perasaan kalian sama-sama saling suka. Kalo gue sama almarhumah Aisyah kan di jodohin."
"Tapi Lo terima perjodohan itu kan? Buktinya bini Lo bisa hamil heheheh!", celetuk Seto.
Ckkkk... Febri berdecak.
"Ya namanya juga udah suami istri. Emang harusnya begitu kan? Nafkah lahir batin!", sahut Febri enteng.
"Gue juga tahu!", sahut sakti.
"Nah, yang mau Lo tanyain tuh apa?", tanya Febri.
"Lo, kalo lagi begituan ga inget sama Bia yang Lo cinta gitu?", tanya Sakti. Bukan Febri yang heran dengan pertanyaan Sakti, tapi justru malah Dimas.
"Jangan bilang mas sakti kalo lagi sama Bina bayanginya Bia lho?", tanya Dimas memicingkan matanya.
Sakti tergelak cukup kencang. sontak hal itu menarik perhatian para sahabatnya.
"Ada-ada aja Lo Dim. Ya gak lah! Lagian gue belom eksekusi Bina kali!", celetuk Sakti.
__ADS_1
"Eksekusi, di kira apaan!",sahut Seto.
Tapi malah Febri yang jadi merasa tersindir di sini. Sepertinya kalimat itu memang di tunjukkan padanya.
"Kalian lagi nyindir gue?", tanya Febri.
Sakti, Dimas dan Seto kompak menggeleng.
"Gak, ngapain gue nyindir Lo? Eitsss....kayanya ada yang merasa tersindir, udah pernah eksekusi sebelum sah nih!", ledek Dimas.
"Lambe mu, Dim!", kata Febri.
"Dimas kalo ngomong sok bener deh! Kan emang iya, ada yang udah mendaki gunung lewati lembah padahal belum ada ijin mendaki. Sayangnya belum sampai ke puncaknya malah di paksa turun. Ngenes hahahahhahaha!", Seto tertawa lepas.
Febri menoyor kepala Seto.
"Sindiranmu itu lho To. Ga inget Lo temen gue , udah gue bantai tahu ngga!", bentak Febri.
"Uuuh....takut....!", sahut Dimas dan Seto kompak sambil memasang ekspresi takutnya.
Sakti menggeleng-gelengkan kepalanya. Mau heran tapi itu Dimas dan Seto!
"Udah, kasian tuh anak orang di roasting mulu!", ujar Sakti.
"Tahu nih anak. Ga ngehargain gue sebagai senior, hehhh!", timpal Febri.
"Maafkan kami senior!", ucap Dimas dan Seto bersamaan. Lalu mereka pun tergelak lagi.
Hal itu membuat Febri kesal sendiri lalu meninggalkan mereka semua.
"Tuh, ngambek kan?", kata Sakti pada kedua sahabatnya itu.
"Ngga lah, besok pagi juga baik kok. Tenang aja mas! Udah mas Sakti balik ke kamar aja. Istirahat! Mau menikah ngga boleh sakit!", Seto menasehati Sakti.
"Oke, kalian juga istirahat deh. Makasih buat bantuan kalian ya!"
"Sama-sama mas. Kita kan temenan. Apalagi ini nih, calon ipar. Udah kewajibannya membantu mas sakti!", celutuk Seto sekate-kate.
Dimas menoyor kepala Seto.
"Ga ada Febri, gue yang Lo roasting To! Dasar temen lakn**!", sahut Dimas. Sakti tak mampu komentar apa pun dengan tingkah ajudan-ajudan ayahnya.
****
Maaf ya kalo gaje 😆😆😆 happy weekend 🤗
__ADS_1
Sibuk sama bocil2 kalo libur gini mah ðŸ¤