Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 249


__ADS_3

Aku dan mas Febri sedang menikmati teh hangat di teras depan. Usai mandi sekaligus naninu di kamar mandi, kami memutuskan untuk bersantai di depan.


Ngga masak? Ngga. Mas Febri bilang, selama tiga bulan di awal kehamilan aku ga boleh masak dulu. Alasannya? Takutnya nanti muntah, lemes! Kalo pas kebetulan Febri di rumah, kalo tidak?


Padahal sejauh ini aku fine-fine aja tuh! Tapi dasar si bapak emang hiperbola ya jadi gini.


Aku memulai percakapan ku.


"Mas!"


"Heum?"


"Anakmu sama Almarhumah Aisyah, cewek apa cowok?"


Febri menoleh sebentar padaku. Memastikan mimik wajah ku saat menanyakan hal itu kali.


"Kenapa?", tanya nya balik.


"Mas pengen punya anak cewek cowok, cewek cewek, apa cowok cowok. Kan nanti brojolnya bareng. Aku mah cuma mau tahu aja, anakmu sebelumnya cewek apa cowok!"


"Gitu aja?"


Aku mengangguk.


"Cowok! Soalnya waktu USG terakhir dia menunjukan pedangnya di layar USG!", kata Febri sambil tersenyum.


Aku yang melihat senyumannya jadi...


Lha? Aku kan yang tanya sendiri? Ngapa kudu sewot? Punya hak apa coba?


"Kamu seneng anak pertama mu cowok?",tanyaku lagi. Dia mengangguk.


"Oh!", hanya itu sahutan ku.


"Sayangnya... sebelum dia lahir ke dunia, aku ga bisa liat mukanya. Dan ya....dia dimakamkan masih di dalam perut ibunya karena wabah covid yang sedang ganas-ganasnya saat itu."


"Udah tahu lagi hamil besar, kenapa ngga cuti? Atau minimal ngga usah ikutan ngurusin covid!", aku jadi emosi sendiri.


"Ga langsung terlibat sama pasien covid kok. Hanya saja memang saat itu kasusnya sangat tinggi. Dia hanya piket berjaga pasien umum. Tapi ya...sudah lah!"


"Kamu sedih kalo inget itu?", tanyaku. Lagi-lagi dia menoleh padaku. Aku masih memasang wajah biasa saja. Toh... kenyataannya aku datang setelah masa lalu mas Febri dan Aisyah.


"Tentu mas sedih. Apalagi...mas ga bertemu lebih dari sebulan pasca dia di rawat."


"Oh!", aku mengangguk. Tiba-tiba saja, ia duduk di depan kaki ku. Menggenggam tanganku dengan erat lalu mengecupnya dengan mesra.


"Kamu pasti ragu! Bagaimanapun mungkin mas bilang masih cinta sama kamu sedangkan mas sendiri punya istri. Sampai hamil pula. Begitu?"


Aku tak menjawab. Meski benar juga sih hal itu yang ingin ku tanyakan.


"Kalo orang Jawa bilang sih, witing tresno jalaran saka kulino."


(Cinta datang karena terbiasa)

__ADS_1


"Mungkin seperti itu Nduk. Tapi...yang harus kamu tahu sekarang. Mas cuma cinta sama kamu. Oke, aku masih ingat sama Aisyah. Aku masih mendoakannya di setiap sholat ku agar Allah mengampuni dosanya. Tapi...mas juga ga pernah lupa menyebutkan nama mu, bahkan dari dulu jauh sebelum kita akhirnya bertemu lagi. Aku berharap, semua yang terbaik buat kamu nduk!", dia mencolek hidung ku.


"Ga usah gombal!", kataku. Meski dalam hatiku ada sedikit rasa terharu sih.


"Kau merusak momen romantis ku bambang?!", kata Febri kesal.


"Sembarangan! Ini mantu kesayangannya pak Bambang lho!", kataku sambil mencubit pipinya.


Akhirnya kami malah tertawa bersama. Disaat yang sama, tiga orang masuk ke pekarangan rumah kami.


Febri langsung berdiri, begitu pula dengan ku.


"Mas Dimas?", sapaku.


"Assalamualaikum!", sapa Dimas dan kedua orang tua yang ada disampingnya. Aku tebak itu ibu bapaknya Dimas. Dimas mirip keduanya.


"Walaikumsalam!", jawab ku dan mas Febri.


"Ibu, bapak? Kapan datang?", sapa Febri sambil mencium punggung tangan kedua orang tua itu.


"Wis tiga hari yang lalu Feb. Wah, wes duwe bojo Saiki ya Feb!", puji ibunya Dimas.


"Nggih Bu, Alhamdulillah!", jawab Febri. Aku pun bergantian mencium punggung tangan kedua orang tua Dimas.


"Masuk Pak, Bu!", kata ku mempersilahkan mereka.


"Aku ora di kongkon Bi?", tanya Dimas. Febri sudah lebih dulu masuk ke rumah.


(Aku ga di suruh Bi?)


(Sudah, kamu di sini saja!)


"Lha? Pancen lanang wadon pada Bae, patesan jodoh. Pada bae nggelani!", oceh Dimas.


(Lha? Emang Cowok cewek sama aja, pantes jodoh. Sama aja mengecewakan)


Akhirnya Dimas pun ikut masuk ke dalam ruang tamu. Aku membuatkan minuman untuk para tamu ku.


"Nduk, tolong ambilin gelas mas di meja depan!", kata Mas Febri. Aku pun menuruti nya.


Aku mendengus mereka berbincang-bincang, sampai akhirnya azan magrib berkumandang. Kamu memutuskan untuk shalat jamaah di ruang tamu. Pak Angga yang menjadi imam kali ini.


Menurut ku, kedua orang tua Dimas tipikal orang tua masa kini. Yang gaul dan tidak gaptek. Pantas saja sih seperti itu, keduanya orang berpendidikan tinggi dan pekerjaan nya pun bagus. Jadi inget Bina, dia minder gegara itu semua. Tapi ternyata jodoh nya Bina ga kalah kakap hehehe


Usai sholat magrib, aku memesan makanan untuk makan malam kami bersama. Awalnya kedua orang tua Dimas menolak. Mungkin tak enak. Tapi sebenarnya aku yang tak enak. Ada tamu malah tak menyediakan apa-apa.


Langsung ke inti pembicaraan tujuan Dimas dan kedua orang tuanya mengunjungi rumah kami.


"Jadi gitu Feb!", kata Dimas setelah menceritakan semuanya.


"Oh, lha terus kenapa ga bawa motor mu ke sini?"


Dimas melongo. Dia lupa hal itu karena tadi orang tuanya yang membuat ia terburu-buru.

__ADS_1


"Ngesuk Tek jemput lah Feb! Kaya dewek ora sekantor!", sahut Dimas sewot.


(Besok ku jemput lah Feb! Kaya kita ga sekantor)


"Yo wes nek ngono!"


Usia basa basi, Dimas mengambil kunci mobil dari Mas Febri.


"Tapi...koe serius Dim, mau nemuin kedua orang tua mu sama keluarganya Anika? Berani ketemu Ayah? Ngomong serius ke ayah?", tanya Febri.


Dimas yang tadi semangat empat lima mendadak melempem. Ucapan Febri bikin jiper.


"Ish... sahabat luknut! Mbok ya di dukung, malah nakut-nakutin!"


"Gue ga nakutin Lo, cuma matiin mental Lo aja!", sahut Febri santai.


"Mastiin apa matiin nih?", nada Dimas mulai meninggi. Aku dan kedua orang tua Dimas menahan tawaku melihat dua sahabat itu adu mulut.


"Wes ndang budal. Sakno bapak ibumu keselen ngenteni koe sing mbuh siap mbuh ora ketemu pak jenderal."


(Buruan berangan. Kasian bapak ibumu kecapekan nunggu kamu yang ga tahu siap ga tahu Ngga ketemu pak Jenderal)


"Dongakan ya Bia! Doane ibu hamil jere ne di ijabah Gusti Allah!", kata Dimas padaku.


"Iya mas Dimas. Semoga acaranya lancar, semangat menjemput jodoh heheheh!"


Singkat cerita ketiga orang itu sudah berada di halaman rumah Galang. Tapi Dimas malah ragu-ragu untuk masuk.


"Kie umahe Dim? Mayuh mlebu koh!", kata Angga.


(Ini rumah nya Dim? Ayo masuk)


"Ngko disit pak, Dimas deg-degan pisan koh", kata Dimas sambil memegang dadanya.


(Nanti dulu pak, Dimas deg-degan banget)


Angga turun lebih dulu, lalu setelah nya membuka pintu untuk istrinya yang duduk di belakang.


Dimas yang tak keluar-keluar dari mobil membuat Angga emosi. Setelahnya, ia memaksa Dimas untuk turun.


Dimas di apit kedua orang tuanya di sisi kanan kiri. Saat ingin meminta di bukakan pintu oleh satpam, ternyata ajudan baru nya Anika keluar.


"Selamat malam Ndan!", sapa ajudan Anika.


"Malam, bapak ada ?", tanya Dimas.


"Ada ndan, silahkan masuk! Tapi maaf, saya sedang di suruh bapak beli nasi goreng!"


"Ya, ngga apa-apa", jawab Dimas. Lalu ketiga orang itu pun masuk ke halaman rumah. Bersamaan pula dengan Galang yang akan berjalan ke arah gerbang.


"Dimas?", suara bariton Galang mengagetkan seorang Dimas.


*****

__ADS_1


To be continue ✌️✌️


__ADS_2