
Aku keluar dari kamar mandi belakang masih dengan memakai handuk, aku langsung menuju ke kamar. Ternyata mas Febri sudah ada di sana, dari aroma kamar mandi sepertinya dia juga sudah mandi. Dia duduk di atas sajadah. Entah sudah solat Dhuhur atau belum. Kalau dia tak di posisi itu, mungkin aku tak tahu kalo arah kiblatnya ke sana.
Dengan sedikit ragu, aku mengambil pakaian ku. Posisi Febri bersebelahan dengan lemari baju kami. Tanpa menghiraukannya, aku mengambil pakaian ku.
"Jamaah nduk!?", katanya. Entah itu sebuah perintah atau permintaan, aku tak tahu.
"Ngga usah, aku belum wudhu!", jawab ku datar.
"Mas tunggu!", katanya.
Aku tak bisa menolak ajakannya untuk berjamaah. Setelah memakai pakaian ku dan sedikit mengoleskan deodorant, aku memakai mukena ku.
"Sudah?", tanya mas Febri menengok ke arah ku.
"Udah!", jawabku. Kami pun solat Dhuhur berjamaah. Setelah berdoa, aku melipat mukena ku. Saat hendak bangkit, mas Febri menarik tanganku.
Aku mengurungkan niatku untuk bangun. Dia mengulurkan tangannya padaku untuk di cium seperti biasa. Setelah menarik nafas, aku pun mencium punggung tangannya. Dan setelah itu ia meraih kepala ku, mengecup keningku dan kedua mataku bergantian.
''Maaf!", katanya lirih. Kedua tangannya menakup kedua pipiku. Aku memalingkan pandangan ku. Lalu memaksa nya untuk melepaskan jemarinya dari pipiku.
"Aku mau ke warung!", kataku sambil berdiri. Dia pun menyusul ku berdiri.
"Mau apa? Di sini warung nya jauh nduk?!", katanya pelan.
"Aku sudah biasa jalan jauh!", kataku lagi. Aku pun mengambil jilbab ku yang sudah ku letakkan di lemari khusus jilbab, bukan lemari. Tepatnya rak kecil yang ada di dinding.
Febri hanya memandang istri nya yang mungkin saat ini masih emosi. Dia akui, dia merasa salah. Seandainya dia bilang dari awal sejarah berdirinya rumah ini, mungkin Bia tak akan semarah ini. Febri menyadari jika dirinya terlalu mudah menggampangkan sang istri yang terbiasa penurut. Padahal dia juga tahu, semua kejadian dan pengalaman sang istri sudah perlahan merubah dirinya yang mungkin sedang berusaha untuk membangun kepercayaan dirinya untuk bisa kembali percaya pada orang lain, suaminya sendiri.
Aku membuka pintu ruang tamu, jika memang di sini tak ada warung sebaiknya aku membawa mobil. Tapi.... bagaimana jika mobil itu milik Febri dan istri nya juga? Apa aku berhak???
Aku tak jadi mengambil kunci mobil itu, memilih untuk ke jalan depan. Ternyata di depan sana ada pangkalan ojek.
"Ke mana neng?", tanya Abang ojek.
"Saya mau belanja mang, kalo dari sini ke minimarket jauh ngga bang?"
"Oh...ke indojuni ya neng? Lumayan neng!", kata bang ojek.
"Gitu ya! Kalo boleh, Abang mau ga nunggu saya belanja? Jadi saya ngga cari ojek lagi."
"Ya boleh dong neng!"
"Harganya menyesuaikan aja ya bang. Saya ngga tahu!", kataku.
"Siap lah neng. Kalo orang baik kaya neng mah, ngga bakal Abang mahalin!", kata bang ojek yang ku taksir usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Aku pun menaiki motor bang ojek. Benar kata si abang, lumayan juga kalo aku jalan ke sana.
"Tunggu bentar ya bang!"
"Siap neng!"
Aku masuk ke minimarket. Berbelanja kebutuhan dapur dan perlengkapan mandi. Kalo soal beras, bapak mertua sudah membawakannya kemarin.
Aku juga belanja beberapa biskuit dan minuman untuk suguhan tamunya mas Febri. Cukup banyak juga belanjaan ku.
"Sebentar ya mba! Kumpulin dulu, saya panggil Abang ojek sebentar!", kataku pada mba kasir.
"Iya mba!", kata kasirnya.
Saat aku mau memanggil bang ojek, ternyata suamiku sudah ada di sana mengobrol dengan bang ojek yang tadi mengantar ku.
Aku tak jadi memanggil bang ojek, justru Febri tersenyum ke arahku. Kok tahu aja, tujuan ku kesini????
"Neng, suaminya neng udah jemput. Saya di suruh pulang katanya!", kata bang ojek.
__ADS_1
"Ya bang!", kataku.
"Ya udah kalo neng nyari Abang, Abang di pangkalan ya. Bang Joni!", katanya.
"Iya bang Joni, udah di bayar belom bang?"
"Udah sama suami neng! Malah di lebihin!"
Aku tersenyum, si Abang pun meninggalkan kami berdua.
"Mana belanjaannya? Mas bawain?", tanyanya. Aku pun masuk ke dalam minimarket lagi.
"Mba, saya ambil belanjaan saya ya?", kataku.
"Iya mba."
"Makasih mba!", kataku.
"Iya mba. Eum...itu, Abang ojeknya ganteng heheheh!", kata mba kasir. Aku menahan tawaku.
"Abang ojek?", tanya Mas Febri padaku sambil membantu ku membawa belanjaan.
"Iya, tadi mba nya bilang mau panggil Abang ojeknya. Kalo Abang ojeknya kaya mas ganteng ini mah, saya mau jadi pelanggan tetap nya mas!", kata mba kasir tertawa bersama rekannya.
"Sayangnya, pelanggan tetap saya cuma satu ini!", kata Febri.
Cup! Dia dengan tanpa malu-malu mengecup pipiku. Tentu saja itu memalukan bukan! Di depan umum malah beradegan begini???
Dua mba kasir tadi terperangah.
"Istri saya cantik kan mba?", tanya Febri lagi sambil mendorong ku keluar dari minimarket.
Aku tersenyum tak enak pada dua kasir itu. Mas Febri meletakkan barang belanjaan nya di bagasi. Aku sendiri sudah duduk di bangku penumpang.
"Ya!", jawab ku singkat. Tak butuh waktu lama, kami pun sampai ke rumah. Dia menurunkan barang belanjaan ku dan membawa nya ke dapur. Di meja makan sudah di siapkan dua porsi nasi Padang.
"Cuci tangan langsung makan, mas lapar!", katanya lagi. Aku pun mencuci kedua tangan ku. Kami makan dalam diam. Tak banyak mengobrol. Aku tahu dia curi-curi pandang saat kami makan. Tapi aku tak mau menggubrisnya. Sebenarnya aku sudah jauh lebih tenang, tak seemosional tadi.
Hanya saja aku sedang tak ingin banyak bicara. Aku langsung menuju ke kamar untuk mengambil ponsel ku. Ternyata, mas Febri menghubungi ku tadi. Aku bahkan lupa membawa benda canggih ini saat ke minimarket tadi.
Aku duduk di ranjang sambil menatap ke sekeliling kamarku. Tapi lagi-lagi sisi kekanak-kanakan ku kembali muncul.
Ini bukan kamar ku! Aku tak berhak di sini!
Astaghfirullah! Ngomong apa sih aku????
Dari pada aku berpikir yang menjurus ke hal-hal yang membuat emosi, aku memilih mengambil ponsel ku lalu ku bawa ke teras untuk mendinginkan otak ku.
Mas Febri sempat bangkit saat melihat ku keluar dari kamar. Tapi dia urungkan saat tahu aku hanya duduk di teras. Mungkin dia segan menyusul ku karena sedang merokok.
Aku membaca novel online yang entah sudah berapa lama aku tak pernah membuka aplikasi itu.
Cukup lama aku membuka aplikasi itu untuk melihat beberapa judul dan membaca tiap episodenya.
Aku meletakkan ponsel ku dimeja. Menyandarkan kepala ku ke punggung bangku lalu memejamkan mataku.
Lelah! Sejak tiba di sini, aku belum tidur sama sekali. Tapi saat aku mau merebahkan diri di pembaringan itu, aku merasa tak pantas menikmatinya. Aku tetap merasa itu bukan hakku.
Entah untuk beberapa lama aku terpejam. Tapi saat mataku terbuka, Mas Febri sudah duduk lesehan di depanku. Dia memijat kaki ku.
"Astaghfirullah! Kamu ngapain sih mas?", aku sedikit membungkuk untuk melepaskan tangan Febri dari kakiku.
Tapi dasar Febri, dia pasti bisa saja curi-curi kesempatan untuk mencium ku sekilas. Dengan tanpa berdosa nya dia tersenyum manis.
Ini nih yang bikin aku meleleh!
__ADS_1
"Kamu pasti capek kan nduk! Belum istirahat sama sekali sejak sampai ke sini?", tangannya masih memijat betis ku yang memang terasa berat. Aku akui, pijatannya memang enak. Tapi aku gengsi untuk mengakui nya.
"Kalo capek, ngantuk, kenapa malah di sini? Ngga rebahan di kamar aja?"
"Ngga usah, di sini aja cukup!"
Febri meletakkan kepalanya diatas pangkuan ku. Tangannya memeluk kakiku dengan erat. Aku membuang pandangan ku ke arah jalanan yang sepi.
"Sayang, rumah ini bahkan mas buat sebelum mas menikah sama Aisyah. Mas ingin rumah ini kita huni setelah menikah. Sama seperti keinginan kamu. Dua kamar, dapur dan ruang makan jadi satu. Bangunannya tak terlalu besar. Begitu kan?"
Deg!
"Waktu itu mas pengen buat kejutan, buat kamu nduk. Tapi... ternyata kamu malah memilih meninggalkan mas, karena ucapan ibu yang sudah menyakiti kamu. Andai kamu bicara saat itu, nduk! Mas pasti sudah memperjuangkan kamu!"
Aku meneguk ludahku, mataku mulai mengembun.
"Pembangunan nya udah selesai, tapi kamu ninggalin mas tanpa jejak. Sampai akhirnya mas pasrah saat ibu menjodohkan mas sama Aisyah. Awalnya mas terpaksa menjalani pernikahan mas sama Aisyah, tapi seiring berjalannya waktu kami berdua bisa saling menerima. Mas merasa mas ini zolim sama Aisyah jika apa yang menjadi hak Aisyah, ngga mas berikan. Maaf! Saat Alby berada di posisi seperti mas waktu itu, saat ia menikah dengan Silvy, mas paham seperti apa rasanya. Mas juga pernah bicara tentang hal itu pada Alby. Ngga mudah nduk!"
Aku menarik nafas ku dalam-dalam. Banyak hal yang aku tak tahu! Tapi kenapa aku harus tahu sekarang!
Bibirku ingin sekali berucap, tapi rasanya begitu berat. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku yang hampir saja mengeluarkan isakan. Eh??? Bibir terisak? Gitu lah pokoknya!
"Akhirnya, setelah mas dan Aisyah saling menerima, mas bawa Aisyah ke sini. Dia mendesain interior rumah ini. Mas pasrahkan selera nya seperti apa. Karen saat itu, dia yang ingin melakukannya dan akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Tapi takdir berkata lain bukan?", Febri mengambil jeda nafas sebentar.
"Makanya mas bilang seperti itu tadi. Mas tak pernah menyangka jika akhirnya, rumah yang kita impikan ini bisa kita tinggali bersama. Seperti sekarang! Bahkan mas masih merasa ini sebuah mimpi nduk!"
Dia mengangkat kepalanya dari pangkuan ku. Tanpa ku sadari, air mataku meleleh begitu saja. Febri mengusap jejak air mataku.
"Mas ngga suka liat kamu nangis nduk!"
Febri menghapus air mata ku lagi. Ia menakupkan kedua tangannya di pipiku, mengecup kedua mataku bergantian.
"Jangan seperti ini sayang! Mas ngga bisa kamu mendiamkan mas, apalagi menangis karena mas. Maaf! Andai mas jujur dari awal, mungkin mas ngga perlu liat air mata mu seperti ini!"
"Maaf!", kataku pelan. Dia menarik tubuh ku dalam pelukannya. Aku menangis tergugu di pelukannya. Ini lah jelek nya aku! Selalu melihat dari sisiku, tanpa ingin mencari tahu kebenarannya lebih dulu.
"Udah ya, jangan salah sangka lagi! Ini rumah kita! Rumah kita yang akan ramai oleh anak-anak kita! Makanya...ayok! Kita percepat proses produksinya!"
Aku yang tadinya menangis terharu langsung terdiam. Melepaskan pelukannya dengan paksa. Lalu mendorong bahunya.
Aku langsung memukul bahunya. Dia tertawa lebar.
"Nah, gitu dong! Ini baru Bia nya Febri!", mas Febri mencium bibirku sekilas.
Emang nih mantan duda! Meresahkan!!!
"Mas ih! Malu! Kalo ada tetangga yang liat gimana???!"
"Oh, iya ya. Mas lupa."
Dia mengambil ponsel ku dan memasukkan ke dalam saku celananya setelah ia berdiri.
"Biar ngga malu, kita lanjutkan di dalam! Jadi ngga perlu ada yang liatin! Paling para reader's yang ngatain mas kebangetan!??"
Dia langsung menggendong ku.
"Mas!!!!", pekikku karena kaget tiba-tiba melayang.
*****
Berapa eps lagi ya?.. 🤔🤔🤔
Bentar lagi xixixixixix 🤭🤭🤭🤭
Makasih yang udah ngikutin sampe sini lho....🙏🙏🙏
__ADS_1