Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 187


__ADS_3

Cuaca pagi ini begitu cerah, secerah wajah seorang pria tampan yang berbalut jas hitam menambah sisi maskulin nya meskipun berwajah imut dan manis dengan satu lesung pipinya.


Ya, dokter tampan itu akan melepaskan masa lajangnya dengan seorang gadis yang belum lama ia kenal. Tapi sakti yakin jika gadis itu memang di takdirkan untuknya.


Minggu pagi, suasana ball room hotel terlihat begitu megah dengan kombinasi dekorasi yang serba putih. Menambah syahdu dan kesan sakral acara pernikahan itu.


Sakti di dampingi ketiga sahabatnya tengah bersiap di salah satu kamar hotel tersebut. Meski terlihat tenang, tetap saja sebenarnya Sakti merasa sangat gugup.


Ia takut jika nanti ia salah mengucapkan kalimat ijab qobul yang sekarang berada di luar kepala. Tapi apakah nanti ia tidak grogi saat di hadapan penghulu??


"Bismillah aja Sak. Insyaallah di lancarkan semuanya!", Febri menepuk bahu Sakti.


"Iya bro, makasih buat dukungan kalian. Tapi...sumpah gue grogi, deg-degan!", sahut Sakti sambil sesekali menarik nafasnya.


"Pak dokter spesialis jantung harus nya sih bisa nego sama detak jantung nya juga kali biar ngga deg-degan menghadapi pak penghulu!'', ledek Seto. Sakti hanya memanyunkan bibirnya.


"Iya mas Sakti rileks aja. Insyaallah acara nya berjalan lancar. Apalagi semuanya udah siap. Ngga ada lagi yang perlu di khawatirkan mas. Pokok nya tenang!", ujar Dimas.


"Ngomong gampang Dim, coba ya besok kalo posisi Lo kaya gue sekarang, gue ledek Lo abis-abisan!"


Febri dan kedua sahabatnya tertawa lepas. Setidaknya suasana seperti ini membuat Sakti lebih rileks, tak terlalu tegang. Karena sekarang belum saatnya hal yang paling menegangkan!


"Permisi, maaf mas. Pak penghulu sudah tiba. Mas sakti di suruh bersiap-siap ke bawah!", ujar salah satu anggota keluarga Sakti.


"Iya, makasih mas. Saya turun habis ini!", sahut Sakti.


Sepeninggal saudara Sakti, keempat pria gagah itu pun menuju ke ballroom hotel. Febri dan kedua sahabatnya memakai baju batik yang sama. Terlihat sangat berwibawa sekali. Tak ada MuA yang mendampingi Sakti. Karena sepertinya ia sudah cukup sempurna dari segi fisik maupun penampilan. Jadi MuA cukup untuk berkutat pada Sabrina.


Keempat nya sudah berada di ballroom. Para tamu undangan yang sebagian besar adalah kerabat dari ayah dan ibunya cukup banyak untuk menghadiri acara ijab qobul Sakti dan Bina.


Sakti duduk di bangku yang sudah di sediakan untuk acara tersebut.


Di salah satu kamar hotel, Sabrina juga sudah dipermak dengan make up yang sempurna. Menjadikan Bina yang dari sananya sudah cantik semakin cantik.


Dia di temani Anika dan ibunya serta Nur, sahabat Bina.


"Masyaallah, kak Bina cantik banget!", puji Anika.

__ADS_1


"Makasih Dek, jangan muji gitu ah. Aku malu!", sahut Bina.


"Kamu memang cantik sekali Nak, nak sakti pasti pangling liat kamu secantik ini!", puji ibunya Bina. Sabrina semakin tertunduk malu di puji seperti itu. Dia pun merasa berbeda sekali penampilannya kali ini, bahkan seperti bukan dirinya.


Tok...tok...


"Permisi, acara nya sudah mau di mulai. Mempelai wanita di suruh turun katanya!" , ujar gadis remaja yang masih kerabat jauh Sakti.


"Iya, kami turun!", jawab Anika. Anika sendiri tak kalah cantik. Ia mengenakan jilbab dan batik yang senada dengan ayahnya. Padaherang kesehariannya Anika tak berhijab.


"Dek!", panggil Bina sebelum mereka keluar dari kamar tersebut.


"Kenapa kak?", tanya Anika.


"Adek pake hijab aja terus kaya gini. Cantik banget deh!", puji Sabrina.


"Heum , iya insyaallah kak!", jawab Anika sambil tersenyum.


Setelah itu, Sabrina dan Anika di ikuti oleh kerabat Bina pun menuju ke ballroom hotel. Kedatangan Bina dan rombongannya disambut antusias oleh orang-orang yang ada di sana. Pujian 'cantik' banyak terlontar dari bibir mereka saat melihat Sabrina. Tapi sakti sendiri justru memilih tak menengok atau sekedar melirik Sabrina. Dia takut terlalu terkesima jika melihat gadis yang akan dinikahi itu. Nanti malah grogi dan tremor saat ijab qobul.


Sakit nampak lega setelah menyelesaikan ijabnya. Dan ya... saatnya ia menatap gadis yang sekarang resmi menjadi istrinya.


Sakti terpesona melihat Bina yang sangat cantik dengan balutan jilbab dan kebaya putih itu. Tangan Sakti terulur untuk saling memasangkan cincin. Sabrina mengecup punggung tangan Sakti. Setelah itu, barulah ia mengecup kening Sabrina begitu lama.


Ada yang sedang bahagia di sana, tapi ada juga yang sedang menatap pemandangan indah di depan nya dengan tatapan sayunya. Siapa lagi kalo bukan Dimas???


Dan sayang nya, dua sahabatnya geblek semua. Tak bisa lihat situasi sekarang seperti apa. Terutama Si Seto. Dengan sedikit kencang ia bernyanyi salah satu lagu yang sering ngetren jika mantan menghadiri pernikahan mantannya.


"Aku titipkan....dia.... lanjutkan perjuanganku untuknya, bahagiakan dia kau sayangi dia seperti ku menyayanginya....!"


Dimas membungkam mulut Seto. Tapi sayangnya, Febri yang melanjutkan lagu yang Seto nyanyikan tadi.


"Kan ku ikhlaskan dia....tak pantas ku bersanding dengan nya, kan ku terima dengan lapang dada aku bukan jodoh nya....ha...ha ..ha...!"


Dimas tak mampu membungkam kedua mulut sahabatnya. Beruntung mereka agak jauh dari meja ijab qobul itu. Tapi sayangnya, mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Suara bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


Sungguh, saat ini ketiganya tak ada wibawa sama sekali. Untung tak pakai seragam kebanggaan instansi nya. Kalau iya, sudah di pastikan hal itu akan menjatuhkan imej mereka bertiga.

__ADS_1


"Bocah gemblung!", Dimas menggeplak kepala Seto dan Febri yang mengaduh semakin kencang karena pukulan itu.


"Ampun Dim, ampun!", ujar Seto. Begitu juga dengan Febri, ia melakukan hal yang sama seperti Seto. Yaitu memohon agar Dimas menghentikan pukulannya. Seperti nya tak etis sekali di saat acara sakral berlangsung, ketiga nya malah bercanda tak berkelas seperti ini.


Tapi.... suasana seperti ini akan segera berakhir besok. Mulai besok mereka akan dinas di tempat yang berbeda. Tak ada lagi candaan seperti ini.


"Kak Dim!", panggil Anika. Dimas menghentikan kegiatannya memukul Seto dan Febri. Ia menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


Beberapa saat Dimas tertegun melihat kekasihnya yang begitu cantik memakai hijab dengan dress batik yang hampir senada dengan yang Dimas pakai.


Mata Dimas berkedip beberapa kali untuk memastikan jika gadis yang berhijab ini kekasihnya. Sejak pagi mereka sama-sama sibuk jadi belum sempat bertemu.


"Adek? Ini beneran dek Ika?", tanya Dimas mendekati Anika. Anika tersenyum dan mengangguk pelan.


"Masyaallah, dek...!", Dimas sampai tak bisa berkata-kata melihat sang kekasih yang nampak jauh lebih dewasa dengan pakaian seperti ini.


"Kenapa sih kak Dim?", tanya Anika yang bingung melihat kekasihnya hanya mengucap masyaallah.


"Ngga, ngga apa-apa dek!", lanjut Dimas.


"Oh, kirain ada apa. Ini, tadi ayah minta kak Dim nemuin ayah."


''Kak dim suruh apa dek?", tanya Dimas bingung.


"Mau sekalian di nikahin kali Dim!", celetuk Seto.


"Ishhhh!", Dimas mendesis kesal dengan celetukan Seto.


"Nggaklah kak Seto. Ika mah maunya ada prosesi upacara pedang pora, ya kan kak?", tanya Anika pada Dimas sambil tersenyum. Dengan cepat Dimas mengiyakan dengan anggukan.


"Ayok dek!", Dimas menggandeng lengan Anika. Tinggallah Seto dan Febri yang kembali ke acara pernikahan itu. Keduanya tampak serius membantu rekannya karena tamu yang hadir tidak hanya keluarga Sakit tapi juga atasan-atasan mereka. Beruntung saat mereka bertingkah konyol, para atasan tak melihatnya.


*****


Masih Sakti&Bina dulu yak....😆


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2