Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 234


__ADS_3

Persiapan untuk kembali ke ibukota sudah beres. Kami berdua berpamitan pada para orang tua. Di antara semua 'orang tua' ku, mungkin Lek Sarman yang paling merasa berat melepaskan ku, lagi!


Wejangan demi wejangan aku dengar kan dari mereka semua, sampai terakhir...lek Sarman yang memberikan pesan nya untuk ku dan mas Febri.


"Febri!"


"Ya , lek?!"


"Tolong jaga Bia baik-baik. Jangan pernah sakiti Bia. Seandainya dia Bia berbuat salah, tolong tegur dengan baik-baik. Jangan pernah main tangan atau berbuat kasar sama putri ku!"


"Insyaallah Lek, Febri akan menjaga Bia sebaik mungkin."


"Jika ada masalah apapun, jangan segan untuk berbagi sama kami. Bukan maksud ikut campur, tapi kami hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Membiarkan putri kami menghadapi kesusahan nya sendiri."


Febri menyalami tangan lek Sarman.


"Lek, Febri mungkin ngga bisa jaga Bia dua puluh empat jam penuh. Tapi insyaallah, Febri akan selalu ada buat Bia."


Aku memeluk lek ku. Pengganti sosok bapakku.


"Kami berangkat ya?", pamit ku pada mereka semua. Setelah itu kami berdua melesat keluar dari kampung halaman kami.


"Nduk!", mas Febri menggenggam tangan ku. Sedang tangan satunya memegang setir.


Aku menoleh sesaat, dia pun melakukan hal yang sama. Menatap dalam diam.


"Kamu percaya sama mas kan?"


"Apa yang membuat aku harus ngga percaya sama kamu mas?"


Dia mengusap kepala ku lalu mengecup singkat puncak kepalaku. Kebiasaan kalo lagi ngobrol sambil nyetir begini deh!


"Lek Sarman pasti sangat sayang sama kamu seperti sayang sama anak kandungnya sendiri."


"Huum, dia begitu kehilangan almarhumah Putri. Mungkin dia juga takut kehilanganku."


"Ssst...jangan bicara seperti itu! Mas ngga suka!"


Hening! Tak ada obrolan yang keluar saat kami larut dalam pemikiran masing-masing. Tapi tangan kiri mas Febri masih setia menggenggam ku meski aku harus ikut menarik tuas.


"Mau gantian ?", tawarku.


Dia hanya tersenyum tipis.


"Belum sejam nduk, masih full kok tenaga suami mu ini!"


"Kirain, diem aja dari tadi baterai nya lowbat!"


"Huum, sebenarnya iya!", katanya dengan wajah meyakinkan.


"Udah tahu lagi ga fit, ngapain maksain diri buat berangkat mas?", aku mulai menaikan intonasi suara ku.

__ADS_1


Bukannya gimana, Febri malah terkekeh sambil mencubit pipi ku. Aku pun menepisnya. Sudah tua, kayanya aneh kalo cubit-cubitan kaya begitu.


"Mas bukan lagi ga fit sayang, cuma baterai nya kurang full. Semalam kan ada yang nolak buat nge-charge, makanya sekarang agak loyo-loyo gimana gitu....!"


Aku yang sudah mulai paham seperti apa omongan nya pun hanya mencebikkan bibirku.


"Bisa ngga sih mas, ngga usah bahas mengarah ke sana? Aku malu. Malu sama yang baca juga! Kesan nya kok...!"


"Mereka juga maklum kali, kaya ngga pernah jadi manten anyar aja!"


Huffft.... ngomong sama pak kapten emang rada-rada susah!


Sepanjang perjalanan, kami terus mengobrol. Melewati beberapa daerah yang kira-kira membuat kami menarik, dan setelah itu kami singgah sebentar. Ya, untuk sekedar mencicipi makam khas daerah yang kami lewati. Kalau ada spot foto yang bagus pun, kami tak segan-segan untuk berswa foto.


Kaya honey moon beneran ngga sih????


Kami berangkat pukul setengah delapan pagi. Dan ini sudah menjelang magrib, kami sudah berada di Jawa tengah. Tepatnya di kabupaten Pekalongan.


"Mau belanja dulu mas!", kataku.


"Beli batik?", tanyanya. Aku mengangguk.


Kami berdua pun turun dan masuk ke salah satu pertokoan.


"Beli batik sarimbit ya mas!", ajakku.


"Iya!", jawabnya singkat. Aku memilah milih beberapa pakaian batik sarimbit. Febri nampak menghela nafasnya.


"Mba, aku juga mau daster batik lengan panjang ya!"


Mereka menyiapkan semua yang sudah aku pesan tadi. Dan saat akan membayar, mas Febri mengeluarkan kartunya dari dalam dompet.


"Mas, kayanya aku mau tas yang itu deh. Boleh ambilin ngga?", tanyaku.


"Iya nduk!", kata Febri berlalu dari depan kasir menuju ke stand tas yang memang agak jauh dari kasir.


"Berapa mba totalnya?", tanyaku pada petugas kasir. Dia memberikan notanya. Ternyata.... sebanyak ini!


Andai aku membiarkan Febri membayarnya, betapa jahatnya aku sebagai istri!


"Pakai ini bisa kan mba?", tanyaku pada petugas kasir. Dia pun mengangguk. Setelah menggesek kartu pada mesin EDC , ia mengembalikan kartu ku beserta struk nya.


"Makasih ya mba!", kataku.


"Sama-sama mba. Mohon tunggu ya, kami packing dulu!"


Aku mengangguk, lalu menyusul mas Febri yang sedang bingung melihat dan memilih tas untuk ku.


"Kok bengong? Kenapa mas?"


''Mas bingung, ini bagus semua. Kamu sukanya yang mana?"

__ADS_1


Aku menggelayut manja di lengan nya.


"Apa pun yang kamu pilihin dan kamu beliin, aku pasti suka!", kataku.


"Dih, udah bisa ngegombal!", mengusap wajah ku dengan telapak tangannya. Akhirnya ia memilih salah satu tas yang ada di sana. Setelah itu, kami kembali ke kasir.


"Sekalian sama yang tadi mba!", kata Febri.


"Maaf mas, yang tadi sudah semua. Tinggal tas nya aja yang belum!", kata mba kasir. Mas Febri menatapku tajam. Apa dia marah???


"Oh, ya sudah. Ini saja. Makasih mba!", kata Febri. Setelah itu ia berjalan menggandeng ku menuju ke mobil. Barang belanjaan ku sudah di letakkan di bagasi.


Aku rasa...dia marah!


"Mas!"


Febri diam tak menyahuti panggilan ku. Matanya tetap fokus ke jalan.


"Kamu marah?", tanyaku mengusap pipinya. Tapi ia menurunkan tanganku dari pipinya.


"Maaf! Kalo aku bikin kamu marah mas."


"Kamu itu tanggung jawab mas nduk, apa kamu pikir mas ngga sanggup bayaran belanjaan kamu? Iya?"


"Astaghfirullah mas. Bukan begitu!", aku duduk menghadap ke arah nya.


"Lalu apa tadi?", tanyanya. Meski dengan suara pelan, bukan membentak tapi cukup membuat ku sedikit takut jika amarahnya meledak.


"Mas, aku ga bermaksud seperti itu. Tapi...aku yang dari awal memang tak ingin membawa pakaian banyak-banyak dari rumah karena aku ingin semua serba baru. Seperti hidup aku sama kamu. Aku tahu, kamu sanggup membelikan semua nya tadi. Tapi ...ada hal yang lebih penting setelah ini."


Tak ada sahutan dari Febri. Mungkin masih marah, belum bisa menerima penjelasan ku.


"Maaf! Bukan maksud ku merendahkan mu mas. Ngga kaya gitu!"


"Lalu apa?", tanya nya menatap ku.


"Setelah sampai ke Jakarta, kita masih harus cari rumah, kamu juga harus memenuhi kebutuhan ku yang lain. Jadi, maaf. Aku hanya ingin sedikit saja meringankan beban mu mas. Meski aku tahu kamu mampu, tapi... ini keinginan ku sendiri yang semuanya mau serba baru, setelah sama kamu. Aku ngga mau ada bayang-bayang masa lalu! Tolong paham ya mas!", aku mencekal lengan nya dengan kedua tangan ku. Kalo satu tangan, mana muat telapak tangan ku!


Dia menoleh sebentar, lalu menghentikan mobil nya karena sekarang masih di traffic light.


Dia menarik tengkukku dan men**** ku sebentar. Aku membiarkan dia melakukan itu, mungkin sedikit meredam emosi nya. Setelah beberapa detik berlalu, ia mengusap bibirku yang basah.


"Jangan di ulangi lagi! Lain kali kamu bilang dulu kalo mau pakai uang kamu. Uang ku , uang mu. Tapi uang mu, adalah hak kamu. Kamu tahu itu kan???? Belajar dari masa lalu kamu. Kamu paham ?", tanya nya sambil menakupkan kedua tangannya di pipi ku.


"Sekali lagi maaf!", kataku. Dia mengangguk tipis.


"Kita istirahat nanti malam di perbatasan Jateng Jabar saja ya?!", katanya.


Aku mengiyakan dengan anggukan.


*****

__ADS_1


Makasih...🙏🙏🙏


__ADS_2