Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 27


__ADS_3

"Bagaimana operasi ibu saya dok?", tanya Alby pada dr.Sakti.


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar", jawab dr sakti.


"Alhamdulillah!", gumam Alby.


"Maaf, Shabia nya mana ya?", mata sakti mencari perempuan yang pernah mengusik hatinya.


"Em...sedang ke toilet dok."


"Owh ...Kalau begitu, saya permisi mas Alby. Beberapa jam lagi, beliau bisa dipindahkan ke ruang rawat."


"Terimakasih dok!", kata Alby menganggukkan kepalanya. Sakti pun berlalu dari hadapan Alby dan kedua orang yang tak di kenal nya.


"Semua biaya sudah saya tanggung By. Jadi, lebih cepat lebih baik bukan acara pernikahan kalian?", tanya Hartama tanpa memikirkan perasaan Alby.


"Tuan, saya tahu saya berhutang budi kepada anda. Saya menuruti keinginan anda. Tapi kenapa anda merusak semua rencana saya. Anda tiba-tiba berada di sini lalu mengatakannya kepada istri saya. Kenapa anda melakukan hal ini tuan?!", kata Alby frustasi.


"Kamu pikir kamu siapa mencoba mengatur ku? Aku bisa kapan saja datang ke rumah sakit ini. Enam puluh persen saham rumah sakit ini atas namaku!"


Alby meremas rambutnya hingga ia bersimpuh di depan pintu ruang operasi.


Mang Sapto mendekati Alby lalu ikut duduk di hadapan Alby.


"Kamu yang sabar By. Insya Allah neng Bia perempuan yang kuat. Dia pasti akan memahami posisi kamu. Semua akan baik-baik saja kedepannya."


"Tapi Alby sudah menyakiti dan mengecewakan Bia mang!", kata Alby lirih di sela isaknya.


"Jangan menyia-nyiakan pengorbanan Bia. Lihatlah sekarang. Ibu mu sudah berhasil di selamatkan. Meskipun sulit, tapi mamang yakin kamu bisa melewatinya."


"Hati Bia pasti hancur Mang!"


"Saya tak peduli seperti apa perasaan istrimu By. Yang harus kamu tahu, kamu hanya perlu membahagiakan putriku. Sedikit saja kamu mengecewakan Silvy. Tidak hanya hidup ibumu dan hidup mu yang akan terusik. Tapi juga istrimu. Sampai ke ujung dunia pun, saya tidak akan membuat kalian tenang. Jadi, bersikap lah yang baik. Terutama pada putriku. Dua hari lagi pernikahan kalian akan di gelar. Sapto! Kita kembali! Dan kamu Alby, jangan coba-coba untuk kabur dari pernikahan itu. Saya bisa melakukan apapun untuk menghancurkan kalian semua!", setelah mengatakan ancaman itu, Hartama berjalan meninggalkan Alby dan Sapto.


"Mamang cuma bisa bilang, yang sabar ya Jang. Allah tidak akan membebani umatnya melebihi kemampuan nya."


Sebuah tepukan hangat mendarat di bahu Alby. Sapto memang bukan siapa-siapa, tapi baginya keadaan Alby memang sangat sulit.


"Mamang pulang ya Jang. Kamu jaga diri. Setelah tenang, baru lah ajak istri mu bicara. Dia pasti akan mengerti."


"Iya mang."


"Mamang pergi ya, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Sepeninggal Hartama dan Sapto, Alby memilih duduk di bangku.

__ADS_1


Ia meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Bia. Tapi sayangnya, ponsel Bia ada di tas. dan tas itu ada di sampingnya.


Ya Allah neng, kamu ke mana?


Alby menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kenapa harus seperti ini ya Allah,kenapa???? Teriak Alby dalam hatinya.


Di sisi lain....


Aku memilih mushola sebagai tempat pelarian ku. Kepada siapa lagi aku akan mengadu jika bukan pada yang kuasa.


Kenapa hal ini begitu menyakitkan. Suami ku mengorbankan perasaan ku demi pengobatan Mak. Padahal jika dia mau, aku bahkan bisa memberikan semua hartaku untuknya.


Tapi kenapa dia memilih menjual harga dirinya kepada orang asing yang sama sekali tidak ia kenal!


Bodoh! Kamu bodoh A! Runtuk ku dalam hatiku. Aku masih menangis di sela doa ku usai bersujud tadi.


Kenapa tuan Hartama begitu tega melakukannya pada keluarga ku. Dia tak memikirkan perasaan orang lain. Manusia egois itu hanya memikirkan putri nya. Apa dia tidak berpikir jika keadaannya terbalik? Bagaimana jika suami putri nya di rebut orang lain???


Apa kekuasan dan uang membuat nya bebas melakukan apapun???


Ya Allah.... sakit...sakit dada ini ya Allah.


Entah sudah berapa lama aku berada di sini, hingga aku menyadari jika waktu solat dhuhur tiba. Orang-orang berdatangan untuk melakukan empat rakaat itu.


Aku pun melakukan hal yang sama. Ku dirikan empat rakaat ku, mengikuti gerakan imam di depan.


Ku lepas mukena yang di fasilitasi mushola rumah sakit. Sedikit memperbaiki letak jilbabku sebelum aku berdiri.


"Bia, kamu di sini?", tanya seseorang tiba-tiba. Aku menengok ke arah tersebut.


"dokter Sakti? Anda di sini? Berati, operasi Mak sudah selesai?", tanyaku.


Sakti memandangi mata sembab perempuan yang pernah ia cintai beberapa tahun yang lalu, mungkin saat ini pun masih.


"Sudah sekitar satu jaman mungkin Bi. Kamu dari tadi di sini?", tanya Sakti yang tak lepas memandangi mata sembab Bia.


"Eum...iya dok."


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar Bi. Doamu dikabulkan. Sudah, jangan menangis seperti itu."


Aku mencoba tersenyum.


"Alhamdulillah, terimakasih dok."


"Jangan panggil dokter saat aku tidak bertugas Bi."

__ADS_1


Aku mendongak menatap lelaki berkemeja biru laut dengan lengan yang dilipat sampai siku.


"Lalu?"


"Panggil 'mas' lebih baik."


Aku mengangguk kecil. ''Iya mas!"


"Aku mau kembali ke ruangan ku. Kamu mau ke ruang operasi lagi? Tapi maaf, ibu mertuamu belum bisa di jenguk. Nanti kalo sudah pindah ke ruang rawat, kamu baru bisa menemuinya."


"Iya mas. Sekali lagi terimakasih."


Sakti mengangguk setelah itu ia meninggalkan ku di depan mushola.


Aku menarik nafas ku dalam-dalam. Jika aku ke sana, sudah ku pastikan si Aa juga ada di sana. Aku belom sanggup untuk berbicara dengan nya. Mungkin butuh waktu.


Perlahan aku melangkahkan kaki ku menuju ruang operasi.


Setelah dekat, kulihat Alby duduk di bangku dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya.


Aku meraih tasku yang ada di bangku sebelah. Merasa kehadiran ku, Alby pun mendongak.


"Neng!", Alby berdiri dan mencoba menyentuh ku. Tapi aku memundurkan tubuhku.


"Neng, kita harus bicara sayang!"


Aku tak menyahutinya.


"Tolong!", ucap Alby memohon.


"Aku kembalikan ke sini buat melihat keadaan Mak. Bukan untuk menemui mu!", kataku ketus. Iya, inilah aku. Aku bisa bersikap lemah lembut. Tapi saat hatiku sakit seperti ini, aku bisa saja berkata ketus apalagi kasar.


"Neng...!", ucap Alby lirih.


"Silahkan lanjutkan pernikahan mu dengan anak majikan mu itu A. Aku memilih mundur, aku tidak bisa berbagi. Jadi, lebih baik aku yang mengalah. Tenang saja, aku tetap akan merawat Mak. Sampai beliau benar-benar sehat dan bisa mandiri tanpa bantuan ku."


"Shabia Ayu! Dengarkan Aa. Sampai kapan pun Aa tidak akan pernah menceraikan mu!", Alby memegang kedua bahuku.


Air mataku lolos lagi didepan suamiku.


"Kenapa? Kenapa A? Sudah ku bilang, aku ngga bisa jika harus berbagi. Poligami itu memang diperbolehkan, salah satu syariat dan hal itu sunah. Tapi aku...aku tidak bisa menjalani nya A. Aku bukan perempuan kuat seperti mereka yang mampu menjalani kehidupan seperti itu. Iman ku masih dangkal A. Aku ngga bisa. Ngga bisa!"


Sekarang aku terduduk di bangku. Bahuku terguncang seperti halnya hatiku yang sudah porak poranda dengan semua ini.


Alby duduk di depan kaki ku. Meletakkan kepalanya di pangkuan ku. Ku dengar isakan dari mulut nya.


"Aa juga tidak mau seperti ini neng. Aa hanya mencintai mu. Kamu dengar sendiri apa yang tuan Hartama lakukan. Aa sama sekali tak berniat menduakan mu neng. Aa cinta sama kamu neng. Cuma kamu Shabia Ayu!", kata Alby menenggelamkan kepalanya di pangkuan ku.

__ADS_1


Bodoh nya aku, tanganku justru reflek mengusap kepala A Alby.


Aku mendongak menatap langit-langit lorong rumah sakit. Apa yang harusnya ku lakukan????


__ADS_2