
Pukul satu malam aku sudah berada di dalam rangkaian kereta ku. Tujuan pertama ku adalah kota Surabaya. Barulah setelah transit di Surabaya, aku baru naik kereta api lanjutan menuju kabupaten tempat ku tinggal. Dimanakah itu??? Hampir diujung pulau Jawa. Bisa dibayangkan bukan jika aku dan Alby mudik? Ujung Jawa barat vs ujung Jawa timur???
Next lah....
Suasana kereta tak terlalu ramai karena aku memang menggunakan kereta eksekutif class. Bukan sombong, selagi aku mampu? Kenapa tidak? Toh aku sendirian, aku juga butuh kenyamanan.
Ku letakkan paperbag ku yang berisi pakaian kotor sisa kemarin di lantai. Aku menyandarkan kepala ku ke sandaran kursi yang kumiringkan agar aku lebih nyaman saat beristirahat. Perjalanan menuju ke kampung halaman ku memakan waktu yang sangat lama. Ngga usah dibayangin, sampai rumah nanti aku bisa di kendaraan selama hampir dua puluh jam. Mengenaskan!
Katanya orang kaya, kenapa ngga pakai pesawat??? Aku bukan lebih menyukai kereta, tapi sekalipun naik pesawat nantinya pun perjalanan ke kampung halaman ku tetap jauh dan lama.
So...aku memilih memakai kendaraan yang panjang seperti deretan ular ini.
Saat ku coba memejamkan mataku, ada Sese yang duduk di samping ku.
"Permisi, boleh saya duduk di sini?", tanya nya sopan.
Aku yang hampir terpejam pun membuka mataku.
''Kalo memang nomor yang tertera di situ adalah di sini tempatnya ya silahkan pak!", jawabku. Pria itupun mendudukkan dirinya di bangku sebelah ku.
"William!", pria itu menyodorkan tangannya padaku. Kenalan gitu?
Aku mengangguk tipis. Tak bermaksud menyambut uluran tangannya.
"Shabia!", balas ku. Karena tak mendapat respon dari tanganku ,tangan William pun turun.
Aku pun kembali memejamkan mataku. Tapi ponsel ku kembali bergetar. Alby menghubungi ku jam segini?? Padahal ini sudah jam satu malam. Mungkin dia melihat di room chat ku yang terlihat bahwa aku aktif beberapa saat yang lalu.
Suamiku calling.....
Aku melirik sesaat. Sepertinya waktunya tidak tepat saat aku mengangkat teleponnya sekarang. Banyak penumpang yang sudah bersiap tidur.
"Kenapa ngga di angkat Mba Shabia?", tanya William padaku. Aku melirik lewat ekor mataku. Sksd banget sih nih orang!
"Ngga apa-apa. Takut ganggu penumpang yang lain."
Aku menyimpan ponsel ku di dalam tas, ku buat mode diam agar tak mengganggu yang lain jika berbunyi lagi.
William menatap penumpang yang ada di sebelahnya. Biasanya, perempuan yang di ajak bicara olehnya akan antusias untuk mengobrol dengannya. Tapi tidak dengan perempuan di sebelahnya.
Dia ga kenal gue? Gumam William.
Karena tak di respon oleh perempuan yang ada di bangku sebelah, William pun ikut memejamkan matanya. Dia pun sama, tertidur di gerbong kereta.
Jam setengah lima pagi, ponselku bergetar. Alarm subuh ku tak berbunyi, hanya nada getar yang kurasakan dari dalam tas ku.
Aku mengucek mata sebentar. Kulihat William masih memejamkan matanya sambil melipat tangannya di dada. Aku yang akan ke toilet pun merasa tak enak jika aku melewatinya begitu saja.
Di saat aku merasa tak enak hati, tiba-tiba mata William terbuat. Aku sedikit terkejut karena aku sudah dalam posisi berdiri dan mau melewati nya.
"Mau ke toilet?", tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur. Aku pun mengangguk.
Kaki William menyingkir, lalu mempersilahkan ku untuk melewatinya.
Aku mengganti pantyliner ku sebelum berwudhu. Ya, sudah kebiasaan jika bepergian jarak jauh seperti ini.
Wajahku sudah lebih segar, saatnya aku menunaikan kewajiban ku meski dengan duduk di bangku kereta.
Sebisa mungkin aku tak bersentuhan dengan William. Saat aku sampai di bangku ku, William sudah tidak ada. Kebetulan, jadi aku bisa sholat dengan leluasa.
Kewajiban dia rakaat ku selesai bersamaan dengan William yang mungkin juga dari toilet. Karena wajahnya sedikit basah.
"Habis solat?", tanyanya padaku. Aku pun mengangguk.
"Tujuannya, Surabaya?", tanyanya padaku lagi.
"Iya!", jawabku singkat. Karena tidak mungkin kan ku jelang setelah sampai Surabaya aku masih harus naik kereta yang lain.
"Aku juga di Surabaya."
Dalam hati, aku ga nanya mas!
__ADS_1
"Acara apa pulang kampung? Asli sana?"
"Heum? iya, asli Jawa timur. Pengen pulang kampung saja."
William manggut-manggut.
"Kamu ngga kenal saya?", tanya nya. Aku mengernyitkan alisku.
"Kenal, tadi kan kamu memperkenalkan diri."
William tersenyum tipis.
"Maksud saya, kamu ngga kenal siapa saya?"
"William kan? Kamu yang mengatakannya tadi."
Aduh, nih orang gini amat sih! Perasaan followers gue aja mati-matian pengen banget ketemu dan Deket sama gue! Batin William.
"Heum , okay! Kamu ngga main Instagram?", tanyanya lagi.
"Punya, cuma ngga terlalu suka main sosmed."
William kembali mengangguk.
Pantes aja ga kenal gue! Batin William.
Hampir jam enam pagi, aku memesan sarapan dan juga teh hangat. Ternyata William pun mengikuti jejak ku.
Jujur, aku kurang begitu suka jika harus mengobrol banyak dengan orang asing. Saat ku nikmati sarapan ku, seorang gadis menghampiri bangku kami.
"Permisi, mas William ya?", tanya nya pada William.
"Iya!", jawab William singkat namun terlihat ramah.
"Ya Tuhan, mimpi apa aku ketemu mas William!", kata gadis itu senang bukan main.
"Mbak cantik itu pacar nya mas William ya?", tanya nya lagi. Aku menggeleng, tapi William malah tersenyum tidak menegaskan bahwa aku sama sekali tak kenal William dan kami tak ada hubungan apa-apa.
Sesi pertemuan fans dengan idolanya pun selesai. Aku tak mau ambil pusing.
Berhubung sudah pagi, dan orang kebanyakan sudah bangun maka ku putuskan untuk mengangkat telpon dari Alby. Bukan hanya telpon, tapi video call.
[Assalamualaikum]
Aku memasang headset ku.
[Walaikumsalam neng. Kamu teh di mana?]
Alby terlihat panik, tapi juga bersyukur melihat ku baik-baik saja. Mungkin....
[Kereta]
Jawabku singkat. William mengintip dari sampingku. Mungkin dia penasaran siapa yang menghubungi ku.
[Kamu teh pulang ka Jawa timur?]
Aku mengangguk saja.
Kulihat alby meremas rambutnya yang sudah terlihat agak panjang.
[Kunaon kudu balik ka Jawa neng?]
[Imah abdi ti Jawa A]
Jawabku lagi. William mengernyitkan alisnya. Mungkin heran padaku?
[Neng, Aa pikir neng teh balik ke lembur sanes ka Jawa.]
[Geus atuh A. Bia ge hoyong nenangin hate Bia]
[Kumaha reaksi lek Sarman kalo maneh balik sorangan?]
__ADS_1
[Ngga apa-apa. Aku juga belum sampai kok. Gampang nanti Bia jelasin kalo aa keur sibuk!]
[Neng, neng ngga ada niat macem-macem kan?]
Aku menghela nafas. Apa dia tahu rencana ku?
[Neng butuh ini?]
Alby menunjukan dua buah buku nikah berwarna coklat dan hijau itu.
[Aa?]
[Sudah Aa bilang, Aa ngga bakal lepasin neng!]
Aku mengusap wajah ku dengan kasar. Aku lupa, syarat mengajukan gugatan kan memang butuh buku kecil itu.
[Aa ngijinin neng nenangin diri neng. Tapi sampai kapanpun, Aa ngga bakal lepasin neng! Neng hati-hati! Sampai rumah, kabarin Aa! Jangan lupa makan, kasian dedek utun di dalam perut neng]
Aku menghela nafas panjang. Apa yang ku lakukan ini sia-sia???? Kok bisa buku itu sama Alby? Bukankah selama ini ada di kampung? Apa dia sudah mengantisipasi sebelumnya???
Panggilan video kami selesai. Aku harus gimana sekarang? Kenapa Alby mempersulit sih?
"Kamu sudah menikah?", tanya William. Aku mengangguk, tapi setelah itu aku memalingkan wajah ku ke arah jendela. Ku pijat pelipis ku yang sedikit sakit.
Alby benar-benar egois!!!??
Sepanjang perjalanan, tak ada lagi obrolan antara aku dan William. Aku benar-benar dibuat badmood karena Alby yang sudah lebih dulu menyembunyikan dokumen pribadi kami.
Pemberitahuan bahwa kereta api sudah sampai di Surabaya telah berbunyi. Kami semua bersiap untuk turun dari gerbong kami.
William menatap ke arah ku sebentar lalu ia menyunggingkan senyumnya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi ya Bia. Di waktu yang tepat dan di kesembuhan yang lebih baik."
Aku tak paham dengan ucapannya. Yang ku bisa, aku hanya memberikan senyuman ku sebagai tanda ramah tamah pada teman baru.
Kaki ku menapaki lantai stasiun kereta yang entah sudah berapa lama tak ku singgahi. Aku dan William benar-benar terpisah setelah turun dari kereta. Aku bersiap ke loket pembayaran untuk membeli tiket kereta yang menuju kampung halaman ku. Masih ada waktu empat jam yang harus ku tempuh untuk sampai di sana.
Satu jam menunggu kereta, aku masuk ke kereta yang menuju ke kampung ku. Sebenarnya bosan duduk di kereta lagi, tapi mau gimana. Memang harus begini perjalanan yang ku tempuh.
Empat jam berlalu. Aku sudah sampai stasiun dimana kampung ku berada. Aku sudah menghubungi Lek Sarman. Sambil menunggunya, aku memilih duduk di pinggiran pintu masuk stasiun agar lek mu lebih mudah menjemput ku.
Aku meluruskan kaki ku dan merentangkan kedua tanganku. Capek! Tapi tak secapek hatiku yang harus berbagi suami!
Mengingat itu lagi aku semakin di buat pusing!
Tin...tin...
Suara klakson membuyarkan lamunanku. Seorang pria gagah berusia empat puluhan itu mendekat padaku. Ya, pria itu lek Sarman. Adik bapakku.
"Nduk!", dia menghampiri ku. Aku meyalimi tangannya.
"Lek , kok cepetan tekan kene?"
''Iyo, aku seko bank nduk!", jawabnya. Aku pun membuntutinya, dia membukakan pintu mobil untuk ku.
"Kesel awakmu nduk?", tanya nya setelah mobil menjauh dari stasiun.
"Iyo lek."
"Piye kabar mu, Alby kari morotuwo mu?", tanya lek Sarman memberondong dengan pertanyaan kabar mereka.
"Alhamdulillah lek!", jawabku singkat. Sebagai orang yang lebih berpengalaman, Sarman melihat ada yang tidak beres dengan keponakan tunggalnya itu. Tapi apa?? Dia juga belum bisa bertanya banyak hal. Mungkin nanti!
"Ke warung dulu ya Nduk! Luweh kan weteng mu?"
"Iyo lek. Tadi sarapan sih, cuma ngga banyak."
"Yo wes kita langsung ke warung."
Aku mengangguk setuju. Ya, ini sudah dikampung halaman ku.
__ADS_1
Semoga saat aku berbicara dengan lek Sarman nanti, akan ada jalan keluar yang terbaik buat ku. Bagaimana pun dia adalah pengganti bapakku. Dia lah waliku yang bahkan sudah menikahkan ku. Entah apa reaksinya jika dia tahu aku akan menggugat cerai Alby, padahal aku sedang hamil. Dan lebih parahnya, alasan ku meminta berpisah karena tak bisa di madu.
Sabar.... Bia.... sabar.... perjalanan masih panjang.