Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 144


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang. Niatnya, hari ini aku akan ke bengkel untuk servis si paryo, matic hitam milikku. Tapi melihat belum ada tanda-tanda gerimis mereda, niat itu pun sepertinya hanya akan menjadi sebuah wacana.


Alhasil, kegabutan kembali melanda. Aku memilih berdiam diri di kasur ku. Bingung akan melakukan apa, akhirnya aku membuka dokumen pribadi yang akan ku gunakan untuk mengajukan gugatan perceraian dengan Alby.


Aku membuka aplikasi si Mbah Gugel. Main pencarian apa-apa saja persyaratan dan yang di butuhkan. Ternyata harus mengurus domisili juga karena aku aku sudah terdaftar jadi warga Jawa barat, bukan lagi warga kampung ini meski kami menikah di sini. Sayangnya...semua nya penuh dengan keribetan pake banget. Harus bikin surat pengantar segala dari kampung, kantor KUA sampe ke PA. Ternyata, tak semudah yang ku bayangkan.


Mungkin, aku memakai jasa pengacara adalah pilihan yang tepat. Karena belum memiliki kelengkapan, aku menyimpan kembali kertas-kertas itu ke dalam map lalu ku simpan di lemari ku bersama dengan sertifikat peninggalan bapak.


Melihat sertifikat milik bapak, jadi ingat tentang ibu ku yang katanya pernah 'meminjam' nya dan memang sudah di kembalikan lagi. Apakah nyalon kades harus sampe gadein sertifikat tanah milik anaknya?


Tapi... buru-buru aku menyimpannya kembali. Toh, sekarang hubunganku dengan keluarga baru Ibu sudah lebih baik. Mungkin sudah saatnya aku membuka lembaran baru, bersama Ibu Bapak dan kedua adikku.


Aku meraih ponselku. Kulihat aplikasi novel online berlogo biru putih. Kubaca sekilas ada beberapa judul yang menurutku menarik. Hingga akhirnya aku baca salah satu judul tentang kisah rumah tangga.


Dari awal bab aku sudah merasa sedih jika jadi tokoh utama di novel tersebut. Sakitnya dikhianati lebih sakit dibandingkan ditinggal pergi. Ah, iya ini hanya novel. Tapi kenapa aku harus baper???


Perlahan aku membaca bab demi bab. Sampai ada di mana bab itu berisi seperti kisahku. Hanya di bab itu si perempuan hamil lalu pergi dari suaminya. Menghilang bertahun-tahun tanpa sepengetahuan suaminya di mana dia berada.


Tanpa kusadari mengusap perut rataku. Andai bayiku masih ada, mungkin akan kubuat kisah seperti ini. Sayangnya DIA lebih menyayangi bayiku. Atau mungkin juga Allah punya rencana yang lebih baik untukku.


Ingin aku bertanya kenapa hidupku sedrama ini???


Sesi baca novel online pun ku sudahi. Bukan karena bosan, tapi aku terlalu baper dan mendalami kisah si tokoh protagonis yang lemah. Mungkinkah aku sekuat tokoh perempuan itu? Dia memilih meninggalkan suaminya yang berselingkuh dan membesarkan anaknya seorang diri.


Sekarang aku memilih mendengarkan murottal Quran online. Benar-benar pengangguran aku ini! Aku merebahkan diri di kasur. Bacaan tilawah membuatku jauh lebih tenang. Hingga akhirnya aku kembali terlelap.


.


.


Jam makan siang Alby menemui Papa mertuanya di rumah sakit yang katanya sudah siuman sejak pagi.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Alby memasuki ruang rawat papa mertuanya. Hanya ada emak dan juga silvy di samping Hartama.


Silvy nampak bahagia melihat suaminya datang.


"Sayang kok baru ke sini sih? kenapa semalam kamu nggak bangunin aku?", tanya Silvy.


"Kalian udah tidur semua."


"Ibu, ibu ingat kan yang Silvy bilang tadi?", bisik Silvy pada ibunya. Titin pun mengangguk.


"Tos daang Jang?", tanya Titin.


(udah makan?)


"Nggeus Mak"


(udah)


"Kadieu Mak mau ngomong sakedeng", kata Mak menepuk sofa di di sebelahnya.

__ADS_1


(Sini, Mak mau ngomong sebentar)


Alby pun menuruti kata emaknya, tapi dia sempatkan melirik mertuanya yang masih memejamkan matanya.


"Kunaon Mak?", tanya Alby.


"Jang, eta si utun hayang di elus ku bapana!", kata Titin pelan-pelan sambil mengusap lengan putranya yang berbalut kemeja lengan panjang.


(Nak, itu si utun pengen di elus bapaknya)


Alby menatap jengah pada Silvy yang berada di sebelah Titin.


"Mau ya? Karunya si utun Jang!", Titin kembali meyakinkan putranya itu. Tak ada sahutan apa-apa dari mulut Alby sampai Titin bangkit dari sofa. Sekarang, silvy duduk di sebelah Alby.


"By...!", panggil Silvy. Alby masih bergeming dengan tangan bertautan di atas pahanya. Silvy menarik salah satu pergelangan tangan Alby. Tak ada penolakan dari Alby sampai Silvy menuntun tangan pria itu di depan perutnya.


Silvy tersenyum bahagia meski wajah Alby masih datar tak berekspresi. Silvy sendiri yang menggerakkan tangan Alby di depan perutnya. Kegiatan itu tak berlangsung lama, karena Alby menarik lagi tangannya dari perut Silvy.


"Jang, Vy ...Mak keluar dulu sebentar ya. Papa mu baru saja istirahat dan minum obat tadi", kata Titin sambil beranjak keluar kamar. Setelah di operasi, Mak Titin jauh lebih baik dan lebih stabil. Bahkan dia bisa melakukan kegiatannya sehari-hari dengan normal.


Tinggal lah Silvy dan Alby di sofa itu. Silvy meletakkan kepalanya di bahu Alby. Perempuan itu merasa senang, karena Alby membiarkan kepalanya bersandar di sana. Perlahan, niatan Silvy berubah. Ia menghirup aroma khas suaminya itu. Sebagai perempuan normal yang pernah merasakan kenikmatan dunia, keinginan untuk melakukan bersama Alby pun muncul begitu saja. Silvy mengendus leher suaminya dan langsung memberi gigitan kecil. Alby sedikit tersentak tapi Silvy lebih cepat bergerak, ia meraih tengkuk dan menahannya lalu menyesap bibir suami tampannya itu. Tak ada balasan dari Alby, sampai Alby memaksa Silvy melepaskan ciumannya itu.


"By, aku kangen...!", kata Silvy memelas.


"Aku ngga bisa!"


"Kenapa ngga? Aku tahu kamu lelaki normal By, aku tahu sudah lama kamu tak melakukannya. Aku istri mu By, bahkan kita bisa melakukan hal lebih dari sekedar ciuman. Lihat lah calon anak dalam perut ku ini By! Ini buktinya kalo kamu bisa...!"


"Stop! Kamu tahu saat itu aku terpaksa melakukannya untuk mu. Hanya saat itu! Tapi atas kuasa yang di atas, dia hadir dalam rahim kamu!"


"Itu artinya Tuhan memang menginginkan kita bersama Alby. Buktinya Dia mengambil janin dari rahim Bia! Dan...kamu memang harus berpisah dari Bia, karena kehadiran bayi Bia hanya penghalang perpisahan kamu dan Bia! Setelah bayi itu tidak ada, tidak ada lagi perlu Bia jadikan alasan buat sama kamu kan By!"


"Aku hanya mengatakan kebenaran!", Silvy masih mampu membalas ucapan Alby.


"Kalo bukan anak di rahim kamu, aku tidak akan berada di sini!", kata Alby dengan menatap tajam istri kecilnya itu.


"Kenapa sih kamu ngga bisa lihat aku sedikit saja By!", tanya Silvy.


"Karena aku cuma cinta salam Shabia, bukan kamu atau yang lain!"


"Ucapan kamu benar-benar melukai ku By!", kata Silvy dengan air matanya yang meleleh.


"Luka? Kamu pikir, kamu saja yang terluka? Iya? Aku dan Bia jauh lebih terluka Silvy, kami pun sama tersakiti!"


Silvy membeku di tempat ia duduk.


"Sebegitu benci nya kamu ke aku By?", tanya Silvy lirih.


Alby sadari sikapnya sudah keterlaluan pada istri mudanya itu. Tapi, dia memang sama sekali tidak bisa memberi celah hatinya untuk Silvy.


"Aku akan bertahan sampai bayi itu lahir."


Silvy mendongak.


"Kamu sudah bilang ngga akan ninggalin aku By! Kamu lupa janji kamu hah???"

__ADS_1


"Setidaknya sampai anak itu lahir. Dan setelah itu, mari kita jalani kehidupan kita masing-masing. Biar nanti aku yang akan mengurus anak itu."


"Apa??? Omong kosong apa ini By!", Silvy mengisap kasar air mata di pipinya.


"Omong kosong? Kamu pikir, aku akan membiarkan anakku di besarkan oleh seorang ibu yang jelas-jelas masih berstatus istri tapi tidur dengan mantan pacarnya karena mabuk?? Ngga!"


"Aku seperti itu juga karena kamu By! Kamu selalu nyakitin aku dengan cinta kamu pada Bia itu!"


"Terserah apa pun alasan kamu. Yang aku mau, aku ingin mendidik anakku kelak agar tak seperti ibunya atau kakeknya!", tuding Alby di depan Silvy.


"Kamu keterlaluan By ...aaah...sssshhh!", Silvy memegang perutnya lagi. Sepertinya dia kram perut lagi. Bukannya prihatin melihat kesakitan sang istri, Alby justru keluar dari ruangan rawat Hartama.


"By ..Alby ..assshhh...!", rintih Silvy. Alby memang keluar dari ruangan itu. Meski dia dalam posisi marah saat ini, tapi tidak serta merta menghilangkan sisi kemanusiaannya.


"Sus!", panggil Alby pada perawat yang melintas di depan Alby.


"Iya, pak!", kata si perawat yang sempat tertegun melihat wajah Alby.


"Itu di dalam, istri saya kram perut. Dia sedang hamil sus!", kata Alby pelan tanpa rasa panik sama sekali. Apa iya dia tidak peduli dengan Silvy dan calon bayinya itu???


"Coba saya lihat ya pak!", kata si perawat. Suster itu pun menghampiri Silvy dan Alby mengekor di belakang suster.


"Siang, Bu. Kram perut lagi?", tanya si perawat. Silvy meringis.


"Iya sus!", jawab Silvy masih dengan meringis.


"Sekarang ibu rebahan dulu coba!" ,pinta so suster. Silvy pun menurut.


"Jangan terlalu stres ya bu. Biasanya kalo stres atau banyak pikiran, berpengaruh dengan janin yang ada di dalam rahim ibu. Bawa happy ya, biar dd nya juga happy!", suster itu mengusap perut Silvy. Suster itu menatap sekilas sosok Alby yang sepertinya tak peduli sama sekali.


"Pak, ada baiknya bapak mengusap perut istrinya lho. Selain memberi rasa nyaman dan ketenangan usapan lembut dari bapak juga bisa di rasakan sama dd bayi lho."


Alby tak menyahuti ucapan si suster.


Apa mereka sedang bertengkar ya??? Batin si suster.


"Sudah ngga sakit kan Bu?", tanya si suster. Silvy menggeleng."Ngga sus, terima kasih."


"Sama-sama,Bu. Kalo masih ada keluhan langsung saja ke dokter kandungan ya Bu. Saya permisi. Mari...!"


Sepeninggal suster, Alby kembali duduk tapi di sofa yang berbeda.


"Aku akan kembali ke kantor setelah Mak datang!", ujar Alby. Silvy hanya menatap sayu pada suaminya yang dingin itu. Entah cara apa untuk meluluhkan hati Alby. Kehadiran buat hati tetap masih membuat Alby tak memberi kesempatan untuk di cintai Alby.


Beberapa saat kemudian, Titin datang. Setelah itu, Alby berpamitan pada Titin lalu pergi begitu saja.


Silvy memejamkan matanya lalu tidur di sofa. Titin mengusap-usap perut putri nya yang sudah mulai membesar.


Hartama sendiri sebenarnya sudah bangun sejak Alby datang. Tapi dia sengaja pura-pura tidur. Rasa penyesalan Hartama benar-benar besar. Dia mendengar percakapan putri dan juga menantunya itu.


Sebagai seorang ayah, dia paham sakit hati putri nya dan juga sakit hati Alby. Dan sebagai seorang laki-laki, dia pun paham apa yang Alby rasakan.


Hartama hanya mampu menahan tangisnya dalam diam. Setengah badannya sudah mati rasa. Mungkin kah ini azab dan teguran dari yang di atas? Karena dia sudah menzolimi orang lain???


*****

__ADS_1


Lanjut nanti lagi ya??? Yang benci Alby monggo, tapi jangan hujad mamak ya 🤭😄


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2