
Aku yang sudah terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir beranjak dari tempat tidur ku. Anika masih tertidur pulas di bantalnya.
Pelan, aku menuju ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Tidak untuk solat malam.
Aku meraih ponsel ku. Ada chat masuk dari Febri, sekedar basa-basi menanyakan apa kah aku sudah tidur atau belum. Baru ku baca, dia sudah kembali mengechatku.
[Habis tahajud nduk?]
[Ngga mas. Masih libur]
[Terus ngapain sekarang?]
[Ngeteh]
[Oh, ya udah]
Hanya chat seperti itu saja aku merasa di perhatikan. Segampang itu aku baper???
Aku menghela nafas ku pelan. Memejamkan mataku sambil menghirup udara sebelum subuh yang sangat dingin. Tapi di dadaku terasa ada kesegaran yang tak bisa ku dapat kan di waktu lain.
Usai puas menikmati udara segar, aku menjulurkan kakiku untuk meregangkan otot-otot ku. Suasana pagi sangat sepi. Belum ada aktifitas warga yang nampak terdengar. Jauh dari tetangga? Sebenarnya tidak terlalu. Tapi memang belakang rumah di pasang pagar keliling yang cukup tinggi. Itu pun karena bapak yang menginginkannya. Kata beliau, ingin memiliki privasi karena hidup di kampung tidak seperti di kota.
Jika di kota banyak yang terlalu individualisme, di kampung kebanyakan suka 'kepo' dengan urusan pribadi orang lain. Tapi sepertinya sekarang hal itu tak berlaku lagi.
Entah di manapun berada 'ghibah' itu tetap ada. Contoh nya, ghibah online ala lambe-lambean nyinyir yang suka ngurusin kehidupan para artis. Bahkan bukan cuma artis, duta sertifikat yang gagal nikah saja sekarang trending 🤔🙈
Entah 🙄 sebenarnya bukan urusan, tapi sayang nya berseliweran di beranda sosmed.
Lha, peduli amat ya???
Aku kembali menscrol status teman-teman yang ada di kontak ku.
Masih ada kontak Alby di ponsel ku. Tapi ..aku memblokirnya sejak sidang pertama dulu. Seperti ada yang menuntun ku untuk membuka blokirannya, jariku menyentuh fitur itu.
Pemberitahuan status terbaru yang Alby unggah cukup membuat ku merasa....
Status WhatsApp Alby
Jika kesempatan kedua itu memang ada, benarkah kesempatan itu hanya di hadirkan untuk orang yang tepat?
Latar belakang dari quote's itu adalah langit malam di atas bangunan rumah sakit. Kok tahu?
Entah kenapa aku masih merasakan sakit hati! Bukankah aku yang meminta berpisah darinya? Bukankah aku yang sudah menyerah untuk bertahan di sisinya?
Serapuh apa dia sekarang? Siapa yang menjadi teman berbaginya sekarang? Kenapa aku mendadak jadi peduli padanya? tidak! Tidak mendadak kok!
Aku lihat dia online lima menit yang lalu. Entah kenapa aku ingin sekali menghubungi Alby saat ini?
Sadar Bia! Sadar! Aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa apa yang akan ku lakukan tidak benar. Baru saja tadi sore aku menerima pinangan Febri! Sekarang aku malah ingin menghubungi mantan suamiku????
Apa sisi jahat dalam diriku sedang bersorak? Bukankah aku harusnya bahagia, gadis yang sudah merebut kebahagiaan ku sedang menghadapi karmanya???
Tapi, naluriku sebagai seorang muslimah, meskipun aku bukan wanita Sholehah setidaknya aku tahu hal itu salah.
Andai aku balas dengan mendoakan hal yang buruk pada Silvy, apa bedanya aku dengan nya?
Di tengah kebingungan ku, justru kini ponsel ku berdering. Dari Alby!
Sekali, dua kali, aku membuat ponsel ku berdering. Dan ya... akhirnya tangan ku terulur untuk mengangkat panggilan darinya.
Aku mengangkat panggilannya. Tapi tak ada ucapan salam di antara kami. Hening! Mungkin canggung! Untuk beberapa detik, hanya terdengar helaan nafas dari masing-masing kami berdua.
Hingga akhirnya, aku buka suara..
[Assalamualaikum....A]
Masih hening! Hingga aku mendengar isakan pelan dari nya di ujung sana!
Alby ku menangis? Sesedih itukah ia menghadapi kenyataan istri nya yang koma? Tanpa di komando, air mataku pun turut meleleh.
Kenapa air mataku meleleh? Sedih mendengar Alby menangis kah? Sedih Alby menangisi Silvy? Atau sedih jika ternyata aku belum mampu ikhlas melepaskan nya?
[A....?]
Aku mencoba untuk mengajaknya bicara. Entah kenapa aku merasa jika Alby sedang butuh tempat untuk membagi kesedihannya.
[Neng, Aa sudah kalah dalam segala hal]
Suara Alby di seberang sana terdengar sangat menyedihkan.
[Ngga A, Aa masih bisa berjuang kok. Insyaallah Silvy akan sembuh! Dia akan merawat anak kalian bersama-sama nanti]
Munafik! Kamu munafik sekali Bia! Aku menghapus air mataku.
[Kemungkinan silvy untuk kembali, sangat kecil Neng]
[Aa sesedih itu?]
Kenapa aku malah bertanya seperti itu? Bodoh Bia!
Alby menegakan duduknya.
[Neng kecewa?]
Aku menggeleng pelan. Tapi aku tahu dia tak melihatnya.
[Ngga A]
[Aa memang tidak bisa menjadi suami yang baik, buat kamu! Mungkin ini juga hukuman yang Allah kasih karena Aa mengabaikan kamu dan Silvy sekaligus]
[Stop A, jangan menyalahkan diri seperti itu. Yakinlah A, kita akan baik-baik saja ke depannya nanti. Silvy akan bangun, dia bangun karena tahu kalo kamu juga peduli padanya. Bukan padaku lagi A]
Kok jadi melow begini sih Bia??? Ini ngga bener.
[Kamu sudah menerima Febri?]
Deg! Dari mana dia tahu?
[Itu artinya, Aa sudah tak ada kesempatan bersama mu lagi neng Bia?]
[A....]
[Jadi benar kan? Aa sudah kalah!]
Air mataku kembali lolos. Kenapa sih cengeng banget???!!!
[Kita akan bahagia dengan jalan yang berbeda A. Tapi...kita masih bisa berhubungan baik]
[Neng sudah tak memiliki rasa apa pun buat Aa?]
Aku menghapus jejak air mataku. Mau jawab masih, tapi....
[Ngga mudah melupakan cinta kita A. Tapi sekarang keadaan sudah berubah.]
[Neng cinta sama Febri?]
[A....]
[Neng mencintai Febri, lagi?]
Aku mendongak menatap langit yang mulai memerah.
__ADS_1
[Mungkin!]
Hanya kata itu yang bisa ku katakan saat ini pada Alby. Jika aku mengatakan 'tidak' , entah kenapa aku merasa jahat seolah aku memberi harapan pada nya padahal di sendiri sedang berjuang untuk 'peduli' pada istrinya.
Tapi jika aku mengatakan 'iya' pun....
Kenapa aku mempersulit hidup ku sendiri sih?????
Alby mendesah pelan. Kecewa kah ia dengan jawaban ku yang ambigu? Hening untuk beberapa detik. Hanya terdengar suara jangkrik yang ada di semak belakang rumahku.
[Nabil, nama anakku Nabil]
Aku memejamkan mataku. Alby sudah memiliki anak dari perempuan lain! Spontan aku mengusap perut rataku.
Andai anakku bisa di selamatkan kala itu, mungkin dia pun sudah lahir.
[Nama yang bagus]
Aku mencoba menetralisir perasaan yang tak bisa ku jelaskan.
[Sudah mau subuh A. Aku tutup telponnya ya?]
[Iya. Terimakasih sudah mau menjadi teman bicara Aa ya neng]
[Heum]
[Assalamualaikum, neng]
[Walaikumsalam]
Panggilan itu berakhir. Aku menyimpannya kembali ponsel ku diatas meja. Ada secangkir teh yang mulai mendingin. Seperti halnya hubungan antara aku dan Alby, seperti itu pula ungkap yang tepat.
Minuman itu pernah panas, tapi mendingin karena terabaikan. Begitu pula dengan kisahku dan Alby, pernah berada di saat kami di puncak kebahagiaan tapi seiring berjalannya waktu hubungan itu kandas pada akhirnya.
Aku bangkit menuju ke dapur. Menyiapkan makanan untuk kami sarapan. Tak enak, ada tamu tapi ku jamu.
Aku mulai menguprek isi kulkas. Tak banyak bahan makanan yang ku simpan karena aku memang lebih sering makan di rumah lek Sarman atau warung.
Azan subuh, aku masih menggoreng ayam yang sudah di ungkep. Dan Anika pun sudah berada di meja makan.
"Mbak!"
"Hei? Kirain belum bangun? Mau mba bangunin!", kataku sambil menoleh. Anika bangkit dari duduknya lalu berdiri di samping ku yang berada di depan kompor.
"Udah lah mba, udah biasa kan bangun subuh juga walopun ngga sholat."
Aku mengangguk paham.
"Nanti jalan-jalan ke mana mba? Ngajak mas Sakti sama kak Bina ngga?", tanya Anika.
"Terserah kamu dek. Tapi kalo kamu mau ke wisata air yang bikin mata kamu fresh , ada tuh air terjun. Kita jalan kaki tapi kalo takut capek, ya bisa naik motor juga.
"Emang ngga jauh?"
"Lumayan lah, perbatasan desaku sama desa mas Febri. Di sini banyak spot bagus kok dek. Ada taman bunga di kaki gunung sana. Ya.... pokoknya tempat wisata yang hits dan Instragramable deh!"
Anika mengangguk pelan.
"Mau bikin teh atau susu mungkin dek?"
"Ngga usah mba, air putih anget aja!"
Anika menyuling air dari termos di tambah air dingin dari teko.
Hampir jam tujuh, aku dan Anika sudah rapi. Anika dengan celana jins nya yang tertutup oleh tunik di bawah lutut. Sedang aku yang masih belajar memakai gamis syar'i pun memantapkan diri di depan cermin.
"Mba bina suka ikut kajian ya? Kayanya dari tadi sibuk tuh grup nya."
Anika menganggukkan kepalanya.
"Udah siap?", tanyaku. Anika mengiyakan sambil menggendong tas kecilnya.
"Mas Sakti sama bina ngga jadi di ajak?"
"Ngga ah, kali aja mereka lagi bikin keponakan buat kita hehehe."
Aku memencet hidung mungil Anika.
"Anak kecil ngga usah bahas kaya gitu!"
"Tapi aku juga udah bisa kok bikin dedek, sayangnya kak Dim belum mau!"
Aku mengernyitkan alisku.
"Masa sih mas Dimas ngga mau? Mau lah dia mah. Cuma...ya mungkin karena kamu masih kuliah, jadi nunggu kamu lulus kuliah dulu."
"Kok kalian pada mikir gitu sih? Kan abis nikah juga bisa kuliah. Silvy contoh nya!"
Tiba-tiba Anika merubah ekspresinya.
"Maaf mba!", kata anika penuh sesal.
"Ngga apa-apa Dek, ngga usah di bahas lagi."
Anika menggelayut manja lengan ku. Padahal aku lebih pendek dari Anika.
Di halaman, ternyata Dimas baru saja turun dari motor Febri.
"Kalian mau ke mana?", tanya Dimas.
"Jalan-jalan ke air terjun Kak!", jawab Anika yang nemplok pindah ke lengan Dimas. Cuma gelengan heran yang bisa ku lakukan.
Cepet banget menclok ke Dimas ya???
"Aku boleh ikut kan Bi?", tanya Dimas padaku.
"Ya boleh lah, kan emang mau jalan-jalan!", jawabku.
"Mau jalan kaki apa naik motor?", tanya Dimas.
"Jalan aja lah Kak, sambil nikmatin pemandangan hehehh!"
"Jauh ngga sih Bi?"
"Lumayan lah mas, perbatasan desa sini sama desa mas Febri." Dimas mengangguk pelan. Dia sudah terbiasa jalan jauh, tapi bagaimana dengan Anika? Bocah manja itu kalo kecapean makin jadi manjanya.
Dimas melirik ke arah kekasih nya yang juga sedang memandangnya.
"Kenapa liatin adek kaya gitu?", tanya Anika pada Dimas.
"Ngga apa-apa!", jawab Dimas. Akhirnya kami bertiga pun berjalan menjauh dari rumah ku. Sesekali aku bertegur sapa dengan tetangga ku. Begitu pula Anika dan Dimas yang memang pada dasarnya ramah.
"Mas Dimas udah sarapan? Kalo belum, di sana ada tukang jualan serabi!", kataku menunjuk pedagang serabi yang menjejerkan tungku kecil-kecil di hadapannya.
"Udah sih, tadi di rumah Febri. Febri malah tidur, barusan ku ajak katanya nyusul aja."
Hah? Nyusul?
"Ngga usah lah, biarin dia istirahat."
"Iya, nanti malam dia juga harus balik ke perbatasan. Biasa lah, tugas negara!"
__ADS_1
Anika masih setia menempel di tubuh Dimas dengan posesif. Mungkin mereka benar-benar merasa rindu.
"Mba Bia udah siap kalo nanti setelah menikah bakal sering di tinggal sama mas Febri?", tanya Anika. Aku hanya bisa tersenyum.
"Belum kepikiran ke arah sana Dek!"
"Kalo aku sih, maunya nanti abis nikah aku ikut sama kak Dim kemana pun dia bertugas."
Dimas memundurkan kepalanya.
"Sekalipun ke perbatasan kaya mas Febri!", kata Anika lagi sambil mendongakkan kepalanya menatap sang kekasih. Wajah gadis itu tepat di samping leher Dimas.
"Ngga segampang itu, sayang!", kata Dimas memencet hidung kekasihnya.
"Kan aku maunya sama kamu terus kak, bukan gitu mbak Bia? Katanya kemana pun suami, istri ikut aja!"
"Tapi kalo di perbatasan itu berbahaya dek", kata Dimas mengusap kepala kekasihnya.
"Kalo cuma dinas kaya kakak sekarang ini, kamu bis ikut."
Anika mengangguk paham.
Aku memilih berjalan lebih dulu di depan mereka. Mendengar obrolan sepanjang kekasih yang sedang di landa rindu. Aku pun pernah di posisi seperti mereka, bersama orang yang sekarang kembali mengisi kehidupan ku, Febri!
LDR bahkan jarang berkomunikasi apalagi bertemu, itu bukan hal baru. Tapi....andai kami beneran menikah nanti, apa aku bisa jarak jauh seperti itu?
Bagaimana jika di sana Febri....aah...ah pusing. Alby yang berada dalam jangkauan ku saja bisa diambil dengan mudah sama pelakor, bagaimana dengan Febri yang nantinya jarak jauh.
Tanpa ku sadari, aku berjalan jauh dari sepasang kekasih yang kasmaran itu hingga ada tepukan di bahu kiri ku.
Aku menoleh. Karena terkejut, aku sempat terjengkit.
"Astaghfirullahaladzim!", kata ku. Ternyata Febri sudah ada di belakang ku. Aku pun celingukan mencari keberadaan Dimas dan Anika.
"Biasa aja kalo kaget nya nduk!"
"Ya gimana ngga kaget, kamu tiba-tiba udah ada di belakang."
"Hehe maaf! Lagian jalan sambil melamun. Mikirin apa?"
"Siapa yang melamun? Ngga kok!"
"Kalo ngga melamun, kamu ngga perlu bingung nyariin Dimas sama Anika."
"Heuh? Iya, mereka mana?", tanyaku.
"Lagi cari tempat buat melepas rindu!", kata Febri. Aku melotot tajam.
''Jangan cemari Anika ya! Dia masih polos! Mana mas Dimas?"
"Hehehe Dimas ngga sampe kaya aku ke kamu kali Nduk!", kata Febri. Wajahku memerah di buatnya. Malu, mengingat betapa bobroknya aku saat muda dulu saat kami masih berpacaran. Mungkin sekarang yang terjadi padaku adalah karma atas apa yang sudah pernah ku lakukan di masa lalu.
"Ngga usah umbar dosa mas. Ngga ada yang perlu di banggain dari dosa kita!"
"Heum! Maaf ya Nduk!", kata Febri. Aku pun kembali melanjutkan langkahku menuju ke pintu masuk loket air terjun.
"Anika mau nyusul nduk, ngga usah cemas."
Aku pun mengangguk pelan.
Setelah berjalan cukup lumayan, akhirnya aku bisa duduk selonjoran di tepi kali yang berbatu langsung menghadap ke air terjun.
Febri duduk agak jauh dari ku, mungkin terjeda beberapa batu kali yang cukup besar.
Hening, tak ada obrolan. Hanya suara air terjun yang menemani. Hari masih cukup pagi, belum ada pengunjung yang berdatangan ke lokasi wisata ini.
"Nduk!"
"Heum?"
"Makasih!"
"Buat?"
"Mau menerimaku lagi." Aku tertunduk, memainkan cincin yang ada di jari manis ku.
"Mas tahu, kamu masih perlu waktu untuk bisa beradaptasi lagi untuk kembali menjalani hubungan baru. Tak baru sih sebenernya, tapi ya...kamu tahu lah nduk."
Aku masih menunduk. Tak tahu harus menyahut apa.
"Kamu masih belum bisa melupakan Alby kan?"
Kali ini aku menolehkan kepala ku padanya. Dia sedang menatap ku dengan wajah yang tak bisa ku artikan.
"Tak perlu di jawab. Mas tahu kok!"
"Kasih aku waktu mas!"
"Iya, tentu saja! Mas tidak akan memaksa mu untuk sekarang-sekarang ini. Tapi mas harap, kesempatan itu akan datang, buat mas!"
Aku menghela nafas. Mas Febri terlalu baik padaku. Dulu, aku pun yang meninggalkannya. Aku masih memainkan cincin itu. Aku jadi teringat dengan cincin pernikahan ku dengan Alby yang ku letakkan di atas nakas kamar kami dulu. Apa Alby sempat mengambil nya? Apa dia menyimpan nya? Atau jangan-jangan dia malah tak tahu jika ada cincin itu di sana. Alby sudah disibukan dengan pekerjaan barunya.
"Nduk?"
"Heum?"
"Ngga jadi."
"Kenapa?"
"Ngga apa-apa!"
Kami kembali terdiam, tapi Anika dan Dimas ternyata menghampiri kami. Suasana kembali hangat. Kami seperti sedang Doble date kalo begini.
.
.
.
Hari ini Alby sudah berada di rumah sakit untuk menemani anak dan istrinya. Silvy masih terbaring lemah di atas brankar dengan alat bantunya. Begitu pula dengan Nabil yang masih berada di inkubator.
Hati siapa yang tak trenyuh melihat pemandangan seperti itu.
Alby memilih duduk di ruang tunggu ICU. Dia memakai pakaian yang di sediakan untuk menjenguk pasien.
Dari balik kaca, Alby hanya mampu memandangi ibu dari anaknya itu. Tak ada lagi wajah jutek, arogan dan semua yang menyebalkan di wajah Silvy. Ya, hanya wajah pucat yang Silvy tunjukan.
Alby memilih duduk lalu membaca surat Yasin. Berharap jika kerajaan itu datang. Bahwa Silvy akan kembali sadar! Dan ia akan melanjutkan kehidupannya.
Di lain pihak....
"Tuan, tapi tuan belum terlalu pulih. Jangan bepergian dulu. Apalagi non Silvy sedang dalam kondisi seperti ini!", Sapto melarang Hartama yang katanya akan ke Jawa timur untuk menemui Bia secara langsung.
"Aku bisa To. Tenang saja!", kata Hartama ngotot.
"Nanti Bu Titin bagaimana? Bu Titin pasti sibuk mengurus Nabil. Jadi, lebih baik Tuan jangan ke mana-mana dulu!"
"To...waktu ku tak banyak! Tolong jangan halangi aku!", bentak Hartama. Sapto tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas seperti nya tuan Hartama sudah tidak bisa di bujuk.
*********
__ADS_1
Makasih 🙏 maaf banyak typo 🙏🙏✌️🙏