Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 69


__ADS_3

Dimas dan Seto sudah mulai memahami situasi. Mereka yang terbiasa iseng dengan sesama rekannya pun kini berulah untuk menyindir mereka bertiga yang sepertinya terlibat cinta segi empat. Keren kan? Segiempat! Bukan kisah cinta segitiga!


"Siapa yang mau main nih?", tanya Seto menyodorkan gitar. Tak ada yang menyambut uluran gitar itu dari tangannya.


"Lo aja Dim!", tunjuk Seto pada Dimas.


"Sini!", pinta Dimas mengambil gitar dari tangan Seto.


"Ehem.... generasi sembilan puluhan merapat!", kata Dimas memulai.


Febri, Sakti dan Alby stay calm.


Jreng...jreng....


"Ehem! tes vokal beibeh!", canda Dimas.


"Lama!", kata Seto kesal. Tiga orang 'pecinta' Bia tersenyum tipis melihat dua ajudan ganteng itu.


"Wait...wait...arep lagu opo?", tanya dimas.


"Naon wae ...!", kata Seto sok-sokan pakai bahasa sunda.


"Rikwes opo Ndan?", tanya dimas pada Febri sambil mencari nada yang pas.


"Sakarepmu!", jawab Febri singkat.


(Terserah!)


"Barang kali mas sakti, Alby?", tanya Dimas lagi.


"Suwiiii...koyo arep konser ae awakmu kie!", kata Seto mulai kesal. Iya, Dimas kebanyakan improve sih!


"Okeeee....terserah aku ya!"


Jreng....jreng....


"Spesial buat para pria yang mencintai kekasih masa lalunya, tapi sayangnya...sudah jadi milik orang! Heheheh....udah pada mau kepala tiga kan??? Tahu lah lagu spesial ini! Generasi sembilan puluh mari merapat!", sindir Dimas.


Seketika Febri dan sakti mengangkat punggungnya dari sandaran kursi. Sedang Alby mengulas senyum tipis.


"Yang Terlewati, Sheila on seven!"


Kemana kau selama ini. Bidadari yang kunanti. Kenapa baru sekarang, kita di pertemukan!


Febri dan Sakti menelan ludahnya. Terlihat sekali saat jakunnya naik turun. Hahaha! Tersungging!!!!


Lanjut nyanyi....


Sesal kan tiada arti. Karena semua telah terjadi. Kini kau telah menjalani, dudududu sisa hidup dengannya...


Mungkin salah ku melewatkan mu tak mencari mu sepenuh hati, maafkan aku.


"Stop!", Alby menginterupsi Dimas. Dia pun menghentikan permainan gitarnya.


"Suaraku apik toh?", tanya Dimas tanpa dosa.


"Iya, bagus! Tapi alangkah baiknya ngga usah nyindir begitu!", kata Alby.


Seketika Febri dan sakti berdehem nyaring. Dimas dan Seto malah tertawa ngakak.


"Untung gak ada tetangga yang dekat ya? Kalo ada mah pasti udah di omelin rame kaya gini!", kata Seto.


"Iya, udah Dim. Wes jangan nyanyi deh. Udah malem. Masuk aja ya!", ajak Febri.


"Kamar em akeh Tah?", tanya Dimas.


(kamarmu banyak?)


"Gak!"


"Lha terus?", tanya Seto.


"Aku Nang kamar, awakmu Podo neng ngarep tv. Gak apa-apa toh Sak, By?", tanya Febri pada Sakti dan Alby.


(Aku di kamar, kalian pada di depan tv)


"Lha aku ambek Dimas neng ndi?",tanya Seto.

__ADS_1


(Aku sama Dimas dimana?)


"Njobo ae. Biasa turu neng alas, sok men njalok neng kamar!", sahut Dimas meraup wajah Seto.


(Di luar aja! Biasa tidur di hutan, sok-sokan minta di kamar)


Alby dan Sakti yang kurang begitu paham bahasa mereka hanya menggelengkan kepalanya. Dipikir, prajurit TNI itu kaku bin tegas. Ternyata punya sisi selengekan juga rupanya!


Akhirnya Febri menggiring mereka semua masuk. Tak terkecuali Alby. Sebenarnya dia bisa saja pulang. Tapi dia tidak enak ada Anika yang menginap di rumahnya.


Sepertinya Febri merasa sungkan sendiri. Masa dia enak-enakan gitu tidur di kamar. Sedangkan temannya malah pada tidur di lantai depan ruang tamu.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Terdengar dengkuran bersahutan antara Dimas dan Seto. Ya ... pasangan yang selalu kompak.


Alby, Sakti dan Febri sama-sama belum bisa memejamkan matanya.


Alby pun memilih duduk dan bersandar ke dinding. Sakti yang melihatnya pun melakukan hal sama.


"Kok ikut bangun?", tanya Alby pada sakti.


"Emang belum tidur sih!", kata Sakti. Ada pergerakan lain di ruangan yang minim cahaya ini. Sosok Febri juga ikut menyilangkan kaki di hadapan mereka.


"Gue ngga bisa tidur!", kata Febri tiba-tiba.


"Gara-gara gue dan yang lain nginep ya?", tanya Sakti ngga enak.


"Bukan lah. Gue seneng-seneng aja kali bro. Selama gue dinas di sini, gue baru ngobrol rame kaya tadi."


"Oh...gitu!", kata sakti.


Alby masih diam bersandar di dinding.


"Oh iya By, gimana kabar Mak Titin? Udah jauh lebih sehat kan?", tanya sakti.


"Alhamdulillah. Sudah membaik!", jawab Alby. Dia tak tahu saja kelakuan istri mudah itu pada Mak Titin. Andai tahu pun, memang Alby punya kuasa apa??? Mau ngancam balik? Ninggalin Silvy, misalnya!


Tapi pikirannya masih cukup berjalan sampai sejauh ini. Andai saja dia berontak, ada akibat yang harus dia bayar. Entah itu nantinya akan berimbas pada dirinya sendiri, Bia , atau Mak nya.


"Syukurlah, ikut seneng dengernya", kata sakti tulus.


Ketiga pria itu pun kembali hening. Tak ada obrolan yang terucap, masing-masing bergelut dengan pemikiran sendiri.


Tapi pada akhirnya, mereka tetap sama-sama diam.


.


.


.


Aku sudah tidur tadi, tapi beberapa kali juga aku terbangun. Mungkin karena aku terbiasa di kamar. Merasa beda suasana karena tidur di ruang tv.


Sudah jam tiga dini hari. Aku memilih untuk melakukan dua rakaat sunah.


Kulihat Anika masih memakai selimut hampir menutupi wajahnya. Mungkin dia biasa dingin di bawah ruangan AC. Tidak seperti di sini, AC alami.


Dinginnya air menyentuh pori-pori kulit ku. Rasa segar dan tentu saja menggigil beberapa saat hingga akhirnya merasa hangat saat sudah kupakai mukenah ku.


Usai mendirikan dua rakaat sunah ku, aku kembali ke dapur bersamaan dengan ketukan pintu.


"Neng?", panggil Alby. Dia tahu aku di dapur karena lampu dapur menyala.


"Iya, bentar!", aku pun membukakan pintu untuknya. Wajah Alby terlihat kusut. Dia masih menguap di depan ku.


"Kenapa? Masih ngantuk?", tanyaku.


"Iya, Aa ngga bisa tidur di rumah sebelah!", katanya.


"Ya udah tidur lagi!", kataku santai.


"Pengen, tapi kelonin dulu!", katanya manja.


"Apaan sih???", tanyaku sambil meninggalkan di depan pintu dapur. Alby menutup kembali pintu dapur. Dia menyusul ku, lalu menyergap ku dari belakang.


"Neng! Temenin Aa!", bisiknya lagi. Kenapa sih kalo minta pagi-pagi begini?


"Ada Anika A!", kataku.

__ADS_1


"Biarin sih! Emang kita gangguin dia? Ayo temenin Aa! Kamu tahu kan neng, nolak ajakan suami itu dosa!"


"Terus, kalo suami nyakitin istri ngga dosa?", balasku. Alby melepaskan pelukannya dari tubuh ku. Dia pun berlalu ke kamar mandi.


Ada sedikit perasaan bersalah dalam dadaku. Tapi bukankah dia pantas mendapatkannya??


Aku membuka kulkas. Masih ada beberapa bahan masakan yang nantinya bisa ku sajikan untuk para 'tamu' yang tidak sengaja bertamu di rumah ku ini, eh...ralat rumah orang tua suamiku.


Alby keluar dari kamar mandi lalu kembali menghampiri ku.


"Ayok neng!", katanya lagi. Padahal aku sedang mencuci beras. Wajahnya memelas banget. Kesel sumpah!!!


Aku masih melanjutkan aktivitas ku mencuci beras di wastafel bak cuci piring. Alby menunduk menciumi tengkuk ku. Tangannya bergerilya ke mana-mana. Aku menarik nafas dalam-dalam.


"Iya, Aa tunggu di kamar!", kataku pada akhirnya. Alby tersenyum merasa menang mungkin. Dia pun berlalu.


"Ulah lila-lila teuing neng!", bisiknya lagi.


"Heum!", sahutku singkat. Usai meletakkan beras ke dalam mejikom, aku pun menuju ke kamar kami.


Aku melewati Anika yang masih tidur dan bergelung dengan selimutnya. Sebenarnya aku ragu untuk memenuhi kewajiban ku pada Alby, takut jika nanti aktivitas kami terdengar oleh anak gadis seperti Anika.


Aku membuka pintu kamar ku. Alby langsungnya menyambut ku dengan pelukannya. Mencium kening ku. Dia memandang wajah ku dengan seksama. Menyelipkan anak rambutku ke sela telinga.


"Neng tahu, kenapa Aa ngga bisa tidur di rumah sebelah?", tanya Alby padaku.


"Banyak nyamuk!", jawabku asal.


Alby terkekeh tipis.


"Ngga. Aa kangen sama neng! Pengen kaya gini terus. Harusnya Aa memanfaatkan kesempatan selama di rumah sama neng!", ia berbisik di telinga ku. Kulirik jam dinding masih jam empat kurang.


"Boleh ya...Aa ngunjungin Dede utun?", bisiknya lagi. Aku menghela nafas perlahan.


Dan hanya mengangguk patuh. Misalnya pun nanti ku menolak, dia pun pasti akan memaksanya seperti biasa.


"Pelan aja. Aku ngga mau nanti berisik! Ada banyak orang di sini!", kataku lirih.


"Biar aja berisik! Biar mereka tahu, kamu milik Aa neng!", katanya sambil menggigit leherku.


Maksudnya apa sih??? Semua juga tahu kalau aku istri Alby!


"Maksud mu apa sih A? Mereka semua tahu aku istrimu, aahh ....!", tanyaku sambil memekik karena dia cukup keras menggigit tengkukku.


"Aa mau menunjukkan pada mereka, kalo aa cinta sama Neng.Begitu juga neng, cuma cinta sama Aa. Jadi mereka ngga usah berharap mencari celah di antara kita!", katanya. Dan setelah kalimat itu terlontar dari bibir seksinya, aktivitas kami pun berlanjut.


Entah apa yang mereka dengar saat kami melakukan aktivitas itu!


Azan subuh pun berkumandang, aku bergegas menuju ke kamar mandi untuk mandi wajib. Tak lama kemudian Alby pun menyusul. Kami solat subuh berjamaah.


Niat hati ingin membangunkan Anika, tapi mungkin sebentar lagi. Toh belum jam lima.


Alby duduk di dapur bersama ku. Aku buatkan dia teh hangat seperti biasanya.


"Neng!", panggil nya.


"Heum?", gumam ku.


"Nanti sore Aa berangkat lagi."


"Ya", sahutku singkat. Memang aku harus mendrama seperti apa?


"Mau masak pagi-pagi buta begini?", tanya Alby padaku.


"Banyak tamu di sebelah, wajar kalo mau menjamu kan?"


"iya. Aa bantuin deh!", katanya. Dia pun membantu ku memotong sayuran. Sesekali kami mengobrol dan sedikit tertawa.


Anika yang baru bangun hendak ke kamar mandi, melihat pemandangan romantis di hadapannya.


Silvy, andai kamu tahu Vy! Kamu sudah merusak kebahagiaan sepasang suami istri yang saling mencintai! Dan...mas sakti, mas Febri! Sepertinya harapan kalian tidak akan pernah terwujud! Mencintai kok istri orang! Anika menggeleng pelan.


"Mbak!", panggil Anika. Aku pun menengok.


"Eh, kirain belum bangun. Tadi mau mbak bangunin, tapi kayanya nyenyak banget!"


"Iya sih, tapi aku emang lagi libur sih mbak. Jadi ngga solat subuh deh!"

__ADS_1


Aku mengangguk. Sedangkan Alby masih sibuk dengan sayuran di depannya.


"Ika ke kamar mandi dulu ya, nanti Ika bantu masak!", katanya sambil berlalu.


__ADS_2