
Lek Sarman menghentikan langkahnya, membuatku ikut berhenti.
"Ada apa lek?", tanyaku bingung. Lek ku pun menoleh ke belakang, begitu pun dengan ku. Febri yang tak sadar di hadapan nya berhenti pun terkejut ternyata dia menabrak lek Sarman. Untung aku sudah di geser oleh Lek ku.
"Mau ngapain kamu?",tanya lek Sarman.
"Mau...mau...ketemu Bia, lek!", jawab Febri.
"Kan wes bar!", sahut Lek Sarman.
(Kan udah)
"Saya belum ngobrol sama Bia, lek?"
"Tadi apa kalo bukan ngobrol? Pake sok-sok future wife segala!", sahut lek Sarman ketus. Febri mengusap tengkuknya.
"Lek!", aku menarik tangan lek Sarman.
"Apa? Kamu mau belain mantan pacar kamu ini?", tanya Lek Sarman.
"Heh? Duduk kek ngunu lek! Isin Iki lho di sawang tamu!", kataku dengan sedikit pelan.
(Bukan begitu lek! Malu nih dilihat tamu)
"Mending sekarang kamu balik aja Feb. Pulang kampung bukanya ketemu orang tua dulu malah kesini."
"Maaf lek!",kata Febri dengan nada menyesal.
"Wes Ndang muleh. Simpenono ali-ali mau!", titah Lek Sarman.
(Buruan pulang. Simpan cincin tadi)
"Tenane Kon muleh Iki lek?", tanya Febri. Lek Sarman menarik nafas lalu memekakan matanya.
(Beneran suruh pulang ini Lek?)
Melihat lek Sarman menarik nafas sambil memejamkan matanya, buru-buru lelaki gagah itu meraih tangan Lek Sarman. Lalu secepat kilat ia mencium punggung tangan lek Sarman setelah nya pergi dengan buru-buru sambil mengucap salam. Dari dulu lek Sarman memang terkenal galak. Gak sopan si mas teh!
"Lek, masih galak aja sih!", kataku pada lek Sarman sambil masuk ke dalam ruangan kami.
"Di galakin aja dia masih nekat deketin kamu, gimana mau di alusin!"
"Ya ngga gitu juga kali lek."
Lek Sarman menatap ku intens.
"Kamu udah mulai tertarik lagi sama Febri?"
"Hah? Apa lek? Ya...ya nggak lah!", jawab ku sambil tertawa garing.
"Yakin?"
"Apaan sih lek?"
"Kalo iya, ya bagus dong kalo gitu. Tapi kalo ngga ya ngga apa-apa juga. Nanti lek jodohin sama juragan sapi desa sebelah!", kata Lek Sarman sambil berdiri dari sofa.
Juragan sapi desa sebelah??? Aku mengingat-ingat di desa sebelah memang ada juragan sapi yang terkenal. Eh, tapi...tapi...kan udah aki-aki??? Masa sih Lek Sarman tega jodohin aku sama aki-aki???
"Sek toh lek, iku juragan sapi desa sebelah kan Mbah Parno, Lek? Wes embah-embah kek ngunu? Masiyo di jodohne ambek Bia toh?", tanyaku pada Lek Sarman.
(Tunggu lek)
"Nek awakmu gelem Yo gak opo-opo toh?", tanya lek Sarman balik sambil duduk di bangkunya.
"Astaghfirullahaladzim, tega banget lek!"
"Hem...!"
Tok...tok....
"Masuk aja mba!", titah ku. Seorang pegawai warung menghampiri ku.
"Nuwun Sewu mba Bia, di depan ada...."
"Ada apa?", tanyaku.
"Anu itu...di depan ada mas Alby!", kata pegawai ku.
__ADS_1
Lek Dar langsung bangkit hendak menuju kesana.
"Lek, biar Bia nemuin sendiri aja lek!", cegah ku pada lek Sarman. Aku mencoba menghindari kegaduhan jika mereka bertemu nanti. Entah kenapa lek Sarman masih saja begitu emosi. Padahal aku saja sudah memaafkannya, dalam tanda kutip tidak untuk melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku.
"Nanti dia macam-macam sama kamu nduk!"
"Ngga usah khawatir lek. Aku dan Alby sudah tak ada hubungan apapun sekarang. Lagi pula di depan ramai kok."
Akhirnya lek Sarman membiarkan aku menemui Alby yang ternyata di temani oleh pengacaranya.
Aku menarik kursi di hadapan Alby yang jaraknya hanya sehasta.
"Assalamualaikum!", aku memberi salam pada mereka.
"Waalaikumsalam!", jawab Alby. Ya Allah, terakhir kali aku bertemu dengan Alby adalah saat kami berada di acara pernikahan Sakti. Dan setelah itu, kami baru bertemu lagi.
Alby mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap punggung tangan Alby yang masih setia berada di depan ku.
Punggung tangan yang selalu ku cium. Telapak tangan yang selalu menyentuhku setiap kami bersama. Tapi ...itu dulu!
Akhirnya, aku menakupkan kedua tanganku. Tanpa aba-aba, Alby menurunkan uluran tangannya.
Pria itu sadar, saat ini dia bukan lagi lelaki yang boleh Bia sentuh.
"Apa kabar neng?", suara Alby bergetar. Menandakan ia sedang menata ritme jantungnya.
Masyaallah, akhirnya aku bisa melihat mu lagi Bia! Kamu semakin cantik dengan penampilan seperti ini. Batin Alby.
Aku pikir, aku sudah mulai bisa melupakan kamu Alby. Tapi nyatanya...???
"Alhamdulillah baik!", jawabku datar. Hotma yang berada di antara keduanya berdehem pelan.
"Anda sedang tidak sibuk kan nona Bia?", tanya Hotma padaku.
Aku menggeleng."Tidak, saya tak punya kesibukan apapun."
"Baiklah, kalau begitu kami bisa minta waktu nya sebentar?", tanya Hotma. Aku menggaruk pelan.
"Sebentar!", ujarku pada dua orang yang semeja dengan ku.
"Mba, bawakan minuman segar dua ya!", pintaku pada pelayan. Pelayan pun mengiyakan perintah ku.
"Begini Nyonya Bia, apa anda tidak ada keinginan untuk mendapatkan hak Gono gini?"
"Harta gono gini?", tanya ku membeo.
"Iya nyonya!"
Aku tersenyum tipis.
"Tidak ada yang harus kami bagi kok. Aku sudah mengembalikan semua yang sudah pernah Alby berikan pada ku, di rumah itu! Di kampung klien anda pak Hotma."
Alby menatapku begitu lekat. Mungkin dia sedang mengumpatku dalam hatinya yang bersikap belagu seperti sekarang ini.
"Jadi maaf pak Hotma dan...pak Alby! Kalau tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, saya akan kembali ke dalam. Permisi!", aku bangkit dari bangkuku.
Bahkan kamu sudah yak sudi lagi menyebutku Aa? Suara manjanya yang menyebut panggilan sayangnya padaku???
"Tapi aku belum selesai bicara Shabia Ayu yu!", suara tegas Alby menghentikan pergerakan ku.
Aku kembali ke bangku ku.
"Baiklah, katakan apa yang ingin kalian sampaikan?", tanyaku. Sebenarnya, aku bukan ingin menghindar bahasan tentang harta gono gini yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh ku. Hanya saja, dadaku masih sedikit nyeri mengingat semuanya. Ya, semuanya!
Dari kenangan indah hingga kenangan menyakitkan yang terakhir kali Alby lakukan padaku. Dan beruntung nya aku 'manut' saat beliau memaksa ku untuk berKB saat itu. Andai saat itu aku tak memakai alat kontrasepsi pencegah kehamilan, mungkin...saat ini aku sedang hamil lagi mengingat setelah nifas itu artinya aku kembali subur.
Hotma menyerahkan sebuah map berwarna biru muda ke hadapan ku.
"Apa ini?", tanyaku.
"Buka saja!", titah Hotma. Aku pun membuka map itu. Di sana terlihat jelas ada namaku yang terpampang dengan huruf kapital yang menyatakan jika bangunan baru itu dilimpahkan atas namaku.
Aku menutupnya, lalu sodor kan kembali pada Hotma.
"Apa-apaan ini? Saya tidak silau dengan apa yang anda berikan ini Pak Hotma, sampaikan saja jika saya menolaknya."
"Sayangnya, anda tidak bisa menolak nya Nyonya. Bangunan itu sudah menjadi hak milik anda. Serta...anda juga pemegang lima belas persen saham di HS grup."
__ADS_1
"Tidak, saya tidak butuh itu!"
"Tapi itu permintaan tuan Hartama, nyonya!", kata Hotma.
Aku tersenyum sinis.
"Harta yang tuan Hartama berikan saat ini, tidak akan pernah bisa mengembalikan 'kebahagian' saya! Tolong sampaikan hal itu pada klien anda!", kataku sambil ku tatap wajah tampan yang selalu ku puja-puja selama ini.
Alby mencelos. Ia menatap arah lain. Tak berani membalas tatapan ku.
"Maaf, silahkan bawa kembali. Sampai kan pada beliau, saya memang tidak sekaya beliau. Tapi setidaknya harga diri saya, kebahagiaan saya, serta hidup saya tidak bisa di beli. Apalagi dengan harta yang kalian tawarkan buat saya! Permisi!", aku berdiri dan beranjak dari sana.
"Istriku ingin bicara dengan mu, Bia!", panggil Alby lantang.
Apa katanya? Istriku? Aku tertawa sarkas yang jelas Alby tak melihat tawaku. Wow, istriku! Alhamdulillah, akhirnya ia mengakui jika Silvy adalah istri nya.
Apakah aku harus bahagia? itu artinya pengorbanan ku tak sia-sia bukan?
Tapi entah kenapa malah dadaku sakit? Aku menekan dadaku. Dan dengan bodohnya, air mataku malah meluncur. Tapi buru-buru aku menghapusnya lalu ku balik kan badanku.
"Apa lagi yang 'istrimu' inginkan dari ku? Bukankah dia sudah mendapatkan mu?", tanyaku sarkas. Aku melihat Alby mengusap wajahnya. Untung nya kami berada di meja private. Jadi jarak antara pengunjung yang lain cukup jauh.
Alby mendekat padaku. Ya Allah, tubuh itu? Aroma itu?
Sebuah panggilan video Alby perlihatkan padaku.
[Assalamualaikum mba Bia?]
Sapa Silvy di seberang sana. Aku menatap ponsel itu. Pemandangan ku berubah seketika.
Silvy, gadis arogan yang sudah merebut Alby ku sekarang....??
[Walaikumsalam]
Aku menjawab salam nya, tapi entah kenapa aku merasa semakin sakit melihat kondisi Silvy seperti itu.
[Mba Bia, aku....mau minta maaf mba!]
Suara silvy terdengar begitu tulus. Meski tertutup hijab, aku tahu jika perutnya sudah membesar sekarang. Andai saja bayiku dulu selamat, mungkin besarnya sudah segitu.
[Aku tahu aku salah. Aku sudah merusak pernikahanmu dengan Alby. Aku sudah merebut kebahagiaan mu, mbak]
Silvy mulai terisak di sana.
Inilah jeleknya aku, gampang terharu!
[Aku ngga tahu apakah mba Bia bisa maafin aku atau nggak! Karena aku tahu kesalahan ku tidak mudah di maafkan. Tapi... sebelum aku pergi...aku...ingin minta maaf sama Mba Bia secara langsung!]
Silvy mengusap perutnya yang buncit. Dan hal itu membuat ku semakin merasakan nyeri di dadaku. Entah apa yang Alby lakukan pada perempuan belia yang harusnya sedang menikmati masa mudanya itu. Tapi malah harus di hadapkan hal seperti ini.
[Hidup mati seseorang, Tuhan yang menentukan]
Akhirnya keluar juga kalimat itu dari bibirku. Silvy tersenyum di sana.
[Apa yang papa berikan mungkin tidak sebanding dengan apa yang om Salman berikan mba, tapi...tolong terima ya. Anggap saja itu pemberian terakhir yang bisa kami berikan mba]
Aku menghela nafas.
[Andai aku pergi mba, aku titip anak kita ya. Takutnya... bundanya sudah tidak bisa lagi menjaga nya, tapi...masih punya Mama Bia yang baik hati]
[Kamu akan baik-baik saja, demi anak kalian. Berjuanglah! Aku memaafkan mu!]
Tanpa peduli lagi pada Alby, aku menyerahkan ponselnya lalu aku berjalan cepat menuju ke rumah lek Sarman. Aku berusaha secepat mungkin sampai ke sana. Ya Allah, apalagi ini? Aku sudah berusaha mengikhlaskan Alby! Kenapa dia harus hadir kembali???
Andai aku menerima saham itu, itu artinya aku akan selalu berhubungan dengan nya karena pasti HS grup akan di urus oleh Alby!
Aku terduduk lesu di teras rumah lek Sarman. Menundukkan wajahku, yang ku tenggelam kan dengan kedua lutut ku.
****
Kecewa ya pemirsahhhhh....??? Jangan dong 🥺🥺🥺
Ada kelanjutannya kok, tapi nanti....
Btw...ngapunten ya. Kalo di sini kok kesannya kaya mengandung 'sara' gitu ya?
Ngga kok, suwerrr ✌️✌️
__ADS_1
mamak juga 'blesteran' 🤣🤣🤣Jawa Sunda, suami Sunda asli , jadi....kita tetap Indonesia banget kan ya??? 🤭🤭🙏
Makasih....keep calm! ☝️👍🤫