
"Masa harus pake ini dok?", tanya ku pada dokter saat dia memberikan alat test kehamilan.
"Hanya untuk membuktikan saja nyonya, dari pada ragu-ragu apakah prediksi saya benar atau tidak."
Akhirnya aku pun menerima alat itu. Meski sebenarnya aku juga agak ragu. Beberapa menit di kamar mandi, aku membawa alat test kehamilan itu.
Aku sempat melihat dua garis tapi yang satu sangat samar bahkan hampir nyaris tak terlihat.
"Ini dok!", kataku. Dokter itu menerimanya, setelah itu ia tersenyum.
"Setelah dari ruangan saya, anda bisa ke dokter Nadia ya nyonya!", kata dokter itu memberikan secarik kertas serta tespack tadi.
Aku hanya pasrah saat ia mengatakan demikian. Akhirnya aku menuruti saja apa kata dokter barusan.
"Gimana nduk? Kamu sakit apa?", tanya Mas Febri yang tadi tak ikut masuk karena ia menerima telpon.
"Ga tahu mas. Dokter cuma ngasih ini suruh ke dokter Nadia."
"Oh, Yo wes. Ayo ke dokter Nadia. Tapi kamu masih pusing Tah?"
"Masih mas!", jawab ku apa adanya.
"Kamu udah tahu ruangan dokter Nadia?", tanya Mas Febri. Aku menggeleng.
"Mas tanya dulu deh sama perawat ,kamu duduk aja dulu!"
Aku mengiyakan, lalu duduk sambil memijat pelipisku. Beberapa menit kemudian, mas Febri datang lagi.
"Ga jauh dari lorong ini nduk, ayo!", ajak mas Febri sambil menggandeng ku.
Diruang dokter Nadia....
"Siang dok!", sapa kami pada dokter Nadia.
"Selamat siang! Silahkan Bu, pak!", Dokter Nadia mempersilahkan kami duduk.
Tapi aku sendiri bingung, kenapa dokter sebelumnya memintaku untuk ke dokter Nadia yang notabene bertitel Spog. Kan aneh? Aku melihat titel itu di pintu ruangannya.
"Ini Dok, saya di suruh ke sini kata dokter Citra!", kataku. Lalu ku serahkan kertas dan alat tadi. Dokter Nadia tak seramah dokter Citra, dokter yang sebelumnya.
Dokter Nadia membaca kertas yang ku bawa tadi lalu melihat benda yang ku bawa. Febri tahu alat itu , tapi dia juga belum berani bertanya. Untuk apa istrinya memakai benda itu, apalagi itu rekomendasi dari dokter Citra.
"Eum, baiklah. Silahkan ibu berbaring ya, saya periksa sebentar!", kata Dokter Nadia. Aku dan mas Febri pun ikut Dokter Nadia menuju ke tempat tidur yang di pakai untuk memberi pasien.
Dokter Nadia memulai pemeriksaannya.
"Ini...USG dok?", tanya mas Febri. Ya, dia pengalaman menjaga seorang ayah siaga kali. Apalagi almarhumah istri nya juga hamil besar waktu itu. Pasti mas Febri sering menemaninya periksa.
Kok mendadaknya pengen mewek sih???
"Betul pak!", jawab Dokter. Dokter Nadia tak mengatakan apapun sampai akhirnya kami kembali duduk didepan mejanya.
"Jadi bagaimana dok?", tanya Mas Febri.
"Selamat ya pak, Bu ..anda akan segera menjadi orang tua!", katanya.
__ADS_1
Aku dan mas Febri terperangah tak percaya.
"Maksud dokter, istri saya hamil?"
"Dari pemeriksaan tadi, saya jawab Iya. Sudah ada kantong rahim meski belum terlalu jelas. Untuk lebih jelasnya, dua Minggu lagi anda bisa datang kembali. Untuk memastikan berapa usia kandungan istri anda sesuai dengan alat USG tadi."
"Alhamdulillah!", kata Mas Febri sambil tersenyum menatap ku. Aku masih bingung, dan masih tak percaya.
"Tunggu dok!", aku menginterupsi.
"Ya Bu? Bagaimana?"
"Bukan maksud saya meragukan kemampuan dokter Nadia, tapi ...!"
"Tapi kenapa Bu?", tanya Dokter Nadia dengan kening berkerut. Semoga saja dia tak tersinggung. Mukanya saja sudah judes dari awal masuk ruangan tadi.
"Dok, kami baru menikah sekitar dua mingguan!".(Anggap aja segitu, biar cepet meski agak susah masuk akal sih? 🤭🤭🤭 maapkeun, tapi semoga paham lah 🙏🙏🙏🙏 meski ini dunia halu, setidaknya masih berpikir rasional)
"Lalu?", tanya dokter lagi.
"Lalu.... bagaimana bisa saya sudah hamil dok?"
Akhirnya dokter Nadia tersenyum.
"Proses pembuahan bisa terjadi antara hari ke lima sampai beberapa hari kedepan setelah HB Bu, apalagi jika dalam masa subur. Kemungkinan hamil jauh lebih besar."
(Maaf kalo salah)
"Jadi...saya beneran hamil dok?", tanyaku lagi.
"Kenapa nduk? Bukan nya ini berita bagus?",tanya Febri.
"Hah? Duduk ngono mas. Ngko nek podo ngiro kita 'nabung' dulu gimana? Padahal nikah ae nembe wingi lho mas."
(Bukan gitu mas. Nanti pada ngira kita nabung dulu gimana? Padahal nikah baru kemarin)
"Yo mberke ae lah. Ga sah di rungokke."
(Biarin lah. Jangan dengerin)
Dokter Nadia yang paham dengan pembahasan sepasang suami istri baru itu pun tersenyum. Padahal biasanya dia itu bersikap judes. Entah pada pasien atau siapa pun.
"Oh ya dok! Jadi... istri saya tidak sakit kan dok? Soalnya dia ngeluh pusing tadi."
"Tensi nya cukup rendah, nanti saya beri resep tambah darah dan juga vitamin. Jika memang memungkinkan, bisa meminum susu ibu hamil yang banyak mengandung asam folat yang baik untuk ibu hamil."
"Iya dok!", jawab kami kompak.
"Oh ya dok, apa kami masih aman untuk berhubungan?", tanya Febri terang-terangan.
Aku terbelalak tak percaya jika dia bertanya seperti itu.
"Sebenarnya, di awal trimester pertama kehamilan itu sangat rentan. Ada baiknya, jangan terlalu sering di tengok bayinya ya pak. Dan satu lagi, pelan-pelan. Selama ibu merasa nyaman dalam artian tidak ada keluhan, berati aman-aman aja pak."
Mas Febri mengangguk. Setelah itu kami pun berpamitan keluar dari ruangan dokter Nadia.
__ADS_1
Mas Febri menggandeng tangan ku selama menuju ke apotek untuk mengambil obat.
Kenapa aku melihat seperti nya ekspresi nya biasa saja. Tidak seperti calon ayah pada umumnya nya senang akan memiliki buah hati???
Mas Febri membukakan pintu mobil untuk ku. Lalu setelah itu ia mengitari mobil untuk duduk di belakang kemudi. Dia menoleh padaku lalu tersenyum.
"Kenapa?", tanyaku.
"Ngga papa. Mas lagi seneng aja!", jawabnya.
"Mas seneng ngga sih kita mau punya anak? Aku perhatikan ekspresi nya biasa saja!"
Dia terkekeh pelan.
"Mas suruh salto, guling-guling saking senengnya gitu?"
"Ya ngga juga sih!"
Dia menggenggam tanganku. Lalu mengecupnya.
"Apa yang mas pikirin?"
"Huftt! Mas seneng banget kita mau di kasih momongan. Bahkan secepat ini. Hanya saja...."
"Kenapa?"
"Itu artinya mas harus siap berbagi sama baby kita. Mas ga bisa puas meminum susu dari sumbernya langsung. Apalagi di larang menjengkelkan baby. Itu sungguh menyiksa nduk!"
"Astaghfirullah....dari tadi mikirin itu????"
Mas Febri tertawa lebar mendengar aku mengoceh.
"Jangan galak-galak, nanti anakmu mirip mas lho?"
"Lha wong kamu yang nanam modalnya kok, ya jelas mirip kamu masa kon mirip Aliando!", kataku mendengus. Tapi mas Febri menarik kepala ku, mengecup puncak kepalaku meski tangan kanan nya fokus memegang setir.
"I love You Shabia Ayu. Mommy nya anak-anak ku. Daddy seneng banget!", kata Febri.
"Sek...sek...! Mommy? Daddy?", tanyaku.
Dia mengangguk cepat.
"Iya, biar kaya yang di novel-novel itu Nduk!"
"Hahaha mas, awakmu ambi aku Iki Jeh doyan mangan Sego jagung lawuh gereh lho. Masiyo manggil mbokne pakne koyo bule. Ga pakne Karo mbokne ae?"
(Kamu sama aku ini masih doyan makan nasi jagung lauk ikan asin lho. Masa manggil ibu bapaknya kaya bule. Gak bapak sama ibu aja)
"Ishhh...biar kekinian nduk?", kata Febri.
Sepanjang perjalanan pulang, kami mengobrol banyak hal. Terutama tentang calon anak kami.
****
Otewe ya... otewe 🤗🤗🤗🤭
__ADS_1