
Terkadang kita hanya perlu melihat pengalaman orang lain untuk mengetahui seperti apa berada di posisi itu. Apakah di posisi yang sekarang di alami harus di syukuri atau di ratapi.
*****
Pukul setengah tiga sore aku terbangun. Lama sekali aku tidur siang ya??? Aku bergegas menuju kamar mandi, cuaca nya tak terlalu panas tapi juga tidak dingin. Lebih baik aku mandi sekalian.
Lima belas menit berlalu, ku lihat hanya ada sisa genangan di halaman rumah. Sudah tak hujan , tapi masih menyisakan aroma hujan. Aroma hujan? Kaya apa sih? Ya...bau tanah basah gitu deh 😄
Aku pikir, jam segini masih ada bengkel yang buka. Tempatnya pun tak jauh dari warung ku. Lek Dar sudah menghubungi ku sejak siang tadi untuk menanyakan keberadaan ku. Pikirnya mungkin kenapa aku tak kesana dari pagi.
Usai mengambil ponsel dan dompetku, aku pun menyalakan mesin motor ku untuk ku panaskan lebih dulu. Sudah berapa lama bahkan ni paryo belum di ganti oli. Dulu, Alby yang selalu mengingatkan ku untuk menggantinya.
Huh...Alby lagi...Alby lagi! Aku memukul kepala ku sendiri. Bisa ngga sih nih otakku di ajak kerjasama buat sedikit saja melupakan dia!!!
Tak berapa lama, aku pun meluncur menuju bengkel. Benar dugaan ku, ternyata bengkel itu masih buka dan cukup ramai.
"Assalamualaikum, mas bisa ganti oli sama servis ngga? Kayanya lagi banyak yang servis?", tanya ku pada seorang montir yang sedang memegangi motor.
"Walaikumsalam!", montir itu menatap ku tak berkedip.
"Mas?", aku melambaikan tanganku.
"Eh, bisa....mba... bisa. Maaf!"
Aku pun memilih duduk di bangku tunggu yang agak jauh dari para pria yang juga sepertinya menunggu kendaraannya di servis.Entah kenapa aku merasa risih saat orang-orang itu menatap ku seperti itu. Aku memilih memakai masker ku lagi. Lalu memainkan ponselku. Ada panggilan dari teh Salamah. Tumben ya?
[Hallo assalamualaikum, teh]
[Walaikumsalam Neng Bia. Ayena teh di Jawa Lin?]
(Sekarang di Jawa ?]
[Muhun teh]
(Iya teh)
[Gening teu pamit ka teteh?]
(Ko ngga pamit teteh?)
[Maaf teh!]
Terdengar helaan nafas teh Salamah.
[Teteh nyaho ti saha]
(Teteh tahu dari siapa?)
Orang yang di sekitar terdengar berdesas desus sambil melirik ku.
[Cecep kamari cerita, si Alby teh nelpon cenah. Nanyakeun manehna mawa motor teu Ka Jawa teh?]
(Cecep cerita, si Alby katanya telpon. Nanyain kamu bawa motor ngga ke jawa)
[Oh...gitu teh. Ya ...kumaha atuh teh. Eum...teteh kan tahu sendiri gimana ceritanya Bia]
[Maneh mau pisah neng?]
Pekik teh Salamah di seberang sana.
[Doakan yang terbaik saja ya teh]
[Tapi...jangan lupa sama teteh ya neng walopun neng udah bukan warga sini lagi]
[Insyaallah teh. Teteh tetep jadi tetehnya Bia]
[Nya nggeus atuh. Maneh sing sabar ya neng. Semoga Allah memberi kebahagiaan buat neng]
[Iya teh, haturnuhu]
[Sami-sami neng. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam teh]
Panggilan telepon ku dengan teh Salamah pun usai. Sekarang motor ku mulai di tangani.
"Udah lama ngga di ganti olinya ya mba?", tanya si montir.
"Iya mas. Lali!", kataku. Si mas montirnya senyum.
"Mbaknya baru ya di sini? Saya baru liat!", si montir mengajakku ngobrol.
"Hah? Eum...ya"
"Pantes, orang Sunda?", tanya nya lagi.
"Bukan, asli orang sini kok. Cuma lama di kampung suami saya."
__ADS_1
"Ooh.....!", bukan hanya si montir yang ber'oh'ria, tapi bapak-bapak yang duduk tak jauh dari ku.
Aku kembali memainkan ponselku. Ku lanjutkan baca novel online ku untuk menunggu motor ku di beresin.
Sesekali aku mengangkat wajahku. Mataku tertuju pada sepasang suami istri yang baru keluar dari rumah samping bengkel, mungkin mereka pemilik bengkel ini.
"Mas, aku pergi dulu. Jagain Nuri ya mas, takut nya kamu sibuk di bengkel ngga tahu kalo Nuri mau lahiran!", kata perempuan bercadar dan memakai pakaian hitam itu.
"Ya sayang, tolong kabarin mas kalo udah sampai."
Si perempuan bercadar itu mencium punggung tangan suaminya lalu mengucapkan salam. Dia menganggukkan sedikit kepalanya saat melewati ku. Aku pun melakukan hal yang sama sebagai rasa hormat ku.
Si suami itu terlihat akan masuk tapi tak jadi karena ada seorang perempuan hamil besar yang menghampirinya.
"Mas,mba Laila lupa bawa bekal yang ku buat ya?"
"Kayanya lupa dia. Mungkin buru-buru, ya udah biar mas aja yang makan." Si suami itu tersenyum. Sepertinya laki-laki itu jauh lebih dewasa di bandingkan perempuan yang hamil itu.
"Ya udah ayok masuk!", ajak si suami sambil merangkul bahu perempuan hamil itu.
Tiba-tiba otakku berpikir yang tidak-tidak. Apa pria itu beristri dua? Batin ku.
"Mba...!", panggil montir yang menangani motorku.
"Eh, iya mas? Kenapa?", tanyaku sedikit terkejut karena terlalu fokus dengan pasangan di depan tadi.
"Mau oli nya yang merek apa?", tanya mas montir.
"Uang bagus aja mas. Saya kurang paham."
Mas montir pun mengambil oli di dalam etalase lalu membawanya ke depan ku.
"Yang ini ya mba?"
"Iya mas."
"Mba pasti lagi penasaran ya?", tanya si montir sok akrab.
"Huum??? Penasaran kenapa?"
"Tuh, lihat yang tadi!"
Ada benarnya juga sih tebakan si montir, tapi...apa urusannya sama aku?
"Ngga mas, itu urusan mereka."
Si montir tertawa pelan. Rekannya yang lain agak jauh menangani motor pelanggan. Hanya aku dan si montir yang ada di situ.
"Kok kamu tahu nama saya?"
"Tadi ngga sengaja denger pas mba Bia telponan sama teteh."
Aku menggeleng pelan. Si montir malah nyengir.
"Ngga baik nguping mas!"
"Kan ngga sengaja denger mba heheheh."
Aku menghela napas panjang mendengar celoteh cowok muda ini.
"Tadi tuh, yang pake cadar istri pertama nya mas Karim. Yang hamil istri keduanya."
Si montir mulai cerita.
"Kanapa kamu kasih tahu saya?"
"Mba kan masih muda nih, cantik lagi. Kalo bisa belajar dari mereka. Mereka semua orang baik lho mba."
"Apa hubungannya? Saya juga ngga kenal mereka kok!", tanyaku heran.
"Ceritanya tuh kaya di sinetron mba, mba Laila tuh ngga bisa hamil padahal udah lima belas tahun menikah sama mas Karim. Nah, mba Laila yang minta Suaminya nikah lagi sama mba Nuri."
"Oooh...", aku hanya menyahuti seperti itu. Si montir malah mengernyitkan alisnya.
"Cuma ooh?", tanya nya balik.
"Terus saya harus bilang apa? Itu urusan mereka kan? Lagi pula saya kan ngga kenal sama mereka juga."
"Iya sih, barangkali mba Bia mau belajar kaya gitu tuh ...arti keikhlasan hehehh."
"Dih? Kenapa gitu?"
"Maap ya mba tadi nguping lagi obrolan mba sama si tetehnya."
"Mas, kamu tuh cowok kok lemes banget ya? Udah gitu nguping lagi."
"Ya bukan gitu mba, ketauan kok muka mba Bia lagi ngga HEPI."
__ADS_1
"Sok tahu, kenal juga ngga!"
"Emang kalo saya mau kenal mba Bia lebih dekat boleh?", tanyanya.
Aku melotot tajam pada nya. Dia malah terkekeh.
"Mba, udah berapa lama nikah?"
''Kenapa?"
"Mau tanya aja! Ya kali, mba mau pikir ulang sama keputusan mba!"
"Maksud nya?", tanyaku bingung.
"Dari yang saya tangkap, kayanya mba mau pisah sama suami ya?"
"Sok tahu! Perasaan saya ngga ngomong kaya begitu waktu telpon tadi deh. Ngga usah ngarang!"
"Kalo soal lek Febri, ngga ngarang toh?", tanya si montir lagi.
"Lek Febri?", tanyaku ulang.
"Heheheh aku keponakannya lek Febri. Anake susmiana, mbak nya lek Febri. Aku Ali mba Bia!", jelas nya lagi.
Mataku membulat, ya...aku baru ingat bocah yang bernama Ali. Saat aku merantau anak itu masih kecil dan gendut, sekarang sudah berubah. Aku sampai tak mengenalinya.
"Astaghfirullah, Ali! Kamu udah Segede ini?", tanyaku.
Si montir alias Ali itu terkekeh kecil.
"Kenapa, aku udah ngga gendut toh mba?"
"Kamu kenapa pura-pura ngga kenal sama saya tadi?"
''Ngetes aja!", jawab nya ringan. Aku menggeleng heran.
"Eh, tunggu! Tahu apa kamu soal saya?"
"Heheh nguping obrolan ibu, sama Bu lurah hehehe."
Aku menganga lebar dibalik maskerku. Sumpah ini anak.....???!!!
"Terus ngapain kamu suruh saya belajar sama pernikahan mas Karim dan keluarganya itu?"
"Biar mba Bia paham soal pernikahan."
Ingin rasanya aku menoyor kepala bocah itu. Sayangnya hanya dalam angan ku tok.
"Sok tahu kamu!"
"Tahu mba, saya sering liat kalo mba Laila itu sedih. Walopun muka nya ketutup niqob, tapi dari mata nya kelihatan dia itu sedih."
Ya, aku pun merasakan tatapan perempuan bercadar tadi.
"Kamu masih kecil Ali, tahu apa soal pernikahan?"
"Tahu aja lah mba heheh."
"Kamu belum lulus kan? Ini lagi prakerin kan?"
"Iya mba."
"Ya udah fokus saja sama prakerin mu, jangan ngurusin rumah tangga orang lain. Kamu masih kecil."
"Mba, sebagai perempuan pasti ngga akan rela berbagi. Mba Laila sebenci pasti juga. Tapi karena cintanya sama mas Karim, dia rela berbagi suami asalkan mereka mendapatkan keturunan. Dan...dari situ, aku bisa lihat seperti apa mba Laila belajar ikhlas mba. Mungkin...mba Bia ngga bisa begitu....tapi... semoga mba Bia ikhlas menerima semuanya. Dan....ya....kami siap menunggu mba Bia jadi bagian dari keluarga kami hehehheh."
Buseeeeetttt... ponakan mu mas Feb!!!!
"Udah kan nyervis sama ganti olinya ? Berapa semuanya? mumet lama-lama dengerin kamu ngomong!"
"Hehehe seratus ribu aja mba!"
Aku memberi selembar uang berwarna merah dan biru.
"Ini?", Ali mengangkat uang berwarna biru.
"Buat jajan kamu.''
"Bener? Alhamdulillah, siip lah....otw jadi lek ku ini hehehe."
"Astaghfirullah!"
Aku pun berpamitan dan segera keluar dari bengkel usai mengucap terima kasih.
Benar kata Ali, sekelas mba Laila yang alim aja masih belajar ikhlas, apa lagi aku???? imanku masih level tiarap belum jongkok apalagi berdiri. Hufttt....hari ini aku belajar dari pengalaman orang lain!
****
__ADS_1
Maap kalo GaJe 🙏🙏🙏🙏sibuk sama bocil 😩✌️
makasih 🙏🙏🙏🙏