Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 146


__ADS_3

Rasa kram perut yang Silvy alami kembali menyerang. Wajahnya yang memang putih kini semakin memucat.


"Kenapa nak? Sakit lagi?", tanya Titin cemas pada anaknya itu.


"Sakit Bu...!", ringis Silvy. Hartama yang sudah membuka matanya hanya melihat iba pada sang putri yang tampak kesakitan. Tapi apa daya sekarang dirinya pun sepertinya sudah tak mampu banyak bergerak leluasa seperti kemarin. Tubuh sebelah kirinya seperti mati rasa. Dia masih bisa bicara meski terbata-bata. Ya, Hartama yang angkuh itu sedang mulai menuai karmanya mungkin.


"Titin...!", panggil Tama dengan suara lirih dan tersendat.


"Ya mas?", Titin menghampiri mantan suaminya sekaligus mejikannya itu.


"Bawa Silvy ke dokter kandungan!", kata Tama terbata. Titin menatap putri nya yang meringis.


"Tapi nanti mas Tama sendiri, Mila sama Sapto lagi pulang ambil pakaian."


"Ngga apa-apa. Pergi lah, ajak Silvy ke dokter kandungan!"


Mau tak mau Titin pun menuruti perintah Tama. Titin memapah Silvy perlahan sampai di depan ruangan Tama ia bertemu dua orang perawat.


"Sus, bisa tolong bawa anak saya ke dokter kandungan? Anak saya kram perut terus sus!"


Perawat itu pun menghampiri Titin dan Silvy.


"Sebentar ya Bu, saya ambil kursi roda dulu!", kata salah satu perawat. Sedang perawat satunya, menemani Silvy.


"Sus, di dalam papanya sendirian apa ngga apa-apa kalo ditinggal ?", tanya Titin yang tampak gelisah.


"Ngga apa Bu, kebetulan saya bertugas di lorong ini. Saya akan memantau suami anda."


Suami??? Gumam Titin dalam hatinya. Tapi, perawat itu kan tidak perlu penjelasan darinya bukan tentang hubungan Titin dengan Tama.


Perawat yang mengambil kursi roda sudah kembali.


"Silahkan Bu!", pinta perawat itu mempersilahkan Silvy duduk.


"Sus, saya antar pasien dulu ya!", kata perawat itu pada rekannya.


"Iya!", sahutnya singkat.


Titin, Silvy dan perawat itu menuju ke ruang dokter kandungan. Perawat yang membantu registrasi Silvy sebelumnya.


Dokter mulai memeriksa keadaan Silvy dan karena tidak puas dengan pemeriksa manual, akhirnya dokter itu membawa ke ruang dokter obgyn. Di sana Silvy di periksa lebih detil.


"Bagaimana keadaan anak saya dok? Dia sering kram perut!", kata Titin.


"Maaf Bu, apa suaminya ada di sini?", tanya si dokter.


"Suaminya masih di kantor dok. Biasanya nanti sore baru kemari karena papanya juga di rawat."


Dokter itu mengangguk.


"Pasien di rawat lebih dulu ya Bu. Dan soal kondisi anak ibu, ada baiknya saya bicara dengan suaminya terlebih dulu."


"Saya ibu nya dok!", kata Titin memelas.


Dokter itu menarik nafas dalam-dalam.


"Tapi...saya harus mengatakan kenyataan yang mungkin...kurang enak Bu."


"Apa terjadi sesuatu dengan anak dan calon cucu saya?", tanya Titin lagi.


"Saya akan sampaikan nanti jika suami pasien datang ya bu. Karena saya juga harus mendapatkan kepastian dari suami pasien agar saya bisa bertindak ke depannya harus melakukan apa."


"Iya dok!", Titin terdengar lemas. Entah apa yang terjadi dengan Silvy sampai dokter mengatakan demikian.


"Kalau begitu, saya permisi ya Bu!", dokter pun undur diri.


Titin duduk di bangku sambil menyandarkan kepalanya. Ada apa lagi ini????


Perempuan berusia lima puluh tahunan itu meraih ponselnya. Ia menghubungi Alby yang baru saja bersiap ke luar ruangannya.

__ADS_1


"Emak?", Alby bermonolog.


[Assalamualaikum Mak?]


[Waalaikumsalam,Jang. Di mana?]


[Baru keluar ruang kerja Mak. Ada apa?]


[Silvy ...di rawat By]


[Kenapa?]


Alby bertanya dengan nada datarnya seolah tak peduli dan khawatir pada kondisi Silvy.


[Dokter cuma bilang, mau bicara dengan suami pasien Jang.]


Alby memijat pelipisnya sebentar.


[Alby langsung ke situ. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Alby pun menjalankan laju mobilnya menuju ke rumah sakit dari kantornya langsung. Pikirannya banyak bercabang. Soal hubungannya dengan Bia, soal perusahaan, soal papa mertuanya sekarang tambah masalah baru lagi dengan sakitnya Silvy.


Mobil Alby memasuki area parkir rumah sakit. Saat ia keluar dari mobilnya, ia tak sengaja melihat Sakti yang baru mau masuk ke mobilnya.


"Dokter sakti!", sapa Alby. Alby melangkah mendekati Sakti. Sakti pun membatalkan membuka pintu mobilnya.


"Hay, By!", sapa sakti dengan senyuman manisnya.


"Baru mau pulang?", tanya Alby.


Tumben ramah? Tapi tidak Sakti ucapkan secara verbal, cuma mbatiiin.


"Iya , kebetulan aku piket pagi."


Alby mengangguk.


"Papa terkena stroke, bagian tubuh sebelah kirinya tak bisa di gerakan seperti sedia kala."


"Alhamdulillah....eh... astaghfirullahaladzim maksud ku!", kata Sakti. Alby menggeleng perlahan.


"Ya sudah, aku mau ke dalam!", Alby menepuk bahu Sakti pelan.


"Bagaimana kabar Bia?", tanya Sakti tiba-tiba. Alby yang tadinya bersiap meninggalkan Sakti pun menoleh.


"Apa kamu sedang bersandiwara? Mau menertawakan aku?", tanya Alby.


"Sandiwara apa? Tertawa apa?", tanya Sakti.


"Febri kan ajudan kamu, pasti dia juga sudah cerita ke kamu kan? Makanya ngga usah sandiwara!"


"Wait!", sakti menarik lengan Alby.


"Apa?"


"Febri memang ajudan ayahku. Tapi kami tinggal di rumah yang berbeda dan kami juga tidak setiap saat bertemu. Apa ada hal yang terjadi antara kamu dan Febri???"


Ckkkk....decak Alby.


"Tanya saja sama sahabat mu itu!"


Alby berjalan meninggalkan Sakti.


"Aneh! Tadi sok ramah, sekarang kambuh!", dengus sakti sambil kembali membuka pintu mobilnya.


Dengan langkah pasti, Alby berjalan menuju kamar rawat papa mertuanya. Di lihatnya sang mertua sendirian, menatap langit-langit kamar nya.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Walaikumsalam", jawab Hartama lirih. Alby menghampiri mertuanya.


"Bagaimana keadaan anda sekarang?", tanya Alby.


"Baik."


Jawab Tama dengan terbata.


"By...!", panggil Tama lirih. Alby mendongak menatap netra tua mertuanya itu.


"Iya?"


"Hotma sudah bilang ke kamu kan?"


Alby mengangguk.


"Kalo kamu ngga lihat semua ini untuk papa dan Silvy...tolong lihat calon anak kamu!"


Suara Hartama bergetar dan terbata-bata. Alby masih bergeming.


"Maafin papa. Papa banyak salah sama kamu, sama Bia."


Pria yang sudah masuk lansia itu memelas pada menantunya.


Tak ada sahutan apa pun dari mulut Alby sampai Mila masuk ke dalam ruangan itu.


"Lho, udah ada Alby di sini? Ibu sama non Silvy mana?", tanya Mila.


"Kata Mak, Silvy di rawat. Nanti aku mau keluar sana."


"Ya Allah....!", desis Mila.


"Alby mau ke Mak dulu pa!", pamit Alby. Hartama hanya memandang punggung menantu nya yang berjalan menuju ke pintu.


Keangkuhan dan kesombongannya sudah runtuh saat ini dengan kondisi tubuhnya yang bahkan seperti mati separuh.


Alby memasuki kamar rawat Silvy. Perempuan muda itu tersenyum melihat suaminya masuk ke kamarnya. Dan kebetulan, dokter yang menangani Silvy berada di sana.


"Sayang!", Silvy tersenyum senang saat Alby menghampiri brankar nya. Ya, meski wajah Alby masih datar-datar saja.


"Selamat sore pak Alby!", dokter itu bersalaman dengan Alby.


"Selamat sore dok, jadi bagaimana kondisi Silvy?", tanya Alby to the point.


"Harus bicara di sini?Tidak ke ruangan saya dulu?", tanya si dokter.


"Di sini saja dok. Beri tahu garis besarnya saja!", kata Alby.


Dokter itu menghela nafas. Entah perasaan si dokter atau memang kenyataannya seperti itu, pasangan suami istri itu tampak tak harmonis.


Akhirnya dokter mengatakan penyakit yang Silvy alami. Titin dan Silvy sempat menutup mulutnya.


"Jadi...maaf pak, dengan berat hati saya harus memberikan pilihan itu pada anda, anda yang memutuskan tindakan apa yang harus saya ambil!"


Usia dokter itu keluar, Alby duduk berhadapan dengan Silvy dan Titin.


"Ngga, aku ngga mau. Pokoknya aku mau mempertahankan anakku!", kata Silvy kekeuh.


"Tapi nyawa kamu yang jadi taruhannya!", kata Alby.


"Pokoknya aku mau anak ini lahir,apa pun resiko nya."


Alby mendekati Silvy.


"Andai anak itu tidak pernah lahir, kamu bisa melanjutkan hidup mu dengan orang yang akan mencintai mu dengan tulus. Tapi jika anak itu lahir tanpa kamu, dia tidak akan pernah merasakan kasih sayang ibu kandungnya!", tuding Alby di depan wajah Silvy.


Titin memeluk tubuh putri nya yang terguncang hebat. Ya, pilihan itu memang sulit!


Alby memang egois!!!!

__ADS_1


__ADS_2