Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 194


__ADS_3

Hari ini Alby ada kunjungan ke Jawa timur, dia akan sidak pada staycation milik HS grup yang sudah di resmikan beberapa hari lalu. Bahkan ada yang melaporkan bahwa tempat itu sudah banyak di sewa pengunjung yang liburan di kawasan wisata itu.


"By!"


"Apa?", tanya Alby pada Siovy.


"Kapan aku bisa minta maaf sama Mba Bia langsung? Aku ingin menemuinya untuk meminta maaf! Setiap aku ingin menghubungi nya, kamu ngga pernah mengijinkan!"


Alby terdiam.


"Kamu ke sana kan? Bisa kan seandainya kamu bertemu mba Bia, kamu telpon aku biar aku bisa bicara dengan nya?", tanya Silvy.


Alby menghentikan packing bajunya. Lalu ia berjalan dan berjongkok di hadapan Silvy. Tangan nya mengusap perut Silvy yang membesar. Sesekali ada gerakan kecil di dalam sana. Dan setiap seperti itu, Alby tersenyum.


"Aku ngga bisa janji Vy. Aku ke sana kan buat kerja! Lagi pula, belum tentu Bia masih mau ketemu sama aku!", kata Alby sambil terus mengusap perut Silvy.


"Dia senang kalo papanya mengusap perut bunda!", kata silvy. Alby mendongak menatap wajah Silvy.


"Bunda? Papa?", tanya Alby. Silvy mengangguk.


"Heum. Aku bundanya si dedek bayi, dan mba Bia mamanya !", kata Silvy tersenyum.


Dada Alby tiba-tiba terasa nyeri. Siovy mengusap rahang Alby dengan lembut.


"Kalau bunda ngga ada, dedek bayi masih punya mama. Mama Bia!", dengan mata yang berkaca-kaca.


Alby menurunkan tangan Silvy dari pipinya.


"Kita akan membesarkan anak ini bersama-sama! Berhenti bicara seperti itu!", Alby langsung bangkit dari jongkoknya.


Dia meraih koper nya, lalu mengecup puncak kepala Silvy dan juga perut nya.


"Aku pergi! Assalamualaikum!", pamit Alby.


"Walaikumsalam!", Jawab Silvy. Perempuan hamil itu hanya menatap punggung suaminya yang keluar dari kamarnya nya.


.


.


.


Waktu bergulir begitu cepat. Aku sudah benar-benar lost kontak dengan Alby atau pun Mak Titin. Biar lah, aku dianggap memutuskan tali silaturahim eh...silaturahmi. Sedikit mirip tapi beda makna kan ya???


Sertifikat perpisahan ku dengan Alby pun sudah ada di tangan ku. Setiap harinya aku sibuk membantu di warung kami. Aku mengisi kesibukan ku dengan mencoba masakan-masakan baru yang bisa ku jadikan menu di warungku. Alhasil, warung kami tambah ramai. Apalagi penginapan yang tuan Hartama bangun sudah rapi dan banyak di minati pengunjung. Entah, mungkin trik marketing nya bagus. Jadi ya ...banyak yang mengunjungi wisata di desa kami dan menyewa tempat itu.


Dampaknya pun cukup bagus untuk warung kami. Banyak pengunjung yang puas dengan masakan di warung kami. Padahal warung seperti ini bukan hanya ada milikku tapi ada beberapa rumah makan yang lain.


Sudah selesai di dapur, aku melepas celemek ku lalu ke kasir.


"Mba, wes solat?", tanyaku pada mba kasir.


"Sampun mba!", jawabnya.


(Sudah)


"Oh, Yo wes nek ngunu!"


(Ya udah kalo gitu)


Aku berjalan mengambil celemek pelayan karena aku tak memakai seragam seperti karyawan ku. Soalnya aku memang tak punya. Sekalipun punya, kayanya aku sudah setua ini sudah tak pantas memakai kaos oblong pendek di dobelin mangset. Jaman aku muda banget itu mah 😁


Sekarang aku sudah mulai nyaman dengan jilbab longgar meskipun bukan jilbab lebar seperti ukhti-ukhti yang shalihah itu.


"Selamat siang!", sapaku pada pengunjung.


"Selamat siang mba!", jawab salah seorang pengunjung. Di meja itu ada empat orang laki-laki yang sepertinya seumuran dengan ku.


"Mba, cantik banget sih! Kenalan dong!", ujar salah satu dari mereka. GeEr? Ngga! Bukannya sombong , aku sudah kebal dengan gombalan seperti itu.


Aku tersenyum tipis. Berusaha untuk tetap bersikap ramah.

__ADS_1


"Lo mah, liat yang bening dikit pasti begitu!", kata teman nya yang lain.


"Ya elah, gue cuma mau ngajak kenalan doang masa ga boleh sih! Lebay banget Lo!", dia menoyor kepala teman nya.


"Maaf mas, mau pesan apa?", aku menyela ucapan mereka.


"Maaf mba!", ujar salah satunya yang dari tadi diam memperhatikan ocehan temennya.


"Mba ini...yang pernah bikinin saya katering bukan sih ya? Yang di kota G?", tanyanya.


Aku mengernyitkan alisku.


"Halah, sok kepedean Lo. Modus Lo , modus!", kata temannya.


"Di kota G?", tanyaku. Cowok itu mengangguk.


"Huum! Temen si Cecep yang di dinas di Koramil kampung Xxx!"


Aku mengangguk pelan.


"Ah, iya! Jadi, mas nya temennya kang Cecep?", tanyaku.


"Muhun teh!", sahut nya.


(Iya teh)


Ketiga temannya hanya melongo.


"Tos lila gawe di dieu teh?", tanya nya.


(Udah lama kerja di sini teh)


"Eum ...lumayan!", jawabku sekenanya saja. Ngga perlu juga kali aku menjelaskan kalo warung ini milikku.


"Oh, teteh pindah kadieu lin?"


"Ini... kampung halaman saya!", jawabku.


"Jadi, mau pesan apa?", tanya ku lagi untuk yang ketiga kalinya.


Akhirnya aku mendengar suara grusa-grusu keempat cowok itu yang ternyata seprofesi dengan Mas Febri.


"Teh, lamun urang menta lauk kos baheula aya teu?", tanya teman Cecep.


(Kalo saya minta lauk kaya dulu ada ngga?)


"Pake basa Inggris aja Engkos Koswara!", celetuk temannya.


Aku tersenyum.


"Ada mas, mau yang pedas atau asam manis?", tanyaku.


"Pedes wae teh!", sahut si Engkos itu.


"Ya udah gua kaya Lo aja Kos!", sahut temannya.


"Gue juga sekalian!", sahut kedua temannya bersamaan.


"Oke, minumnya?"


"Gue kaya Lo,Kos!", sahut temannya yang tadi mengajak ku berkenalan.


"Ya udah teh, es teh manis anget aja!", katanya.


Heh?


"Es teh apa teh anget?", tanyaku.


"Astaghfirullah! Maksudnya es teh manis teh!"


"Oke, tunggu sebentar ya!", kataku sambil mencatat pesanan mereka. Tiba-tiba Engkos berdiri memberi hormat ke arah ku. Aku mengernyitkan alis ku dong? Kok dia melah hormat kek gitu, kaya hormat bendera. Teman-teman nya melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Selamat siang Kapt!", ujar empat pemuda itu. Aku menoleh ke belakang. Sedikit terjingkak ternyata ada seseorang di belakang ku yang tak lain adalah Febri.


Dia memasang senyum manisnya. Makin item aja sih nih orang? Ehhh???


"Mas...mas... Febri?", sapaku bingung. Dia membawa sebuah mini tart berangka dua puluh delapan.


"Happy birthday my future wife! Udah lewat kan masa Iddah nya?", tanya Febri dengan tanpa malu sama sekali di hadapan orang banyak.


Aku sampai ternganga di buatnya. Benar-benar si duda satu ini meresahkan! Arrrgggghhh...kan mau jadinya...eh...malu!


Bisik-bisik Engkos dan teman-teman nya terdengar.


"Kok diem sih, Nduk?", tanya Febri lagi.


Ulang tahun? Aku ulang tahun? Dua puluh delapan? Hah? Masa sih? Aku saja tak ingat jika hari ini ulang tahun ? Segitu pula angkanya? Masyaallah. Eh, Alhamdulillah maksud nya.


"Selamat ulang tahun Shabia Ayu!", ulang Febri.


Suara pengunjung bertepuk tangan membuat suasana menjadi riuh.


"Tiup mba lilinnya, keburu meleleh tuh!"


"Duh, romantis banget sih pacarnya?"


"Pasti pejuang LDR tuh, masih pake seragam masnya!"


Dan masih banyak lagi ucapan para pengunjung. Seorang karyawan ku mengambil catatan pesanan yang ku tulis tadi.


"Ayo, tiup!", pinta Febri. Karena aku tak mau semakin lama membuat keributan, aku pun mematikan lilin angka dua puluh delapan tahun itu dengan cara yang sedikit ekstrim. Tidak di tiup, tapi ku matikan dengan jariku seperti gerakan mencubit.


Febri sempat terkejut dengan yang ku lakukan.


"Pamali cenah lamun tiup lilin!", kata ku. Febri tersenyum tipis. Setidaknya, usahanya di hargai.


"Sekali lagi selamat panjang umur ya Nduk!", kata Febri lagi.


"Makasih mas. Tapi ngga sampai harus kasih kue kaya gini. Aku bukan anak kecil!", kataku.


Febri meletakkan kuenya di meja Engkos.


"Kalo kasih ini boleh?", tanya Febri sambil membuka sebuah kotak kecil berisi cincin sederhana.


Aku memundurkan tubuhku yang hampir saja menabrak teman Engkos yang tadi minta berkenalan dengan ku.


Aku menggeleng pelan. Sungguh, aku tak menyangka Febri akan bertindak seperti ini di depan umum. Oke lah, masa Iddah sudah berlalu, tapi kalo berada di hadapan publik seperti ini aku tentu saja malu.


Tenggorokan ku tercekat. Aku pikir, setelah kami jarang berkomunikasi dia akan melupakan ku. Tapi kenapa di hari ulang tahun ku dia tiba-tiba datang dengan membawa cincin? Semua tahu jika cincin adalah makna pengikat. Aku belum siap untuk menuju ke arah itu, entah dengan Febri atau siapa pun. Aku masih trauma menjalani pernikahan.


Tapi seandainya, aku menolak Febri mentah-mentah dia pasti akan merasa malu.


Di tengah kebingungan ku, tiba-tiba lek Sarman datang. Dengan santainya, lek Sarman menutup kotak cincin itu. Tentu saja Febri mendadak beku.


"Bukan begini caranya meminta anak orang Feb! Bilang sama walinya!", kata lek Sarman. Dia pun menggandeng ku menuju ke dalam. Febri yang baru 'ngeuh' kalo lek Sarman membawa ku, mendadak ngintil di belakang kami.


****


GaJe gak sih???


Maap...maap banget kalo dari bab ke bab ngga sesuai sama keinginan & ekspektasi kalian reader's kesayangan mamak.


Abisnya gimana ya? Dari awal menghalu ini, mamak udah rancang nanti endingnya seperti itu hehehe


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€—πŸ€— maap yak???


Tapi...bisa jadi ada perubahan 🀭🀭


Sok lah saha tim


Albia ☝️


Febia✌️

__ADS_1


Semoga lolos heheh makasih yang udah ngikutin sampe sini πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—


__ADS_2