
Perut ku sudah mulai tak nyaman. Sebelumnya, dokter sudah meminta ku untuk tidur miring ke kiri untuk mempercepat pembukaan.
Sesekali ada rasa ingin kebelakang tapi hilang timbul. Melihat aku mulai meringis, mas Febri bangkit dari kursinya lalu mengusap punggung ku.
"Sakit?", tanyanya pelan. Aku mengangguk.
Mas Febri memanggil perawat yang berjaga. Setelah itu, ia memanggil dokter Nadia. Sambil menunggu dokter Nadia, mas Febri tak henti-hentinya mengusap perut dan punggung ku.
"Sayang...!", dia mulai mengelap keringat di dahiku.
"Sssh....!", aku mulai mendesis. Begini rasanya ya???
Dokter Nadia masuk ke dalam ruangan ku yang seharusnya diisi oleh dua pasien, tapi kebetulan penghuni nya baru aku saja.
"Sudah mulas nyonya?", tanya dokter Nadia. Aku mengangguk lemah. Kemudian, dokter Nadia mengecek jalan lahirku.
"Masih bukaan enam. Harap bersabar ya nyonya!"
"Hah? Bukaan enam dok? Memang biasanya bukaan berapa bayi lahir?"
"Bukaan sepuluh!", sahut dokter Nadia ketus. Ya, dia memang seperti itu.
"Nduk, operasi aja ya. Kamu kesakitan begini!"
"Udah mas, aku ngga apa-apa kok. Ini belum sakit bange, beneran deh!", meski setelah itu aku meringis.
"Dok, ada ngga buat mengurangi rasa sakit? Kasian istri saya dok!"
"Pak kapten, dimana-mana yang namanya perempuan melahirkan ya sakit ngga cuma istri anda. Nanti kalau saatnya lahir, bayi-bayi anda juga lahir pak."
Mas Febri tampak mendengus kesal pada dik Nadia. Pantas dia di bilang menyebalkan oleh karyawan rumah sakit ini.
"Berhubung belom pembukaan lengkap, saya tinggal dulu ya nyonya. Kalo mau lebih cepat pembukaan, ada baiknya di bawa jalan-jalan dulu!", kaya dokter Nadia. Setelah itu ia pamit keluar.
"Dokter opo ngunu kuwi. Wes ngerti lagek loro, kok Yo ngongkon mlaku-mlaku!", mas Febri mulai ngedumel sendiri.
(Dokter apa begitu. Udah tahu lagi sakit, kok nyuruh jalan-jalan)
Aku bangkit perlahan dari brankar ku.
"Kemana nduk?"
"Pipis mas!", kataku sambil mengangkat botol infus ku. Mas Febri pun membantu ku berjalan ke kamar mandi. Dengan pelan, aku berada di kamar mandi. Karena sudah tak pakai celana d**** mas Febri membantuku di dalam kamar mandi.
Setelah selesai, dia memakai kan kembali diaper ku karena ketuban ku masih keluar.
"Istirahat lagi nduk."
"Ngga mas, aku mau jalan-jalan kaya saran dokter Nadia mas."
"Tapi kamu kan kesakitan begitu. Udah ya, operasi aja?"
"Ngga mas. Emang prosedur nya begitu, dokter Nadia lebih tahu lah. Kalo belum ada perkembangan pembukaan, nanti juga ada opsi lain. Di induksi juga bisa mas."
"Di induksi? Di apain? Bayinya di sedot gitu?", tanyanya.
Ku pikir dia pintar kaya biasanya. Tapi ternyata awam juga kaya aku.
"Di kasih obat buat memicu kontraksi mas, jadi cepat pembukaan."
"Ya udah, minta aja sekarang nduk. Mas mintain ya?", dia sudah siap memanggil dokter Nadia lagi.
"Ssst...mas. Udah, kamu jangan panik begitu. Kalo kamu panik, aku ikutan lho. Tadi biasa aja kok."
"Iya, tadi mas belum liat kamu kesakitan. sekarang udah prangas-prenges siapa yang ga panik."
"Mending pegangin aku buat jalan-jalan di dalam kamar ini mas. Bolak-balik aja!"
Mas Febri menghela nafasnya. Menurut apa kemauanku. Sesekali aku berjongkok lalu berdiri lagi, tapi di bantu pak suami ya. Begitu terus sampai beberapa kali. Hampir satu jam aku merasakan seperti itu.
''Kalo mas capek, istirahat aja dulu mas. Duduk gih?!"
"Ngga. Mas mau nemenin kamu!", katanya kekeh.
Tiba-tiba aku merasakan gelombang cinta dari dalam perut ku yang seperti nya mulai mendesak ingin keluar.
"Mas...ssshh...!"
"Nduk, ayo ke brankar dulu!", dia membimbing ku berjalan pelan. Bahkan sangat pelak. Kakiku hampir saja seperti melayang. Mas Febri mau menggendong ku tapi kesusahan karena botol infus ku.
"Mas panggil dokter!", katanya sambil membaringkan tubuhku. Aku mengangguk. Mungkin benar, saat ini aku sudah akan melahirkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dokter Nadia, beberapa perawat yang sepertinya masih magang serta bidan menghampiri brankar ku.
"Di sini saja tak apa,dok! Perlengkapan tinggal bawa kesini", kata Bidan.
"Tak perlu ke ruang Vk?"
"Di sini cukup, dok!", kata bidan yang jelas lebih senior dari segi umur dari dokter Nadia.
Semua perlengkapannya sudah siap. Bidan mengecek pembukaan.
"Alhamdulillah, pembukaan lengkap Bu."
Aku mengangguk tipis sambil menahan nyeri. Mas Febri memegang tanganku dengan erat. Mengusap-usap kepala ku yang sudah tak berhijab. Keringat ku sudah berceceran sebjiji jagung lah pokoknya. Rasanya beuuuh...nikmat mana lagi yang kamu dustakan.
"Bismillah ya,Bu!"
Aku mengangguk lagi.
"Ucapan dalam hati, istighfar sebanyak mungkin." Aku kembali mengangguk. Mas Febri tak henti-hentinya melafazkan ayat kursi dan al-Fatihah. Entah ia mengikuti dalil dari mana. Yang jelas, doa itu terus ia panjatkan.
"Dengar instruksi saya. Jangan mengejan sebelum saya memberi instruksi ya Bu!"
Aku mengangguk pasrah. Beruntung aku sudah mempelajari tekhnik tarik buang nafas.
"Siap Bu... sekarang!"
"Euuuugghhh...!", aku berusaha mendorong sekuat tenaga. Mas Febri masih melafalkan doanya di samping telinga ku.
"Cukup bu. Sekarang tarik nafas lebih dulu. Anggap aja ibu mau buang air besar! Baru setelah itu ibu keluarkan. Sudah siap?", tanya Bu bidan. Aku mengangguk. Lha, tugas dokter Nadia ngapain...? Aduh, sempat-sempatnya mikirin kerjaan dokter Nadia.
Aku mengikuti instruksi Bu bidan, benar kata beliau. Anggap saja sedang bab, dan ya...baby pertama ku keluar.
"Oek...oek...!", bayi pertama ku lahir. Mas Febri tak henti-hentinya mengucapkan hamdalah. Tak lama kemudian, gelombang cinta itu datang lagi. Mas Febri tak jadi menghampiri putro pertama kami.
"Istri nya beri minum dulu pak!", kata Bu bidan penuh pengertian. Ya, beliau ngerti aja aku haus.
Perasaan ingin bab kembali menyerang ku. Bu bidan memberikan kode padaku. Aku pun mulai mengejan, setelah tiga menit (kayanya) aku melahirkan baby kedua ku.
"Alhamdulillah!", ucapan Hamdallah menggema di ruangan kamar rawatku.
"Selamat ya Bu, pak. Putri-putri nya sehat. Ibu yang hebat!", puji Bu bidan.
Mereka hanya mengiyakan dengan anggukan.
"Alhamdulillah, nduk! Makasih ya sayang? Udah berjuang buat anak-anak mas!", kata mas Febri dengan air mata yang meleleh di ujung matanya.
"Ssttt...masa pak Kapten nangis, malu atuh di liatin suster", kataku lirih.
"Mas nangis bahagia Nduk!",sahutnya. Tapi sepertinya para perawat tadi masih terkagum-kagum dengan suamiku. Sayangnya, rasa sakit mengalihkan rasa cemburuku yang tak beralasan.
"Di jahit ya nyonya!", kata dokter Nadia.
"Apanya dok?", tanya mas Febri.
"Jalan lahir nya lah pak!", jawab dokter Nadia ketus. Alhamdulillah, sudah ga kaget.
"Hah?"
"Biar rapet lagi kaya masih gadis. Maap sedikit sakit ya nyonya. Tapi tak sesakit waktu melahirkan tadi sih!", kata dokter Nadia. Aku mengangguk pasrah deh kalo urusan sama dokter satu ini.
"Kalo sudah selesai di jahit, bisa di pakenya nanti ya pak. Tunggu tiga bulan, baru bisa diajak bobo bareng ibunya si kembar!", kata dokter Nadia sambil menjahit jalan lahir ku. Meski senat senut aku masih bisa menahannya.
"Tiga bulan dok?", tanya mas Febri. Dokter Nadia mengangguk serius.
"Iya pak, puasa tiga bulan!", sahutnya lagi.
Mas Febri menatap ku sambil memasang wajah memelas. Kalo saja aku sedang tak di jahit, sudah ku cubit tuh pipinya.
"Si kembar sudah di bersihkan pak. Sudah di periksa Alhamdulillah sehat, lengkap semua. Mau di azanin dulu pak? Baru IMD!", kata perawat yang membawa bayi-bayi ku.
"Iya sus!"
"Nduk, mas ke anak-anak dulu ya!"
Aku mengangguk.
Aku menoleh ke arah di mana mas Febri mengazani kedua putri ku secara bergantian. Setelah itu kedua putri ku di bawa ke padaku untuk IMD berdua sekaligus. Senyuman terukir terus di wajah gagah nya. Sebahagia itu kamu mas???
Aku jadi terharu. Beruntung urusan jahit menjahit sudah beres. Aku juga sudah di bantu oleh perawat untuk membersihkan diri.
Tulang ku rasanya wah...warbiasah...kaya rontok-rontok gimana gitu.
__ADS_1
Semua sudah beres. Dokter dan tenaga medis lainnya sudah meninggalkan kami berempat di sini.
Aku juga sudah makan dan minum obat. Anak-anak ku juga sudah di bedong dengan rapi.
"Istirahat nduk. Kamu pasti capek banget!", dia mengusap kepala ku. Aku mengangguk.
"Mas juga pasti capek. Mas istirahat juga."
"Iya, mas mau sholat dhuhur dulu.Udah mau jam tiga. Takut ngga keburu. Semoga di maklumi ya sayang kalo misalnya telat sholat nya heheh."
"Bisa aja kamu mas. Ya udah, kamu sholat dulu. Nanti kalo mas udah sholat, aku baru tidur."
"Iya sayang."
Mas Febri melepaskan seragam nya. Menyisakan kaos oblong lorengnya. Setelah itu di kamar mandi lalu setelah nya mendidik empat rakaat nya.
Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur karena istri dan anak-anak selamat serta sehat tak kurang satu apapun.
"Mas udah selesai. kamu tidur aja nduk. Nanti mas bangunin kalo bayi-bayi kita nangis."
Aku pun mengangguk. Karena sangat lelah, aku pun tertidur pulas.
Febri menatap tiga bidadari nya bergantian. Rasa syukur dan bahagia begitu mewarnai perasaan nya kali ini. Siapa yang menyangka jika si kembar akan lahir lebih cepat di banding prediksi.
Febri mengusap pipi bayi-bayi nya itu. Lalu setelahnya, ia mengabari orang rumah jika istrinya sudah melahirkan secara normal dan istri serta anak-anak nya lahir sehat walafiat.
Berhubung dia tak membawa ganti, ia menghubungi Dimas yang saat ini sudah bersiap pulang.
[Assalamualaikum Kapt!]
Dimas masih berada di lingkungan kantor.
[Walaikumsalam. Dim, anak-anak gue udah lahir.]
[Alhamdulillah. Selamat Kapt]
Terdengar kasak kusuk di belakangnya Dimas, yang tak lain rekan Febri dan Dimas.
[Gue minta tolong]
[Apaan?]
[Ambilin baju gue di rumah dong. Kunci di bawah keset. Tadi gue ga sempat bawa baju ganti]
[Heum, oke! Meluncur ke sana. Bareng Seto ya! Takutnya ada barang berharga Lo yang ilang, di kira gue yang nyomot]
[Serah Lo!]
Setelah mengucapkan salam, Dimas memanggilnya Seto untuk menemaninya ke rumah Febri.
Sekitar satu jam, kedua pria tampan itu sampai di ruangan rawat.
"Wei... selamat ya bro!", Dimas dan Seto menepuk bahu Febri. Febri senyam-senyum terus.
"Gue mandi bentar ya, nitip bini sama anak-anak gue. Awas, jangan di culik!", ancam Febri.
"Ga, mau gue jual di pasar gelap ntar!", sahut Seto. Dimas menyikut lengan Seto.
"Apaan?", bisik Seto.
"Bini nya Febri emang cakep ya!", bisik Dimas sangat pelan. Seto pun mengarahkan pandangannya ke Bia yang masih tertidur tanpa mengenakan hijab nya.
"Ga dosa kan kita? Ini ga sengaja!", kata Seto.
"Anggap aja ga liat!", sahut Dimas. Febri yang baru ingat istrinya plontosan pun buru-buru mandi. Dia keluar dari kamar mandi tergesa-gesa, lalu memasang kan jilbab pada istrinya.
Aku yang tidur merasa terusik karena ulah mas Febri.
"Apa sih mas?"
"Noh, duo curut. Kesenangan liatin kamu!", kayanya manyun. Dimas dan Seto hanya garuk-garuk kepala.
Karena pengaruh obat, aku tak mau ambil pusing. Setelah bertanya tadi, aku pun kembali tidur.
******
Semoga di ACC kak Mimin 😅😅😅
Kasih nama sama endingnya....kapan ya??? Lusa aaja apa ya? Besok libur dulu kali ya heheheh
Makasih ✌️✌️✌️🤭🤭🤭🙏🙏🙏
__ADS_1