Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 207


__ADS_3

Amara menghampiri Febri yang masih terlihat membuka matanya meski sesekali terpejam. Merasakan sakit karena luka tembakan.


"Kapt!", Amara memangku kepala Febri. Detik berikutnya, ternyata Seto turut mendekati Febri. Orang yang di hajar habis-habisan oleh Amara sudah tak berdaya dan sudah di amankan oleh rekannya yang lain.


"Feb! Lo dengar gue kan?", Seto menampar pipi Febri. Seto panik karena Febri terpejam dengan nafasnya yang sudah naik turun.


"Heum!", sahutan Febri.


"Mara, Lo bantu yang lain. Febri urusan gue!", ujar Seto mencoba mengalihkan Amara dari Febri.


"Ngga Let, saya mau sama mas Febri!", kata Amara.


"Lo dengarin gue! Biar Febri sama gue!", bentak Seto.


"Udah...udah...gue ngga apa-apa!", kata Febri dengan nafas tersengal-sengal.


Seto kembali fokus dengan sahabatnya. Ia memeriksa tubuh Febri yang tertembak.


"Tadi saya dengar ada tiga kali tembakan Let!", kata Amara.


Seto memeriksanya. Tapi ternyata ada dua luka di pinggang dan paha bagian dalam Febri. Mungkin si penembak bukan ahli di bidangnya karena dengan jarak sedekat itu bisa saja ia menembak bagian vital kehidupan Febri.


"Jantung gue aman To!", kata Febri. Dia masih menunjukkan jaket anti peluru. Seto mengangguk. Tapi dia tetap khawatir karena pinggang dan paha Febri banyak mengeluarkan darah.


"Yang hampir ga aman....huh...huh...masa depan gue sama Bia....hhh..h...h...!", kata Febri tersengal-sengal. Seto awalnya tak paham hingga akhirnya ia menyadari jika tembakan itu nyaris mengenai 'anu'. Bisa ae si penjahit tuh, nembak nya milih-milih!


Sialan Lo Feb, di posisi hidup dan mati begini masih aja ngomong kaya begituan! Gila nih bocah! Batin Seto.


"Masih aman Feb! Lo belum mau mati kan?", tanya Seto.


"Sialan Lo! Gue ga mau mati disini! Gue belum kawin sama Bia!", kata Febri.


"Nikah Febri! Ya elah! Sebenarnya Lo ketembak apa gak sih???", Seto mulai emosi.


Tapi setelah mengatakan omongannya yang tak di saring, Febri malah terdiam dan menutup matanya.


"Feb! ngga usah bercanda deh?! Lo baik-baik aja kan???", Seto mulai menampar pipi Febri. Berharap Febri bangun dan menimpali ocehannya.


"Feb, dengerin gue!"


Plak...plak...


Seto menampar pipi Febri berkali-kali. Dia mulai panik. Beberapa saat kemudian ada petugas medis yang menghampiri mereka.


"Feb! Lo janji mau kembali buat Bia! Buka mata Lo!", pekik Seto. Petugas medis membawa tubuh tinggi besar itu ke dalam ambulans. Warga sipil yang di dekat Febri tadi pun turut di bawa.


"Feb, Lo pasti bercanda! Lo tadi masih sempet bercandain gue! Buka mata Lo! Ini bukan Lo banget!", Seto masih terus mengoceh sendiri. Amara mengikuti langkah orang-orang yang ada di hadapannya.


Nggak! Febri pasti baik-baik saja! Dia masih bercanda tadi! Pasti lukanya ngga serius! Seto mencoba menenangkan dirinya dan berpikir positif.


Tapi kenyataannya berbeda. Darah di pinggang Febri benar-benar sangat banyak. Wajah Febri pun sudah mulai pucat.


"Ada yang tahu apa golongan darah korban?", tanya petugas medis dalam bahasa Inggris.


"Kebetulan golongan darahnya sama dengan saya!", kata Amara. Ya, sepertinya dia sangat tahu sekali sosok laki-laki yang ia cintai dari dulu.


"Baik, setelah sampai di rumah sakit kita akan memeriksa nya. Hanya antisipasi, takut jika persediaan darah korban tidak ada di rumah sakit!", ujar petugas medis tersebut. Amara mengangguk paham.


Seto yang tak bisa bahasa Inggris pun hanya memperhatikan obrolan keduanya. Tapi sedikit paham saat dokter mengatakan kata 'blood' berati Febri membutuhkan darah.


.


.


Hari sudah mulai terang. Aku mulai membersihkan dapur ku sambil mencari-cari keberadaan cincin ku. Perasaan ku belum tenang sebelum aku mengetahui kabar Febri dan juga sebelum menemukan benda kecil itu.


"Belum ketemu nduk?", tanya Lek Dar.


"Belum Lek, perasaan aku mengibas tangan ku pelan tapi kenapa ngga keliatan jatuh di mana?"


"Lek bantu cari deh!", katanya.


Aku masih berjongkok mencari-cari barang itu sampai ke bawah lemari. Tapi hasilnya nihil.


Sampai akhirnya aku merasa lelah sendiri. Aku duduk lesehan sambil bersandar ke tembok. Ku dongakan kepala ku menatap langit-langit dapur.


Semoga ini bukan pertanda buruk ya Allah! Ku pejamkan mataku.


"Insyaallah nanti ketemu kok nduk!", kata lek Dar. Aku mengangguk saja.


Di saat aku mulai putus asa, ternyata rezeki masih berpihak padaku. Aku melihat sesuatu berkilauan di sudut rak sepatu-sepatu lamaku yang di simpan dalam dus.


Aku berjongkok lagi lalu melihatnya untuk memastikan apakah itu benda yang aku cari dari tadi. Benar, itu cincin ku. Aku mengambilnya.


"Alhamdulillah! Masih rezeki ku!", kataku pelan.


"Tuh kan...ketemu! Kalo udah rejeki ngga kemana nduk!", kata Lek Dar.


"Iya lek, Alhamdulillah!", kataku sambil kembali memakai cincin ku. Tatapan ku beralih ke rak sepatu jaman aku SMA dulu. Sungguh, lek Dar ini benar-benar tipikal orang yang rapi. Bahkan barang ku yang sudah tak terpakai bertahun-tahun masih di simpan di sini.


Aku mengambil dus sepatu itu. Ada beberapa tumpuk kotak sepatu di sana. Tapi aku hafal, salah satu itu milikku. Itu sepatu pemberian Febri saat ia pertama kali menerima gaji sebagai abdi negara.


Aku membuka kotak itu. Warnanya sudah pudar meski masih terlihat bagus.


"Masih bisa di pake kayanya!", kata lek Dar sambil memotong sayuran.


"Heum? Udah jadul Lek!", sahutku.


"Jadul atau ngga yang namanya sepatu masih di pake di kaki toh??", lek Dar terkekeh. Dia mulai menggoda keponakannya agar sedikit melupakan tentang kekhawatirannya pada Febri.


Di lain tempat....


"Mara, coba Lo tanya gimana hasil operasi nya Febri?", kata Seto pada Amara. Sudah tak lagi memikirkan tentang pangkat masing-masing.


"Nanti mas Seto, dokter belum selesai!", kata Amara. Beruntung ada rumah sakit yang masih aman dari amukan pengkhianat negara itu.


Pintu kamar operasi terbuka. Amara yang lebih paham bahasa Inggris pun menanyakan keadaan Febri.


Ternyata, persediaan darah di rumah sakit ini masih aman. Jadi Amara tak perlu mendonorkan darahnya.


"Apa katanya Mar?", tanya Seto lagi.


"Puji Tuhan, operasi nya berjalan lancar mas!", kata Amara.


"Alhamdulillah!", Seto mengusap wajah nya. Dia merasa lega sahabatnya masih bisa di selamatkan.


Entah apa jadinya jika hal buruk menimpa sahabatnya itu. Meski mereka sering kali bertengkar, tapi tetap saja persahabatan mereka tak perlu di ragukan.


"Btw, gue minta maaf soal tadi ya Mar!", kata Seto.

__ADS_1


"Ngga apa mas, wajar kalo mas Seto panik. Aku juga tadi sempat panik. Seandainya aku bisa lebih cepat mencegah penembak itu, Mas Febri tidak akan seperti ini."


"Tidak ada yang perlu di sesali. Yang penting Febri baik-baik saja", kata Seto.


Dokter itu menatap intens pada wajah Amara yang terlihat kotor karena debu dan ada sedikit luka goresan. Dia menawarkan diri untuk mengobati Amara, awalnya gadis itu menolak tapi dengan bujukan Seto akhirnya Amara pun mau di obati.


Di tengah aktivitas mengobati luka Amara, keduanya mengobrol banyak hal. Dan dari sana, Amara punya keberanian untuk meminjam ponsel dokter tersebut. Beruntungnya, dokter itu menyambutnya dengan baik.


Dengan di temani dokter, Amara masuk ke ruangan Febri di rawat. Di sana Seto masih standby disamping Febri yang masih belum sadarkan diri.


"Lettu Seto!", panggil Amara. Seto pun menoleh.


"Ya, Let?", sahut Seto sambil berdiri. Kini keduanya sudah kembali bersikap formal.


"Ehem... bagaimana kalau kita hubungi Bia, setidaknya...dia harus tahu kondisi Mas Febri saat ini."


Seto mengernyitkan alisnya.


"Sebaiknya tidak usah, takutnya nanti Bia malah cemas. Kamu lihat sendiri, Febri masih belum sadar", jawab Seto menegaskan.


"Justru karena itu, kita harus mengabarinya. Kalo tidak, hubungi saja orang tuanya!", kata Amara lagi.


"Bagaimana kita menghubunginya? SIM card kita tidak berlaku di sini!"


"Dokter Frans mau meminjamkannya Let!", kata Amara. Seto menatap dokter tersebut. Meski tak tahu obrolan apa yang di bahas kedua rekan kerja itu, dokter Frans paham apa yang mereka maksud.


Usai menimbang-nimbang akhirnya Seto menyetujuinya. Ia mencari ponsel Febri. Sayangnya, ponselnya dalam kondisi mati total. Tak mungkin menunggu ponsel itu menyala lebih dulu, kasian dokter Fransnya. Mungkin dia ada pasien lain.


Tujuan awal, Seto ingin menelpon pak Bambang. Mencari kontak nya di ponsel Febri. Sayangnya, ponselnya tak bisa di ajak kerjasama. Yang dia punya justru nomor Bia, mau tak mau ia memberikan nomor itu pada Amara.


"Kamu saja yang telpon Bia, aku ...aku ngga tega nyampeinnya!", kata Seto.


Amara menghela nafasnya sebentar lalu menekan nomor yang Seto berikan.


.


.


Sudah jam sepuluh pagi, kondisi rumah juga sudah lengang. Kedua lek ku sudah ke warung. Aku pun bersiap ke sana.


Ponsel ku yang ku letakkan di atas nakas berdering. Aku pun menyahutnya. Ada video call dari nomor asing, bahkan nomor nya bukan +62.


Karena penasaran aku pun mengangkatnya.


[Hallo]


[Hallo, mba Bia?]


Di layar ponsel ku menunjukan sosok wanita cantik yang beberapa hari lalu bertemu dengan ku, Lettu Amara.


[Lettu Amara?]


Amara mengangguk samar.


[Iya , Bia]


[Eum...]


[Panggil saja Amara]


[Baiklah Amara, ada apa?]


Mendadak perasaan ku ngga enak. Aku mendengar helaan nafas dari Amara.


Samar-samar ku dengar orang-orang berbicara dengan bahasa asing. Ruang rawat Febri tidak seperti ruang rumah sakit yang normal. Di sini serba terbatas. Masih beruntung, tempat itu tak diserang. Dan Febri masih bisa melakukan operasi.


Amara memutar kamera nya mengarah ke Febri yang masih terpejam. Seto duduk di sampingnya.


[Astaghfirullah, mas...mas Febri kenapa?]


Tiba-tiba aku panik sambil menutup mulut ku. Tanpa aba-aba air mataku meleleh.


[Mas Febri tertembak, Bia]


[Ya Allah....]


Aku terkulai lemas bersandar di dipan tempat tidur ku.


[Tapi, puji Tuhan mas Febri masih bisa di selamatkan. Dokter sudah mengoperasi mas Febri]


[Mas Febri ngga parah kan?]


[Dia luka tembak di pinggang dan pahanya]


Aku memejamkan mata ku. Aku tak tega melihat kondisi Febri seperti itu.


[Mas Febri butuh dukungan kamu, Bia. Di sini kami susah menghubungi mu. Beruntung, ada dokter yang mau meminjamkan ponselnya]


Aku mengangguk.


[Sampai kan ucapan terimakasih ku pada dokter itu, Amara]


Ku dengar sayup-sayup Amara menyampaikan ucapan terima kasihnya.


[Boleh dekat kan ponselnya ke Mas Febri?]


Amara mengangguk. Seto mengulurkan tangannya untuk memegangi ponsel dokter Frans. Ponsel itu tepat di hadapan wajah Febri yang masih memejamkan matanya.


[Mas, bisa bangun kan? Buka mata kamu!]


Amara terharu mendengar kalimat itu, begitu pun dengan Seto.


[Mas, kamu dengar aku kan? Kamu pasti baik-baik aja kan mas? Kamu janji, akan kembali buat aku? Ku mohon buka mata mu?]


Lagi-lagi aku menangis! Cengeng!!!! Aku langsung menghapus air mataku lagi.


[Buka mata kamu mas! Kalo ngga aku bakal marah!]


[Mas....]


[Bia, sabar Bi. Insyaallah Febri baik-baik saja. Tadi sebelum operasi dia juga masih sempet bercanda sama aku. Dia akan kembali buat kamu! Febri itu kuat, kamu tenang saja!]


[Mas Seto...tapi beneran kan mas Febri ngga apa-apa?]


Bohong kalo dijawab ngga apa-apa! Seto menyerahkan ponselnya pada Amara lagi.


Ditengah ocehan ku pada Seto, Febri melenguh. Dia mulai sadar dari pingsannya. Mungkin terganggu karena suara cempreng ku.


"Feb? Lo udah sadar Feb?", Seto menepuk pipi Febri.

__ADS_1


"Sssh... sakit **go, ngapain nampar sih!", kata Febri sambil mendesis menahan nyeri di pinggang dan pahanya.


"Alhamdulillah, Lo masih ngomel berati Lo udah baik-baik aja!", kata Seto lega.


[Mas!]


"To, gue lagi ngimpi ya? Kok kaya dengar suara Bia?", tanya Febri pelan tapi masih terdengar oleh Bia.


[Mas, kamu udah sadar?]


Amara memberikan lagi ponselnya pada Seto.


[Nduk?]


Mata Febri berbinar. Sepertinya dia lupa sakit yang dia rasakan. Seto memutar bola matanya jengah.


[Alhamdulillah kalo mas udah baik sekarang!]


Lega, itu yang aku rasakan!


[Huum, aku janji kan sama kamu. Aku bakal kembali, buat kamu. Insyaallah, aku akan baik-baik saja Nduk]


Lettu Amara memandang ke arah lain, tak sanggup mendengar sepasang kekasih itu menyalurkan rasa perhatian satu sama lain. Dan dokter Frans menangkap hal itu.


[Cepat pulih mas. Jangan sampai kenapa-kenapa lagi! Aku mohon!]


[Iya nduk, insyaallah]


[Bilang terima kasih sama Lettu Amara dan dokter yang sudah meminjamkan ponselnya mas]


Febri menatap Amara sekilas. Lalu ia pun mengucapkan terima kasih pada kedua orang berbeda profesi itu. Keduanya hanya mengangguk.


[Bagaimana aku menghubungi mu lagi nanti mas? Aku belum tenang kalo kamu masih di rawat seperti ini?]


Febri menoleh pada Seto. Seto mengangkat bahunya.


[Nanti mas pikir kan nduk]


Meski suaranya pelan, tapi aku tetap lebih merasa tenang melihat kondisi Febri saat ini. Dan...ya...aku tahu, selama ia di sana marabahaya masih mengintai nya.


[Mas Seto, nitip teman mu ya!]


[Siap, Bi]


Usai berkangen-kangen ria , panggilan video itu pun selesai.Meski khawatir dengan kondisi Febri, tapi saat melihat kondisi nya seperti itu aku sedikit lega.


Febri berbicara dengan berbahasa Inggris pada dokter Frans.


"Dok, apa ada efek kedepannya karena luka tembakan ini ?", tanya Febri.


Dokter itu tersenyum tipis.


"Sejauh pengamatan saya, masih aman!"


"Bagaimana dengan masa depan saya?", tanya Febri. Dokter itu menautkan alisnya tanda tak paham. Apa yang di maksud dengan masa depannya. Sampai akhirnya ia berhasil memecahkan teka-teki Febri.


"Hanya nyaris mengenai pak, tidak sampai benar-benar melukainya. Dan yang di pinggang juga masih aman, tidak berpengaruh dengan kesuburan anda!", jawab dokter.


Amara meneguk salivanya.


Bisa-bisanya di tengah sakit begini mikirin begitu??? Segitu cintanya kah Febri sama Bia??? Batin Amara.


Beruntung Seto tak paham obrolan itu. Andai tahu, dia pasti sudah mengumpat dari Sabang sampai Merauke.


Dokter dan Amara meninggalkan ruangan Febri. Seto masih berada di samping sahabat nya itu.


"Dokter ngomong apa Feb?", tanya Seto.


"Lo dengar nya apa?"


"Ngeledek apa gimana? Lo tahu gua ga bisa basa Inggris! Untung sakit lo, kalo lagi waras udah gue gibeng!", kata Seto seolah ingin menyikut Febri.


"Orang yang di hajar Amara, ngga mati kan? Gue ngeri liat dia marah!", kata Febri.


"Ga tahu kagak, ga tahu belum. Gua ga pantau!', sahut Seto. Febri pun mengangguk.


"Gue udah ngga apa-apa To, Lo bisa balik kerja lagi!", kata Febri.


"Gak. Gue mau pastiin dulu Lo udah benar-benar baik, baru gue tinggal?!", kata Seto tegas. Febri hanya menghela nafasnya.


"makasih ya To!"


"Heum!"


"To!"


"Apa?"


"Boleh geer ngga sih gue?"


"Lo biasa kegeeran kali Feb!", sahut Seto sambil terkikik. Dia sudah tak terlalu menghawatirkan sahabatnya lagi, sedikit!


"Gue boleh ngga sih geer kalo.... Bia udah beneran mau terima gue? Lo liat kan gimana dia khawatirin gue?"


"Ya...ya..ya... kalo dia mau nolak Lo, dia ga bakal terima lamaran pak Bambang!"


Ucapan Seto memberi sedikit cerca kebahagiaan untuk Febri. Semoga saja apa yang dia pikirkan benar!


.


.


Alby sudah menggendong bayinya. Sebelum ke mobil, ia menyempatkan diri mengunjungi Silvy meskipun dari balik kaca.


"Nabil, itu bunda!", Alby mengajak bicara bayinya yang masih memejamkan matanya.


"Vy, kamu ngga mau liat Nabil? Buka mata kamu Vy!"


"Lihat, Nabil udah sehat. Aku bisa membawanya pulang! Kamu juga, cepat buka mata kamu. Jangan tidur terlalu lama. Kamu bilang mau rawat Nabil sama-sama!", kata Alby.


Perlahan, mata Alby mengembun. Dia memandang Silvy dan Nabil bergantian. Sesak sekali rasanya!


"Kita pulang ya Nak! Bunda pasti bangun, mau gendong Nabil!", kata Alby.


Perawat yang melintas dan tahu kondisi Silvy pun hanya menatap iba pada pria tampan yang berstatus papa muda itu.


Alby sudah menyiapkan tempat untuk membaringkan bayinya. Dengan sangat pelan dan hati-hati, Alby menjalan laju mobilnya menuju ke rumah.


*****

__ADS_1


Udah ada gambaran kan??? Ya maap kalo ngga sesuai ekspektasi ✌️😆😆😆 makasih 🙏


Insyaallah lanjut lagi ntar malem 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2