Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 68


__ADS_3

Anika mengambil posisi berbaring sambil memeluk bantal guling. Kami tidur bersisian.


Aku mulai mendengar cerita Anika tentang istri baru suamiku.


Huffft...memang seperti itu sebutannya kan?!!


"Dulu, Silvy itu gadis yang baik banget dan nyenengin lah mbak. Selain periang, dia juga ngga pilih-pilih teman. Contoh nya aku ini mbak. Aku memang menyembunyikan identitas ku sebagai anak seorang berpangkat tinggi. Tapi sejauh ini, dia sama sekali ngga pernah nanyain ayah ku kerja apa atau apapun itu lah tentang keluarga ku. Dia hanya merasa tak mau ikut campur urusan pribadi ku kalo aku ngga cerita."


Mataku menatap langit-langit ruangan ini. Tujuan Anika cerita soal Silvy pada ku apa? Apa mungkin Anika pikir... setelah mendengar Silvy versi Anika, aku bakal tersentuh? Ku harap, tidak!


"Aku, Silvy dan Vega berteman dekat mba. Tapi, ternyata Vega khianatin Silvy. Vega selingkuh sama Malvin, cowoknya Silvy."


Anika memperbaiki posisi tidurnya, eh...belum tidur juga sih.


"Ngga tahu siapa yang udah ngirim video Malvin dan Vega yang sedang begituan ke Silvy. Dia merasa benar-benar kecewa karena di khianati dua orang terdekatnya. Apalagi, Malvin terang-terangan memilih Vega di banding Silvy. Padahal mereka sudah pacaran lama. Dari situ, ia meluapkan emosinya dengan ke klub dan mabuk-mabukan."


"Astaghfirullah!", desisku. Aku saja tak tahu klub malam seperti apa. Kalo bukan dari tv atau sekedar baca novel, mana ku tahu begituan.


"Dan...ya...apesnya Silvy! Di klub itu malah dia ketemu dia pengkhianat itu. Pulang dari sana, Silvy sudah dalam keadaan mabuk parah, lalu...dia kecelakaan! Makanya...maaf... kakinya ca*** seperti sekarang."


Aku mengangguk paham.


"Sejak kakinya ca*** Silvy semakin di bully sama Vega dan Malvin. Dia sempat terpuruk lama. Tapi, sejak ada mas Alby, dia seperti punya semangat baru. Tapi, arogansinya masih sama. Jiwa bossy nya tidak bisa di hilangkan."


"Maaf, Ika ngga bermaksud apa-apa mba. Ika tahu, mau seperti apa pun Silvy, dia tetap salah."


"Heum! Ngga apa-apa Ka. Dan... sepertinya kamu juga perlu tahu. Sebenarnya...ibu nya A Alby itu....ibu kandungnya Silvy."


Anika terdiam beberapa saat. Otak nya sedang mencerna. Sampai akhirnya ia mengernyitkan keningnya.


"Eh?? Maksud nya? Berati mereka kakak adik dong mbak? Kok nikah sih?", tanya Anika yang tiba-tiba duduk sambil terus memeluk guling nya.


"Beliau bukan ibu kandungnya A Alby. Sebelum menikah sama bapak mertua ku, ibu mertuaku menikah sama papa nya Silvy, dan ya ... punya anak Silvy. Tapi, aku ngga tahu cerita sebenarnya gimana. Yang pasti, ibu mertuaku itu ibu kandungnya Silvy."


"O...my God! Dunia novel banget mbak!", kata Anika.


"Ishhh...emang iya Ka!", aku menggebuk bantal ku sendiri.


"Jadi ...ibunya mas Alby, ibu kandung sekaligus ibu mertua nya Silvy dong? Warbiasah! Tapi kok bisa sih? kok boleh sih?"

__ADS_1


"Tau ah! Udah, mbak mau tidur. Udah malam!", kataku memiringkan badanku memunggunginya.


"Ya...mbak, Ika masih mau ngobrol tahu. Kapan lagi Ika punya temen bicara begini. Ika biasa kesepian di rumah tahu!"


Aku tak menanggapinya lagi. Badanku benar-benar capek. Apalagi tadi pagi aku memang banyak menguras tenaga. Selain memasak, aku juga kecapekan melayani suami ku.


"Yah ...mbak Bia beneran tidur?", desah Anika.


Setelah beberapa saat, aku kembali membuka mata. Aku menoleh ke Anika yang tidur dengan berselimut hingga ke lehernya.


Aku bangun untuk mengambil minum ke dapur. Suara kaum Adam masih ramai di rumah sebelah.


Si Aa bisa gitu gabung sama mereka??? Samar-samar aku mendengar suara orang memanggil nama sakti. Dia ikut ke sini juga???


Beralih ke rumah Febri....


"Mas Alby, mas Alby kerja dimana?",tanya dimas. Dia memang benar-benar tidak tahu kalau Alby adalah suami dari sahabat Anika. Yang mereka tahu, pekerjaan mereka hanya mengantar jemput Anika ke kampus atau kemana pun. Seperti sekarang ini contohnya.


Alby mendadak minder ditanya seperti itu. Jelas dia minder, keempat pria tampan itu memiliki pekerjaan yang mapan. Dibandingkan dia? Apa coba pekerjaannya? Sopir pribadi? Karyawan kantor?


"Saya cuma supir!", Alby memilih menyebutkan pekerjaan itu.


Febri dan sakti saling melempar pandangan.


"Panggil Alby saja! Sepertinya aku paling muda di antara kalian!", sanggah Alby.


Ya...emang iya sih!


"Heheh ya bro!", kata Dimas sok akrab.


"Aku masih belajar di sana. Belum tahu apa-apa."


Keempat pria itu mengangguk.


"Kok aku mendadak minder sama kalian ya?"


"Minder kenapa?", tanya Febri.


"Ya, pekerjaan ku tak sebanding dengan pekerjaan kalian."

__ADS_1


Ehem...! Keempat pria itu malah berdehem ria.


"Ngapain minder By."


Febri mencoba bersikap biasa saja. Memang apa yang salah dengan pekerjaan Alby?


"Iya, lagian mau apapun pekerjaan kamu...aku sama Febri juga tetap kalah. Benar kan Feb?", sakti meminta persetujuan Febri. Dan Febri pun mengangguk.


Dimas dan Seto saling pandang. Mereka ngga tahu arah omongan anak atasannya itu


"Maksudnya?", Alby tak paham.


"By, mau apapun pekerjaan kami. Semapan apa pun kami, buktinya Bia tetap milih kamu. Bukan aku atau Febri!", celetuk Sakti.


Dimas dan Seto terperangah. Keduanya saling sikut.


Mendengar ucapan Sakti barusan, Alby menyunggingkan senyum tipis.


"Dan aku harap, kalian tidak sedang berusaha mencari celah di antara kami!", kata Alby.


Febri dan Sakti malah tersenyum.


"Untuk saat ini, mungkin tidak!", kata Febri.


"Lebih tepatnya, belum!", lanjut Sakti.


Wajah Alby memerah mendengar sahutan dua pria tampan itu. Mulut mereka benar-benar minta dirobek.


"keep calm By, ngga usah tegang! Bercanda kok!", kata Sakti menepuk bahu Alby. Iya, karena mereka duduk berdampingan. Sedang Febri duduk di hadapan Alby.


Dimas dan Seto membaca situasi di tempat ini. Sepertinya mulai memanas meski tak tahu awal mulanya seperti apa.


"Ehm...gimana kalo kita main gitar! Biar ngga tegang gitu!", kata seto sambil berdiri lalu berjalan ke arah mobil untuk mengambil gitar.


"Heheh maklum lah ya, biar ngga stres. Kita main bentar! Ngga ada tetangga yang Deket kan rumahnya? Jadi ngga ganggu kan. Boleh kan Alby?", tanya dimas.


Akhirnya Alby pun menyahutinya dengan anggukan meski awalnya dia terdiam beberapa saat.


Seto sudah kembali dengan membawa gitar nya.

__ADS_1


"Kita berdua biasa main kalo malam-malam gini. Apalagi waktu nugas di perbatasan. Kaya gini doang udah hiburan tahu ngga!", kata seto sambil terkekeh.


Febri yang seprofesi dengan mereka tentu saja mengiyakan. Hidup di perbatasan memang kadang memerlukan hiburan yang sebenarnya tak muluk-muluk. Bisa bernyanyi riang ala-ala anak band saja sudah cukup.


__ADS_2