Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 59


__ADS_3

Anika sedang merapikan beberapa pakaiannya di dalam travel bag nya. Tak banyak, hanya beberapa lembar pakaian yang ia siapkan untuk tiga hari ke depan.


Ya, setelah hampir setengah tahun ia baru akan bertemu dengan kakaknya yang bertugas di rumah sakit kota G.


Sejak ibunya tiada, Anika tak pernah lagi merasakan liburan bersama keluarganya. Kadang, lebaran saja kakak satu-satunya bertugas begitu pula dengan ayahnya. Tapi sejak ayahnya 'naik' , kehidupan Anika semakin kesepian. Ya, dua pria dalam hidupnya sibuk dengan tugas mereka masing-masing meski masih memantau dan memperhatikan Anika dari jarak jauh.


Usai berkemas, Anika meraih ponselnya untuk menghubungi kakaknya.


[Mas ku yang ganteng]


Anika memekik riang saat panggilan nya langsung terhubung.


[Assalamualaikum dek, gitu!]


[Heheh, lupa mas ku! Iya, assalamualaikum mas Sakti ku yang paling ganteng]


[Heum... pasti ada maunya]


[Diiih... kok tahu sih?]


[Apa? Mau bilang kalo kamu ngintihilin ayah dinas ke kota mas tugas?]


[Hehehe udah tahu nanya lagi.]


[Apa sing yang gak mas tahu!]


[Au ah....]


[Memangnya udah tahu mau nginep di mana kalo udah sampe sini?]


[Di hotel dekat rumah sakit lah mas. Ada kan?]


[Ada sih dek. Tapi ...kalo di hotel, ajudan ayah emang mau ikut nginep di sana juga?]


[Lha ya ngga usah lah. Mereka kan bisa tidur di markas hehehe]


[Terus kamu sama siapa dek?]


[Hallo mas ku yang paling baik ngga da tandingan nya! Adek mu ini udah dewasa kali. Bukan anak TK. Masa nginep di hotel aja takut. Lagian aku juga biasa di rumah sendiri weeekk]


[Bukan gitu sayang, tapi mas cuma khawatir kalo kamu sendirian. Iya tahu, kami berani]


Saat sakti memanggil 'sayang' saat menjawab teleponnya, suster Naya melintas tak jauh darinya.


Oh... dokter sakti udah punya kekasih ternyata, patah hati gini amat ya? Dilirik aja gak. Siapa lah aku ini? Batin Naya.


Back to Anika & sakti


[Apa mau nginep di kosan mas aja?]


[Ogah! Paling kamar nya kecil, ujungnya aku suruh ngalah. Udah dek, kamu bobok di sofa aja. Kaya ngga pernah aja di gituin]


Anika menye-menye meski tak terlihat oleh Sakti .


[Hahah ya ampun dek, masih aja inget kaya gitu. Ya ngga lah, ini serius]


[Udah ah, aku di hotel aja]


[Iya tapi hati-hati, buat mas sama ayah kamu itu tetep anak kecil dek]


[Kecil apakah??? Temen aku aja udah ada yang nikah kemarin tahu mas. Eh ...kalo ngga salah nikahnya di rumah sakit mas praktek deh]


[Oh ya?]


[Heum! Tapi ya udah lah ... ngga usah bahas. Lagian mas mana kenal hehehe]


[Ya udah Sono ,mas mau kerja lagi nih. Takut di tunggu pasien]


[Siap mas ku. Sampai ketemu nanti , okay?????]

__ADS_1


[Heum. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Anika langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kota G menyusul ayahnya yang dinas ke sana sekaligus bertemu dengan kakaknya.


.


.


"Papa....!", Silvy langsung masuk ke ruangan papanya. Di ikuti Alby di belakangnya.


"Sayang, kamu ikut ke sini? ngga ada kuliah?", tanya Hartama bangkit dari kursinya.


Silvy dan Alby duduk di sofa, begitu pula dengan Hartama.


"Oh ya By. Minggu depan kalian berangkat ke Singapura. Papa udah menyiapkan semuanya."


Alby mengernyitkan alisnya.


"Ke Singapura?", tanya Alby.


"Iya sayang, kamu nemenin aku operasi biar kakiku kembali pulih seperti dulu. Jadi ngga malu-maluin kamu kalo jalan sama aku."


"Minggu depan? Tapi....Minggu depan kan aku harusnya pulang ke kampung Vy?"


Silvy memutar bola matanya jengah. Selalu saja Bia yang ada di pikiran mu sih By! Batin Silvy kesal.


"Ya lain kali kan bisa sayang!", rengek Silvy sambil menggelayut manja di lengan Alby.


"Iya, papa juga udah siapkan untuk dua Minggu ke depan sampai kaki Silvy pulih pasca operasi."


"Dua Minggu? Tapi....", Alby tampak keberatan.


"Bisa aja papa yang nemenin Silvy!", kata Hartama. Tapi mendapatkan lirikan tajam oleh Silvy.


Mengurus perusahaan? Yang benar saja? Perihal saham saja Marsha baru menjelaskan kemarin.


"Gimana By? Bisa papa tinggal perusahaan buat nemenin Silvy? Kamu yang gantiin pekerjaan papa?", tanya Hartama menyandarkan punggungnya ke sofa. Silvy tersenyum tipis.


"Ngga pa."


Alby langsung menjawabnya dengan jelas. Tentu saja dia tidak bisa.


"Ya udah, ngga ada pilihan kan?", tanya Hartama.


"Tapi...aku...?"


"Ya udah, nanti malam kamu bisa pulang dulu menemui Bia. Dua hari lagi kalian berangkat!", ujar Hartama.


"Papa ih ...!", kata Silvy kesal.


"Udah sayang, biarin. Toh nanti sebelum dan sesudah operasi waktu Alby akan tetap lebih banyak buat kamu. Sebelum tindakan operasi, kalian bisa bulan madu dulu kan? Ya ..bulan madu singkat!", kata papa.


Wajah Silvy berbinar.


"Jadi, nanti sore aku bisa pulang menemui Bia?", tanya Alby.


"Papa ijinkan. Benar kan sayang?", tanya Hartama pada putrinya. Akhirnya, Silvy mengangguk pasrah.


Alby merasa senang sekaligus bimbang. Senang ia akan segera bertemu dengan kekasih hatinya, tapi sedih juga jika harus berada di tempat yang semakin jauh dari Bia.


"Kalo begitu, Alby mau ke ruangan Alby pa."


Alby minta ijin keluar pada mertuanya. Dia mengabaikan istri mudanya sendiri.


Tapi sepertinya Silvy pun tak ambil pusing dengan Alby yang tak berpamitan padanya. Toh, dia bisa langsung masuk ke ruangan suaminya semau dia.


.

__ADS_1


.


Usai beberes barang belanjaan ku, aku pun bersiap ke rumah teh Salamah dan ke warung Wak Euis.


Semoga saja teh Salamah bersedia membantunya besok. Hanya beberapa menit aku pun sampai ke warung Wak euis.


"Assalamualaikum Wak!", ucapku.


"Walaikumsalam, eh neng geulis. Naon neng?", tanya Wak euis.


"Hampura Wak, besok Bia pesen ayam yang yang dada aja, lima belas kilo bisa ngga Wak?", tanyaku.


"Meuni loba neng? Arek acara naon?Bisa atuh!", kata Wak euis semangat.


(Banyak amat neng. Mau acara apa?)


" Alhamdulillah lamun bias Wak. Ini Wak, Bia mau ada pesanan nasi. Pagi udah ada kan ayam nya wak? Bia kasih DP dulu ya, sisanya kalo udah Bia ambil ayamnya."


Aku menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah. Wak euis menerima uang dariku.


"Wak antar aja ke rumah neng besok pagi. Banyak ning pesanan teh?", tanya Wak euis.


"Alhamdulillah Wak. Ada temen yang pesen, sama teman-teman kang Cecep juga. Jadi sekalian gitu Wak."


"Eum, semoga lancar ya usahanya neng."


"Aamiin. Makasih wak doanya. Kalo gitu, Bia mau ke teh Salamah dulu ya Wak."


"Sok atuh!", Wak euis mempersilahkan ku. Hanya beberapa langkah, aku sudah memasuki halaman rumah teh Salamah.


"Assalamualaikum!", aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Selang beberapa detik, ada yang membuka pintu.


"Walaikumsalam, eh...Bia. Sok atuh asup!", ajak Salamah. Aku pun ikut membuntuti nya. Dan duduk setelah di persilahkan.


"Aya naon Bi. Tumben kadieu?", tanya teh Salamah.


"Besok teteh sibuk ngga?", tanya ku basa-basi.


"Teu. Kunaon?", tanya Salamah mengernyitkan alisnya.


"Hehehe ini teh Bia butuh bantuan teteh."


"Bantuan apa ini teh?", tanya Salamah penasaran.


"Bia ada pesanan nasi besok, bisa bantuin ngga teh?"


"Owh...kamu teh jualan? Bisa atuh, insyaallah teteh bantuin deh."


"Alhamdulillah!", kataku bersyukur.


"Banyak pesanannya, kalo banyak mau nanti teteh bilang sama bik Uus. Karunya , manehna teu gawe nanaon. Salakina pan keur nganggur."


"Iya boleh teh. Kasian Bik Uus. Nanti Bia yang bilangin deh!"


"Udah teteh aja gak apa-apa. Maneh teu kudu ngomong sorangan."


"Aduh...jadi enak deh kalo sama teh Salamah heheheh."


"Heum! Kalo aja kamu tuh masih single, teteh pengen kamu nikahnya sama Cecep Bi. Bukan sama Alby."


Uhuk...uhuk....mendadak aku tersedak air liur ku sendiri.


"Hahaha, jangan di ambil hati ucapan teteh ya Bi."


Aku mengangguk meski kupastikan tampangku cengok.


Oh...ya Allah, gini amat jadi aku. Bahkan soal pasangan aja jadi becandaan! 😅

__ADS_1


__ADS_2