
Sudah lebih dari lima belas menit Alby belum juga keluar dari kamar mandi. Padahal kran air sudah tak terdengar dari tadi. Sebab apa yang Alby lakukan di dalam sana?
Tapi beberapa menit kemudian, Alby keluar dengan kondisi yang sangat berantakan. Pria tampan ku terlihat sangat kusut saat ini. Wajahnya masih terlihat basah terkena air. Bahkan kaosnya pun terlihat ada bekas percikan air.
Dia berjalan ke arah brankar Mak. Tapi aku pura-pura tak memperhatikannya. Hingga sudut mataku menangkap ada luka di punggung jemarinya. Terlihat memar , merah , lecet dan sedikit mengeluarkan darah. Andai hal buruk tak terjadi, sudah ku pastikan aku akan merawat luka itu. Tapi untuk saat ini, aku berusaha menekan rasa peduli ku padanya.
Alby menatapku dengan tatapan matanya yang sayu.
"Aa ngga liat kamu makan dari pagi neng. Makan dulu ya, Aa beliin. Aa ngga mau neng sakit."
Aku tak menyahutinya.
Perlahan aku bangkit dari duduk ku dan berjalan keluar.
"Neng, mau ke mana?", ia meraih tangan ku. Tapi ku tepiskan. Tanpa menjawab, aku pun keluar dari ruang rawat Mak.
Setelah berada di luar, aku memanggil perawat yang kebetulan lewat.
"Sus...!", panggil ku.
"Ya , Bu? Ada yang bisa saya bantu?", tanya si perawat itu.
"Sus, boleh ngga minta tolong. Di dalam, tangan suami saya luka. Tapi ...saya phobia sama darah sus, dan juga saya ngga tegaan. Bisa ngga suster bantu obatin lukanya? Nanti tagihannya tinggal masukin ke tagihan kamar ibu saya."
Perawat itu tersenyum.
"Baik Bu, kalo begitu saya ambil obat dan peralatannya dulu ya bu."
"Iya sus. Nanti langsung masuk saja ya sus. Saya mau ke musholla dulu!", kataku pada perawat tersebut.
"Iya Bu."
Aku pun pergi dari lorong depan ruangan Mak. Kaki berjalan menuju ke musholla. Lagi-lagi, aku tak sengaja bertemu dengan sakti.
"Ketemu lagi Bi?", sapa sakti.
"Eh ...iya mas!", jawabku kikuk.
"Mau jamaah?", tanya nya. Aku melihat ke sekitar. Ada beberapa orang yang masih bersiap untuk menjalankan ibadah nya.
"Boleh deh mas!"
Setelah mengatakan itu, sakti pun menempatkan diri menjadi imam. Ada beberapa makmum pria, tapi hanya Bia makmum wanita kali ini. Shalat ashar ini berasa khusu' dan hening.
Empat rakaat pun selesai. Masing-masing dari mereka pun ada yang langsung keluar ada pula yang masih bersimpuh seperti ku. Ku lihat sakit pun berada di sana. Dia masih menengadahkan kedua tangannya ke atas meminta pada sang kuasa.
Aku masih menikmati kesendirian ku bermanja-manja pada yang kuasa. Memejamkan mataku sambil merapalkan zikir di jemari ku.
Sakti sebenarnya ingin menyapa Bia lagi. Tapi sepertinya Bia masih khusu'dengan doanya. Akhirnya, Sakti berlalu tanpa menyapa Bia seperti awal bertemu tadi.
__ADS_1
Di ruang rawat Mak, seorang perawat masuk.
"Permisi pak?", sapa si perawat ramah.
"Ya , sus? Ada apa?", tanya Alby.
"Saya di minta untuk mengobati luka di tangan anda pak. Istri bapak yang meminta nya tadi."
Alby tertegun. Dia tahu, semarah apa pun Bia dia pasti masih sangat peduli padanya. Karena Alby sadar, Bia sangat mencintainya. Apa yang dia lakukan saat ini adalah bentuk pemberontakan dari rasa kecewanya dan sakit hatinya.
"Silahkan sus!", Alby menyerahkan tangannya di hadapan perawat tersebut.
Sepasang suami istri lagi berantem kali ya? Masyaallah, nih orang kok gantengnya kebangetan sumpah! Astaghfirullah! Pekik si perawat dalam hatinya.
Sekitar lima menit, perawat itu sudah selesai mengobati luka Alby.
"Terimakasih sus!"
"Sama-sama pak. Permisi!", ucap nya sopan. Alby pun mengangguk. Sekarang dia kembali duduk di samping brankar Mak. Tangan nya menguap punggung tangan Mak.
"Mak, bangun ya Mak. Alby tahu, hanya Mak yang bisa meyakinkan Bia. Alby sayang sama Bia Mak!Tolong Mak", Alby tertunduk sambil menggenggam tangan Mak.
Usai dari mushola, aku menuju ke kantin rumah sakit. Tidak terlalu ramai saat ini, karena ini memang bukan jam makan siang.
Aku memilih duduk di salah satu sudut meja yang memunggungi pintu masuk kantin.
"Teh, pesan nasi sayur dan lauk ayam ya. Minum nya teh tawar hangat!"
Sambil menunggu pesanan ku datang, aku memainkan ponselku.
Saat ku buka, wallpaper di ponsel ku menunjukkan foto mesra ku dengan Alby. Indah...ya...indah sekali momen itu. Tapi sedetik kemudian, aku merubahnya. Tak ada lagi foto kami terpajang di ponsel ku.
"Ini teh pesanannya."
"Makasih teh!"
Usai menerima makanan itu, aku pun mulai memakannya. Meski dari pagi aku belum makan apa pun, tapi rasa emosi sudah mengurangi napsu makanku. Terbukti aku baru makan di jam segini. Andai aku berniat puasa dari tadi malam, mungkin itu lebih baik.
Eh...puasa? Aku menghentikan makanku. Kuraih ponselku lagi.
Udah tanggal segini, kenapa aku belum haid ya?
Aku mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali aku menstruasi. Tiba-tiba napsu makan ku hilang.
Bagaimana ini? Bagaimana kalo aku hamil? Aku kan ingin mengajukan permohonan pisah dari Alby? Tapi kalo hamil??? Ya Allah....!
Aku meraup wajah ku.
"Teh, berapa?", aku bertanya pada teteh kantin.
__ADS_1
"Dua puluh teh!"
Aku menyerahkan uangku. Tak lupa aku ucapkan terima kasih padanya.
Tujuan ku saat ini adalah apotek rumah sakit. Aku ingin memastikan apakah aku benar-benar hamil atau tidak. Aku tak tahu apa yang harus aku putuskan jika di dalam rahimku ada janin, anak dari Alby!
"Permisi teh. Mau beli respek dua ya!", kataku.
Si penjual pun memberikan dua buat respek dengan merk yang berbeda. Aku akan langsung mencobanya setelah ini. Meskipun aku tahu, alat ini lebih efektif di pakai di pagi hari. Tapi jika memang hamil, kapan pun waktu mengetesnya sudah pasti positif. Mumpung aku di rumah sakit, aku juga akan memastikan ke dokter.
Aku berjalan menuju toilet yang tak jauh dari apotek. Aku mengambil wadah untuk menampung air seni ku. Dengan perasaan campur aduk, aku mulai mencelupkan alat itu bersama-sama.
Setelah kurasa cukup, aku pun mengangkat kedua tespek itu. Ku tarik nafas perlahan. Semenit berlalu dan menit berikut...aku menatap nanar dua garis di masing-masing alat itu.
Air mataku meleleh membasahi pipi ku.
Antara sedih dan senang berkecamuk dalam hati ku. Rasa senang ku, karena pada akhirnya Allah menitipkan janin di rahim ku. Tapi rasa sedihku pun mendominasi. Bagaimana masa depan anak ku nanti jika ayah dan ibunya berpisah? Apa aku harus egois? Apa aku harus mengalah,LAGI????
Aku menyimpan hasil tes itu, setelah itu aku menuju ke loket pendaftaran untuk berkonsultasi dengan dokter.
"Selamat sore dok!", sapa ku.
"Selamat sore nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
Aku mengeluarkan dua tespek dari dompet ku.
"Ini hasil tespek saya dok. Saya ingin memastikan bagaimana kondisi janin saya dan berapa usia kandungan saya. Soalnya saya tidak ingat kapan HPMT nya dok!"
Dokter cantik itu tersenyum.
"Mari ikut saya. Anda berbaring terlebih dulu."
Aku pun menurut. Dokter itu menekan perut bagian bawah ku. Setelah itu ia mengoles gel itu di perutku. Ia menggerakan alat USG tersebut. Dokter itu tersenyum.
"Selamat ya Bu. Anda sedang mengandung janin yang sudah memasuki usia tujuh hingga Bu!", kata dokter itu.
Aku menangis terharu. Ya Allah, setelah menunggu sekian lama akhirnya saat ini pun tiba.
Dokter pun membantu ku bangkit dari ranjang rumah sakit.
"Hati-hati ya Bu, di jaga kandungannya. Usia kandungan ibu masih rentan terhadap keguguran. Sebisa mungkin, hindari stres, istirahat yang cukup dan makan yang sehat serta teratur. Ini resep vitaminnya ya Bu."
"Iya dok."
"Anda datang sendiri?", tanya dokter itu.
"Eum... kebetulan ibu saya baru selesai operasi dok. Jadi sekalian saya periksa saja dok."
"Eum... baiklah. Hati-hati ya Bu?!", ujar dokter itu. Aku pun pamit undur diri keluar dari ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
"Bia?", sapa seseorang. Dan aku menengok ke arah orang yang memanggil ku.