
Sore menjelang. Suara binatang sore sudah saling bersahutan di semak-semak dekat kebun kami. Rumah di daerah sini memang masih agak jarang di bandingkan dengan komplek teh Salamah yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah ku.
Ya, hanya ada rumah yang ku tempati dengan rumah Wak Mus. Maklum saja, tanah ini memang peninggalan kakek nya Alby.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku yang sudah mandi, memilih bersantai di pinggir kolam sambil memberi makan ikan.
Sendiri?
Aku benar-benar sendirian saat ini.
Perasaan kecewa sudah menguasai hati ku. Tapi perasaan cinta ku pada A Alby tidak bisa terlupakan begitu saja. Mungkin dengan belajar ikhlas, aku bisa memulai semuanya. Sayangnya, ikhlas itu tentang hati. Bukan sekedar ucapan semata.
Aku mengusap perut ku yang masih rata. Dalam benak ku, aku tak ingin ia merasakan apa yang aku rasakan. Dibesarkan dan hidup di lingkungan broken home.
Keadaan dan situasi yang memaksa ku menjadi dewasa sebelum umurnya. Berusaha menepis dan bangkit dari keterpurukan tapi di patah kan oleh kenyataan bahwa aku berasal dari keluarga yang tak utuh.
'Nak, maafkan ibu jika suatu saat nanti ibu mengecewakan mu ya sayang. Tapi yang harus kamu tahu, ibu dan ayah sayang banget sama kamu'
Kuusap lembut perutku yang tertutup gamis rumahan.
'Kalau suatu saat nanti kita hanya tinggal berdua tanpa ayah ngga apa-apa kan sayang? Ibu takut...takut... sekali jika nanti kamu mengharapkan ayah selalu ada untuk mu. Karena...kamu harus tahu nak. Ayahmu tidak hanya milik mu dan milik ibu. Tapi ada orang lain yang memiliki hak sama seperti kita'
Tak terasa air mataku meleleh begitu saja. Tapi buru-buru aku menghapusnya.
Berita soal Alby yang menikah lagi sudah tersebar seantero kampung. Sebagian mencibir Alby yang kurang lebih sama dengan mendiang ayahnya. Sama-sama menikah lagi.
Sebenarnya bukan perkara nikah lagi nya, tapi lebih kepada 'situasi' pendukungnya. Ya, bagaimana tidak. Orang-orang yang dulu sempat berpikir negatif pada Mak Titin, lalu mulai bersahabat kini malah di kejutkan dengan kenyataan bahwa Mak Titin memiliki anak dari pernikahan sebelumnya yang dulu di klaim dia janda tanpa anak. Parah nya lagi, Alby menikah dengan anak Mak Titin.
Percaya lah, cctv di kampung jauh lebih canggih. Informasi apa pun lebih mudah mereka dapatkan hanya dari mulut ke mulut.
Jujur, aku enggan di kasihani. Tapi mungkin aku memang pantas di kasihani sih. Semiris ini hidupku?
Aku menarik nafas sesaat. Ponsel ku berdering beberapa saat. Tertera nomor ibu ku yang memanggil.
Rasanya begitu malas berhubung dengan ibu meski ia ibu kandung ku sendiri.
Tapi jika aku tak mengangkat telepon dari nya pasti dia akan terus mencoba nya. Akhirnya aku pun mengangkat telepon darinya.
[Hallo assalamualaikum Nduk!]
Suara ibu yang lembut mendengung di telinga ku. Bukan kelembutan yang ku rasakan, tapi rasa marah dan kecewa pada perempuan yang meninggalkan ku demi pria baru dalam hidupnya.
[Walaikumsalam]
__ADS_1
[Piye kabar mu nduk?]
[Alhamdulillah baik]
Hening beberapa saat kemudian. Tidak ada yang kembali membuka obrolan. Tapi detik berikutnya ada suara anak kecil yang memanggil ibunya.
'ibu...susu'
Sudah kupastikan jika itu suara anak ibu ku yang kecil. Ya, anak ibu ku yang besar saat ini sudah duduk di bangku kelas enam. Apa aku akur dengannya? Tidak! Bahkan bisa ku hitung berapa kali aku bertemu dengannya.
Asih memberikan susu yang ada di meja kepada anak bungsunya.
[Nduk, lagi opo?]
Akhirnya asih bisa menanyakan hal basa-basi kepada putri sulung nya yang hanya berbeda tujuh belasan tahun dengan nya
[Duduk!]
Aku hanya menjawab singkat, tak tahu akan bicara apa.
[Nduk, wes suwe koe ga muleh. Kapan arek muleh toh nduk?]
(Sudah lama ngga pulang, kapan mau pulang)
(Rumah ku di sini)
[Nduk, koe lagi ga kenapa-kenapa toh? kok perasaan ibu Awit wingi ga penak Yo. Eling koe terus]
Benarkah ibu merasakan jika aku sedang tidak baik-baik saja?
[Sejak kapan ibu cemas sama Bia?]
Suara helaan nafas terdengar di seberang sana.
[Sampai kapan koe benci sama ibu toh nduk?]
[Sampai Bia lupa seperti apa rasanya sakit hati di khianati]
Usai mengucap kalimat itu, tiba-tiba saja air mataku luruh.
[Nduk, ibu tahu ibu salah. Tolong maafin ibu nduk. Balik rene ya Nduk?]
[Ada angin apa ibu minta Bia pulang?]
__ADS_1
[Adek mu, mau sunatan. Balik ya? Udah lama banget kamu ngga pulang nduk]
Apa peduliku?? Mau sunatan kek apa kek, aku ga peduli.
[Gak. Bia ngga akan pulang.]
[Bi...Esa karo Wibi kan adek mu juga toh nduk]
[Terserah lah ibu mau bilang apa. Yang jelas , bagi Bia, Bia hanya anak tunggal bapak]
Asih menghela nafasnya lagi. Tanpa basa-basi sambungan telpon pun terputus.
Anaknya mau sunatan aku kudu balik? Sedangkan pas aku nikah aja, dia ga datang? Ibu macam apa kaya gitu?
Sudah sedang emosi dengan urusan rumah tangga ku sendiri, ibu ku yang tak pernah menghubungi ku tiba-tiba meminta ku pulang hanya untuk menghadiri sunatan adik tiriku?
Astaghfirullah!
Mataku tertuju pada air kolam. Ikan-ikan pada saling berebut pakan dari ku.
Tiba-tiba saja ada segelas minuman yang di letakkan di sebelah ku. Ada tulisan pejuang cinta di kemasan gelas itu. Aku mendongak menatap siapa yang meletakkan gelas itu disamping ku.
Ternyata mas Febri. Dia menyunggingkan senyumnya yang manis itu. Kulit nya yang sawo matang terlihat mengkilap. Sudah di pastikan dia baru saja pulang dinas. Bahkan baju loreng nya masih melekat di tubuh tegapnya.
"Ada yang bilang coklat itu memperbaiki mood loh Nduk!"
Aku masih menatapnya untuk beberapa saat. Tapi setelah itu aku menyadari bahwa aku salah jika terus menatapnya. Bukan hanya zina mata, tapi takut ada syaiton yang menggoda.
"Matursuwun mas!", ujarku sambil meraih gelas itu.
"Sesekali gak apa nduk! Yang penting jangan terlalu banyak makan atau minum yang manis-manis. Ngga baik buat kandungan kamu."
Aku tersenyum mendengar perhatian yang ia tunjukkan padaku.
"Terima kasih buat perhatiannya mas. Harusnya kamu ngga usah berlebihan seperti ini."
"Ngga berlebihan lah Nduk. Ya udah di minum Yo? Mas mau mandi dulu." Febri pun berpamitan padaku.
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Terus terang aku takut jika ada yang melihatnya malah menimbun fitnah. Apalagi urusan Alby masih santer jadi bahan gosipan orang kampung.
Aku menyeruput es coklat yang Febri bawa, mungkin karena jarak antara tempat ia beli dan kampung cukup jauh. Alhasil, es nya sudah tak anyes lagi.
Selang beberapa menit kemudian, azan magrib berkumandang. Aku pun kembali masuk ke dalam rumah untuk mendirikan tiga rakaat ku.
__ADS_1