
Febri, Anika dan Dimas turun dari mobil. Mereka baru saja mengantar Sakti kembali ke rumah sakit karena harus menggantikan rekannya untuk mengoperasi pasien.
Febri yang duduk di bangku penumpang, turun lebih dulu. Dia berjalan gontai menuju ke kamar nya yang harus melewati teras samping. Tanpa ia sadari, ternyata 'bapak' juga ada di teras yang sama.
'Bapak' menatap heran pada ajudannya itu. Lebih tepatnya, ajudan untuk menemani putri bungsu nya.
Ya, jenderal Galang sedang ingin menyambangi rumah induknya. Bagaimana pun, dia tetap ingin pulang untuk menemui anak-anak nya di tengah kesibukannya yang beberapa waktu ke depan akan segera pensiun.
Anika sudah lebih dulu masuk ke kamarnya lewat pintu depan. Dimas menyusul Febri ke kamarnya. Tapi Dimas terkejut, ternyata 'bapak' sedang duduk di bangku teras, tepat menghadap ke arah kolam renang. Apa Febri ngga liat keberadaan bapak ya? Gumam Dimas.
"Dim!", panggil bapak.
"Siap!", sahut Dimas lalu menghampiri atasnya sekaligus calon mertuanya heheheh percaya diri sekali 🤭
Galang meminta Dimas duduk di sampingnya. Dimas pun menuruti apa yang atasannya perintahkan.
"Bagaimana Dim?", tanya Galang to the point.
"Sepertinya... rencana bapak buat menjodohkan mas Sakti tidak salah pak."
"Oh ya? Kenapa? Dia sudah menyerah untuk mendekati istri orang gitu?", tanya Galang.
Dimas tak mengiyakan atau pun menggeleng.
"Tadi kami memang mengantar mba Bia ,pak. Sempat ada pertikaian kecil antara mas sakti, Febri dan suami Bia."
"Apa? Memalukan sekali sakti sampai seperti itu!"
"Tidak pak. Justru mas sakti yang melerai Febri dengan suami Bia."
Galang menatap ajudannya dengan pandangan menyelidik.
"Sakti tak berbuat macam-macam yang mempermalukan dirinya sendiri? Tapi kenapa Febri yang bertengkar dengan suami Bia. Apa Febri juga sama seperti sakti, ngga bisa move on dari Bia?"
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mau jawab apa!
"Bilang sama Febri dan Sakti sekalian. Cinta boleh, tapi jangan coba-coba merebut milik orang lain. Karena perempuan itu bukan barang yang bisa di rebut sembarangan! Oh iya, besok kamu ikut saya lagi. Biar Seto dan Febri yang menemani Ika."
Dimas mengangguk paham.
"Siap pak!", kata Dimas tapi nadanya tak terlalu tegas seperti biasanya.
"Memang waktu setengah hari bersama putriku belum cukup Dim?", tanya bapak sambil berdiri dan bersiap masuk ke dalam rumah. Dimas membeku di tempat. Sepertinya bapak paham sekali jalan pikiran seorang Dimas.
"Siap, cukup pak!", kata Dimas.
"Ya udah, istirahat sana. Jangan lupa, katakan sama Febri. Jangan bikin malu diri sendiri. Andai ada hal buruk yang dia buat nantinya juga akan merusak citra instansinya. Tidak hanya dirinya sendiri."
"Siap pak!", sahut Dimas. Dia pun menuju ke kamar nya setelah atasnya masuk ke dalam rumah induk.
Dimas menghampiri Febri yang sudah rapi dengan pakaian kokonya. Mungkin baru beres solat. Dimas solat nya masih Senen Kamis, tidak serajin Febri.
"Gue mau ngomong sama Lo. Tapi gue mandi dulu ya!", ujar Dimas.
Dimas kembali ke kamar nya yang biasa ia huni dengan Seto. Dan seto sedang bersantai di dalam kamarnya memainkan ponselnya.
"Eh, udah balik wae koe Dim!", sapa Seto.
"Ngko sit ngoceh'e. Aku arep adus disit. Sumuk pisan!", kata Dimas. Seto yang orang Jawa timur sekarang sepertinya sudah terbiasa dengan bahasa ngapak sahabat nya itu.
__ADS_1
(Nanti dulu ngocehnya. Aku mau mandi dulu. Panas banget)
"Yo wes Ndang adus rono!", sahut Seto.
(Ya udah cepet mandi sana)
Tak butuh waktu lama, Dimas sudah selesai dengan pakaian santainya. Di rumah atasannya ini, mereka semua memang difasilitasi turut makan seperti yang keluarga atasannya makan.
"Wayahe mangan rek!", kata Seto membenahi pakaiannya, lalu memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Mereka berdua keluar dari kamar bersamaan dengan Febri yang juga keluar.
Makan malam para ajudan sudah bibik siapkan di meja mereka. Ada dua ajudan bapak yang lain, yang tentu nya lebih senior dari mereka bertiga.
Para senior di persilahkan untuk mengambil lebih dulu. Bahkan sekuriti yang di depan pun lebih di utamakan untuk mengambil duluan. Febri, Dimas dan Seto belakangan.
Sing enom ngalah, jerene ngunu!
(Yang muda ngalah, katanya begitu)
Mereka semua makan malam di teras yang biasa mereka duduki saat istirahat seperti sekarang ini. Acara makan malam pun usai. Senior mereka kembali ke kamar. Sedang Febri, Dimas dan Seto memilih duduk santai di pinggir kolam.
"Wes penak perasaan mu Feb?", tanya Dimas.
"Wes lah!", sahut Febri datar.
"Kenek opo toh? Ndang cerita'o!", kata Seto menepuk bahu Febri.
(Kenapa apa toh? Buruan cerita!)
Tak ada sahutan dari Febri membuat jiwa kepo Seto meronta-ronta.
"Dim, Iki koncomu kenek opo seh? Muring-muring ambek sopo?"
"Tadi berantem sama suaminya Bia!", sahut Dimas. Seto langsung memalingkan wajah nya ke arah Febri.
(Beneran Feb? Mana? Kok ngga bonyok mukamu?)
"Apaan sih To!", kata Febri kesal.
"Beranteme ora jotos-jotosan Setooooo!", kata Dimas.
Seto membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
"Feb!", panggil Dimas.
"Apa?"
"Wis ngapa! Bia kuwe esih duwe bojo. Koe Iki esih enom. Bisa nggolet bojo sing lewih ayu dari pada Bia. Aja ngarepna Bia Bae!"
(Udah kenapa! Bia itu masih punya suami. Kamu ini masih muda. Bisa cari istri yang lebih cantik dari Bia. Jangan ngarepin Bia mulu)
''Bisa ngga sih ngomong nya pake bahasa standar! Gue tahu omongan Lo, tapi gue kudu mikir buat menerjemahkannya Dimas! Jangan nambahin pusing deh ah!", sahut Febri ketus.
"Tahu nih, ora ngapak ora kepenak ya Dim!", kata Seto.
Dimas mendengus kesal.
"Tadi bapak liat kamu masuk ke kamar. Tapi kamu ngga nyapa beliau!", kata Dimas masih manyun.
"Oh ya? Di mana?", tanya Febri.
__ADS_1
"Nang teras lah!"
Febri mengangguk pelan.
"Bapak bilang apa?", tanya Febri. Dimas menarik nafas pelan.
"Kata bapak, kamu ngga usah bikin ulah apa-apa yang berhubungan sama Bia."
"Emang kamu cerita aku berantem sama Alby?", tanya Febri. Dengan tanpa dosanya, Dimas mengangguk.
Febri meraup wajah teman nya itu.
"Sialan Lo! Ngapain sih cerita segala sama bapak! Bikin malu aja! Benar kata Ika, kamu itu lemes. Sama kaya Seto! Pantas aja kalian klop!"
"Lho ..lho...kok aku di gowo-gowo toh???", kata Seto tak terima.
(Kok aku di bawa-bawa)
"Ngga gitu Feb. Bapak kan cuma cari tahu soal mas sakti pas kebetulan, kan emang tadi kita sama mas sakti. Ya udah aku ceritakan semuanya sama bapak!", kata Dimas.
"Bocah edyan!!!", kata Febri gemas terhadap sahabatnya itu.
"Hahaha ya maap."
Febri kembali diam. Bukan dia banget seperti itu sebenarnya sih!
"Bapak pesan, jangan melakukan hal yang tidak baik. Karena ini ngga Hanau bersangkutan dengan kamu sendiri, tapi nanti nya juga berhubungan sama instansi kita. Bapak ngga mau, kalo kamu mempermalukan dirimu sendiri."
Febri tak menyahuti lagi ucapan Dimas. Dia membenar ucapan atasannya itu.
.
.
Azan subuh sudah menyapa. Aku bergegas untuk bangun. Meski sebenarnya, aku tak sedang berkewajiban untuk solat. Tanpa ku sadari, ternyata aku malah tidur di atas ranjang bersama Alby. Pasti dia yang memindahkan ku. Aku mengusap kasar wajahku. Kulihat alby masih tertidur pulas.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.Tapi Alby menahan lengan ku.
''Kamu ngga solat neng. Mau ngapain?", tanya Alby dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Mandi!", jawabku datar. Aku tak sadar pakaian ku sudah berantakan. Apa yang Alby lakukan saat aku tidur???
Alby turut duduk di samping ku. Dia mengalungkan tangannya di perut ku. Nafasnya terdengar di telinga ku. Aku mencoba melepaskan pelukan Alby, tapi justru Alby meletakkan kepalanya di cerukan leher ku yang tepat berada di depannya. Dia menghisapnya dengan pelan. Aku yang baru bangun tidur mencoba mengumpulkan nyawaku.
"Neng itu milik Aa. Cuma punya Aa!", kata Alby.
"Kalo ngga inget neng nifas, mungkin Aa sudah makan neng dari semalam."
Alby berbisik begitu pelan. Aku memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kalo aa memang butuh pelepasan, ada Silvy yang dalam kondisi siap.
Alby melepaskan pelukan dari ku.
"Dulu, saat kamu berhalangan kita biasa melakukannya", tambah nya lagi.
"Tapi tidak untuk sekarang dan yang akan datang. Saat nifas ku selesai, secepatnya kita berpisah!", kataku lagi. Alby menjauh dari ku beranjak dari ranjang.
Aku harap, setelah kamu selesai nifas nanti sudah ada janin yang berada di rahim mu lagi. Bukan kata talak yang akan ku ucapkan, tapi aku akan tetap mempertahankan mu di sisiku! Batin Alby.
__ADS_1
*******
Minggu mager gaes 😁😁😁😁🤭🤭🤭🤭