Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 218


__ADS_3

Nabila melepaskan genggaman tangan nya dari Silvy.


"Bila, kok kita ngga sampai-sampai ya? Perasaan kita sudah berjalan jauh sekali?", tanya Silvy pada Nabila.


"Nabila udah mau sampai kok Bun!"


"Kenapa Nabila lepasin tangan bunda?", Silvy mengernyitkan alisnya.


"Bunda cukup sampai di sini nemenin Nabila!"


"Kenapa? Bukankah kita akan pergi bersama-sama?"


Nabila menggeleng.


"Mungkin belum sekarang Bun!"


"Kenapa?"


"Ada hal yang belum bunda selesaikan!"


"Apa itu Nabila?", tanya Silvy.


"Mama ku, bunda belum minta maaf sama mamaku, mama Bia!"


Silvy terdiam. Sesuatu bersinar di ujung yang cukup jauh dari tempat dimana mereka berdiri.


Tiba-tiba Silvy merasa dirinya seolah ringan.


"Nabila?"


"Kalo bunda sudah minta maaf sama Mama, terserah bunda! Bunda mau ikut Nabila atau Nabil!"


Pelan, tapi pasti Nabila menjauh dari Silvy yang merasa tubuhnya seringan kapas.


"Nabila....tunggu bunda! Nabila....!"


.


.


Alby dan Malvin masuk ke kamar Silvy. Keduanya tampak terkejut melihat nafas Silvy yang tersengal-sengal karena alat bantu pernafasannya terlepas. Mata Silvy terbuka lebar.


"Silvy!", pekik keduanya. Malvin langsung memasang alat bantunya. Sedang Alby memencet tombol untuk memanggil perawat atau dokter.


Selang beberapa menit kemudian, petugas pun datang. Alby dan Malvin keluar dari ruangan Silvy.


"Silvy kenapa bisa seperti ini Vin?", Alby mondar mandir.


"Kita tunggu dokter memeriksa nya mas!", ujar Malvin.


Dokter pun keluar dari ruangan Silvy.


"Bagaimana kondisi Silvy dok?", tanya Alby.


Dokter itu tersenyum.


"Pasien mengalami sesak nafas karena alat bantunya mungkin tadi terlepas. Tapi tidak mungkin dia melepaskan sendiri bukan?"


"Iya dok, saat sampai ke kamar ini kami sudah melihat Silvy sudah seperti itu!", jawab Malvin.


"Tapi ada kabar yang membahagiakan!"


"Apa dok?", sahut Alby dan Malvin bersamaan.


"Pasien sudah bangun dari koma nya."


"Alhamdulillah!", ucap keduanya.


"Tapi untuk saat ini, kondisi pasien masih lemah. Belum bisa di ajak bicara terlalu banyak."


"Iya dok. Kalo begitu, kami bisa menemui nya kan dok?", tanya Alby.


"Silahkan! Tapi saya harap, anda berdua jangan mengajak bicara yang berat-berat lebih dulu. Biarkan pasien beradaptasi lebih dulu!"


"Baik dok, terimakasih!", ucap Alby.


Alby dan Malvin masuk ke dalam ruangan Silvy. Kedua pria tampan itu memasang wajah tersenyum melihat Silvy yang mengerjapkan matanya lemah.


"Vy, Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga!", Alby mengusap punggung tangan istrinya. Silvy tak menjawab, hanya memandangi wajah suaminya saja. Lalu matanya bergantian menatap Malvin.


"Papa...!", ucap Silvy lirih. Alby dan Malvin saling berpandangan.


Mereka tak tega untuk mengatakan pada Silvy jika papanya sudah tiada.


"Papa mana?", tanya Silvy lagi dengan suara pelannya. Lalu setelahnya ia meringis kesakitan.


"Vy...!", Alby menggenggam tangan Silvy. Silvy menatap intens pada suaminya itu.

__ADS_1


"Aku mau ketemu papa, di mana papa?", Silvy masih mengulang pertanyaan yang sama.


"Papa baik-baik saja!", ujar alby terpaksa membohongi Silvy. Tangannya terulur mengusap kepalanya.


Matanya berkeliling menatap langit-langit ruangan itu.


"Nabila?", tanya Silvy lagi.


"Nabil? Nabil juga baik-baik saja, nanti aku minta mak atau teh Mila bawa Nabil ke sini. Biar kamu tahu, kalo Nabil sudah besar sekarang! Nabil tampan!", Alby berbisa begitu pelan. Malvin hanya menonton adegan di depannya itu dengan perasaan nyeri.


"Nabil? Lalu di mana Nabila?", tanya Silvy lagi dengan amat sangat pelan.


Alby dan Malvin saling menukar pandangan.


"Nama anak kita Nabil, Vy! Laki-laki! Dulu, sebelum operasi kamu sempat minta agar anak kita di beri nama Nabil!", Alby mencoba menjelaskan.


Silvy memejamkan matanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang Silvy rasakan saat ini hanya lah lelah mungkin karena terlalu lama berbaring. Tubuhnya seperti mati rasa.


Silvy mendesis pelan. Merasakan persendiannya yang sakit. Perempuan itu membuka matanya lagi.


"Aku mau papa sama Nabil!", katanya.


"Aku minta Mak bawa Nabil ke sini ya!", kata Alby lagi. Silvy mengangguk.


"Mba Bia?", tanya Silvy. Alby yang akan menghubungi Mak nya pun urung.


"Kenapa dengan Bia?", tanya Alby.


"Aku mau bicara sama Bia. Sebentar!", kata Silvy lagi dengan suara terputus-putus.


Alby bingung sendiri.


"Aku akan menghubungi Mba Bia!", sahut Malvin. Silvy mengangguk.


Alby sendiri menghubungi Mak nya agar membawa Nabil ke rumah sakit secepatnya.


.


.


"Nduk, udah hampir jam satu, langsung ke bandara?", tanya Febri setelah kami selesai solat di mushola warung makan.


"Kamu mau anterin aku ke bandara juga mas?"


"Iya, kenapa ?"


"Jauh kali mas sama mess kamu. Aku bisa sendiri kok!"


"Ya udah...terserah kamu saja mas!", kataku. Setelah menunggu taksi beberapa saat, ponselku berdering.


Malvin yang menghubungi ku.


"Siapa nduk? Kok ngga di angkat?", tanya Febri.


"Malvin mas. Tumben dia telpon aku ya? Apa terjadi sesuatu sama Oma Marini ya?"


"Coba jawab saja!", kata Febri. Aku pun mengangkat panggilannya telpon dari Malvin.


[Assalamualaikum Vin?]


[Waalaikumsalam, mba. Mba Bia **** udah di mana? Belum di bandara kan?]


[Eh...kok tahu? Iya aku memang mau ke bandara sih. Kamu tahu dari mana?]


[Mas Alby mba yang bilang! Mba....]


[Oh, si Aa yang bilang. Kenapa memangnya Vin?]


[Mba Bia bisa cancel penerbangan kali ini kan?]


Aku menatap Febri, dia hanya mengedikan bahunya.


[Kenapa aku harus cancel Vin?]


[Mba Bia sama Mas Febri ya?]


[Iya, kenapa sih Vin?]


[Bisa ke rumah sakit tempat Silvy di rawat ngga mba, sekarang?]


[Ngapain Vin?]


Malvin tak langsung menjawab, hening beberapa saat.


[Silvy...siuman dari koma mba. Dia mau ketemu kamu]


Deg! Mendadak jantung ku berpacu lebih cepat. Bukankah itu berita baik?

__ADS_1


Tapi...apa aku siap bertemu dengan perempuan yang sudah merebut Alby dari ku??? Tanpa memberi salam pada malvin, aku memutuskan panggilan itu.


Aku diam. Diam dalam arti yang benar-benar diam di tempat, tanpa suara.


"Kamu kenapa nduk?", Febri memegang lenganku dengan sedikit menurunkan pandangannya dan sedikit tertunduk mensejajarkan posisinya dirinya agar sama dengan ku.


Aku masih enggan menjawab.


"Sayang? Ada apa? Cerita sama mas?", Febri menakup kedua sisi kepalaku. Akhirnya aku menatap mata elang seorang Febri.


"Ada apa heum?", ulangnya lagi. Aku menghela nafas pelan.


"Silvy ...bangun dari koma nya mas!", jawabku.


"Alhamdulillah, bukankah itu berita baik?"


Aku tak menjawabnya.


Febri menggandeng tangan ku, mengajak ku duduk di taman warung tadi. Kami batal menghentikan taksi.


"Apa yang kamu rasakan nduk, cerita sama mas?"


Aku menarik nafasku lagi.


"Iya, harusnya aku turut bahagia mas.Tapi..."


"Tapi apa?", ia menggenggam tanganku erat. Mata kami saling beradu pandang.


"Aku... belum bisa sepenuhnya memaafkan Silvy!", kataku.


"Malvin bilang, silvy mau bertemu dengan ku mas."


Sekarang Febri paham dengan kerisauan kekasihnya. Memang tak mudah memaafkan orang yang sudah menghancurkan kehidupan dan kebahagiaannya. Tapi... bukankah Bia sudah berusaha untuk move on dari masa lalunya?


"Alasan kamu tak mau bertemu dengan Silvy karena kamu belum bisa memaafkan dia sepenuhnya?", tanya Febri lagi.


Aku mengangguk.


"Apa yang kamu dapatkan saat kamu tak memaafkan nya?"


"Tidak ada! Hanya ada rasa sakit hati, itu saja!"


"Kamu mau selamanya memelihara perasaan sakit hati itu sekalipun kamu sudah bersama mas?"


Maafkan aku, mas! Tapi aku tak bisa membohongiku perasaan ku! Aku masih merasa sakit hati dan kecewa pada Alby dan silvy! Bukan maksud ku mengabaikan mu!


Dan kalimat itu hanya terungkap dalam hatiku saja.


Aku menatap arah lain.


"Mungkin benar, selamanya luka itu akan tetap membekas tapi bukan berarti tidak akan sembuh!"


Febri menggenggam tangan ku lagi. Aku pun menoleh padanya.


"Semua berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua Nduk. Memaafkan dan di maafkan! Siapa tahu, setelah kamu bertemu dengan nya, berbicara dengan nya, mengungkapkan semua perasaan yang kamu rasakan selama ini, kamu tahu jawabannya apa. Kamu akan menentukan seperti apa sikap mu ke depannya."


"Aku tak tahu apa aku bisa!"


"Kamu belum mencobanya!"


"Bagaimana kalo aku ngga bisa memaafkan nya, kalo sampai ke sana aku cuma jambak-jambakan terus namparin dia gimana?"


Febri terkekeh pelan.


"Coba saja lakukan! Mas akan memantaunya dari jarak dekat!"


Aku mendengus sebal.


"Kita ke sana?", tanya Febri. Aku bergeming.


"Mas akan menemani mu nduk! Kalo perlu, mas bilang ke Silvy kalo kita akan segera menikah!", kata Febri dengan wajah serius.


"Muka mu ngga cocok pake mode kaya gitu mas?!", kataku bangkit dari tempat duduk itu. Febri pun turut bangkit dan tersenyum.


"Cocoknya mode apa emangnya?"


"Mbuh lah!", kataku berjalan mendahuluinya.


Febri terkekeh pelan, ia pun meraih tangan ku lagi.


"Mas janji mau menemani ku?", tanyaku sambil menolehkan kepala ku ke samping sekaligus mendongak.


"Tentu saja!", jawabnya tegas.


"Kita ngga mau nyeberang mas, ngga usah lah gandeng-gandeng mulu. Usaha ku buat hijrah buat ngga bersentuhan sama yang bukan mahram gagal nih, gara-gara kamu tahu mas!"


"Haha...ya maaf sayang! Insyaallah sebentar lagi jadi mahram kok!"

__ADS_1


Aku mencebikkan bibirku.


Gemes beut kalo tuh bibir lagi pose begitu! Sabar...sabar...sabar...Feb!!! Batin Febri.


__ADS_2