
Febri dan Sakti yang tak bisa tidur semalaman pun memilih untuk 'ngopi' bareng dini hari seperti ini. Ya, mereka berdua menikmati secangkir kopi di hadapan masing-masing. Keduanya memilih duduk di teras sejak Alby membuka pintu dan pamit pulang ke rumah nya yang hanya berjarak tak lebih dari lima puluh langkah.
Di sela aktivitas 'ngopi' nya, lamat-lamat kedua pria gagah itu mendengar suara 'kramat' dari rumah Alby. Awalnya mereka pura-pura tidak mendengar,tapi semakin mereka berusaha untuk mengabaikannya justru semakin penasaran.
Meski tak keras, tapi suara 'kramat' itu yang sesekali tak sengaja terdengar itu membuat otak dua jomblo itu traveling. Beruntung nya Febri yang sudah tahu seperti apa rasanya! Nah, dokter muda ini apa kabar???
"Ehem! Kayanya salah deh kita bro di sini!", kata Sakti. Ya, mereka duduk di pijakan teras yang artinya berhadapan langsung dengan kamar Alby dan Bia.
"Segitunya si Alby! Perasaan gue ga gitu-gitu amat!", celetuk Febri. Sakti tersenyum garing.
"Hahah! Emang Lo gimana?", tanya Sakti sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Ckkk...ngga usah sok polos deh!", kata Febri sambil menyeruput kopinya.
"Hahahaha ya kali! Gue ngga polos-polos amat kok. Cuma ya...masih sedikit di jalan yang benar!", kata Sakti menanggapi santai.
"Jalan yang benar apanya? Kalo bukan sama istri sendiri, yang ga benar lah namanya!"
"Astaghfirullah, gue ngga sebejad gitu kali bro! Biar gue ngga alim juga masih tahu batasan. Gue paling ya...sama Miss Shinsiwi!", kata Sakti.
"Hah? Gila Lo? Sama cewe Mandarin? Berati boong dong Lo udah move on dari Bia?"
"Hahaha Mandarin apanya? Lo ngga tahu? Sumpah ngga tahu?", Sakti menahan tawanya. Dia tak sejujur itu kali ya....
Febri menggeleng karena dia memang tak paham dengan ucapan dokter itu.
"Siapa dia? Kalo emang cocok, kenapa Lo ga lanjut aja?", Febri mencoba menasehati Sakti. Bukannya mengiyakannya, sakti malah terkekeh geli.
"Ya kali gue nikahin sabun bro, wakakkaka!", tawa sakti pun tak bisa di tahan.
"Uwaseem...cah gemblung!", kata Febri melempar bungkus rokok pada sakti. Akrab banget ya?? Padahal mereka rival lho! Belum seberapa lama kenal lagi!
Usai tawa mereka reda, keduanya kembali ngobrol.
"Gue takut adik Lo terkontaminasi otaknya denger si Alby begitu!", celetuk Febri.
"Gue rasa nggak perlu khawatir Feb. Ika kalo udah ngorok mah kaya orang pingsan. Kalo alarm ponsel nya ga bunyi, beuh...bangun dhuhur kali."
Febri tertawa pelan.
"Lo ga praktek?", tanya Febri.
"Piket siang. Gue mau quality time sama Ika."
Febri mengangguk.
"Btw....lo masih mau lanjut ngarepin janda nya Bia?", ledek Sakti.
"Ngga usah gitu, kaya sendiri nya ngga aja!", balas Febri.
"Heheheh...ngga munafik sih, gue harap Bia bisa bahagia dengan cara yang lebih baik. Ngga kudu di madu gitu."
"Ya gimana, masa iya maksa Bia biar udahan Ama Alby terus milih salah satu di antara kita? Ya kali bia nya mau!"
"Bukan gitu Feb, yang jadi masalah misal Bia lepas dari Alby suatu saat nanti, ini misalkan!
Apa dia mau melirik salah satu dari kita? Sakit bro di tolak mulu! Tapi lebih sakit lagi melihat orang yang kita sayangi menangis!"
"Gini amat mencintai istri orang."
"Kita kan cinta sama Bia sejak sebelum dia nikah sama Alby. "
"Tapi tetep aja intinya sekarang istri orang!",kata Febri sedikit ketus.
__ADS_1
"Hahah iya, kalo gitu gue numpang mandi deh. Udah azan subuh tuh!", kata sakti bangkit dari duduk lesehannya.
"Ya Sono! Tapi maaf , gue ga pernah pake Miss Shinsiwi! Adanya cairan Si boy!", kata Febri.
Dimas dan Seto yang baru saja keluar di depan pintu ruang tamu mendadak diam.
'Ga pernah pake Miss Shinsiwi? Cairan si Boy?'
Otak dua bujangan itu mendadak ngeblank. Keduanya saling berpandangan.
"Udah subuh kali Feb. Gue juga mikir-mikir!", kata sakti melewati Dimas dan Seto.
"Miss siapa Feb?", tanya Seto.
"Dih...kepo! Sono bikin kopi sendiri."
Febri pun turut bangkit dari lantai tempat dia duduk.
.
.
Jam enam pagi, masakan ku sudah selesai.
"A, mereka di ajak sarapan gih. Mau pada kerja kan?", tanyaku.
"Iya. Emang Aa, pengangguran!", sindir Alby. Aku menatap suamiku sekilas. Kalo di sahuti lagi, pasti bakal panjang urusannya.
"Kayanya kalo dimeja makan, ngga cukup A. Gimana kalo gelar tikar di dekat kolam."
"Iya, ntar Aa gelarin tikarnya."
Alby melenggang begitu saja. Apa dia marah? Perasaan tadi baik-baik saja.
"Udah beres mandinya? Dingin banget ya?"
"Iya mba, berasa mandi pakai air es tahu. Tapi udahannya mah enak, seger!"
"Ya udah nih minum teh hangat biar enakan perutnya!"
"Eum...maaf mba, emang ga ada susu ya? Soalnya kalo pagi aku selalu minum susu. Maap ...kalo ngelunjak heheh."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Ada sih. Mau mba buatin?"
"boleh deh!", kata Anika girang sambil menepuk tangan nya seperti anak kecil. Aku pun mengambil kotak susuku. Setelah ku seduh, ku serahkan didepan nya.
"Makasih mbak!", Anika langsung menerima gelas yang ki sodorkan.
"Iya."
Anika mengendus aroma susu. Dia memandang ku lagi.
"Mba, ini susu merk apa ya?", setelah itu menyesap nya.
"PernahEn!", jawabku singkat.
Mata Anika membulat, ia menghentikan aktivitas meminum susu. Setelah itu tersedak tiba-tiba.
"Uhuk...uhuk...!", Anika terbatuk-batuk. Langsung ku beri air putih hangat.
"Pelan Ika! ", kataku.
__ADS_1
"Kok susu PernahEn??? Susu hamil dong? Mba Bia lagi hamil?", tanya Anika memberondong ku dengan pertanyaan yang seperti nya hanya cukup di jawab dengan tiga huruf. IYA!
Aku memilih mengangguk. Capek juga jelasin panjang lebar.
"Ya ampun mba...gimana ini?", tanya Anika.
"Gimana apa nya?", aku mendadak bingung.
"Gimana kalo aku hamil mbak?", tanya Anika cemas.
"Hah???", sekarang aku yang melongo.
"Kamu hamil dek?", tanya Sakti yang sudah ada di depan pintu belakang yang dibuntuti oleh Febri dan duo ajudan ganteng.
Anika menggeleng cepat.
"Ngga mas!", jawab Anika panik.
"Jangan bohong,dek!", kata Sakti. Anika menggeleng lagi.
"Ika ngga bohong mas."
Sekarang sakti menatap kedua ajudannya yang geleng-geleng tak mau di salahkan. Ya...gimana? Kayanya ngga mungkin Anika hamil, dia selalu di kawal oleh kedua ajudan ganteng itu. Jika tidak dengan Seto , tentu Dimas yang mengawal Anika.
Aku memijat pelipisku. Mendadak pusing!
"Ika emang pacaran sama kak Dimas, tapi sumpah ngga pernah ngapa-ngapain mas. Iya kan kak?", Anika bertanya pada Dimas. Semua orang terperangah tak terkecuali Alby. Ternyata sahabat istri keduanya itu masih sangat lugu.
Dimas mendadak pucat dan sakit perut. Tatapan sakti beralih ke Dimas. Seto memilih menyingkir dari sisi Dimas. Begitu juga dengan Febri.
Dimas meneguk salivanya.
"Benar itu?", tanya sakti di depan dimas. Anika memegang erat lengan ku.
"Ika keceplosan mbak! Habis lah kak Dimas!", bisik Anika di samping telinga ku.
"Udah ngga apa-apa. Mas Sakti ngga bakal ngapa-ngapain kak dimas kok!", balasku sambil mengusap lengan Anika.
"Sejak kapan kalian pacaran?", tanya Sakti yang ada di hadapan Dimas.
"Eum..itu mas...eum....!", kata Dimas tersendat.
"A...em...A...em! Jawab dim! Tentara kok menya-menye begitu!", kata Sakti.
"Maaf mas Sakti. Anu...itu, udah hampir setengah tahun."
"Apa????", kini justru Seto yang memekik. Tapi setelah itu dia menutup mulutnya karena dipelototi Febri.
Sakti diam memandangi ajudan ganteng itu.
"Hahahaha ngga usah tegang Dim!", kata Sakti menepuk bahu Dimas. Dia mendongakkan kepalanya.
"Hah?", Dimas malah terperangah.
"Gue cuma ngga percaya aja. Kok mau sih pacaran sama bocil manja kaya Ika?", tanya Sakti pada dimas. Situasinya sekarang sudah tak tegang.
"Kok mas ngomong gitu sih???",tanya Anika dengan nada manjanya.
"Udah, sarapan aja yuk. mau pada kerja Ika!", kataku sambil menggandengnya.
Dimas masih berdiri di tempat yang tadi. Sedang yang lain sidh duduk rapi di tikar yang di gelar di pinggir kolam.
"Mau sampai kapan Lo disitu Dim?", teriak Seto. Setelah menyadari keadaan, Dimas pun menyusul mereka semua untuk sarapan.
__ADS_1