Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 250


__ADS_3

Keempat orang dewasa itu sudah duduk di ruang tamu. Nimas menyerahkan buah tangan untuk sekedar oleh-oleh kepada calon besan 🤭🤭


Angga yang notabene adalah seorang yang bekerja di bidang 'publik speaking' sepertinya tak ada kecanggungan sama sekali saat mengutarakan maksud kedatangan mereka semua. Kesannya memang mendadak, karena mereka kebetulan sedang berkunjung ke kota ini. Jika memang nanti niat baik mereka di sambut, mereka akan membuat acara lamaran yang lebih formal melihat calon besan mereka dari kalangan atas.


"Jadi, Dimas serius sama anak ayah?", tanya Galang pada Dimas. Dimas mengangguk.


"Bu, wes ayah-ayahan mbarang!", bisik Angga pada Nimas.


"Iya ya pak!", sahut Nimas tak kalah berbisik.


"Insya Allah iya Yah. Itu pun kalo ayah tidak keberatan!",kata Dimas dengan suara bergetar nya.


"Adek udah tahu? Jangan bilang-bilang adek yang minta di nikahin cepet-cepet mentang-mentang udah beres skripsi?"


"Sudah yah. Eum...ini keinginan kami berdua kok."


"Ya sudah, ayah bisa apa? Ayah ikut apa mau kalian saja, bukan begitu pak Angga Bu Nimas?", tanya Galang.


"Iya pak. Sebagai orang tua, kami mendukung saja selama hal itu baik pak Galang."


"Baiklah, jadi kapan Dimas akan melamar Anika secara resmi?"


"Bagaimana jika bulan depan pak Galang? Kami...tidak bisa mengambil libur semau kami. Anda tahu sendiri heheh!",kata Angga.


"Saya paham pak Angga. Baiklah, nanti hubungi saja kapan waktunya!", kata Galang.


"Maaf pak Galang, dari tadi kami belum melihat Anika. Dimana ya?", tanya Nimas.


"Oh iya maaf sampai lupa. Anika sedang menginap di rumah kakaknya. Memang adek ngga bilang ke kamu Dim?"


"Ngga Yah. Tapi ngga apa-apa kok. Dimas yang salah, ngga ngabarin kalo mau ke sini."


Setelah berbasa-basi cukup lama, akhirnya mereka semua pun pulang ke kosan Dimas.


.


.


"Kopi nya mas!", kataku pada Mas Febri yang baru pulang joging. Kata nya sejak menikah, berat badannya bertambah. Makanya sekarang dia rajin olah raga dan fitness setelah pulang dinas.


"Makasih sayang!", katanya sambil mengecup pipiku saat ia melewati ku untuk cuci tangan.


"Mau di siapin sarapan sekarang, apa ntar abis mandi?"


"Ntar aja deh!", katanya sambil mendudukkan diri di bangku meja makan.


"Sini sayang!", katanya mengajak ku duduk di bangku yang sudah ia hadapkan padanya.


Aku pun menuruti apa yang dia katakan. Setelah aku duduk, dia mendekatkan kepalanya ke perut ku yang rata.


"Assalamualaikum anak-anak ayah? Selamat pagi!", bisiknya sambil sesekali mencium dan mengusap perut ku yang masih rata.


"Walaikumsalam!", jawabku.


Aku mengusap kepala mas Febri yang masih betah di depan perut ku.


"Aku udah ngga sabar pengen mereka lahir Nduk!".


"Ckkk...ga usah aneh-aneh mas. Mereka itu masih kecil banget. Paling Segede kacang ijo, jangan ngomong yang aneh deh!"

__ADS_1


"Heheh iya iya...tapi nanti kalo mereka lahir, kasih aja sufor ya Nduk?!"


"Lha? Kenapa? Asi itu yang terbaik lho mas. Masa kamu ngga tahu."


"Mas tahu nduk, tapi kan kalo nyusuin tiga bayi sekaligus kasian kamunya!"


"Kok tiga mas? Kan anak kita kembar dua?"


"Mas ngga di itung?", tanya nya tanpa beban. Mendadak muka ku memerah. Cepat-cepat ku jewer telinganya.


"Awssh...sakit nduk!", katanya mengeluh. Kepala nya bangkit dari pangkuan ku.


"Lagian kebiasaan nih mulut ngga di filter!", sekarang aku mencubit bibirnya.


"Nduk, kamu sejak hamil kok jadi hobi banget kdrt sama mas!", katanya mencebikkan bibirnya.


"Lagian kamu tuh mas. Malu kalo ngomong mesum kaya gitu!"


"Kalo ngomong mesum ngga boleh, tapi bertindak mesum sama istri sendiri boleh dong?", dia menaik turunkan alisnya.


Aku meraup wajahnya dengan tanganku.


"Dasar mantan duda meresahkan!",kataku sambil berdiri. Tapi baru saja berdiri, dia malah menarik ku sampai duduk di pangkuannya.


"Mas....!"


"Apa sayang?", tanyanya lirih di belakang telingaku.


"Awas ih, bau! Mandi gih! Abis olahraga bau keringat mas!"


"Masa sih? Ngga tuh! Tadi sebelum olahraga mas udah pake deodorant sama parfum. Mana ada bau!!!"


Emang ga bau sih, tapi kan....


"Ckkk...iya iya...tapi nanti malam ya?"


"Ngga boleh sering-sering mas. Kasian utun-utun di dalam sini. Nanti dia bosen di tengok mulu sama ayahnya!"


"Bisa aja jawabnya!", kata nya sambil membantu ku berdiri.


"Ya udah sana mandi. Aku siapin bajunya sama sarapannya sekalian.".


"Nggih jeng Ayu!", kata nya sambil berlalu ke kamar. Kami memang Terbiasa mandi di kamar mandi yang ada di kamar.


Setelah selesai menyiapkan pakaian mas Febri, aku menyiapkan sarapan untuk kami. Belum selesai, ternyata Dimas sudah datang. Aku membukakan pintu ruang tamu untuknya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


"Febri mana Bi?"


"Masih mandi. Masuk yuk, aku lagi siapin sarapan."


"Iya!", jawab Dimas. Dia pun ikut masuk di belakang ku. Tak lama kemudian, Febri keluar dengan seragam nya yang rapi.


"Wes Nang kene koe Dim?", sapa Febri.


(Sudah di sini kamu Dim?)

__ADS_1


"Heem. Miki ngeterna bapak ibu ke stasiun sisan."


(Tadi nganterin bapak ibu sekalian)


"Lho, bapak ibumu wes kondur?"


(Pulang)


"Iya lah. Masa arep bolos. Kena Sp mah iya."


"Hehehe resiko orang yang di gaji negara ya Dim!"


"Ga ngaca Feb?", sindirnya.


"Podo ambe koe!", sahut Febri.


(Sama kaya kamu)


Ini cuma dua biji, coba ada Seto sama mas Sakti pasti jauh lebih rame lagi.


"Wes sarapan dulu, nanti ngobrol sambil jalan ke kantor kan bisa?!"


Kami bertiga pun sarapan bersama. Di sela sarapan, Febri yang super kepo pun bertanya.


"Piye mau bengi?"


(Gimana semalam?)


"Lancar!", jawab Dimas.


"Lancar gimana maksudnya?", aku jadi ikutan kepo.


"Bulan depan orang tua ku melamar Anika secara resmi."


"Alhamdulillah!", kata ku dan Mas Febri bersamaan.


"Tapi Dim, tenane koe wes ikhlas Bina ambe Sakti toh? Masalahnya...koe cah loro bakal iparan lho!"


(Tapi dim, beneran kamu udah ikhlas Bina sama Sakti? Masalah nya kalian bakal iparan)


"Ya wis lah! Ngapa kudu ora ikhlas!", kata Dimas sambil mengunyah makanannya.


"Beneran ya? Soale kemaren-kemaren viral tuh mantu sama mertua, gue harap sih Lo ga gitu. Ipar sama ipar!", sindir Febri sambil mengelap mulut nya dengan tisu.


Dimas mencebikkan bibirnya, setelah itu meremas tisu lalu di lempar ke Febri. Tapi Febri berhasil menghindar.


"Bocah gemblung!", umpat Dimas pada Febri.


"Hahaha...!", Febri justru semakin tertawa lebar.


"Udah deh, ngga usah pada nyampah!", kataku karena mereka berdua lempar-lemparan tisu.


Keduanya pun berhenti, lalu dengan cekatan Febri memunguti tisu yang berserakan itu. Dimas pun melakukan hal yang sama.


"Sayang, mas berangkat dulu ya! assalamualaikum!", katanya buru-buru sambil mengelus kening dan perut ku.


"Aku juga Bi! Assalamualaikum!", kata Dimas tak kalah buru-buru.


"Walaikumsalam!"

__ADS_1


Aku hanya menggeleng melihat tingkah mereka sambil mengusap perut ku.


"Kalian jangan ikut-ikutan konyol kaya ayah sama si om ya!", kataku berbicara pada calon bagiku heheheh


__ADS_2