Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 90


__ADS_3

Alby masih membuntuti sampai ke rumah Lek Sarman yang ada di belakang warung dan tak terlalu jauh.


"Neng! Kita harus bicara neng!", Alby meraih bahuku.


Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu rumah lek Sarman. Beberapa detik kemudian, kedua lek ku pun sampai di rumah.


"Mau apa lagi kamu hah?", lek Sarman mencengkram kerah baju Alby lagi.


Aku yang tadinya duduk pun akhirnya berdiri lagi. Bagaimana pun, aku tak mau ada yang celaka diantara mereka.


"Mas, sabar! Jangan main kekerasan!", Lek Dar menarik Lek Sarman agar lepas dari Alby.


"Tapi bocah ini udah bikin keponakan kita menderita, Bu!", sahut Sarman.


"Duduk! Duduk mas!", Dar menarik Sarman agar duduk di sampingnya. Aku pun turut kembali duduk, hanya saja aku berada di sofa single. Jadi aku dan Alby duduk terpisah.


"Lek, sebelumnya...Alby minta maaf."


Alby tertunduk dan berbicara lirih di hadapan kedua orang yang sudah ku anggap orang tua ku sendiri.


"Memangnya setelah kamu minta maaf, semua akan kembali baik-baik saja seperti dulu? Iya?", bentak Lek Sarman. Aku pun sampai tersentak. Sungguh, baru kali ini aku lihat kemarahan seorang Sarman. Selama aku di rawat olehnya, tak pernah sekalipun ia meninggikan suaranya.


"Saya terpaksa lek. Kalo pun saat itu saya boleh memilih, saya tidak ingin melakukannya. Tapi saya terdesak!"


"Jawaban laki-laki bo*oh ya seperti itu!", tuding Sarman pada Alby.


Aku masih memilih diam untuk saat ini.


"Saya memang bodoh Lek, udah menyakiti Bia. Tapi Alby benar-benar cuma cinta sama Bia Lek!", kata Alby lagi.


"Ngga cuma bodoh! Kamu itu Go**k dan to****!",maki Sarman lagi.


"Cukup mas. Jangan memaki bahasa kasar seperti itu mas!", Dar mengusap bahu suaminya.


Aku lek Dar angkat bicara.


"By, terlepas kamu itu terpaksa atau tidak. Kamu sudah menyakiti putri kami. Kami sudah menitipkan Bia, sama kamu. Buat di jaga, di sayangi. Bukan buat di sakiti seperti ini."


Lek Dar menghela nafasnya. Aku masih melihat jemari Alby yang bergerak tak tentu. Ya, dia pasti sedang tidak nyaman kali ini. Tentu saja, di sidang oleh wali ku pasti membuat nyalinya menciut.


"Kamu, sebagai kepala keluarga harusnya mengayomi istrimu. Kalau ada apa-apa, bicara dengan istri mu. Jangan memutuskan segala sesuatunya sendiri By."

__ADS_1


"Maaf Lek!", ucap Alby lirih.


"Bia, kurang mengabdi apa sama kamu heum? Dia tinggal di rumah kamu , menuruti semua keputusan mu. Andai dia mau, dia pasti lebih layak hidup di sini. Maaf, bukan maksud Lek menghina kamu. Duit Bia banyak. Tapi dia memilih menghormati dan menghargai kamu meski nafkah dari kamu belum seberapa di banding dengan apa yang Bia miliki. Karena apa? Dia menghargai kamu yang menjunjung 'harga diri', tak mau menyusahkan dan mempermalukan dirimu di hadapan keluarga istri mu."


Ucapan lek Dar memang pelan, tapi sungguh terdengar begitu menyakitkan bagi ku sendiri. Itu artinya, aku gagal menyimpan aib suamiku sendiri.


"Berapa kamu jual harga diri mu pada mas Tama?", tanya Sarman tiba-tiba. Alby langsung mendongak mendengar pertanyaan memalukan itu.


"Apa kamu ngga bisa menerima penawaran istri kamu? Seberapa mahal harga diri kamu sampai kamu tak yakin perempuan yang menemani kamu selama ini tidak mampu membantu mu?? Jawab!", bentak Sarman lagi.


"Bukan tentang nominal nya lek. Tapi....saat itu Tuan Hartama mengancam saya. Kalo saya menolak, akan ada hal buruk yang menimpa Mak dan Bia."


"Mengancam? Kamu pikir dia itu siapa?", tanya Sarman lagi.


"Ancaman tuan Hartama benar-benar terjadi lek. Dia memblokir akses Mak untuk mendapatkan perawatan medis waktu itu. Alby ngga punya pilihan lek."


"Tolong Neng, Lek! Beri Alby kesempatan! Setidaknya demi bayi yang ada di dalam rahim Bia."


"Kamu pikir, anak mu bakal kehilanganmu kasih sayang seorang ayah saat dia lahir? Tidak! Ada saya! Saya bisa jadi ayah sekaligus kakek buat dia nanti."


"Mas!", lek Dar sedikit teriak.


"Bukan masalah bela membela. Apa bedanya kamu sama Alby yang memutuskan sendiri? Biar Bia yang menentukan apakah Alby pantas di beri kesempatan atau tidak."


Aku menatap wajah lek Dar yang ku rasa bersikap adil kali ini.


"Neng, tolong kasih Aa kesempatan!", Alby terduduk di lantai. Bersimpuh di hadapan ku.


"Aku butuh waktu."


Alby menggenggam tangan ku, tapi ku tepis.


"Aku akan segera berpisah dari Silvy. Aku tidak akan peduli sama Mak. Terserah tuan Hartama mau apakan Mak."


Mata ku membola. Apa mungkin Alby setega itu???


"Mak? Bukankah alasan utama kita seperti ini karena kamu sayang sama Mak? Kenapa kamu tiba-tiba tega dan seolah ringan sekali mulut kamu untuk meninggalkan Silvy dan Mak buat aku?"


"Karena aa cuma cinta sama neng . Cuma butuh neng Bia nya Aa."


Aku tersenyum sinis.

__ADS_1


"Apa kamu pikir, tuan Hartama dan Silvy akan melepaskan mu begitu saja? Paling juga sekali gertak, kamu bakal mundur."


Alby menggeleng lagi.


"Ngga Neng. Aa benar-benar ingin kamu memberikan kesempatan kedua buat Aa. Kita perbaiki semua nya."


"Tapi, aku ingin kita segera berpisah!", kataku memutuskan.


"Jangan neng! Tolong!", Alby menakupkan kedua tangannya di hadapan ku.


"Mau apa lagi? Kamu sudah menghancurkan semuanya A! Tidak ada yang bisa di pertahankan lagi di sini."


Lek Dar mengajak suaminya menjauh. Membiarkan sepasang suami istri yang masih muda itu untuk saling bicara.


"Tapi aa cuma cinta sama neng. Neng tahu itu kan?"


"Ngga usah ngomong cinta-cintaan lagi A."


"Aa janji akan memperbaiki semuanya!"


"Keputusan ku sudah bulat A. Kita tetap berpisah!", kataku lebih kencang.


"Kenapa kamu pengen banget pisah dari Aa?", sekarang Alby menatapku penuh emosi.


"Ngga usah bertanya tentang alasan yang sebenarnya kamu sudah tahu. Aku tidak bisa dan tidak mau di madu!"


"Benarkah hanya karena itu? Bukan karena ada Febri dan Sakti yang siap menunggu kamu?"


"Jangan melemparkan tuduhan yang tidak berdasar A!"


''Aa mendengar sendiri seperti apa mereka mengharapkan perpisahan kita. Kamu lagi gak pura-pura tidak tahu kan Neng???"


"Stop! Lebih baik Aa pulang! Dan tunggu surat panggilan di pengadilan nanti!", aku langsung beranjak menuju kamar ku.


"Neng!", Alby masih menggedor-gedor pintu kamarku.


"Neng! Tolong beri kesempatan buat Aa neng! ", kata Alby lagi.


Aku tak menyahuti lagi. Ku sandarkan diri ku di balik pintu. Beberapa menit berlalu, aku sudah tak mendengar tanda-tanda Alby masih di sini.


Aku sudah memutuskan untuk tetap berpisah dari alby. Aku melepaskan Alby, karena rasa cintaku padanya. Cinta yang seharusnya tak saling menyakiti satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2