
Kembali ke masa sekarang....
Alby baru saja memasuki mess yang di pakai oleh para pekerja nya. Eits...tentu saja tidak dalam ruangan yang sama. Meski alby seorang ayah rendah hati, tetap saja saat ini ia adalah atasan mereka semua. Padahal beberapa bulan yang lalu, ia pun memiliki pekerjaan yang sama seperti mereka.
Mandor menghampiri alby yang memasuki ruangan khusus untuknya.
"Maaf pak Alby, tadi ada pesan dari Jakarta. Katanya anda di minta pulang, soalnya dari tadi ponsel anda tidak bisa di hubungi."
"Oh, iya pak. Terimakasih. Baterai ponsel saya habis, saya charge dulu."
Pak mandor pun bergabung dengan para pekerja yang lainnya.
"Pak, saya dengar pak Alby itu menantunya konglomerat yang punya proyek ini ya?", tanya pekerja pada mandor.
"Iya, kenapa?"
"Kalo ini milik mertuanya, terus tadi yang di warung makan itu...siapa? Kata pak Alby itu istrinya?", tanya yang lain penasaran.
Pak mandor menghela nafas.
"Iya, istri pak Alby dua. Tapi ini bukan urusan kita, kita ini kerja buat anak istri di rumah buat keluarga kita. Ngga usah lah kepo sama urusan orang lain, apalagi atasan kita!", ujar pak mandor mengingatkan.
Alby menyalakan ponselnya yang kehabisan daya sejak sore tadi. Benar saja, banyak chat dan panggilan dari Silvy. Alby lupa, dia sudah berjanji akan menemani Silvy kontrol. Itu artinya ia harus pulang ke Jakarta. Tapi ia bingung, ia pun sudah berjanji akan menemani Bia.
Dengan berat hati, ia meminta anak buahnya untuk mengantarnya ke stasiun lalu di lanjutkan ke Surabaya untuk naik pesawat. Tapi sebelumnya,ia mengantar mobil milik Bia ke warung. Sayangnya, si pemilik tak ada di warung. Lek Sarman dan istrinya sedang ke acara nikahan kerabatnya.
Alhasil, Alby hanya menitipkan kunci mobil ke karyawan warung.
Alby mencoba menghubungi Bia berkali-kali, tapi istrinya tak merespon. Dan...Alby hanya meninggalkan pesan jika malam ini, ia kembali ke Jakarta. Tidak jadi menemani Bia.
(Jyah....yang repot punya istri dua! Enak banget ya, habis di servis isteri pertama pulang ke Jakarta ketemu istri kedua. Ssssttt....Ojo nesu 🤫🤫🤫🤫🤫)
.
.
Aku mengabaikan panggilan dari Alby. Tapi, aku bersyukur ternyata dia tak jadi kembali kesini. Aku tak perlu takut tiba-tiba dia meminta haknya kembali.
Jam setengah delapan malam, aku selesai solat isya. Ada rasa nyeri yang teramat sakit kurasakan di bagian inti tubuh. Pokonya sakit seperti itu. Seperti....awal pertama kali di unboxing oleh Alby. Ya... meskipun sekarang juga oleh orang yang sama.
Bedanya...dulu kami melakukan nya sama-sama suka, dan Alby pun pelan serta lembut memperlakukan ku. Tidak seperti tadi.
Jika hanya dua bulan saja dia bisa sebringas itu padaku, bagaimana kaum Adam yang lain yang lebih lama 'puasa' di banding Alby? Febri contoh nya?
Ehhhh??? Mikir apa jajal??????
Aku memeriksa bagian inti tubuhku, benar saja. Pantas saja sakit. Aku pun berniat menuju ke apotek. Sayangnya, si paryo ada di warung. Begitu pula mobil ku. Itu artinya aku harus menahan nyeri karena kudu jalan kaki ke apotek yang jaraknya cukup lumayan.
Mana badanku rasanya lemas dan pegal-pegal. Begini sekali ya rasanya....????
Aku mengunci pintu gerbang rumahku. Suasana sudah tak seramai tadi sore. Memang masih ada kendaraan yang mondar mandir jadi tak terlalu sepi.
Meski sudah berjalan sepelan mungkin, nyatanya rasa nyeri itu semakin menjadi. Alhamdulillah, akhirnya dengan penuh perjuangan aku sampai ke apotek. Tak lupa ku kenakan masker ku.
"Tumbas obat nopo mba?", tanya apoteker, entah apoteker entah bukan sebutannya.
(Beli obat apa mba)
__ADS_1
"Rene mba, ta' krisiki!", kataku pelan. Si mbaknya pun menurut.
(Sini mba, ku bisikin)
Aku pun meminta salep yang bisa ku pakai untuk mengolesi luka akibat perbuatan Alby. Beruntung si mbak paham dan mengangguk.
"Iki mba, peyan pengantin anyar Tah?", bisiknya.
(Baru)
Aku tidak menjawab apapun, si mbak hanya terkekeh tapi tak sampai terdengar oleh pembeli yang lain.
Usai membayar obat oles dan juga obat yang di minum, aku pun bermaksud untuk kembali kerumah karena merasa aman dari gangguan Alby.
Tapi tubuhku rasanya tak bisa di ajak berkompromi, tiba di perempatan desa yang menghubungkan antara desa ku dan desa Febri, tiba-tiba aku terhuyung dan jatuh pingsan.
.
.
.
"Pak Bambang kan njenengan mpun sugeh kok Yo Jeh purun ngurus sawah. Ngantek jam sa'mene ugo. Lha po ga kesel pak!", kata salah seorang pria paruh baya.
(Pak Bambang kan anda sudah kaya, kok masih mau ngurus sawah. Sampai jam segini pula, memang ngga capek)
"Golek kesibukan ae. Arep ngopo neng omah."
(Cari kesibukan aja. Mau ngapain di rumah)
Kedua lelaki itu masih mengobrol di sepanjang perjalanan. Keduanya baru saja memanen padi di sawah yang cukup jauh dari rumah. Apalagi, padi yang di angkut dimobil bak terbuka itu cukup banyak. Saat tiba di perempatan, mereka tak sengaja melihat sesosok tubuh yang sepertinya tidur di trotoar.
(ada yang tidur di trotoar)
"Hooh! Delok Sik Yo!"
(lihat dulu ya)
Kedua pria paruh baya itu pun menghampiri sosok yang terkulai di atas trotoar.
"Astaghfirullah, cah ayu pak Bambang. Kayane pingsan Iki!"
"Yo wes, Ndang di gowo melbu mobil. Koe Nang mburi gak opo-opo?"
(Ya udah, buruan bawa masuk mobil. Kamu di belakang ngga apa-apa)
"Iyo pak."
Kedua pria itu membopong tubuh yang terkulai lemas itu. Mereka tak mengenali nya karena memang wajahnya masih memakai masker.
"Di gowo puskesmas opo piye pak?"
(Di bawa ke puskesmas atau gimana pak)
"Gowo umahku wae, ngko aku tak telpon Sus."
(Bawa ke rumah ku aja, nanti aku telpon Sus)
__ADS_1
Akhirnya mobil itu melesat menuju rumah pak Bambang.
.
.
.
Febri sedang berkumpul dengan Dimas, Seto dan Sakti.
Empat pria tampan itu tampak sedang membahas Sakti yang berniat menembak Sabrina, mantan kekasih dari pacar adiknya sendiri. Hahaha....dekat banget circle mereka ya, tapi Sabrina belum tahu akan hal itu.
"Terus, kapan mau nembak Sabrina?", tanya Seto. Dimas hanya mengamati, mau komen takut salah tafsir semuanya. Kan berabe!
"Rencana sih besok!", kata sakti mantap.
"Beneran udah move on dari Bia nih?", tanya Seto lagi.
"Heheheh doakan saja."
"Yah, berkurang dong rival mu ya Feb!", celetuk Seto tanpa rasa bersalah.
"Koe ga eling opo, Naya iku juga tadinya mau sama sakti. Tapi berhubung sakti eling awakmu, dia ngga mau terima perjodohan itu."
Febri membalas ocehan sakti yang sontak membuat semuanya tertawa ngakak. Terkecuali Seto sendiri.
"Huh! Terus ae ngeledek. Koe ikhlas Dim,kalo Bina ambek Mas Sakti?",tanya seto lagi.
"Apaan sih? Ya ikhlas lah. Lagian udah ngga ada hubungan apa-apa juga!"
"Heheheh iya iya....!", sahut Seto.
"Kamu kenapa Feb, kaya lagi ada yang di pikirin?", tanya Sakti pada sahabatnya yang dari tadi sepertinya tak konsen dengan obrolan mereka.
"Lagi kepikiran Bia paling", sahut Dimas.
Febri mengangguk.
"Tadi sore aku telpon, dia lagi nangis. Katanya Alby ke sana. Ngga tahu bikin ulah apa, dia cuma bilang Alby ga mau lepasin Bia. Gitu aja. Tapi feeling gue, ada yang Bia tutup-tutupi deh."
"Ya udah, coba telpon lagi aja sekarang!", ujar Sakti.
"Eh, kalo ada Alby gimana?", tanya Seto.
"Ya, coba aja dulu!", ujar Sakti.
Akhirnya, ia pun mencoba menghubungi Bia. Tapi Febri terkejut saat ada suara yang tak asing mengangkat telpon Bia.
[Assalamualaikum Bia]
[Waalaikumsalam, Febri?]
Suara dari seberang sana yang sangat Febri kenal.
[Bapak???]
*******
__ADS_1
Heheheh....segini dulu ya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ udah tahu kan ??? Siapa itu????